
"Siapa laki-laki yang tadi pulang sama umi?!"
"Ohh, itu Kevin. Emangnya kenapa?" ucap Tiwi dengan nada rendah.
"Abi gak suka umi deket-deket sama dia!!" Raihan berkacak pinggang, sambil memalingkan wajahnya yang tengah diliputi kabut amarah.
"Kenapa gak suka? Abi cemburu? Emang abi pikir umi nggak cemburu dan sakit hati saat wanita kemarin ngaku-ngaku jadi anak nisa dan abi?" Tiwi tersenyum kecut ke arah Raihan.
"Tapi, Mi. Abi berani sumpah, abi gak pernah ngelakuin itu, abi ...." jujur saja, saat ini Raihan kehabisan kata-kata. Entah kenapa mulutnya tiba-tiba terasa kaku untuk berucap.
"Terserah abi aja," setelah mengucapkan itu, Tiwi langsung meninggalkan Raihan, lalu pergi ke kamar tamu. Ia lebih memilih menyendiri di sana.
Tiwi membanting pintu kamar itu, lalu menangis. Entah kapan terakhir kali ia mengeluarkan air mata kesedihan dari pelupuk matanya.
~ ~ ~
Sementara di tempat lain, Kevin sudah sampai di rumah. Sudah belasan tahun Kevin menyendiri, sampai sekarang ia belum memiliki pendamping. Jujur saja, Tiwi masih menetap di hatinya saat ini.
Kevin tersenyum ketika mengingat kejadian barusan, saat ia dan Tiwi bertemu kembali.
Flashback on
__ADS_1
Saat itu Tiwi tengah berdiri menunggu bis. Kevin memang baru 2 hari kemarin berada di kota ini, tapi dulu ia sering ke sini, bahkan ia mempunyai rumah. Saat Kevin sedang menuju pulang ke rumahnya, ia tak sengaja melihat Tiwi. Tiba-tiba ia menghentikan mobilnya, mengamati wanita yang ia rindukan itu sebentar, lalu menghampiri Tiwi.
"Assalamu'alaikum," ucap Kevin saat berada di depan Tiwi.
"Waalaikumsalam," Tiwi sedikit terkejut melihat Kevin yang tiba-tiba ada di depannya.
"Kevin," ucap Tiwi sambil tersenyum.
"Kirain kamu udah lupa sama aku, Wi. Oh iya, kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah, aku baik. Mana mungkin aku lupa sama kamu, Vin. Seneng deh bisa ketemu kamu lagi,"
"Hehe, udah berapa lama coba kita gak ketemu," Kevin memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celana.
Kevin terkekeh kecil, ternyata Tiwi masih sama seperti dulu, mudah akrab dengan siapa saja dan selalu ceria.
"Kamu belum pulang? ini udah mau maghrib loh,"
"Iya, ini lagi nunggu bis," ucap Tiwi, sambil menengok ke arah kanan dan kirinya.
"Kamu mau pulang bareng aku?"
__ADS_1
Tiwi diam sejenak, "hmmm boleh deh, tapi gak ngerepotin, 'kan?" ucap Tiwi sedikit terkekeh.
"Nggak lah, Wi. Kamu kayak sama siapa aja,"
"Yaudah, yuk." Kevin membukakan pintu mobil untuk Tiwi, "silakan," ucapnya.
Flashback off
"Andai Tiwi adalah jodohku," gumam Kevin dengan lirih.
Ia memejamkan matanya sebentar, menghirup udara dalam-dalam. Ia berusaha menjernihkan pikirannya, tiba-tiba rasa kantuk menyerang. Kevin pun terlelap dalam tidurnya. Kevin bermimpi, ia bermimpi tentang kejadian yang terjadi bertahun-tahun lalu, bayangan kejadian itu kembali bergentayangan di dalam otaknya. Teriakan wanita itu kembali bergema di telinganya.
"Nggak, saya nggak mau! lepas! dasar bajing*n! gak tahu malu! kurang ajar!"
Saat itu Kevin tengah tak sadar, tiba-tiba saat pagi hari ia bangun dari tidurnya, dirinya sudah telan**ng.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis Kevin. Entah kenapa dirinya merasa bersalah pada wanita itu. Dengan nafas yang tersengal-sengal Kevin terbangun dari mimpi buruknya itu.
Kevin mengusap wajahnya dengan kasar, "pindah kemana anakku sekarang? kenapa dia tidak ada di panti itu lagi?" gumam Kevin dengan penuh penyesalan. Ia menyesal karena waktu itu pergi ke luar kota dan meninggalkan anaknya. Tapi, walaupun begitu ia tetap memberi uang setiap bulan kepada panti yang di tempati oleh anaknya.
~ ~ ~
__ADS_1
Aaa ... sekarang terungkap sudahhh😉