Dosen Ku

Dosen Ku
Bab 22


__ADS_3

"Dian," ucap Harry.


"Mas.." Dian juga terkejutnya melihat Harry.


"Kakak.." Sedangkan Vito terlihat sangat senang sekali.


"Kalian sudah saling kenal ya?"


"Dia wanita yang membantu Harry mengurus Vito," ujar Bayu.


Entah kenapa Harry jadi senang setelah tau wanita yang di kenalkan dengan nya itu Dian. Ia sudah kenal bagaimana Dian dan Dian masuk dalam kriteria nya, tetapi Harry tidak rau apakah Dian mau dengan nya atau tidak.


"Sudah duduk lah, Dian kami tidak bilang kalau kenal dengan anak tante."


"Aku juga tidak tau tan," ucap Dian dengan wajah yang tersipu malu.


Dian pun duduk tepat di samping Harry, mereka berdua terlihat malu malu yang membuat semua orang jadi gemas, apalagi Harry yang jarang terlihat seperti ini di depan wanita. Hal itu membuat mereka semua yakin Dian memang sangat cocok untuk Harry, terlebih lagi Dian sudah dekat dengan Vito.


"Kamu dari apartemen jam berapa," tanya Harry.


"Aku dari pagi, tadi ke rumah teman dulu," jawab Dian.


"Aku tidak menyangka wanita itu adalah kamu, aku lega sekali," kata Harry.


"Kenapa begitu? Aku sih jauh lebih lega mas, aku pikir pria yang di jodohkan dengan ku om-om gemuk, eh ternyata om tampan beranak satu," ucap Dian.


"Hahaha bisa saja dirimu, aku tidak ingin kenal dengan wanita baru," kata Harry.


Dian tersenyum mendengar apa yang Harry katakan, ia yakin semuanya akan berjalan dengan mulus tanpa kendala apapun.


"Bagaimana Harry, kau suka atau tidak?"


"Suka apanya mah?" Harry bingung harus menjawab apa, ia takut jawaban nya malah menjadi kesalahpahaman banyak orang.


"Begini saja, aku tau kau dengan Dian sudah cukup dekat, nah karena kebetulan wanita yang mamah ingin jodohkn dengan mu Dian, bagai kalau kalian mulai melakukan pendekatan saja, kalau sekira nya kalian cocok kalian bisa menikah," ujar Bayu.


"Bagaimana Dian?"


"Karena aku tau bagaimana mas Harry, aku bisa melakukan pendekatan dengan nya, aku yakin dia pria yang baik," kata Dian.


"Harry?"


"Aku tidak masalah, tetapi bagaimana dengan status ku," tanya Harry.


"Status mu ya kau ganti dulu jadi duda," ujar Bayu.


"Iya aku tau, apa kamu tidak masalah dengan status duda ku, sedangkan kamu masih gadis," kata Harry.


"Aku tidak masalah mas, status bukan segalanya untuk ku. Kan aku juga jadi dapat bonus, anak manis seperti Vito," ucap Dian.


"Anak manis katanya, dia tidak manis Dian. Dia anak yang.."


"Aku manis paman," ujar Vito, ternyata dia tau jika sedang di bicarakan.


"Hahaha iya iya.."


"Sudah ya, nanti kalian berdua bahas berdua saja, mamah yakin kalian berdua pasangan yang sangat cocok."


Setelah selesai makan Harry dengan dian memutuskan duduk berdua di dalam rumah, ada beberapa hal yang ingin mereka bahas dan lebih baik memang dibahas berdua karena menyangkut privasi keduanya. Ketemuan ini benar-benar mengejutkan harry tetapi tidak untuk dian, ada beberapa hal yang harry tidak ketahui tentang pertemuan ini.


