Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 42


__ADS_3

Bilmar menatap ponselnya dan melihat sebuah pesan dari nomer yang tidak di kenal, mata Bilmar melebar saat mengetahui isi pesan itu dari Aran. Ada perasaan bahagia yang di rasakan Bilmar, dengan begitu artinya Aran masih hidup. Bilmar cepat-cepat memeriksa lokasi yang di kirimkan oleh Aran barusan, dan setelah itu ia menghubungi Vano, juga Arman.


Setelah ke empatnya sepakat akhirnya mereka berangkat di tengah malam tanpa memberitahukan pada siapapun, mereka tidak ingin membuat keluarga panik apa lagi Veli yang nantinya pasti minta ikut. Sementara keberadaan Aran belum jelas, bahkan Aran menuliskan kata dirinya sedang dalam pengejaran Harlan. Yang artinya keadaan sedang tidak baik-baik saja.


"Perkiraan sampai di tempat itu tiga jam, tapi usahakan lebih cepat!" kata Bilmar pada Arman.


"Iya," Arman mulai menyalakan mesin mobilnya, dan mengemudikannya dengan kecepatan penuh. Hari yang masih gelap membuat jalanan sepi mempermudah Arman untuk melanjutkan kendaraannya.


Dua jam kemudian, keduanya sampai di tempat di mana tadi Aran membagikan lokasinya. Namun Aran tidak terlihat di sana, "Kita cari di sekitar sini!" kata Vano.


"Iya," Bilmar mengangguk kemudian semuanya mencari Aran, tidak terkecuali para pengawal yang ikut mencari Aran juga.


Satu jam sudah berlalu, mereka terus menyusuri hutan-hutan yang cukup lebat hingga ada seorang lelaki tua yang masuk hutan untuk mencari kayu bakar.


"Tuan.....tuan ini ada apa ya?" tanya pria tua tersebut.


Vano menatap pria tua itu, "Kami mencari saudara kami pak, tadi nya kami dapat info kalau dia ada di sekitar sini," Vano mengeluarkan ponselnya dan menunjukan fhoto Aran, "Apa bapak melihatnya di sekitar sini?" tanya Vano lagi.


Bapak tua itu mencoba menatap ponsel di mana ada fhoto Aran di sana, namun matanya terlihat buram, "Tuan saya tidak bisa melihat fhoto itu dengan jelas, tapi tadi subuh ada seorang pria yang di temukan tukang kayu dengan banyak luka di sana," pria itu menunjuk hutan yang sepertinya itu adalah sebuah jurang.


"Pria?" tanya Vano lagi.


"Iya, orangnya tinggi dan ada tanda lahir di bagian punggungnya," jelas pria itu, "Saya tahu karena saya juga ikut merobek bajunya karena ada banyak memar dan di beti obat," jelas pria itu lagi.


"Sekarang dia dimana Pak?"


"Di rumah kepala desa tuan, mari saya antar," kata pria tersebut.


Sepuluh menit kemudian pria tua itu mengantarkan Vano, Bilmar dan Arman kesebuah rumah sederhana yang terletak di tengah-tengah desa kecil itu.


Tok....tok....tok....


Bilmar mengetuk pintu.

__ADS_1


Clek.


Terlihat seorang wanita paruh baya membuka pintu dan menatap ada tiga pria gagah yang berdiri di depan pintu rumahnya. Namun ada banyak pria lainnya yang berdiri di halaman rumahnya.


"Ada apa ya tuan?" wanita itu sedikit ketakutan, ia tidak pernah melihat orang-orang dengan berbadan tegap seperti itu datang kerumahnya.


"Jangan takut, apa di sini ada seorang pria yang ibu tolong?" tanya Bilmar, ia berusaha seramah mungkin agar sang ibu tidak takut.


"Ada tuan ada didalam, silahkan masuk," wanita itu menepi memberikan jalan untuk Bilmar, Vano dan Arman masuk.


"Diman!" tanya Arman.


