Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 48


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu kini Bilmar, Vano, Aran dan Arman tengah menyiapkan sebuah misi untuk menuntaskan Harlan sampai habis. Waktunya sedikit di perlambat karena menunggu kepulihan Aran terlebih dahulu, sebenarnya Aran belum terlalu pulih tapi ia tetap ingin membalaskan sakit hatinya 0ada Harlan yang sudah berani memisahkannya dengan anak dan istrinya.


"Jadi malam ini kita kepung mereka ya....?" tanya Vano yang duduk di sofa.


"Iya, karena aku tidak ingin membiarkan mereka berkeliaran lagi," kata Aran dengan emosi, apa lagi saat melihat wajah Harlan.


"Baiklah, apa ada rencana yang lainnya?" tanya Arman.


"Apa adiknya itu memang gila?" tanya Bilmar, karena ia tahu dulu wanita itu tidak begitu.


"Iya, dan bukan hanya adiknya yang gila tapi Kakaknya juga sama gilanya..." tambah Aran lagi.


Sementara di sebuah kediaman lainnya, ada seorang pria yang tengah di kuasai amarah. Karena ia mendengar kabar tentang Aran yang masih hidup, sungguh itu adalah hal di luar dugaan nya. Saat itu ia sengaja menghabisi Aran, karena itu lebih baik menurut nya sebab Aran tidak mau menikahi adiknya.


Brak!


Harlan menggebrak meja, ruangan redup itu seakan membuat nya semakin terlihat marah. Dengan mata yang memerah ia melihat satu per satu anak buahnya.


"Kenapa dia bisa hidup!" tanya Harlan dengan setengah berteriak, "Jawab aku! Kenapa dia masih hidup!" teriak Harlan.


Buk.


Ia seketika memukul anak buahnya, bahkan sampai mengeluarkan cairan merah di sudut bibirnya.


"Jawab!" teriak Harlan lagi.


"Ketiga saudaranya menyelamatkan nya bos," jawab seorang anak buah Harlan, ia tidak ingin di pukuli Harlan dan ia lebih memilih menjawab berharap tidak terkena pukulan Harlan.


"Ketiga saudaranya?" tanya Harlan menatap anak buahnya.


"Bilmar, Vano dan Arman Tuan," jelas anak buah Harlan lagi.


"Sial!" umpat Harlan penuh kebencian.

__ADS_1


"Anda tau sendiri tuan seperti apa tuan Vano, tuan Vano adalah salah satu mafia berdarah dingin tuan.....itu semua di warisi oleh Ayahnya dan tidak sampai Vano saja tapi Arman juga mewarisi kekejaman itu," ujar nya lagi, agar Harlan sadar siapa yang kini tengah mereka hadapi.


"Aku tidak perduli, jika mereka adalah seorang mafia hebat, maka kali ini gelar hebat itu akan berubah menjadi pengecut, karena aku yang akan melenyapkan mereka secara bersamaan!" kata Harlan penuh rasa bangga, ia sangat yakin sekali bisa melenyapkan keempat orang itu, "Lagi pula itu sangat bagus bagi kerajaan bisnis ku bukan, jika mereka hancur maka aku yang akan memenangkan semua ini," kata Harlan lagi penuh percaya diri.


"Iya bos Anda benar sekali."


Harlan melihat kearah anak buahnya, "Malam ini habisi istri dan anaknya, aku ingin menyaksikan Aran menangis darah..... setelah itu baru kita habisi yang lainnya!" titah Harlan di iringi tawa.


"Baik bos!"


Kini Harlan sudah mengirim beberapa orang untuk menuju kediaman Aran, sesuai perintah Harlan jika tujuan mereka adalah Veli dan Kiara.


Sementara di kediaman Aran kini semua tampak seperti sunyi, sebab malam pun sudah semakin larut. Hingga tiba-tiba terdengar suara senjata api.


Dor.


Sebuah peluru panas tertancap pada seorang pria, dan itu adalah orang suruhan Harlan. Sebab rumah Aran kini sudah sangat ketat penjagaannya. Para penjaga itu tidak terang-terangan berdiri di depan gerbang, mereka bersembunyi di tempat-tempat yang tidak terduga oleh musuh. Hingga ia hanya keluar bila ada yang menyusup masuk.


