
Maafkan aku, aku bukan suami yang baik untukmu. Tapi aku berjanji akan merubah diriku, dan terus menjagamu hingga akhir hayatku.
~Raihan.
~ ~ ~
"Awhh," ringis Tiwi seraya memegang kepala serta perutnya yang terasa nyeri.
Ia melihat sekeliling, di ruangan itu serba putih dan tangannya juga di infus. Bau obat menyeruak di hidungnya. Ia sudah tau ini tempat apa. Tapi, kenapa ia ada di sini? Siapa yang membawanya?
"Alhamdulillah, umi udah sadar," ucap Raihan, sambil menggenggam telapak tangan isterinya yang sangat dingin itu.
"Abi," ucap Tiwi dengan lirih, tatkala melihat suami tercintanya sedang duduk di kursi sampir tempat tidurnya.
"Umi gak papa? Mana yang sakit? Perutnya masih nyeri?" Raihan terlihat sangat khawatir dengan Tiwi.
"Alhamdulillah, aku seneng kamu bisa perhatian sama aku, Mas. Semoga kita bisa terus bersama," ucap Tiwi dalam hati.
"Umi gak papa kok, Bi. Kenapa umi ada di sini?" ucap Tiwi.
"Umi tadi keracunan. Abi sudah bilang, umi jangan pergi," ucap Raihan, sambil menggengam tangan Tiwi.
"Iya, Bi. Maafin umi," Tiwi menunduk mengakui kesalahannya. Ia memang salah, karena tak mendengarkan apa yang Raihan ucapkan.
"Abi yang harus minta maaf sama umi. Abi gak becus jadi suami, abi gak bisa jaga kalian," ucap Raihan dalam isak tangisnya.
"Abi jangan nangis, umi gak papa kok. Cuma perut umi aja yang sedikit sakit, tapi umi gak papa. Abi jangan nangis, umi ikutan sedih nihh," ucap Tiwi, sambil mendekap suaminya itu kedalam pelukan hangatnya.
__ADS_1
"Maafin abi, abi gak bisa jaga kalian." Raihan semakin terisak dalam pelukan Tiwi.
"Kalian? Maksudnya?"
"Umi ... umi ... umi kee-- keguguran," tangis Raihan semakin pecah.
Deg ....
Deg ....
Deg ....
Jantung Tiwi terasa berhenti berdetak. Mulutnya serasa terkunci, air matanya lolos seketika dari pelupuk matanya.
"Abi bercanda, 'kan?" Tiwi berusaha tersenyum.
Tiwi diam, ia masih menagis di dekapan Raihan. "Bi, maafin umi. Kalo aja umi nurut sama abi, pasti semua ini gak akan terjadi," ucapnya dengan isak tangis yang agak mereda.
"Nggak, umi nggak salah. Ini. sudah jalan takdir kita. Kita harus ikhlas dengan semua ini," Raihan mengusap air mata yang membasahi pipi Tiwi, lalu menangkup kedua pipinya.
"Abi sayang sama umi. Walaupun kita kehilangan malaikat kecil kita, tapi masih ada Ranti. InsyaAllah Ranti akan menjadi jembatan untuk kita ke surga Allah," ucap Raihan yang saat ini tengah menatap manik mata istrinya dengan seksama.
~ ~ ~
Maharati Marfuah, Lc dalam bukunya "Serba-serbi Fiqih Keguguran", menjelaskan seperti diterangkan dalam kitab Sunan At Tirmidzi bab keutamaan bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah, disebutkan sebuah hadits yang menjadi kabar gembira bagi orang tua yang Allah takdirkan kehilangan buah hatinya adalah mendapatkan rumah Baitul Hamdi atau Rumah Pujian.
Dari Abu Musa Al Asy'ari, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada malaikat: "Kamu telah mencabut (nyawa) hamba-Ku?"
__ADS_1
Para malaikat menjawab: "Ya"
Kemudian Allah berfirman: "Kamu telah mencabut (nyawa) buah hatinya?"
Para malaikat menjawab: "Ya"
Maka allah berfirman: "Apa yang dikatakan hamba-Ku?"
Para malaikat menjawab: "Ia memuji-Mu dan bersabar mengharapkan pahala Mu"
Lalu Allah berfirman: "Bangunkanlah rumah di surga untuk hamba-Ku, dan berilah nama Bait Al Hamdi."
MasyaAllah😭😭 bagitu adil Allah pada umat-Nya.
فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Artinya: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Mana lagi?! Allah hanya meminta kita untuk bertaqwa padanya, itu memang sulit. Tapi InsyaAllah akan berhadiah surga.
seperti yang Allah katakan dalam surat at-Tin:
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
illallażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti fa lahum ajrun gairu mamnụn
"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya." (Q.S At-Tin)
__ADS_1
~ ~ ~