Sebenarnya yang menemukan Dian dengan kedua orang tua hari adalah Bayu, Bayu sangat setuju hari menikah dengan Dian, karena tidak bisa langsung meminta hari melakukan hal itu Ia memutuskan untuk mengenalkan Dian pada kedua orang tuanya, Nah karena kedua orang tua harry suka dengan Dian pada akhirnya mereka membuat rencana untuk menemukan dian dengan harry, kebetulan memang ada acara keluarga dalam waktu dekat, acara inilah yang menjadi kesempatan mereka berdua untuk bisa menjalin hubungan lebih dekat lagi.


"Aku ingin tanya bukannya kamu dengan mama kamu sudah tidak pernah bertemu, Bagaimana mungkin bisa mamaku bertemu dengan mamamu dan mamamu malah menjodohkan kamu dengan aku, ah aku bingung sekali," ucap Harry.


Dian cukup terkejut dengan apa yang harry katakan, pria ini benar-benar selektif dalam memilih pasangan, sampai hal seperti itu saja Harry tanyakan. Beruntung Dian memiliki pemikiran yang cukup jenius, apalagi untuk mengatur sebuah sandiwara.


"Sebenarnya mamah yang kamu maksud itu bukan mamah kandung ku, aku memang sudah lama tidak bertemu dengannya. Tanteku berteman baik dengan mama kamu, karena aku sangat dekat dengan tanteku jadi dia sudah menganggapku sebagai anaknya, Nah mungkin saja tanteku mengatakan aku anaknya saat bertemu dengan mamah kamu, jadinya ya begini," jelas Dian.

__ADS_1


Harry menganggukkan kepalanya, dirinya sangat percaya apa yang Dian katakan, memang wanita ini sangat pintar dalam mengatur sandiwara, pria seperti hari yang selektif saja sampai langsung percaya dengan ucapannya.


"Mas aku benar-benar terkejut pria itu kamu, aku pikir aku akan bertemu dengan pria baru yang tidak aku kenal, sebenarnya aku tidak ingin bertemu dengan pria baru, karena aku takut mereka hanya akan menyakitiku, seperti orang tuaku menyakitiku. Dan aku sangat bersyukur ternyata pria itu kamu, aku sangat percaya kamu pria yang sangat baik, aku setuju dengan perjodohan ini," kata Dian.


Mendengar ucapan Dian membuat harry tersenyum, dian saja yang baru kenal dengannya tahu dirinya pria yang baik, ia tidak akan mungkin seperti kemarin pada putri jika Putri tidak melakukan kesalahan yang besar. Dan Harry juga percaya jika memang dian wanita yang sudah digariskan jodoh dengan dirinya, ia pun memutuskan untuk menerima perjodohan ini, ini semua juga bukan hanya sekedar untuk dirinya tetapi untuk Vito yang memang sudah sangat dekat dengan Dian, akan sangat sulit dirinya mencari wanita yang bisa dekat seperti Dian pada Vito.


"Yah aku juga menerima semuanya, kita mulai melakukan pendekatan secara perlahan, aku yakin semuanya akan berjalan dengan sangat baik, kamu jangan khawatir aku tidak seperti yang kamu lihat kemarin, aku marah pada wanita itu karena dia memang sudah sangat keterlaluan, Jika seorang wanita bisa memperlakukanku selayaknya seorang suami aku bisa melakukan wanita selayaknya istri, menjadikan seorang wanita ratu di dalam rumah ku," kata Harry.


Dian mulai baper dengan ucapan Harry, Bagaimana mungkin bisa sosok seperti hari yang mengucapkan kata manis seperti itu, awal mereka bertemu saja Dian sudah merasakan bagaimana dingin nya Harry, sekarang rasa dingin itu sudah berubah menjadi sebuah kehangatan yang hakiki.


Keduanya mengobrol cukup lama, banyak yang mereka berdua bahas, dari masa lalu sampai dengan hal-hal yang mereka lakukan setiap harinya, ini salah satu pendekatan yang mereka lakukan agar mereka berdua bisa saling mengenal lebih dalam lagi. Harry dengan Dian sama sama welcome satu sama lain sehingga keduanya lebih mudah untuk mulai masuk ke dalam hati masing-masing.


