
Hiduplah bersamaku dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan kita berdua.
~Raihan
~ ~ ~
Kini, Raihan dan Tiwi telah sampai di rumah, dan sebelumnya mereka juga sholat maghrib di mushola dekat pesantren.
Saat mereka memasuki rumah, terlihatlah Ranti sedang duduk santai di sofa.
"Assalamu'alaikum," ucap Raihan dan Tiwi bersamaan, saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," Ranti langsung menghampiri umi dan abi-nya. Ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian, lalu memeluk Tiwi dengan erat dan mengajaknya duduk di sofa.
Raihan hanya mendengus kesal. Baru saja ia dan Tiwi bermesraan, tapi anaknya yang manja itu langsung mengambil Tiwi darinya.
"Umi, tadi Ranti dapet nilai A loh di kampus," ucap Ranti, sambil mengusap-usapkan kepalanya ke dada Tiwi.
"Pinter dong anak umi," Tiwi mencubit pelan pipi anaknya yang super duper manja itu.
__ADS_1
Sementara Raihan, ia langsung pergi ke kamar karna ia sedikit cemburu melihat Ranti yang bersikap manja pada istrinya.
Kata orang, memang laki-laki yang sudah sangat mencintai wanitanya akan cemburu dan bersikap manja pada wanita itu. Walaupun anaknya sendiri yang manja pada wanita yang di cintainya, laki-laki itu akan tetap cemburu. Apakah benar readers?
Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata dalam mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:
“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan pedang (yang dimaksud bagian yang tajam, red)…”
Mendengar penuturan Sa‘ad yang sedemikian itu, tidaklah membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bahkan beliau bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa ad dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, dalam kitab An Nikah, bab “Al-Ghairah” dan Muslim no. 1499)
Cemburu, asal tidak berlebihan, merupakan salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki pasangan suami istri. Sayangnya, kerusakan moral atas nama modernitas telah mengikis rasa cemburu itu. Walhasil, pintu perselingkuhan pun terbuka lebar hingga berujung pada runtuhnya bangunan rumah tangga.
Nah, setelah membaca hadist-hadist di atas, gimana pendapat readers? Menurut kalian, cemburunya Raihan itu berlebihan gak?
"Umi," ucapnya.
"Umi sayang sama abi," walaupun hanya beberapa patah kata yang keluar dari mulut istrinya, itu sudah membuatnya sangat bahagia.
Raihan berbalik badan, ia membalas pelukan hangat istri kecilnya. "Abi juga sayang dan cinta sama umi," Raihan mencium kening Tiwi, setelah itu ia berniat mencium bibir istrinya yang berwarna pink. Tinggal berjarak 2 senti lagi, tapi seperti Raihan tak beruntung,
__ADS_1
"Umi, Ranti mau ma ... Aaa, Ranti gak liat, ngga Ranti gak liat," Ranti langsung menutup rapat matanya ketika melihat adegan mesra tersebut.
"Awas kamu Ranti, aaaa dasar!" gumam Raihan dalam hati sambil menatap Ranti dengan tatapan yang mematikan.
Ranti yang terlihat salah tingkah langsung meninggalkan kamar abi dan umi-nya. Ranti berlari terbirit-birit ke lantai bawah.
"Huffttt ... Kira-kira abi marah gak, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ranti hendak berjalan masuk ke kamarnya, tapi terhenti saat mendengar suara ketukan pintu.
Tok tok!
Tok tok!
"Udah mau Isya juga, siapa sihh yang dateng," gumam Ranti dengan kesal.
"Iya sebentar," Ranti membuka pintunya. Ia melihat ada seorang wanita cantik yang seumuran dengannya.
~ ~ ~
__ADS_1
Hayoo, siapa ya kira-kira🤔.
Sedikit info juga, ini author buat cerita Raihan dan Tiwi, sebelum Ranti menikah sama Rhafi, jadi dalam cerita ini Ranti masih kuliah, Ya.