Dosen Ku

Dosen Ku
Mamah


__ADS_3

"Kau tidak kuliah," tanya Harry.


"Tidak ada semangat untuk kuliah," jawab Dian.


"Bagaimana kau bisa lulus kalau Kuliah saja kau tidak mau."


"Hehehe malas pak, kalau ada kelas bapak, baru saya akan kuliah," ucap Dian.


"Oh iya bapak mau kemana," tanya Dian.


"Aku akan mengantarkan Vito ke sekolahnya, walaupun belum masuk aku ingin dia kenal dengan lingkungan sekolah nya," jawab Harry.


Dian menganggukkan kepalanya, sebenarnya ia ingin meminta ikut pada Harry, tapi tak yakin Harry mau mengajaknya. Harapannya hanya ada pada Vito, kalau kita mengajaknya pergi mungkin Harry mengizinkannya untuk ikut.


"Ayah kakak ikut kita ya, Vito ingin bersama dengan kakak.."


Dian langsung tersenyum mendengar apa yang Vito katakan, anak ini tau saja apa yang ia inginkan, mereka berdua seperti memiliki ikatan batin saja.


"Dia tau saja apa yang aku inginkan, anak yang baik," batin Dian.


"Tidak sayang, jangan membuat kakak repot. Dia sedang bekerja, kamu tidak boleh mengganggu nya bekerja."


"Hmmm kamu benar benar ingin kakak ikut?"

__ADS_1


"Iya.. Aku ingin diantar oleh kakak, aku tidak punya mamah," ucap Vito.


Apa yang Vito katakan membuat Harry terpukul, berarti memang Vito benar-benar sudah tidak menganggap Putri mamanya lagi. Jika sudah begini untuk apa pernikahan nya di pertahanan lagi, ia bertahan hanya karena Vito.


"Kalau begitu kakak bisa mengantarkan mu," ucap Dian, ia juga tidak tega dengan anak ini.


"Oke.."


"Kau yakin," tanya Harry.


"Sangat yakin, kenapa tidak yakin."


"Cafe mu bagaimana?"


"Tenang saja pak, saya ini bos dan saya memiliki kewenangan apapun, jangan pikirkan saya. Tetapi pikirkan anak bapak, sekarang dia benar-benar memerlukan sosok yang bisa menggantikan posisi ibunya, dia sangat kasihan," ucap Dian.


Dian menelan air ludah nya dengan kasar, ia merasa seperti salah berkata. Terlihat dengan jelas wajah Harry langsung berubah setelah mendengar perkataan nya. Ia jadi tidak enak dengan Harry.


"Maaf ya pak, saya benar benar tidak bermaksud, saya hanya tidak ingin Vito merasakan apa yang saya rasakan. Walaupun itu membuat Vito jauh lebih tangguh tetap saja lebih baik Vito tidak merasakan nya," kata Dian.


"Tidak masalah, aku yakin Vito akan mendapatkan ibu pengganti yang baik," ucap Harry.


"Hahhaa iya itu saya pak, saya akan mengurus Vito dan sudah pasti anak kita nanti," batin Dian.

__ADS_1


Setelah selesai makan mereka bertiga langsung pergi meninggalkan Cafe. Karena sekolah Vito sudah dekat, Harry memperbolehkan Vito duduk di pangkuan nya. Vito seperti menemaninya menyetir mobil.


"Mau pindah ke kakak.." Vito berjalan menuju Dian yang tengah sibuk dengan Handphone nya.


"Sayang hati-hati.."


"Tidak papa.." Dian langsung menangkap Vito agar tidak jatuh.


"Kakak jangan main handphone.."


"Iya tidak.." Dian langsung meletakkan handphone nya.


"Kakak mau tidak jadi mamah aku," tanya Vito.


Dian yang mendapatkan pertanyaan itu langsung bingung seketika. Ia takut salah menjawab walaupun hatinya berkata iya.


"Vito tidak boleh bertanya seperti itu. Vito kan masihh mempunyai mamahh.." Harry menggunakan nada untuk cukup tinggi, ia takut malah Dian yang tidak nyaman karena ulah Vito.


"Tidak punya, tidak mau.."


"Vito! Jangan nakal.."


"Kakakk.." Vito merengek pada Dian.

__ADS_1


"Tidak papa.. Kalau memang kakak dengan ayah Vito berjodoh, pasti kakak akan jadi mamah Vito.." Dian memberikan jawaban aman.


"Yess…" Vito terlihat sangat bahagia..


__ADS_2