"Lalu kamu akan pulang langsung atau menginap di sini, kalau pulang aku akan mengantarmu."


"Aku menyewa hotel di sekitar sini, tidak mungkin aku pulang langsung karena ini sudah malam, kita satu arah untuk apa kamu mengantarkanku," kata Dian.


"Oh ya sudah menginap di sini saja ya, nanti kita ambil barang-barang kamu di hotel. Aku akan beberapa hari di sini, kalau kamu mau kamu juga udah ada di sini selama beberapa hari kita akan pulang ke kota bersama-sama. Aku akan membawamu jalan-jalan ke sekitar sini, berarti kamu belum tahu kan apa saja yang ada di sekitar sini," kata Harry.


"Boleh deh, selagi aku mengambil cuti kuliah, aku tidak sedang sibuk di cafe kenapa tidak."


"Oh iya kamu tidak mengajar?"


"Aku hanya dosen pengganti, aku tidak lama di sana. Dan kamu tahu beberapa hari lalu adalah hari terakhir aku mengajar, dosen yang baru sudah datang, itu artinya tugasku sudah selesai dan aku bisa fokus pada pekerjaan yang lainnya."


"Ya tidak enak dong, sudah deh aku juga lanjut kuliah saja, aku lebih memilih di rumah mengurus anak dan suamiku, tanpa kuliah juga aku bisa membuka usaha yang cukup menjanjikan," kata Dian.


"Itu terserah kamu sih, aku yakin tanpa berkuliah juga jika seseorang yang wanita mau belajar, tetap bisa menjadi wanita yang hebat dalam mengurus rumah tangganya ataupun berkarir di luar rumah."


"Inilah yang Dian cari, Dian mencari pria yang membebaskannya dalam melakukan hal apa saja yang ia suka, dalam catatan hal itu positif. Dan Harry memenuhi aspek itu, Hal itu benar-benar membuat Dian senang sekali."


"Kamu kenapa," tanya Harry.


"Aku hanya senang sekali mas, kamu benar benar pria yang aku cari, bagaimana mungkin bisa aku menemukan pria seperti kamu, aku tidak pernah membayangkan ada pria sesempurna kamu," jawab Dian.


"Kita belum menikah dan kamu belum benar-benar tahu sifat asliku, jangan terlalu memujiku Dian, aku juga memiliki banyak kekurangan seperti pria lainnya, tapi aku akan berusaha untuk memperbaiki kekuranganku," Kata Harry.


Harry kembali tersenyum, bersama dengan Dian banyak membuatnya tersenyum. Harry benar-benar sangat senang bisa Bertemu dengan wanita seperti ini, Dian memang wanita yang di takdirkan untuk nya.


Vito berlari mendekati mereka berdua, Iya bingung kenapa ayah dengan kakaknya di dalam rumah sedangkan yang lainnya sedang asyik mengobrol di taman. Karena penasaran itulah Vito menemui mereka berdua.


"Ayah dengan Kakak sedang apa?"


Harry menarik Vito ke dalam pelukannya, mungkin ini lah saat nya Vito mendapatkan kasih sayang seorang ibu dengan tulus, apa yang Vito inginkan selama ini akan segera terjadi, itu akan mendapatkan seorang ibu sesuai dengan keinginannya.


"Katakan pada Ayah kamu ingin mamah seperti apa?"


"Ayah kan aku sudah pernah mengatakannya, aku ingin mamah seperti kakak, Dia sangat baik dan mau bermain denganku, dia juga sangat sayang padaku," ucap Vito.


"Nah kamu benar-benar mau kan, kalau begitu Kakak akan menjadi Mamah kamu, jangan nakal ya turuti apa yang Kakak katakan, kalau sampai kamu nakal kakak tidak akan menjadi Mamah kamu."


