
Kini Kiara tengah di susui oleh Veli, sedangkan Aran duduk di sisi ranjang melihat Kiara yang sedang di beri ASI.
"Veli, kok bisa ya ada air nya......padahal selama ini kan nggak ada airnya," tanya Aran. Tanpaknya otak Aran masih harus banyak belajar, agar ia mengerti dan tidak banyak bertanya lagi.
"Mas apasih pertanyaannya nggak ada yang lain apa?" Veli merasa Aran selalu bertanya hal yang aneh, dan setiap pertanyaan yang di ajukan Aran cukup membuatnya pusing.
"Mas kan nanyak sayang," Aran memegang pipi Kiara, "Mas nggak nyangka banget, ternyata cetakan Mas berhasil," lanjut Aran lagi.
"Huuuufff," Veli lagi-lagi menarik napas karena suaminya itu.
"Veli abis ini kita buat adik nya Kiara lagi ya," Aran sibuk memainkan pipi bayinya, padahal bayinya sedang minum asi.
"Iya abis ini kita buat, nanti selanjutnya Mas aja yang hamil," jawab Veli asal.
"Sayang kamu kok ngomongnya begitu?" Aran kesal dengan apa yang di katakan Aran, hingga tidak lama kemudian Ziva datang bersama Vano dan ada Arman bersama Seli.
"Assalamualaikum...." Ziva dan Seli memberi salam.
Veli dan Aran melihat arah pintu, "Waalaikumsalam," jawab Aran dan Veli.
"Adu selamat ya Vali," Ziva mendekat dan memeluk Veli, sementara Aran menjauh dan mendekati Arman juga Vano.
"Selamat bro," Vano memberi salam pada Aran.
"Alhamdulillah bro...." jawab Aran.
"Gimana rasanya jadi Papa?" tanya Arman.
"Luar biasa," Aran menggeleng karena semalam ia kurang tidur akibat ikut menjaga putrinya.
Jika para lelaki itu sibuk dengan pembicaraan mereka, maka begitu pun dengan ketiga emak-emak rempong yang sudah berkumpul bersama itu. Veli duduk di atas ranjang, sementara Ziva dan juga Seli duduk di sisi ranjang. Hingga tidak lama berselang Anggia dan Bilmar juga datang.
"Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam....."
"Anggia......kamu dari mana aja?" tanya Veli.
Anggia mendekat ke ranjang, sedangkan Bilmar duduk di sofa bersama para lelaki itu. Anggia masuk di antara Veli, Seli, Ziva, dan setengah berbisik agar yang lain tidak mendengar, "Sorry aku terlambat, tadi abis kasih jatah dulu sama laki," kata Anggia.
__ADS_1
"Ahahhahaha....." Seli malah tertawa lebar.
"Huuusss......suaranya," Ziva memperingati Seli, hingga akhirnya Seli mengecilkan suaranya dan ke empatnya tertawa dengan mulut yang di tutup sebab takut baby Kiara menangis.
"Emang berapa ronde? Keliatannya lemas banget?" seloroh Veli dengan suara yang kecil pula agar suami-suami itu tidak mendengar obrolan mereka yang cukup ekstrim itu.
Anggia kembali mendekat, "Lumayanlah permintaan yang di dalam jugakan..." Anggia menunjukan perutnya yang sedikit membuncit karena ia sudah hamil tiga bulan.
"Eeermmpppp......" ke empatnya tertawa, tapi sambil di tahan dan tangan mereka juga menutup mulut.
"Gila lu emang topcer parah," seloroh Ziva.
"Gw mah baring aja dan nikmatin, yang kerja dan bergerak itukan Daddy nya....." Anggia juga merasa rindu dengan perkumpulan mereka itu, sebab bila bersama ia merasa seperi punya saudara sekandung.
"Sialan lu......" kesal Veli.
"Yee....sirik....dia mah puasa abis ini ya?" celetuk Seli.
"Eh....iya, Seli puasa....ya?" timpal Ziva.
"Ish....kalian mah tega, ngejek aku...." Veli memanyunkan bibirnya, karena kesal di ejek.
"Ahahahhaha......" ke empat wanita itu akhirnya tertawa dengan lepas, padahal pembahasan mereka sama sekali tidak masuk akal.
