
Pisah? Haruskah aku melakukan itu? Di satu sisi aku masih mencintainya, tapi di sisi lain batinku tersiksa dengan semua ini. Aku harus bagaimana ya Allah.
~Tiwi.
~ ~ ~
Kini Tiwi tengah menagis di kamar tamu. Ia sudah lelah dengan semua ini. Sejenak ia berhenti menangis,
"Apakah aku harus bertemu dengan perempuan itu?" gumam Tiwi.
Ia bergegas mengganti pakaiannya dengan gamis yang berbahan tidak terlalu tebal, lalu mengambil tasnya dan pergi ke luar.
Ia sedikit menyelinap dan mempercepat langkahnya, berusaha agar Raihan tak melihatnya.
"Umi mau kemana?" ucap Raihan, yang tiba-tiba datang datang dari lantai atas.
Tiwi berbalik badan, ia menatap Raihan dengan tatapan malas. "Kenapa?" ucap Tiwi, sambil melipat tangannya di dada.
"Umi mau kemana?" Raihan mengulangi ucapannya dengan nada rendah.
"Mau keluar," ucap Tiwi, lalu menghampiri Raihan.
Tiwi mengambil tangan Raihan, lalu mencium punggung tangan itu, "assalamu'alaikum," ucapnya, lalu melangkahkan kakinya keluar rumah.
__ADS_1
Raihan tak bisa menahan istrinya itu, tapi ia juga tidak mau istrinya pergi karena sebentar lagi akan maghrib.
"Maaf, Mi. Abi terpaksa ngikutin umi," gumam Raihan.
Ia mulai mengikuti Tiwi yang saat ini tengah menaiki motornya. Cukup lama ia membuntuti Tiwi, dan kini sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup mewah.
Tiwi membuka helm yang ia pakai, lalu masuk ke dalam rumah tersebut. Raihan mengawasi Tiwi dari depan pagar.
"Assalamu'alaikum," ucap Tiwi, seraya mengetuk pintu.
Ceklek ....
Pintu terbuka, terlihatlah Ariska yang saat ini agar terkejut dengan kedatangan Tiwi.
"Ohhh ibu tiri. Kenapa ibu kesini, dan nggak ngabarin, Bu. Nanti, 'kan saya bisa jemput ibu," ucap Ariska.
"Penjelasan? maksud ibu, apa?"
"Saya sudah tau semuanya ...." Tiwi tersenyum sinis ke atas Ariska.
"Tunggu, Bu. Ayo masuk, saya sangat tidak sopan jika membiarkan ibu di luar," Ariska menarik pelan tangan Tiwi agar masuk ke rumahnya.
"Sekarang ibu bisa cerita," ucap Ariska saat mereka sudah duduk di sofa.
__ADS_1
"Jangan pura-pura kamu! kamu pasti bukan anak kandung mas Raihan, 'kan!" ucap Tiwi.
"Ibu ngomong apa sih, Bu. Kalo ibu nggak percaya, saya bisa kok tes DNA sekarang," ucap Ariska.
"Saya gak perlu itu. Yang saya perlu adalah pengakuan yang keluar dari mulut kamu!" amarah Tiwi semakin memuncak, tapi ia mencoba menahan semuanya.
"Ohh baiklah, Bu. Sebentar, saya buatin minum untuk ibu dulu," Ariska beranjak dari duduknya, lalu pergi ke dapur.
"Ini, Bu. Silakan di minum, ibu pasti haus." Ariska menyuguhkan secangkir teh hangat untuk Tiwi.
"Tidak perlu," ucap Tiwi lirih.
"Ayo, Bu. Minum, saya udah capek-capek bikin ini buat ibu," ucap Ariska dengan nada memelas.
Tiwi masih diam membisu. Ariska yang mulai geram langsung mengambil teh itu, dan memaksakan agar Tiwi meminumnya. Tiwi yang terkejut tak sengaja menelan teh itu.
"Kamu ...." ucapan Tiwi terhenti, karena tiba-tiba kepalanya sangat pusing, perutnya terasa mual.
"Awhhh," ringis Tiwi, sambil memegangi kepalanya yang teramat sakit.
"Racun, kamu masukin racun!" ucap Tiwi dengan tenaganya yang tersisa, ia mencoba berdiri tapi kakinya terasa berat untuk melangkah. Hingga ....
Brukk!
__ADS_1
"Umii!!!"
Kata-kata itu yang terakhir kali di dengan oleh Tiwi, setelahnya ia tak sadarkan diri.