Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 50


__ADS_3

Assalamualaikum semuanya, semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Dan mari kita lanjutkan cerita para kurcaci Zie end the Genk, semoga kalian terhibur ya....


Lima tahu kemudian.


Lima tahun sudah berlalu semuanya masih baik-baik saja dan hidup bahagia. Namun tidak jarang juga keempat pasutri itu terlibat pertengkaran hanya karena pertengkaran kecil dan itu biasa bukan? Dalam rumah tangga dibumbui dengan keributan dan ada rasa cinta di dalamnya.


Aran memiliki 2 orang anak yang pertama bernama Kiara dan yang kedua bernama Kevin, kakak beradik itu tidak jarang terlibat pertengkaran. Usia mereka yang hanya berjarak satu tahun saja membuatnya seperti kembar identik. Seperti pagi hari ini Kevin datang ke kamar Kiara dan iya merusak buku milik Kiara, Kiara tentu saja tidak diam saja ia langsung berteriak sambil memanggil Mamanya, "Mama!!!" teriak Kiara.


Veli yang sedang mengurus suaminya sarapan pagi mendengar teriakan Kiara, "Apalagi yang bocah itu ribut kan!" kesal Veli sambil membuat roti untuk Aran.


Aran hanya tersenyum karena istrinya ini sudah sama seperti Mami Ratih, yang setiap harinya hanya mengomel karena kenakalan anak-anaknya.


Veli yang tahu u Aran tengah menatapnya merasa kesal, "Mas Kenapa? Konslet!"


Aran bergidik ngeri melihat istrinya, "Enggak yang," kata Aran terbata-bata.


Setelah menyiapkan sarapan pagi untuk suami tercintanya, Veli bergegas menuju kamar Kiara. Karena kedua anaknya itu pasti sedang memperebutkan sesuatu di sana, sedangkan mereka harus segera berangkat ke sekolah. Dan benar saja sampai di depan pintu kamar Kiara, Veli bisa melihat Kiara yang tengah menangis dengan Kevin yang tertawa karena berhasil menyimpan pensil warna miliki Kiara.


Veli berkacak pinggang dengan cilmek yang masih menggantung di lehernya ia mendekati Kevin dengan pandangan yang tajam, "Balikin punya Kak Kiara!" kata Veli.


Kevin yang takut pada Veli mulai memberikan pensil warna milik Kiara, "Ambil," kata Kevin, "Dasar pelit!" ucap Kevin lagi.


"Ini punya aku tahu!" kesal Kiara setelah pensil warnanya berada di tangannya, "Ini baru dibeliin sama Deddy bilmar!" jelas Kiara.


"Itu bukan tahu, tapi tempe!" kata Kevin. Kevin memang memiliki sipat jail, dan sangat suka menggoda Kiara dan sifat itu tanpaknya di warisi dari Aran juga Daddy Bilmar.


"Ini pensil cantik!" teriak Kiara tidak mau kalah.


"Ah.... pensil jelek saja bangga!" kata Kevin lagi.


"Ini itu cantik kamu yang nggak tahu kecantikan itu apa!" jawab Kiara sekolah ia sudah dewasa dan sangat mengerti dengan kecantikan, "Dasar nggak punya selera tinggi!"


"Diam!!!" kesal Veli, bahkan setengah berteriak, karena dari tadi putra-putrinya terus saja bertengkar dan itu membuat kepalanya sangat pusing.


Kiara dan Kevin bergidik ngeri keduanya terdiam karena takut pada Mama Veli.


"Cepat siap-siap sebentar lagi Papa akan berangkat ke kantor dan kalian sekalian berangkat ke sekolah!" perintah Veli kepada putra-putrinya dan ia ingin tidak ada bantahan.


"Ya Ma," jawab Kiara dan Kevin bersamaan dan keduanya bergegas bersiap-siap.

__ADS_1


"Dasar anak-anak nakal!" omel Veli, iya keluar dari kamar dan ternyata ada Aran di depan pintu kamar anaknya.


"Jangan ngambek Ma, Nanti Papa beliin tas keluaran terbaru cuma buat Mama," kata Aran sambil mencolek hidung Veli.


Mendengar tawaran yang diberikan Aran sangat menggiurkan, Veli melupakan kemarahannya, "Serius Pa?" tanya Veli dengan wajah yang berbinar.