"Mari ikut saya tuan," wanita itu membawa ketiga pria gagah itu pada sebuah kamar yang hanya berukuran dua kali dua meter saja, terlihat jelas ada seorang pria yang tengah terbujur di sana.


Bilmar, Vano dan Arman mendekati pria tersebut, mereka dapat melihat wajah Aran yang begitu pucat dengan selang infus di tangannya.


"Apa tuan mengenalnya?" tanya ibu tersebut.


"Iya," jawab Bilmar.


"Kalau menunggu ambulance terlalu lama, takut keadaan Aran semakin memburuk," tutur Vano.


"Kita bawa saja sekarang," kata Arman.


"Iya," Bilmar juga membenarkan apa yang di katakan oleh Arman dan Vano.


Dua jam sudah berlalu Aran berhasil sampai di kota, dan kini ia sudah di bawa ke UGD dengan dokter yang menanganinya. Kondisi Aran di nyatakan kritis dan kehilangan banyak darah, sebab di desa tadi ia hanya mendapat pertolongan seadanya.


"Lakukan yang terbaik Dok, yang penting adik saya selamat," pinta Bilmar pada seorang dokter ber tag Darmawan.


"Kami akan mencobanya tuan," dokter itu mengangguk dengan lemah, sebab keadaan Aran sangat jauh dari kata baik-baik saja.


Bilmar mengambil ponselnya dari saku, ia menghubungi Anggia l, "Sayang kamu sedang apa?" tanya Bilmar saat panggilannya sudah terhubung.

__ADS_1


"Lagi nyiapin Kiara makan Abang," jawab Anggia dari seberang sana.


"Bawa Veli dan Mami ke rumah sakit, Aran sudah di temukan," jelas Bilmar.


"Aran?!" Anggia shock, namun ia bahagia dengan apa yang ia dengar.


"Anggia kenapa kamu mengebut nama Mas Aran?" tanya Veli yang duduk di samping Anggia.


Anggia menatap Veli dengan tersenyum, Ia memeluk Veli dengan cepat-cepat, "Veli.....Aran udah di ketemukan," kata Anggia semakin mempererat pelukannya.


Veli diam, ia masih mencerna apa yang di katakan oleh Anggia, "Ngi kamu bilang apa tadi," Veli tidak ingin salah mendengar, bahkan tanpa di minta pun air matanya terus menetes tanpa bisa di bendung lagi.


"Aran Vel....." Anggia menggerak-gerakan tubuh Veli, "Aran udah di ketemukan tapi dia sekarang di rumah sakit," terang Anggia.


"Anggia," bibir Veli bergetar, ia mendadak gagu karena yang di katakan Anggia masih membuatnya terkejut, "Anggia kamu serius?"


"Iya," Anggia berulang kali mengangguk dan meyakinkan Veli jika yang ia katakan memanglah sangat benar.


"Aku nggak lagi menghalu lagi kan Ngi?"


"Nggak, kali ini kamu benar-benar mendengar dengan nyata."


"Anggia ayo kita sekarang berangkat," Veli langsung menarik Anggia untuk menuju rumah sakit dengan tidak sabaran.


Beberapa menit kemudian Veli, Anggia dan Ratih sampai di rumah sakit.


"Bilmar di mana Aran....hiks....hiks...." Ratih menangis sambil memegang tangan Bilmar.


"Dimana Mas Aran...." Veli juga bertanya dengan tidak sabaran.


Bilmar diam ia tidak tega mengatakan pada Veli tentang keadaan Aran.


"Mas Bilmar jawab dimana Mas Aran?!" tanya Veli lagi dengan sesegukan.

__ADS_1


"Di ruangan itu," tangan Aran menunjuk ruangan dengan pintu yang tertutup rapat dimana ada Aran di dalamnya.


Veli langsung berlari dan membuka pintu dengan tidak sabaran, matanya menatap nanar sang suami yang tengah terbaring lemah dengan banyaknya alat medis. Veli bukan buta akan keadaan Aran, ia mengerti dengan keadaan bahkan tanpa perlu di jelaskan sekali pun.


__ADS_2