
Beberapa bulan kemudian.
Kandungan Veli kini sudah memasuki bulan ke delapan, dan hanya menunggu satu bulan lagi ia akan segera menyandang gelar Ibu. Aran sudah mengurangi pekerjaannya, bahkan ia pun sudah jarang pergi ke kantor.
"Mas, Veli pengen anggur," kata Veli.
"Mas lagi malas," Aran lebih memilih duduk bersantai dengan surat kabar di tangannya, dari pada melakukan apa yang di pinta Veli.
"Mas kok gitu sih....." wajah Veli murung yang terlihat menyiratkan kesedihan, "Tapi ini kan maunya anak Mas, anak kita....."
"Iya tau....tapi Mas lagi males aja," Aran tidak berniat sama sekali untuk bangun, ia hanya memperbaiki duduknya dan kembali membaca surat kabar.
"Mas kok gitu sih?" Veli mengerucutkan bibirnya karena kesal.
Aran tidak perduli, ia bahkan tidak menanggapi Veli hingga Veli berniat keluar dari kamarnya. Namun saat ia membuka pintu ia melihat kue yang cukup besar dan bertuliskan happy anniversary, Veli menutup mulutnya yang menganga dengan cukup lebar. Kemudian ia mendekati kue yang berukuran cukup besar itu, ia baru menyadari ternyata mereka sudah satu tahun menikah. Veli terharu, ia kembali ke kamar namun Aran sudah tidak ada. Veli berusaha mencari Aran hingga ia masuk ke dalam kamar mandi, "Mas......" Beli terus mencari sang suami namun Aran sama sekali tidak di temukan nya, hingga Veli menuju balkon karena mendengar suara seseorang yang tengah memainkan piano. Veli kembali terkejut karena ternyata Aran ada di bawah sana dengan tampannya, ia juga menatap Veli.
"Untuk mu Khumairah ku, bidadari surga ku, ratu istana ku......" tutur Aran tersenyum.
"Mas," Veli menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca menatap Aran di bawah sana yang mulai menyanyikan sebuah lagu untuk dirinya. Sesaat kemudian Veli bergegas turun melalui lift, karena Aran sudah melarangnya turun menggunakan tangga kecuali bersama dengan dirinya. Hingga Veli tidak mau membantah, ia menurut saja apa yang di katakan oleh Aran. Kini Veli keluar dari lift dan ia sampai di taman belakang, Veli masih diam terpaku melihat suaminya yang terlihat sangat tampan. Apakah suami tampannya itu sedang tebar pesona di sana oh..sungguh Veli tidak ingin berbagi ketampanan sang suami dengan siapapun. Ia ingin Aran hanya terlihat tampan di matanya saja. Perlahan kaki Veli melangkah mendekati Aran, Aran berhenti dengan piano miliknya itu. Kemudian ia berdiri di hadapan sang istri, begitu pun dengan sang istri yang hanya menatap nya saja tanpa bisa berkata-kata.
"Kenapa? Apakah suami mu ini terlalu tampan sayang?" tanya Aran yang menyadari tatapan kekaguman Veli.
"Jelek," bohong Veli.
"Benarkah?" Aran menjauh dan tidak ingin mendekati Veli.
__ADS_1
"Mas," dengan cepat Veli melingkarkan tangannya di pinggang Aran, ia tidak ingin suaminya itu pergi walau hanya sedetik saja.
"Apa?"
"Makasih," Veli berjinjit sambil memegang pundak Aran dengan cukup kuat, kemudian ia mengecup bibir Aran.
Pertama kali nya Aran mendapatkan hal seperti itu tanpa di minta, karena biasanya Aran lah 6ang memaksanya barulah ia dapatkan. Tapi berbeda dengan kali ini, kali ini semua terlihat begitu indah dan tanpa di pinta.
Aran melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, tidak lama kemudian seorang pemain biola datang dan memainkan lagu yang sangat romantis.
Veli kembali dalam haru, ia sama sekali tidak menduga Aran bisa seromantis itu. Ia semakin di buat berbunga-bunga.
