
Malam hari nya, Dian sudah siap untuk kembali belajar bersama dengan Harry, sebelum ke apartemen Harry, Dian mempersiapkan makanan yang ia buat sore tadi. Ia ingat menunjukkan kemampuan memasaknya yang luar biasa pada Harry.
"Hmm seperti nya mereka akan sangat suka, bagaimana tidak suka jika aku memasak makanan seenak ini. Semoga saat aku datang mereka sedang makan malam, jadi sangat pas."
Dian pun berjalan menuju apartemen Harry, Harry sengaja tidak menutup pintu apartemen nya, agar Dian bisa langsung masuk ke dalam tanpa harus menunggu nya membuka pintu.
"Ih romantis nya." Dian masuk ke dalam apartemen itu, dan tak lupa menutup pintu. Tidak ada lagi yang boleh masuk selain dirinya.
"Bapak.." Dian berjalan mendekati Harry yang sedang mempersiapkan makan malam.
"Kau sudah datang, ayo makan, aku sudah selesai masak," ucap Harry.
"Bapak lihat ini, aku membawa apa." Dian cukup kesal dengan Harry yang tidak memperhatikan nya.
Harry menaikan kepala nya agar bisa melihat apa yang Dian bawa, bibir nya tersenyum melihat Dian membawa masakan yang terlihat sangat enak.
"Kau yang masak," tanya Harry.
"Iya dong, aku sangat jago memasak, itu sebabnya aku mempunyai cafe, makanan di cafe ku juga resep ku," jawab Dian sambil meletakkan semangkuk makanan itu di atas meja makan.
"Terliat enak.." Harry menganggukkan kepala nya.
"Pasti.. Mana Vito, dia tidak terlihat."
"Sebentar lagi juga keluar kamarnya, sedang main dia di dalam kamar," ucap Harry.
"Bapak yang memasak ini semua," tanya Dian.
"Apa ada orang lain di sini? Sudah pasti aku yang memasak semuanya.."
"Bapak sangat jago memasak.. Mana sayur semua.. Apa Vito akan memasak sayur ini semua," tanya Dian.
__ADS_1
"Dia sudah biasa makan sayur sejak kecil, kalau tidak suka tetap harus di makan, untuk malam ini aku kehabisan protein, jadi mau tak mau hanya sayur.. Beruntung aku membawa daging," jawab Harry.
"Wah aku datang tepat sekali.." Dian tersenyum senang..
"Kakak.." Vito berlari keluar dari dalam kamarnya.
"Iya Vito, kamu sudah laparr ya… Ayo kita makan.."
Mereka bertiga pun duduk bersama menikmati makanan yang ada. Sejenak Harry termenung melihat momen ini, ini salah satu hal yang paling ia impikan, beberapa pikirkan melintas di otak Harry, apalagi saat melihat Dian membantu Vito makan, ia seperti selayaknya ibu bagi Vito.
"Pak.." Suara Dian membuyarkan lamunan Harry.
"Iya makanan mu enak sekali."
"Ha.. Bapak bahkan belum mencoba nya," ucap Dian.
"Eh iya kah.." Harry merasa malu sendiri, entah kenapa ia bisa melamun di saat saat seperti ini.
Dian yakin Harry sedang banyak pikiran, ini bisa menjadi kesempatan Dian agar bisa masuk ke dalam hati Harry. Ia tidak peduli dengan istri Harry sekarang, wanita itu sudah menyia-nyiakan dua pria hebat di dekat nya ini.
Setelah selesai makan Harry masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan pekerjaan nya,
sedangkan Dian bermain dengan Vito sampai Vito terlelap. Mungkin karena efek lelah bermain di sekolah tadi membuat Vito tidur lebih cepat, Dian tersenyum melihat anak tampan ini tertidur dengan lelap.
"Sayang kamu benar-benar kasihan sekali, kakak akan menjadi mamah mu yang akan mengurus mu dengan baik," ucap Dian.
Dian ayu benar benar tidak tegas dengan Vito, anak sekecil ini sudah merasakan hal seberat itu, kehilangan sosok itu bukan lah hal mudah, Dian yakin untuk sampai ke tahap ini sudah banyak yang Vito alami. Beruntung Vito memiliki ayah seperti Harry, walaupun tidak mendapatkan kasih sayang dari seperti mamah, masih ada ayah yang memberikan kasih sayang yang teramat besar untuk Vito.
Dian pun berjalannya keluar dari kamar anak itu, ia tinggal menunggu Harry yang masih belum keluar dari dalam kamarnya. Sepertinya banyak yang Harry kerjakan, Dian lebih memiliki menunggu Harry di ruang keluarga dari pada menanggu pekerjaan Harry.
"Sudah tidur dia," tanya Harry.
__ADS_1
"Sudah pak, saya baru keluar dari dalam kamar Vito."
Harry duduk di samping Dian, entah kenapa Harry merasa beruntung bertemu dengan Dian di saat ia sedang seperti ini. Dian benar-benar sangat membantu nya.
"Terimakasih ya. Karena dirimu aku jauh lebih tenang, Vito juga seperti merasakan sosok ibu di samping nya," kata Harry.
"Sama-sama Pak, lalu bagaimana dengan istri bapak? Apakah dia benar benar sibuk, atau.."
"Atau memang kami bukan prioritas nya, sibuk itu bohong. Yang ada kami bukan prioritas nya, dia hanya mementingkan karir model nya, aku tidak pernah melarang nya untuk berkariri tetapi tidak seperti ini, dia seperti tuda memilih keluarga, pergi tanpa berpamitan dan pulang seenaknya."
"Pak.. Bapak yakin masih bisa bertahan? Bagaimana dengan Vito? Aku yakin Vito saat ini benar-benar membutuhkan sosok ibu," ucap Dian.
"Perasaan ku padanya sudah mati sejak lama, rasa cinta ku sudah tidak ada padanya. Aku bertahan hanya karena Vito, tetapi sepertinya Vito juga sudah tidak memerlukan nya. Hari ini aku sudah menghubungi loyer untuk mengurus perceraian ku dengannya," ucap Harry.
Dian cukup terkejut mendengar apa yang Harry katakan, ia seperti tidak menyangka Harry mengatakan hal itu.
"Serius pak," tanya Dian.
"Sudah tidak ada yang bisa di pertahankan lagi, untuk apa di pertahankan," jawab Harry.
"Bapak benar, untuk apa mempertahankan apa yang sudah tidak bisa dipertahankan.. Lebih baik memulai hidup yang baru dengan seseorang yang baru."
"Aku berharap menemukan seseorang wanita yang sayang dengan Vito juga, bukan hanya sayang pada ku, yang bisa mengambil hati Vito seperti dirimu," ucap Harry.
"Iya Harry, aku bersedia menjadi ibu sambung Vito, kenapa kamu tidak peka Harry." Dian hanya Hiss mengatakan nya di dalam hati.
"Ya sudah, ayo kembali kita mulai," ucap Harry
"Memulai hidup baru," tanya Dian.
"Mulai belajar, kau masih bodoh."
__ADS_1
Harry bangkit dari tempat duduk nya, tetapi tiba tiba tangan Dian menarik tangan Harry sampai Harry jatuh ke tempat duduknya kembali.
Tanpa Harry duga Dian mencium bibir nya dengan sangat cepat, hal ignya membuat Harry terkejut. Kucing tidak mungkin menolak diberikan ikan segar di depan matanya, begitu juga dengan Harry yang langsung membalas ciuman dari Dian.