Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 29


__ADS_3

Hari ini Ziva membuat gado-gado, karena Veli ingin makan gado-gado buatan Ziva. Ziva tidak menolak dan ia pun sangat senang sekali, hingga pagi-pagi tadi ia minta di antarkan Vano untuk ke rumah Veli. Dan kini Ziva tengah bersama Veli di dapur, Veli duduk dan Ziva yang mulai memasak di temani Art.


"Ziva, pecelnya agak pedes dong," kata Veli.


"Boleh, tapi nggak terlalu pedes ya. Nanti kamunya mules loh....." kata Ziva sambil tersenyum.


"Ok deh Mama Ziva," seloroh Veli.


"Kamu bisa aja," Ziva terkekeh karena ia seperti seorang ibu yang tengah mengurusi anaknya.


"Hehehehe.....aku bisa aja," Veli terkekeh melihat wajah Ziva, "Ziva kamu belajar masak dari siapa sih? Kok masakan kamu itu enak banget."


"Aku dulu punya tetangga, pas aku masih ngontrak dulu dia baik banget bahkan dia yang bantu aku masak," kata Ziva sambil mengingat seseorang yang dulu pernah membantu dirinya, Ziva juga ingat di mana saat itu mereka selalu ada untuk dirinya dan si kembar Daffa dan Daffi. Hingga Ziva meminta Vano membuatkan rumah untuk mereka, dan juga sebuah usaha hingga membuat nya tidak harus menjual diri seperti dulu lagi.


"Emang kamu pernah ngontrak Ziva?" tanya Veli yang tidak mengetahui masa lalu Ziva.


Ziva mengangguk, ia terus melanjutkan pekerjaannya, "Aku juga pernah jadi wanita malam Vel," terang Ziva dengan wajah tertunduk.


"Wanita malam Ziva?" Veli terkejut dan ia juga sedikit menyesal bertanya, karena itu memang bukan urusannya, "Ziva maaf ya, aku nggak maksud apa-apa, kamu nggak usah cerita lagi," Veli semakin merasa tak enak hati.


"Kenapa?" Ziva tersenyum menatap Veli, ia meletakan sepiring pecel buatan Ziva di atas meja makan untuk di makan Veli, sesaat kemudian ia juga ikut duduk bersebelahan. dengan Veli, "Aku nggak mau kok Vel, cerita ke kamu," terang Ziva lagi.


"Iya udah aku cobain pecel kamu yang pasti super enak ini," kata Veli sambil menyiapkan pecel ke mulutnya dan menatap Ziva kembali, ia masih merasa tidak enak, "Maaf ya Ziva buat pertanyaan aku yang tadi."


"Loh....kamu masih merasa bersalah Vel?"


"Hehehehe," Veli mengangguk cepat sambil menyuapi pecal tersebut dan mulutnya tidak ada hentinya menginyah.


"Jadi dulu itu orang tua aku meninggal Vel, dan adik aku Daffa sama Daffi masih masih SD, aku juga masih SMA, dan aku itu di usir sama Tante, sama Nenek aku dari rumah peninggalan mendiang orang tua aku. Akhirnya aku ngontrak, terus abis itu aku kerja di kafe paruh waktu buat kebutuhan sehari-hari nya, buat ngontrak juga. Dan nggak lama kemudian musibah besar menimpa aku di mana Daffi menderita tumor sampek harus operasi segera, dan aku masuk di dunia malam dan....." Ziva menatap Veli tanpa melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Dan?" Veli ragu untuk bertanya tapi mau bagaimana lagi, jiwa keponya meronta-ronta. Lagi pula kalau pun ia tahu ia tidak akan menghina Ziva, ia hanya ingin tahu seperti apa hidup Ziva. Itu saja tidak lebih, semua hanya untuk ia jadikan pelajaran. Bahwa ada orang yang mendapat cobaan yang cukup sulit dari dirinya, bahkan melebihi dirinya.