Vito langsung menatap ke arah Dian, ia terlihat begitu senang mendengar apa yang ayah nya katakan, sambil tersenyum Dian menarik Vito kedalam pelukan nya.


"Panggil kakak mamah, jangan panggil kakak lagi. Sekarang kakak mamah kamu," ucap Dian.


"Dian.." Harry bingung dengan apa yang Dian maksud, mereka berdua belum menikah dan kenapa Dian mengatakan hal itu.


"Agar dia terbiasa mas, tidak papa kok," ucap Dian.


Harry langsung paham apa yang dian maksud, dan ia tidak masalah. Dian benar memang Vito harus terbiasa untuk memanggil Dian dengan sebutan mamah, dengan begitu saat mereka sudah menikah nanti Vito sudah terbiasa.


Setelah berbicara berdua, mereka memutuskan untuk bergabung dengan yang lainnya. Harry juga ingin meminta satu kamar untuk Dian beristirahat, dan memang ada beberapa kamar kosong. Mereka setuju Dian menginap di rumah ini, apalagi terlihat dengan jelas Harry menerima semuanya, tidak seperti sebelum sebelum nya.


"Ini sudah malam lebih baik kalian istirahat lah, Vito tidur dengan nenek kakek.."


"Tidak mau aku mau tidur dengan Mamah, aku mau tidur dengan mama ya boleh kan," ucap Vito.


"Dengan ayah saja ya…"

__ADS_1


"Tidak papa Harry, Vito juga masih kecil tidak masalah jika dirinya tidur dengan Dian, kalau dia sudah masuk masa balig nanti barulah tidak boleh dirinya tidur dengan mamanya, dia masih suci tidak seperti mu yang memiliki otak kotor."


Harry cukup malu dengan apa yang mamanya katakan, ya walaupun yang di katakan mamahnya itu bener, kalau ia yang tidur dengan Dian sudah pasti otaknya akan kemana-mana. Harry tidak mau itu terjadi.


Dian pun membawa Vito ke kamarnya, mereka berdua diantar langsung oleh Harry. Harry sebenarnya bingung kenapa semuanya berjalan secepat ini, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Dian tidak jadi menikah dengan nya, pasti Vito akan sangat kecewa karena Vito sudah benar-benar menganggap Dian sebagai mamahnya.


"Sayang masuk dulu ya, ada yang ingin ayah bicarakan dengan mamah," ucap Harry.


"Oke.." Dian pun berjalan masuk ke dalam kamar itu.


"Ada apa mas? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku."


"Terima kasih ya, Aku tidak akan mengecewakanmu. Membuat anakku senang seperti ini salah satu hal yang ingin sekali aku lakukan, dia memang selalu senang bersama dengan ku tetapi kesenangannya tidak pernah selepas ini, Ini semua karena kamu.."


"Kamu membuatku terharu, aku sudah berhasil membuat anaknya senang sekarang menjadi tugasku membuat ayahnya senang padaku," kata Dian.


"Melihat Vito senang itu sudah membuatku senang, kamu tidak perlu repot- repot melakukannya."


Sambil tersenyum Dian masuk ke dalam kamar itu, ia mulai menutup pintu kamar itu sehingga wajah tampan Harry mulai tertutup oleh pintu kamar. Sedari tadi ia sudah menahan agar tidak lompat lompat kesenangan, sekarang sudah waktunya untuk dirinya melampiaskan rasa senang yang ia rasakan sekarang ini.


"Ahhh.." Dian melompat lompat dengan sangat senang.


Vito kebingungan melihat apa yang mamanya lakukan, tanpa pikir panjang Vito menarik tangan Dian dan mulai ikut melompat bersama sama. Mereka berdua tertawa dan bergembira bersama, keduanya seperti sudah memiliki ikatan yang cukup kuat.


