
Aran mendekati Harlan dengan tangan kosong, senjata api milikinya ia berikan pada Bilmar. Karena Aran ingin membalaskan apa yang pernah Harlan berikan pada dirinya.
Buk!
Satu bogem mentah mendarat pada wajah Harlan hingga terlihat cairan merah yang mengalir dari sana.
Wajah Harlan terbawa kesamping, ia bisa melihat ada cairan merah. Kemudian Harlan mencoba mengambil senjata apa milik nya, namun dengan gerakan cepat Aran menendang tangan Harlan hingga senjata itu terbuang dari tangan Harlan dengan cukup jauh.
Aran tersenyum sinis, ia berkacak pinggang, "Mari kita lihat cara mu memperlakukan saya di di hari itu Harlan!" ujar Aran tersenyum penuh misteri.
Buk.
Buk.
Buk.
Aran terus menghajar Harlan hingga ia jatuh terkapar di lantai, bahkan wajahnya sudah sangat memar.
"Habisi saja!" kata Bilmar, karena ia sangat membenci Harlan yang beru saja mengatakan jika anaknya adalah anak haram.
Bilmar tentu saja tidak terima akan hal itu, sekali pun benar anaknya adalah anak harap tapi itu bukan kesalahan anak-anak nya. Karena itu kesalahan nya bersama Anggia jadi tidak ada yang berhak menyebutkan jika anaknya adalah anak haram.
"Biasanya Vano yang suka bagian ini," ujar Arman.
Arman mengambil senjata api yang di pegang Bilmar dan memberikannya pada Vano.
"Jangan Aran...." wajah Harlan memucat, dan ia sangat takut jika keempat pria bertubuh tegap di hadapannya malah benar menghabisi dirinya.
"Kenapa?" Aran terkekeh, "Dulu kau tidak begitu, bahkan beberapa saat lalu kau terlihat sangat angkuh!' ujar Aran mengingatkan bertapa sombongnya Harlan barusan.
"Jangan Aran aku mohon," pinta Harlan penuh harap.
"Ayo Vano habisi saja!" ujar Bilmar.
Vano mendekati Harlan dengan senjata api di tangannya, ia memang sangat suka bagian yang seperti ini.
"Jangan aku mohon," Harlan mencoba mundur, tapi tidak bisa karena Aran menghajarnya habis-habisan. Hingga ia tergeletak di lantai dan cukup sulit untuk bergerak.
__ADS_1
"CK!" Vano berdecak, "Aku tidak suka berhadapan dengan orang yang ketakutan, bagi ku kau hanya abu!" kata Vano.
Vano menjauh dan memberikan senjata apinya pada Arman, "Aku sudah berjanji pada istri ku Ziva untuk tidak lagi melakukan itu," kata Vano.
Ziva adalah istri yang sangat ia cintai, dan ia memang sudah berjanji pada kekasih halal nya untuk tidak lagi menghabisi orang.
"Dasar bucin!" kata Arman.
"Kalau begitu kau saja!" kata Bilmar pada Arman.
"Seli sedang mengandung, jadi aku tidak akan melakukan itu," kata Arman. Padahal sama saja ia pun takut mengingkari janjinya pada Seli, dan ia tidak sanggup bila sampai Seli tahu dan ia akan di ceraikan. Arman bisa jadi gila lagi seperti dulu bila Seli menceraikannya.
"Udah serahin sama Bilmar," kata Vano.
"Tangan ku ini terbiasa membelai istri cantik ku, jadi aku tidak ingin mengotori nya," jelas Bilmar. Padahal ia pun sana saja, Anggia sudah mengancam Bilmar bila sampai Bilmar mengikuti jejak Vano dan Arman. Dan itu tidak akan di lakukan Bilmar sebab semua orang sudah tahu bertapa Bilmar sangat mencintai Anggia.
"Lemah!" kata Aran menunjuk ketiga saudaranya.
"Kau saja!" kata Vano pada Aran.
"Itu pilihan bagus!" tambah Bilmar.
Aran harus mengatakan apa, ia pun sama saat Veli tahu tentang kekejamannya ia sudah berjanji untuk tidak lagi melakukan itu.