"Kamu ada rencana tambah lagi nggak Ziva?" tanya Seli.
"Rencana sih enggak Sel, cuman kalau misalnya di kasih lagi ya syukur......" jawab Ziva.
"Kalau kamu Sel ada rencana nambah adik buat Gibran?" kali ini Veli yang bertanya pada Seli.
"Rencana sih ada, tapi mungkin belum di kasih ya.....sabar lah," jawab Seli yang kali ini menggendong Kiara.
"Kalau Anggia mah nggak usah di tanya ya? Dia mah parah ey....." celetuk Veli.
"So....pastilah," jawab Anggia terkekeh.
"Zie kok nggak di bawa sih Ziva, aku kangen tau sama pipi nya....tembem banget," kata Veli ya g sudah beberapa hari tidak melihat Zie.
"Gimana nggak tembem Veli, makan terus mulutnya.....si Zie," kata Ziva mengingat putri sulungnya itu yang terus makan tanpa jeda bahkan berat badannya sudah sangat mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Ya nggak papa yang penting sehat," tambah Anggia.
"Ayah nya yang kayaknya kurang sehat," kata Veli.
"Kok Ayahnya?" tanya Ziva bingung.
"Kurang kamu kasih jatah,,,,, Ahahahaa....." Seli tertawa dengan lepas.
"Kalian ngomongin apasih?" tanya Bilmar yang mendekati Anggia.
"Biasa lah Abang," Anggia tersenyum, "Abang mau gendol Kiara nggak?"
"Boleh deh," kata Bilmar, Bilmar sudah cukup pintar menggendong bayi. Sebab ia sudah berpengalaman dalam mengurus dua anak nya.
"Em," Anggia mengambil Kiara dari gendongan Seli, dan memberikannya pada Bilmar.
"Gila lu Bil, pinter banget gendong bayi," kata Aran yang merasa sedikit terkejut.
"Emang lu....yang cuman bisa bikin," kata Arman.
"Alah lu juga ngomong sombong, kemarin pas Gibran lahir lu juga nggak berani gendong badan aja gedek!" kata Vano yang mengingat Arman juga sama seperti Aran yang tidak berani menggendong bayi.
"Kalian semua sama aja, yang jago itu cuman gw....." Bilmar membanggakan dirinya.
"Alah bacok lu, gw juga jago!" Vano juga tidak mau kalah ia juga mencoba menggendong Kiara, setelah beberapa menit ia menggendong Kiara Vano melihat Aran, "Ran, ni anak lu gendong cepat."
"Ku jangan macem-macem Van, gw takut....." kata Aran menjauh.
"Alah bikinnya aja pinter, giliran udah lahir di gendong aja nggak berani!" kata Vano.
"Bikinnya gampang.....tinggal masukin aja," jawab Aran dengan konyolnya.
"Mas!" Veli kesal dengan suaminya itu yang sangat suka bicara asal.
"Hehehehe...... Khumairah sayang itu fakta ya," kata Aran.
"Khumarah sayang sekarang ya? Dulu tiap jumpa selalu ribut aja lu pada!" Bilmar terkekeh mengingat kisah awal Veli dan Aran dimulai bahkan malam pertama Bilmar dan Anggia sampai tertunda hanya karena pertengkaran pasutri itu.
"Itu sih dulu, kalau ngomongin dulu ya....dulu juga lu ngejar-ngejar Anggia," Aran juga tidak mau kalah ia juga mengingatkan tentang Bilmar yang mengejar-ngejar Anggia, "Lampu mati kan waktu itu dan gw yang matiin nah lu....bisa Bobo bareng Anggia," kata Aran sambil tertawa.
__ADS_1
"Apa? Jadi dulu lampunya sengaja di matiin?" Anggia kesal saat tahu kenyataan yang sebenarnya, padahal di malam itu ia sangat ketakutan tapi malah Bilmar memanfaatkan kesempatan.
"Itu Aran Ngi, Abang nggak ikutan," Bilmar yang sudah bucin akut itu menunjukan dua jarinya menunjukan jika ia tidak berbohong karena ia taku terkena amukan Anggia.