Dokter Tomboy Dan Ustadz Gaul

Dokter Tomboy Dan Ustadz Gaul
season 2 1


__ADS_3

Assalamu'alaikum semua, sesuai janji author, Ya. Author dah up season 2, jangan lupa likenya lohh, sama komennya. Makasih❤.


- - -


Aku tidak iri dengan suami orang yang bersikap romantis pada istrinya. Aku hanya ingin kau mencintaiku dengan caramu saja, itu sudah cukup bagiku.


~Tiwi.


°°°


"Allahuakbar," ucap Raihan saat berada di posisi tasyahud akhir.


"Assalamu'alaikum warahmatullah,"


"Assalamu'alaikum warahmatullah,"


Tiwi dan Raihan telah selesai menunaikan sholat tahajjud. Setelah sholat seperti biasa, Tiwi mencium punggung tangan Raihan, dan Raihan mengecup kening istrinya. Sembari menunggu waktu subuh, seperti biasa mereka mengaji bersama.


"Sekarang umi setor hafalan surah an-Nahl," ucap Raihan.


"Iya, Bi. Bismillahirrahmanirrahim ...." Tiwi membacakan Surah an-Nahl yang telah ia hafalkan bertahun-tahun lalu. Raihan memang selalu menyuruh Tiwi untuk menyetor hafalan padanya, meskipun sebenarnya 30 juz Al-Quran Tiwi sudah menyetor pada Raihan. Raihan selalu mengulang hafalan Tiwi, agar Tiwi tidak lupa dengan apa yang ia hafalkan. (suami idaman🙂)



"Sadaqallahhula'dzimmi," Tiwi mengakhiri bacaannya.


"Alhamdulillah, bacaan umi semakin hari semakin bagus," ucap Raihan, sambil mencubit pelan hidung Tiwi.


"Hehe iya, Bi. Alhamdulillah, ini juga berkat abi," ucap Tiwi.

__ADS_1


Mereka saling menatap satu sama lain. Raihan mendekatkan wajahnya ke wajah Tiwi, hembusan nafas mereka bahkan terasa. Saat bibir Raihan ingin menyatu dengan bibir Tiwi tiba-tiba ....


"Allahuakbar ... Allahuakbar ...." suara azan terdengar nyaring di telinga mereka. Seketika Raihan langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Tiwi.


"Udah subuh, ayo kita ambil wudhu, Mi."


Mereka berdua pun beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


~ ~ ~


Saat ini Tiwi sedang asik memotong sosis, sayur, dan seafood, karna ia akan memasak nasi goreng seafood kesukaan suami dan anaknya. Sambil bernyanyi kecil ia memasak dengan gembira, tapi tiba-tiba ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Tentu ia sudah tau siapa pelakunya.


"Abi sana ihh, nanti di liat Ranti lohh." ucapan Tiwi.


"Nggak mau, abi mau peluk umi aja."


"Abi mana bisa masak, Mi." ucap Raihan, sambil melepaskan tangannya yang sedari tadi memeluk pinggang sangat istri.


"Mangkanya, abi sana dulu. Umi mau masak, nanti umi telat ke rumah sakitnya." Tiwi mendengus kesal dengan sikap manja suaminya ini.


"Iya iya, abi nurut dehh." Raihan duduk di kursi meja makan yang memang ada di dekat dapur.


10 menit kemudian, Tiwi sudah selesai memasak. Ia menyajikan makanan itu di depan Raihan.


"Ranti mana, Mi?" ucap Raihan.


"Masih tidur kali, biarin aja lah bi,"


"Subhanallah, jam segini masih tidur? Hufftt ... yaudah, abi bangunin aja," Raihan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Gak usah, Bi. Nanti kalo laper dia turun sendiri, sekarang abi makan dulu, abis itu siap-siap ke kantor," Raihan menuruti apa yang Tiwi ucapkan.


"Umi nanti mau bareng sama abi?" ucap Raihan yang kini telah selesai sarapan.


"Iya, Bi. Tapi bentar, umi bangunin Ranti dulu," Tiwi berjalan menuju kamar anaknya.


(Skip)


"Ayo, Bi. Ranti udah bangun tuh," ucap Tiwi.


"Yaudah, yuk kita berangkat,"


~ ~ ~


Matahari mulai sayup-sayup menghilangkan sinarnya. Saat ini Raihan dan Tiwi sudah berada di mobil untuk menuju jalan pulang.


"Lohh ... kita kok ke arah sini, Bi?" ucap Tiwi.


"Hehe ... abi sengaja, Mi. Kita udah lama gak liat senja. Mau ke pantai, 'kan jauh, lebih baik kita liat senja di danau dekat pesantren,"


"Iya, Bi. ayoo," Tiwi sangat senang, sudah lama ia tidak melihat senja.


Tibalah mereka di danau dekat pesantren. Danau ini pernah menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Di sini takdir kembali mempertemukan mereka.


Senja itu datang, matahari mulai terbenam secara perlahan. Sungguh suasana yang romantis bagi mereka. Raihan memeluk Tiwi dari samping dengan memegang bahunya. Ketika matahari mulai sejengkal lagi terbenam, ia mencium kening Tiwi dengan penuh cinta dan sayang.



~ ~ ~

__ADS_1


__ADS_2