
"Umi!" ucap Ranti yang tiba-tiba datang.
"Assalamu'alaikum," Ranti mencium punggung tangan umi dan abinya secara bergantian.
"Umi, gak papa? Mana yang sakit?" Ranti menggenggam erat tangan Tiwi dengan air mata yang hampir menetes.
"Umi nggak papa kok," Tiwi berusaha tersenyum di depan anaknya, padahal saat ini hatinya sangat sakit. Ia merasakan kehilangan yang ada pada dirinya.
"Alhamdulillah," ucap Ranti, lalu memeluk Tiwi dengan erat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).
Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي
“Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).
__ADS_1
Dengan demikian kita ketahui bahwa dalam Islam, birrul walidain bukan sekedar anjuran, namun perintah dari Allah dan Rasul-Nya, sehingga wajib hukumnya. Sebagaimana kaidah ushul fiqh, bahwa hukum asal dari perintah adalah wajib.
~ ~ ~
1 minggu berlalu, Tiwi saat ini sedang bersiap untuk pulang ke rumahnya. Selamat ia di rumah sakit, Raihan dan Ranti selalu menjaganya. Sekarang mereka sudah berkumpul seperti dulu lagi. Walaupun masih ada masalah tentang Ariska, tapi Tiwi dan Ranti lebih mempercayai Raihan dari pada wanita itu.
Saat ini mereka sudah sampai di depan gerbang rumah. Terlihatlah Ariska dan Kevin sedang mengobrol bersama.
"Apa?! Nggak! Om pasti bohong! Aku bukan anak om! Nggak mungkin, om itu cuma donatur di panti. Om bukan ayahku! Dan kalau om memang ayahku, aku pasti akan membenci om," ucap Ariska yang kini sudah berurai air mata.
"Riska, jangan gitu, Nak. Waktu itu ayah dalam keadaan mabuk, ayah gak tau kalo ...." Kevin kehabisan kata-kata saat ini, ia segera memeluk Ariska dengan erat.
"Hikss, maafin Riska. Riska jahat, Yah. Hidup Riska sekarang hancur," Ariska membalas pelukan Kevin yang saat ini sudah berstatus sebagai ayahnya.
"Nak, dengerin ayah. Kamu itu adalah berlian ayah, hidup kamu belum hancur, masih ada ayah di sini. Ikutlah dengan ayah, kita akan hidup bersama, jangan mengganggu keluarga orang lain, itu semua gak akan berguna." Kevin menatap mata anaknya yang sudah di penuhi dengan air.
Ariska menganggukkan kepalanya. "Maafin Riska,"
"Kamu minta maaf sama keluarga Raihan, kamu akui semua kesalahan yang udah kamu perbuat. Minta maaf sama mereka, ya." Kevin kembali memeluk anaknya itu.
Raihan, Tiwi dan Ranti menghampiri Kevin dan Ariska.
__ADS_1
"Vin," panggil Tiwi.
Kevin menoleh, " Wi, Han," ucapnya dengan seutas senyum yang terbentuk di bibirnya yang tipis.
Raihan mendekat ke arah Kevin, ia memeluk Kevin dengan erat. "Lain kali jaga anak lo bro," ucap Raihan sedikit terkekeh.
"Hehe, pasti bro. Jaga istri lo, ntar gua beneran jadiin istri lo itu ibu tirinya Riska," Kevin menepuk pelan pundak Raihan.
"Ahh, sudah pasti leher lo patah kalo lo berani ngelakuin itu," Raihan dan Kevin sama-sama tertawa.
Tiwi memberikan pelukan hangat untuk Ariska, "jadilah gadis yang baik. Datanglah ke sini kapanpun kamu mau," ucap Tiwi.
"Iya, Tante." Ariska membalas pelukan Tiwi dan menangis di pundak wanita yang telah ia hancurkan rumah tangganya.
"Kadang takdir sering mempermainkan hidup semua orang. Tapi nikmat sabar adalah nikmat yang tiada duanya, karena sabar bisa membawa pemiliknya meraih surga Allah. Aku bahagia dengan semua ini, tetap lindungi umi dan abi, Ya Allah. Aku sayang mereka, izinkan mereka tetap bersamaku hingga mereka bisa bermain dengan cucu-cucunya," ucap Ranti dalam hati. Ia tersenyum dan menitihkan air mata bahagia saat melihat pemandangan di depannya ini.
"Jangan perduli tentang perkataan orang lain, tetap melangkah ke depan. Karena kalau bukan kita yang menyemangati diri kita, lalu siapa? Jangan perdulikan mereka yang mau menjatuhkanmu, karena pintu sukses tak terparkir di depan rumah mereka." ~Diah Pratiwi.
---TAMAT---
Terimakasih telah mengikuti kisah Raihan dan Tiwi di season 2 ini. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil di sini.
__ADS_1