Sebelah tangan Aran mengambil bunga mawar yang ada di atas meja sebagai hiasan, namun Aran malah memakaikannya di telinga Veli. Di mana Aran istrinya itu memang sangat cantik dan tidak ada yang bisa menandingi kecantikan itu, kecantikan yang alami tanpa ada yang bisa menandingi walau hanya sedikit saja.
"Mas," Veli merengek dan langsung memeluk Aran, walaupun pelukan Veli tidak terlalu dekat karena ada perut buncitnya yang jadi pemisah rapi itu tidak menjadi penghalang, yang ada keduanya semakin larut dalam bahagia.
"Makasih," Veli menitihkan air mata, bahkan beberapa butir air mata mengenai kemeja biru Aran. Veli tidak menyangka ternyata kisah cintanya begitu mengharukan dan penuh dengan tanya, awalnya yang hanya menikah paksa kini berujung bahagia, awal nya yang selalu bertengkar kini malah tidak ingin di pisahkan, awalnya yang selalu adu mulut kini malah berubah menjadi beradu cinta. Takdir cinta memang tidak bisa di tebak, semua penuh dengan teka-teki.
"Semua untuk mu Khumairah ku, tidak perlu berterima kasih, karena dengan mau menjadi milikku. Dan mengandung anak ku itu sudah lebih dari cukup, berjanjilah untuk terus setia bersama ku selamanya tanpa perduli dengan banyaknya kekurangan ku."
"Iya, Veli janji.......untuk setia dan selamanya sama Mas," jawab Veli.
"Terima kasih sayang," Aran pun tidak bisa lari dari perasaan bahagianya, masih terlalu larut akan cinta yang indah dan terlihat sempurna karena saling mengisi kekosongan yang ada.
"Makasih Mas kejutannya, Veli aja lupa kalau kita udah satu tahun nikah," Veli menatap Aran sambil cengengesan, "Tapi satu yang Veli nggak pernah lupa."
__ADS_1
"Apa?" Aran merapikan rambut Veli.
"Nama Mas selalu ada di hati Veli," lanjut Veli.
"Terima kasih sayang," Aran kini malah terharu, ia kembali memeluk Veli dan menghujani Veli dengan bertubi-tubi kecupan mesra dari nya.
"Mas kapan kita makan kuenya?" Veli menjauhi Aran dan melihat kue yang tadi ia lihat di depan kamar kini sudah ada di dekatnya, dan entah sudah sejak kapan kue itu di sana karena terlalu asik berdua Veli sama sekali tidak menyadari apa-apa selain keromantisan sang suami tercinta.
"Sekarang, tapi cepat-cepat ya."
"Kok cepat-cepat?" Veli bingung.
"Karena Mas juga lapar."
"Ya...udah Mas juga makan yang banyak biar kenyang."
"Iya, tapi Nas pengen makan kamu."
"Ish....." Veli mencolek kue dan melumuri wajah Aran, hingga ia tertawa lebar karena wajah Aran yang di penuhi kue, "Ahahahahah....." Veli tertawa lebar melihat wajah masam Aran, tidak lama kemudian Veli kembali memegang kue nya dan berniat kembali melumuri wajah Aran. Tapi sayang Aran dapat membaca maksud Veli hingga ia memakan kue di tangan Veli, dan menjilati jari-jarinya, hingga sang pemilik tubuh merasa merinding dan ingin lebih dari itu.
"Ayo potong kue nya," Aran memegang pisau yang cukup besar dan memegang nya bersama Veli lalu memotong kue berukuran besar itu. Veli membuka mulut saat Aran menyuapinya, dan membersihkan mulut Veli tang berantakan, karena Veli makan dengan tidak sabaran.
"Manis," kata Veli sambil mengunyah kuenya kemudian ia pun menyuapi Aran.
***
__ADS_1
Karena banyak yang kecewa novel ini berhenti jadi saya putuskan untuk kembali melanjutkan. Akan tetapi agak lambat karena haru revisi dulu, agar pihak mangatoon bersedia mengontrak Karya saya ini, terima kasih.