"Iya dong Sayang, Sejak kapan Papa nggak serius sama Mama sejak dulu sampai sekarang sama saja.....Papa tetap cinta sama Mama,"


Veli tersipu malu tak kala Aran menggodanya, tidak masalah umur semakin menua dan anak sudah dua. Tapi keromantisan tidak pernah berubah sama sekali sejak dulu hingga sekarang, "Papa...." Veli memukul dalam bidang Aran dengan bahagia dan begitu manja hingga membuat Aran lupa dengan segalanya.


"Manisnya istriku ini...." Aran mencolek pipi Veli dengan gemas.


"Bikin adik buat Kiara sama Kevin yuk," kata Aran. Keduanya memang memanggil Papa dan Mama bila ada anak-anak, tapi jika berdua saja keduanya sama saja seperti dulu. Seperti orang yang masih berpacaran.


"Iya Ayuk......" jawab Veli tersenyum malu dan keduanya langsung menuju kamar.


Padahal jam menunjukkan pukul 7 pagi dan ini adalah waktunya untuk Aran berangkat ke kantor. Veli juga ke rumah sakit sementara kedua anaknya bersekolah. Mungkin Aran dan Veri melupakan itu karena keduanya ingin bersama setelah beberapa hari keduanya terus bekerja bahkan sangat jarang mengumpul bersama.


Setelah masuk ke dalam kamar Aran langsung mengunci pintu ia mendekati istrinya dan menariknya ke atas ranjang dengan perlahan-lahan. Aran kembali membuka kancing kemeja yang baru saja ia pakai dan menarik pinggang istrinya hingga membentuk dada bidangnya, Aran terus mendekatkan wajahnya dan melahap habis bibir istrinya dengan penuh damba namun saat permainan akan dimulai tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Dor dor dor!


Terdengar suara pintu yang gedoor bahkan menggedor nya bukan dengan cara yang pelan lebih tepatnya seperti akan mendobrak.


"Papa!!!!! Mama!!!!" seru Kiara.


Dor dor dor.


"Mama!!! Papa!!!" teriak Kevin.


Aran dan Veli saling pandang, "Sayang gagal lagi," kata Aran dengan wajah melasnya.


"Mas udah jam delapan...." mata Veli menatap jam yang terpasang di dinding, "Veli masuk kantor Mas!" Veli dengan cepat mendorong Aran agar menjauh, ia cepat-cepat memakai dress dan mengambil jas putih miliknya.


"Sayang Mas gimana?" tanya Aran dengan rasa sedihnya.


"Tunda dulu Mas," kata Veli yang kini tengah di depan cermin memakai lipstik.


"Mama!!!" seru Kiara dari luar sana.

__ADS_1


"Papa, Kevin udah telat!!!!" teriak Kevin juga.


DOR DOR DOR....


"Anak-anak itu!" Aran meremas rambutnya, "Yang Mas udah puasa satu Minggu lho...." kata Aran dengan sedih nya.


"Kenapa nggak tadi pagi?" tanya Veli, yang sudah selesai dengan riasannya.


"CK.....wanita tidak pernah salah," gumam Aran.


"Mas ngomong?" tanya Veli yang samar-samar mendengar gumaman Aran.


"Enggak yang," bohong Aran.


"Ayo cepat bangun," Veli menarik tangan Aran hingga suaminya itu berdiri di hadapannya. "Nanti siang Veli udah pulang kita pacaran di rumah...." tawar Veli sambil menaik turunkan alis matanya.


Aran tersenyum mendengar tawaran Veli yang mengiurkan itu, "Sayang janji ya, Mas kan juga butuh perhatian kamu bukan cuman anak-anak aja yang butuh kamu," pinta Aran.


"Iya....." Veli mengangguk, ia sadar memang kini perhatian nya sudah terbagi. Tapi mau bagaimana lagi kedua anaknya masih terlalu kecil dan butuh perhatian dari nya.


Clek.


Veli membuka pintu.


Brak.


Kiara dan Kevin langsung terjatuh.


"Mama!!!" teriak Kiara.


"Mama!!!" teriak Kevin.


"UPS....." Veli terkejut karena tanpaknya anak-anaknya bersandar di daun pintu, hingga saat ia membuka pintu kedua kurcaci itu langsung terjatuh.


"Azab!" kesal Aran pada kedua kecebongnya.


"Papa!!!" Veli menatap Aran dengan tajam.


"Ampun Ma," Aran menangkup kedua tangannya, "Beneran ampun Ma," Aran ketakutan apalagi jika Veli membatalkan acara pacaran mereka nanti siang.

__ADS_1


*


Jangan lupa Like dan Vote Kaka, siap-siap buat ketemu Zie ya.


__ADS_2