Dosen Ku

Dosen Ku
Bab 18


__ADS_3

"Makan yah, aku lapar," ucap Vito.


"Ayo kita makan di sana, paman mu sudah mempersiapkan makanan untuk kita, jangan lupa lupa meminta bonus dari nya, kamu jangan malu malu," kata Harry.


Dian kembali tersenyum, ternyata Harry sama seperti orang tua lainnya. Pasti nanti bonus yang Vito dapatkan akan Harry simpan sendiri, begitu lah orang tua.


"Siap.."


"Ayo makan, sudah siap makanan untuk kalian." Bayu berdiri di samping kolam renang untuk memanggil mereka bertiga.


"Wah baru saja di bilang sudah datang saja dia," ucap Harry.


"Mas abang kamu baik sekali ya, dia terlihat sangat sayang pada kamu," kata Dian.


Harry tersenyum kecil. "Tidak ada keluarga yang tidak sayang dengan anggota keluarga lainnya, kami memiliki anggota keluarga yang saling menyayangi."


"Tidak dengan keluarga ku mas," ucap Dian.


"Itu yang membuat kamu tumbuh menjadi wanita yang tangguh." Harry mengusap rambut Dian.


Hal itu membuat jantung Dian seperti berhenti berdetak, bagaimana mungkin bisa Harry melakukan hal itu padanya, ia tidak membayangkan Harry akan mengusap rambutnya selembut ini.

__ADS_1


"Aku mencintaimu mas, aku benar-benar mencintaimu," batin Dian, ia tidak pernah mencintai seseorang sampai seperti ini.


"Ayo," ucap Vito yang sudah tidak sabar.


Mereka bertiga berjalan menuju tempat makanan berada, di sana sudah banyak makanan enak yang di pesan khusus untuk mereka bertiga.


"Makan dengan lahap ya, aku sudah memesan ini semua khusus untuk kalian berdua," ucap Harry.


"Terimakasih paman, aku tidak dapat bonus," tanya Vito.


"Ah ayah mu kan yang mengajari mu," ucap Bayu.


"Adik bungsu ku kaya raya, untuk apa aku memberikannya uang jajan."


"Itu beda," ucap Harry.


"Hahaha ya ya. Paman transfer ke ayah mu ya, sekolah dengan benar. Jangan nakal," kata Bayu sambil mencium kening Vito.


Mereka bertiga pun makan dengan sangat lahap, sambil makan mata Dian tidak berhenti tertuju pada pria tampan di depan nya ini, aura yang Harry pancarkan membuat mata Dian tidak bisa untuk tidak menatap nya.


Setelah selesai makan, Vito kembali main air sedangkan Dian dengan Harry duduk berdua di tempat istirahat, mereka berdua memilih melihat Vito bermain karena keduanya sudah kelelahan.

__ADS_1


"Mas bagaimana dengan proses perceraian nya," tanya Dian, jujur ia sangat kepo sekali.


"Baru di urus hari ini, mungkin dalam sebulan terkahir semuanya akan selesai," kata Harry.


"Mas benar-benar yakin untuk berpisah dengan mamahnya Vito?"


"Yakin, keputusan ku sudah 100 persen bulat.. Untuk apa lagi aku pertahankan semua ini, kebahagiaan ku juga kebahagiaan Vito," kata Harry.


"Karena itu? Tidak karena wanita lain?"


"Ah kau kepo sekali, tadi aku tanya kau sedang apa dengan abang ku, kata mu aku kepo," kata Harry.


"Hehehe.." Dian hanya bisa cengegesan, ia cukup malu mendengar apa yang Harry katakan.


Tidak terasa hari sudah mulai sore, mereka bertiga pun memutuskan untuk kembali ke apartemen, ketiganya benar benar sangat lelah dan langsung ingin beristirahat dengan tenang. Hari ini juga tidak ada les antara Harry dengan Dian, sesuai perjanjian di hari libur tidak ada kegiatan belajar.


"Terima kasih pak untuk hari ini," ucap Dian.


"Oke.."


Mereka pun masuk ke dalam apartemen masing masing.

__ADS_1


__ADS_2