Dokter Cantik Milik Ceo 2

Dokter Cantik Milik Ceo 2
Episode 55


__ADS_3

"Mama!!!!" seru Kiara.


"Ada apa ini?" Veli bergegas menuju ruang keluarga Karena Iya mendengar Kiara berteriak, "Kenapa harus teriak ini rumah bukan hutan!" kesal Veli.


Kiaran langsung menaik-turunkan dadanya karena ia sedang marah kepada Papa Aran, "Papa.......Ma," adu Kiara.


"Kenapa, kalian kenapa lagi?" tanya Veli lagi.


Veli langsung menatap suaminya dengan pandangan tajam ia tahu pasti Aran tengah menjahili Putri kesayangannya Kiara. Aran dan Kiara memang seringkali terlibat pertengkaran-pertengkaran kecil, karena Aran memang sangat suka menjahili putrinya apalagi saat ia lelah bekerja. Maka yang menjadi sasaran Aran adalah Kiara dan juga kedua adik Kiara karena menurut Aran bersama anak-anak dan istrinya adalah hal yang sangat menyenangkan, dan dinantikan oleh Aran. Kesibukannya saat bekerja mulai dari pagi hingga malam, bahkan sering keluar kota membuatnya jarang bertemu dengan keluarga. Hingga saat bertemu ia merasa begitu bahagia.


"Papa, Kiara nya di apain?" tanya Veli seolah kesal kepada Aran.


"Nggak ngapa-ngapain, Ma," jawab Aran kemudian mendekati Kiara, "Kriting," bisik Aran.


"Mama!!!!" seru Kiara.


"Papa nggak ngapa-ngapain Kiara, Kiara bohong ya," jawab Aran lagi sambil mengejek Kiara.


"Papa bohong Ma, tadi Papa bilang Kiara keriting padahal kan Kiara nggak keriting kan Ma?" Kiara memang sangat tidak suka dikatain keriting walaupun rambutnya memang benar keriting, dan ia akan sangat membenci orang-orang yang mengatasinya keriting.


Veli tersenyum ia berusaha menahan tawanya karena Putri keritingnya memang sangat anti bila disebut keriting, "Iya rambut anak Mama nggak keriting. Kok Papa bilang keriting!" kata Veli lagi seolah ia ikut kesal kepada Aran padahal sebenarnya Veli juga merasa lucu pada Kiara.


"Dasar keriting!" kata Aran lagi menggoda putrinya.


"Mama!!" teriak Kiara Lagi.


"Hahaha.......," Aran tertawa lepas melihat betapa kesalnya Kiara padannya.


"Aduh anak Mama kasihan," Veli langsung memangku Kiara, karena Aran terus menjaili putrinya.


"Ma, Papa nakal kan Ma?" tanya Kiara di dengan kesalnya.


"Iya Papa nakal," kata Veli terus memeluk Kiara.


"Kalau Kiara nakal biasanya di hukum kan Ma?" tanya Kiara lagi.


"Iya, makanya Kiara nggak boleh nakal lagi," kata Veli.


"Kalau Papa nakal juga harus di hukum kan Ma? Kalau enggak namanya enggak adil dong?" Kiara menatap Mama Veli, karena ia sangat berharap jika Papa Aran juga di hukum.


"O tentu," kata Veli agar Kiara kembali tersenyum.


"Kalau gitu sekarang Papa harus di hukum!" kata Kiara menunjuk Aran.


"Kiara enggak kasihan sama Papa?" tanya Aran.


"Enggak! Papa juga nakal!" kata Kiara menirukan suara Aran yang biasa nya mengatakan itu padanya jika ia tengah dimarahi Aran.


"Oke, ayo hukum Papa Ma," Aran melepas kaos oblong di badannya, kemudian mendekati Veli.


"Eh....." Veli menjauh kan dirinya, karena meras ngeri dengan suaminya sendiri, "Papa ngapain?" tanya Veli kebingungan.

__ADS_1


"Papa mau hukuman dari Mama," Aran menurunkan Kiara dari pangkuan Veli, kemudian ia menarik Veli, "Ayo hukum Papa Ma," kata Aran yang menarik Veli menuju kamar.


"Papa, kok ke kamar sih?" tanya Veli.


"Ma, pukul Papa yang kuat ya Ma!!!" teriak Kiara, "Karena Papa nakal!"


"Iya, ayo pukul Papa Ma, tapi di kamar aja soalnya enggak boleh nunjukin kekerasan di depan anak!" seru Kiara.


"Ini Papa setuju!" Aran langsung menarik istrinya menuju kamar dan mengunci pintu dengan cepat.


"Mas apasih?!" kesal Veli.