"Dan aku di beli sama Om....Om," kata Ziva.


"Om-om?"


"Iya, Om Vano," terang Ziva sambil mengingat malam panas di sebuah club malam itu, dimana ia menangis dengan hati yang tercabik-cabik.


"Om Vano?" Veli semakin di buat bingung,


"Iya, dulu aku itu di beli sama Mas Vano, dan ternyata dia masih punya istri kan Vel?" Ziva tahu Veli hanya tahu ia menjadi istri simpanan Vano, tapi Veli tidak tahu jika ia pertama kali nya kenal dengan pada karena Vano membelinya dan di sanalah kisah mereka di mulai.


"Ziva aku beneran kepo tingkat iblis, karena kamu udah cerita begini," jelas Veli.


"Iya memang begitu Vel, aku itu dulu di paksa dan di ancam sama Mas Vano. Sampek akhirnya kami menikah, dan akhinya Mas Mas Vano cerai sama Keyla dan aku jadi istri satu-satunya, tapi dulu aku benci banget sama Mas Vano, tapi itu dulu Vel, sekarang enggak. Sekarang aku cinta mati sama di," Ziva tersenyum sambil mengingat wajah tampan sang suami.


"Gila, ternya cerita cinta kalian lebih sadis dari pada cerita aku sama Mas Aran ya?" Veli salut pada Ziva, dan ia merasa apa yang di lalui Ziva cukup berat, hingga ia merasa bersyukur masih memiliki keluarga yang lengkap terutama kedua orang tuanya.


"Ahahahahah," Veli tertawa terbahak-bahak, "Serius Ziva lu manggil dia Om Vani?"


"Iya, aku serius....duarius malahan," jelas Ziva sambil terus terkekeh.


"Aku beneran nggak nyangka loh Ziva, ternya Mas Vano itu punya kisah yang sangat menarik dengan kamu."


"Kisah kami itu aneh Vel, udah gitu lucu dan juga menyakitkan.....banyak halangan dan rintangan yang kami lalui sebelum kami akhinya bahagia seperti saat ini, ini hanya bagian dari kebahagian kami setelah masa sulit yang kami lalui," terang Veli.


"Gila, Ziva kisah kalian itu keren banget sih," Veli mengacumkan jempol pada Ziva.


"Lumayan sih Vel."

__ADS_1


"Sayang," terdengar suara Vano yang baru saja datang dan ada Aran di belakang Aran juga.


"Mas," Ziva tersenyum melihat suami yang ia cintai.


"Baru di omongin udah muncul," kata Veli menatap Vano.


"Kalian ngomongin Mas yang?" tanya Vano sambil mendekati Ziva.


"Iya," Ziva tersenyum dan memeluk lengan Vano.


"Ngomongin apa?" Vano mengecup tangan Ziva.


"Ngomongin cinta kita yang abadi selamanya," Ziva memeluk Vano dengan cepat.


"Aduh aku jadi iri," Veli juga cepat-cepat mendekati Aran dan memeluknya, "Veli juga mau peluk dong Mas."


"Yakin peluk aja?" tanya Aran.


"Mas apasih," Veli mencubit pinggang Aran.


"Au, sakit yang," Aran menggosok pinggang nya walau pun tidak sakit tapi ia berpura-pura kesakitan agar Veli senang dan bangga karena berhasil mencubit nya.


"Makanya jangan nakal," kata Veli.


Tidak lama berselang Ratih datang membawa paperbag di tangannya, itu adalah makanan yang ia buatkan untuk Veli. Namun sampai di dapur ia justru melihat ada dua pasang suami istri yang tengah saling memeluk istrinya.


"Aduh......Papi....." teriak Ratih, hingga ke empatnya sadar ada Ratih di sana.


"Mami," kata Veli merasa malu.

__ADS_1


"Papi.....mereka pelukan, Mami juga mau di peluk," Ratih berjalan keluar dan menemui suaminya yang tadi duduk di ruang tamu.


__ADS_2