"Polisi saja," Aran merasa itu adalah keputusan paling baik, lagi pula Harlan sudah seperti mayat hidup terkapar di lantai.
Tidak lama berselang polisi datang dan langsung membawa Harlan beserta anak buahnya, tidak ada yang merenggut nyawa. Sebab ke empat lelaki itu hanya mengajar sampai mereka patah tulang saja, karena mereka sudah berjanji pada istri cantik mereka di rumah untuk tidak lagi menghabisi orang lain.
"Kau lemah sekali!" kata Vano pada Aran, dan kini mereka masuk kedalam mobil.
"Kau juga sama, takut istri!" kata Aran sambil membuka kaca mobilnya.
"Katakan kalau kau tidak!" Vano menunjuk wajah Aran.
"Tidak, tapi iya juga," kata Aran sambil terkekeh, karena wajah cantik istri nya lagi-lagi membayanginya.
"Sok-sok kan ngatai orang!" Vano kesal dan seolah akan memulai Aran.
__ADS_1
Kini keempat pria tampan itu pergi dari markas Harlan, mereka langsung menuju kantor untuk mengganti pakaiannya mereka barulah mereka nanti menemui istri mereka.
Keempat pria tampan itu ingin merayakan hari ini, dimana mereka berhasil menumpas Harlan dan kini mereka sudah duduk di restauran milik Aran yang baru di resmikan. Karena sempat terhenti sebab menghilangnya Aran dua bulan lalu, sebuah meja yang berukuran cukup besar sudah tertata rapi karena mereka akan makan malam bersama.
Aran, Bilmar, Vano dan Arman sudah duduk di kursi. Mereka tengah menunggu masing-masing bidadari mereka yang sedang dalam perjalanan.
"Gila gue nggak nyangka Vano bener-bener taubat," seloroh Bilmar, sebab ia sangat tahu siapa Vano. Seorang mafia dengan kekejaman tinggi tanpa mengenal kata ampun, dan kali ini Vano benar-benar takut pada Ziva yang masih berumur belasan tahun.
"Demi istri," kata Vano, sebenarnya ia pun geli dengan dirinya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi ia sangat mencintai istrinya Ziva.
"Mafia takut istri!" celetuk Arman sambil terkekeh.
"Mana istrinya masih bocah!" timpal Aran.
"Bilang Kalau lu pada nggak takut istri?" Vano mengeluarkan ponselnya, dan mulai merekam Vidio, "Ayo bilang Aran kamu berani menentang permintaan Veli, kau juga Arman ayo katakan kalau Seli tidak perlu di dengar kan!" titah Vano mengarah kan kamera ponselnya pada kedua saudaranya.
"Sialan lu!" Aran mengambil ponsel Vano, dan memasukannya ke dalam pas bunga yang berisi air, "Mampus lu berduka di situ!" kesal Aran.
Vano tidak perduli dengan ponsel itu, karena menurut nya ponsel itu tidak penting.
"Ponsel lu noh!" kata Bilmar menyenggol Vano.
"Siapa bilang, itu ponsel Aran," kata Vano dengan santai, "Kalau nggak salah yang baru di beli sama Veli kemarin," ujar Vano lagi.
Aran melebarkan matanya, kemudian ia mengambil ponsel tersebut dan benar ternyata itu ponsel nya, "Kurang ajar!" kesal Aran, karen ponselnya sudah basah, dan sedikit lecet. Karena itu ponsel mahal jadi masih menyala, tapi tetap saja Aran panik.
"Entar gue bilangin Veli, mereka saksi! Kalau lu udah jatuhin ponsel pembeliannya ke pas bunga!" kata Vano dengan rasa bangga.
"Sialan lu!" Aran benar-benar panik, karena ulah Vano.
"Veli tuh!" kata Bilmar menunjuk arah belakang Aran.
"Veli," gumam Aran, ia perlahan berbalik dengan rasa takut. Namun saat ia berbalik ternyata Veli tidak ada, "Sial!" umpat Aran.
"Ahahhaha....."
Arman, Bilmar dan Vano tertawa terbahak-bahak. Karena ternyata Aran 0un sama saja, sama-sama takut istri.
__ADS_1