Aran, Bilmar dan Vano tersenyum sambil melihat sebuah cctv. Ke empatnya tahu akan kedatangan orang kepercayaan Harlan, karena mereka sudah berhasil memasukan orang untuk melaporkan setiap misi yang akan di jalankan oleh Harlan.


"Iya dan aku tidak ingin membahayakan nyawa istriku....lebih baik kita tuntaskan segera pria itu!" ujar Aran.


"Benar sekali!" kata Bilmar yang setuju dengan ide Aran, karena tidak baik menunda waktu.


Ke empatnya keluar dari ruangan kerja Aran, mereka kini menaiki mobil dan akan menunju tempat dimana Harlan berada. Dua jam berlalu mereka sampai di sebuah gedung, gedung itu terlihat besar dengan warna dinding hitam. Bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.


Bruk.


Aran melemparkan seorang pria yang tadi mencoba menyusup masuk kedalam rumah nya, bukan hanya satu tapi ada sepuluh orang yang ikut menyusul.


Harlan terkejut dan ia melihat siapa seseorang yang ada di hadapannya, bahkan sudah berani masuk tanpa ijinnya. Seketika mata Harlan melebar, karena ternya Aran di sana.


"Kau!" Harlan bangun dari kursi goyangnya, ia menatap Aran penuh kebencian.

__ADS_1


"Kalau kau ingin mencari ku maka aku di sini!" ujar Aran dengan angkuh.


Harlan sangat tidak suka dengan keangkuhan Aran, kemudian ia melihat ada tiga orang pria bertubuh tegap yang juga berdiri di belakang Aran, "Apa kau takut? Hingga harus memboyong semua anggota keluarga mu untuk menemui ku?" tanya Harlan dengan sini, bahkan ia seakan merendahkan Aran.


"Kami tidak takut Harlan, hanya saja kami ingin menunjukan bahwa keluarga sejati itu seperti ini....bukan seperti kau!" ujar Bilmar dengan bangga.


"Sebaik nya tidak usah ikut campur, kalau kau masih ingin hidup bahagia dengan istri dan anak haram mu itu!" tutur Harlan dengan penuh rasa bangga, dan merendahkan Bilmar.


Tidak ada aba-aba yang jelas saat pria itu menyebutkan anaknya adalah anak haram itu membuat jiwa iblis Bilmar keluar, ia tahu itu dosa yang ia lakukan dengan istrinya. Tapi bukan berarti anaknya harus menjadi anak haram, karena mereka tidak bersalah. Dengan cepat Bilmar meloncat dan menendang dada Harlan hingga terpental di lantai dengan begitu saja.


"Kurangnya ajar!" umpat Harlan, ia bangun kembali walaupun dengan sedikit susah. Dan di saat itu pula banyak anak buahnya yang seketika keluar, karena bos mereka ada yang menyerang.


Bilmar mengangkat tangan kirinya sambil menunjuk Harlan, "Mulut mu sangat lancang sekali, aku harap setelah ini kau tahu cara berbicara dengan benar!" tegas Bilmar..


"Habisi mereka!" titah Harlan pada anak buahnya.


Harlan sudah sangat kesal dengan Bilmar yang berani menghajarnya, dan ia ingin melumpuhkan Bilmar. Bukan hanya Bilmar saja, tapi juga ketiga saudara yang lainya juga.


Buk.


Buk.


Buk.


Perkelahian pun tidak bisa lagi di hindari, karena Bilmar tidak tinggal diam ia juga menghajar habis orang suruhan Harlan. Dan begitu juga Aran, Vano dan Arman. Ketiga pria berjas itu juga seakan melatih kembali semua kemampuan mereka.


Buk.


Buk.


Buk.


Semua anak buah Harlan terpental di lantai, sampai akhirnya Aran menatap Harlan.

__ADS_1


"Waktunya Harlan...." kata Aran tersenyum penuh misteri sambil berjalan mendekati Harlan.


__ADS_2