"Tapikan Papa mau di hukum Ma," kata Arah sambil mendekati Veli.


"Em," Veli mengangguk dan tersenyum, "Di hukum?" tanya Veli lagi.


"Pacaran yuk," Aran mencolek dagu Veli, dan menggigit bibir bawahnya. Tidak lupa Aran juga menarik turunkan sebelah alis matanya menggoda Veli.


Mata Veli melebar seketika, karena Aran tidak pernah berubah. Masih saja sekalu bisa membuatnya tersipu malu, "Yuk," Veli mengangguk.


Tok tok tok.


"Mama!!!!" seru Kiara sambil menggedor pintu kamar kedua orang tuanya.


"Iya," jawab Veli.


"Mana suara Papa? Mama belum pukul Papa ya?" teriak Kiara sambil menempelkan telinganya pada pintu, agar bisa mendengar suara Papa Aran yang kena pukul Mama Veli.


"Iya."


Plak!!!


Plak!!!


"Aaaaa.....sakit Ma!!!" teriak Aran.


"Papa nakal!" kata Veli lagi.


Plak!


Plak!


Veli berulangkali memukul ranjang, dan Aran yang berteriak.


"Ampun Ma...." Aran tersenyum sambil memeluk Veli dengan penuh cinta.


"Hehehe......" Kiara tertawa di depan pintu karena Papa Aran di dalam sana tengah menjalani hukumannya, "Yang kuat Ma!!!" teriak Kiara lagi.


"Iya, Apa Papa Mama sate aja kali ya?" tanya Veli seolah ia tengah kesal pada Aran.


"Jangan Ma!!" seru Kiara dari luar pintu.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Veli yang juga setengah berteriak.


"Kamu sayang sama Papa ya?" tanya Aran dengan bangga.


"Enggak!!!" seru Kiara.


"Terus apa dong?" tanya Veli.


"Biar Kiara aja yang sate, soalnya Kiara dendam sama Papa!!!" teriak Kiara.


"Ahahahhaha....." Veli tertawa terbahak-bahak melihat wajah Aran, karena tadinya Aran berpikir kalau Kiara membelanya tapi ternyata tidak.


"Senangnya nya...." kata Aran menatap Veli yang tengah tersenyum bahagia melihat wajah kesal Aran.


Dret dret dret.


Ponsel Aran berdering dan ia melihat nama Bilmar di sana.


"Apa?"ketus Aran setelah panggilannya terhubung.


Bilmar menjauhkan sejenak ponselnya dari telinga, karena suara Aran yang terdengar tidak bersahabat, "Biasa aja dong!" kesal Bilmar dari sebrang sana.


"CK," Aran berdecak, "Apa, ngapain nelpon gue?!" kata Aran lagi


"Lu sedang apa?" tanya Bilmar.


"Lagu masang!" kata Aran.


"Masang apa?" tanya Bilmar semakin penasaran.


"Tiang ajaib!" jawab Aran tidak kalah kesal, "Lu ganggu, padahal udah mau tertancap!" tambah Aran lagi.


"Sialan lu!" kesal Bilmar.


"Apaan lu nelpon gue, cepetan gue lagi sama bini ni!" kata Aran lagi.


"Mami minta lu datang ke rumah, bersama bocah kecebong lu.....Mami kangen, udah lama enggak ngumpul bareng," kata Bilmar menyampaikan niatnya menghubungi Aran.


"Em," Aran membenarkan apa yang di sampaikan Bilmar, karena kini memang ia sedang sibuk dan ketika ada waktu renggang begini ia berpikir tidak ada salahnya untuk berkumpul dengan keluarga, "Iya, tapi abis gue selesain urusan sama istri ya," seloroh Aran.


"Serah lu, dasar enggak waras!" kesal Bilmar.


Aran menatap Veli yang berdiri di sampingnya, "Gue enggak waras gara-gara bidadari, jadi wajarlah," Aran menggulung-gulung rambut Veli yang terurai.


"Em....." Veli tertunduk dan tersipu malu.


"Khumairah sayang, ini Mas beneran nggak tahan," Aran melempar ponselnya dan langsung memeluk Veli.


"Mas!!!!! Aaaaaaa...Veli nggak kuat Mas!!!" seru Veli karena Aran merasa sangat berat saat Aran melemparkan selimut padanya.


Sementara panggilan telpon Bilmar dan Aran belum terputus, hingga pikiran Bilmar mulai berkeliaran di seberang sana, "Sialan ini orang!" Bilmar langsung mematikan sambungan telepon nya, "Anggi!!!" teriak Bilmar.

__ADS_1


"Apa Abang?" jawab Anggia.


"Bikin adik buat Alma yuk!"


__ADS_2