Dosen Ku

Dosen Ku
Bab 26


__ADS_3

Setelah dari hotel itu, mereka berhasil langsung menuju ke tempat yang sudah Harry rencanakan. Harry akan membawa pacar nya ke pasar malam di desa sebrang, di sana mereka berdua bisa menghabiskan waktu dengan bermain main permainan yang ada.


"Sayang kamu pernah ke pasar malam," tanya Harry.


"Dulu saat kecil aku pernah, tapi tidak sering. Aku juga sudah lupa apa saja yang ada di dalam pasar malam."


"Hahaha ya aku juga sudah tidak terlalu mengingatnya, yang aku tau sebenarnya cukup banyak permainan, tetapi tidak semuanya bisa di naiki orang dewasa, kita nanti main aman saja," ucap Harry.


"Ya kamu benar, aku juga tidak berani, aku bukan tipe orang yang suka bermain seperti itu, lebih baik makan jajan dan melihat orang bermain," kata Dian.


Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka berdua sampai di tempat itu, keduanya terpanah dengan tempat itu yang begitu ramai sekali. Seperti nya kalau mengajak Vito akan lebih seru.


"Sayang sekali Vito tidak ikut ya," ucap Dian.


"Hahaha sayang sayang, lain kali kita ajak Vito. Malam ini hanya untuk kita, kalau ada Vito aku tidak bisa seperti ini." Tiba-tiba Harry mengecup bibir Dian.


Dian tersenyum sambil menundukan kepala nya, ia sangat malu sekali. Padahal sebenarnya dirinya juga sudah mendapatkan ciuman seperti ini dari Harry, Harry benar-benar sudah mulai berani menunjukan sikap aslinya.

__ADS_1


Mereka berdua pun turun dari dalam mobil, Harry menggandeng Dian berjalan masuk ke dalam pasar malam itu, mata mereka berdua tertuju pada berbagai macam permainan yang sangat asik, tetapi keduanya tidak ada niat untuk naik permainan itu.


"Sayang aku mau beli gula gula itu," ucap Dian.


"Menurut ku jangan deh, kamu tidak boleh makan manis malam malam, jangan sampai gigi kamu rusak, kita akan lebih sering berciuman," Kata Harry.


"Sayang.." Dian benar-benar malu mendengar perkataan Harry, ya walaupun hal itu pasti akan terjadi, apalagi saat mereka berdua sudah menikah nanti.


Harry membawa Dian ke permainan orang dewasa, yaitu melemparkan bola ke tumpukan kaleng, jika bisa menjatuhkan kaleng dengan sekali lemparan mereka akan mendapatkan sebuah boneka.


"Sayang mau yang biru, kalau kamu bisa mendapatkan nya akan aku berikan hadiah," ucap Dian.


"Aku tidak pintar menembak," ucap Harry.


"Hahaha kamu aneh, Vito saja jadi masa tidak pintar menembak."


"Sayang kalau urusan itu aku jago, ini dalam konteks yang berbeda," ucap Harry.

__ADS_1


Setelah berjuang beberapa saat dan menghabiskan uang sampai ratusan Ribu akhirnya Harry berhasil mengenai sasaran, ia mendapat boneka yang Dian inginkan.


"Harus nya tadi aku berikan peraturan tidak boleh sampai ratusan ribu, lah harga boneka dengan pengeluaran kamu tadi lebih mahal pengeluaran nya," kata Dian.


"Tidak masalah, asalkan aku mendapatkan hadiah yang kamu janjikan," ucap Harry.


Setelah dari tempat itu sambil membawa boneka yang Harry dapatkan tadi, mereka berjalan menuju ke sebuah tempat yang di sebut dengan rumah hantu, Harry sangat takut dengan hal seperti ini, ia mempunyai pengalaman yang tidak mengenakan, kalau Dian sendiri tidak takut sama sekali, terlihat dengan jelas Dian ingin masuk ke dalam tempat itu.


"Masuk ya," ucap Dian.


"Tidak mau, aku takut," kata Harry.


"Ayo sayang.."


"Tidak mau.." Harry tidak akan pernah masuk ke dalam.


"Kalau kamu berani masuk aku akan tinggal satu apartemen dengan mu."

__ADS_1


"Oke," ucap Harry tanpa ragu.


__ADS_2