Keesokan harinya, hari ini keluarga kecil yang akan terbentuk memilih untuk jalan jalan, Harry sudah memiliki beberapa planning agar bisa lebih dekat dengan Dian, hari benar-benar ingin mendekati Dian agar mereka berdua bisa segera membawa hubungan ini kejenjang lebih serius.


"Mas kapan kamu dengan dia sidang cerainya?"


"Hahaha kenapa kamu tidak sabar menikah denganku, sabar ya tidak sampai dua minggu semuanya akan selesai, aku akan mengambil Hak asuh anakku sepenuhnya agar dia tidak seenaknya bertemu dengan Vito, mudah untuk ku melakukannya karena memang dirinya tidak ada ambil penting dalam perkembangan Vito selama ini."


"Aku memang lebih suka dia tidak bertemu dengan Vito, aku pernah berada di posisi Vito dan memang bertemu dengan orang seperti dia tidak membuatku, jika video ingin bertemu dengan dia barulah kamu bisa menemukan mereka, tetapi jika tidak menurutku tidak perlu kita bertemu dengan dia," kata Dian.


"Ya kamu benar, Aku tidak pernah benci ini pada seseorang dan entah kenapa aku sangat membencinya, bukan karena aku sudah mendapatkan yang baru tetapi karena apa yang dia lakukan selama ini pada keluarganya benar-benar sangat keterlaluan, tolong bantu aku untuk menjaga Vito."


"Aku akan membantumu untuk menjaga anak tampan, aku tidak sabar menunggunya dewasa nanti, pasti dia akan sangat tampan seperti ayahnya," kata Dian.


"Hahaha kalau itu sudah pasti dong. Vito yang mirip denganku, dari bentuk wajahnya sampai dengan sifatnya saja sangat mirip denganku, Ya karena memang dari kecil dia bersama denganku, kalau bersama dengan mamanya kemungkinan besar dia tidak akan mirip denganku," ucap Harry.


"Ya sudah jangan membahas hal yang membuat kamu kesal, sekarang Aku tanya kamu mau mengajak ku main ke mana," tanya Dian.


"Maaf ya kalau aku kurang romantis, Aku memiliki beberapa planning, pertama Aku ingin membawa kalian sudah menonton bioskop, kedua kita bermain di taman kota, ketiga kita makan bersama dan yang ke-4 kita ke pasar malam, di komplek seberang ada pasar malam yang baru buka."


"Wah berarti sampai malam nih, aku sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama denganmu dan dengan Vito," ucap Dian.


"Ah tidak sabar dengan ku kan," goda Harry.


Dian cukup terkejut hari yang sudah berani mulai menggodanya, Bagaimana mungkin bisa seseorang terjadinya seperti hari bisa mengatakan hal seperti itu, ini salah satu kemajuan yang sangat besar, dan Dian ingin selalu menyengat hal seperti ini dari bibir manis Harry.


"Ini serius kamu Mas, Aku tidak pernah mendengar kamu bisa bicara seperti itu, ah sudah berani ya menggoda calon istrinya," ucap Dian.


"Kenapa emangnya, sesekali tidak masalah kan. Itu salah satu trik agar kita bisa lebih dekat, kamu tidak ingin lebih dekat denganku."


"Sstttt.. Ada anak kecil jangan berbicara yang tidak tidak,


"Oke besok aku akan membawamu saja, Vito bisa bersama dengan nenek dan kakeknya di rumah. Sesekali kan orang tuanya juga perlu yang namanya pacaran."


Dian tidak bisa menyembunyikan salah tingkahnya, Harry benar-benar sukses membuatnya malu merona dan sudah pasti salah tingkah.


"Ayah kemarin setelah Ayah berbicara dengan mamah, mamah senang sekali sambil melompat lompat, aku tidak tau kenapa aku ikut lompat lompat," ucap Vito.


"Begitu sayang, ah mamah mu itu sangat pintar menyembunyikan perasaan nya, ayah bingung kenapa mamah mu tidak terlihat senang saat bersama dengan ayah, ternyata dia menyembunyikan perasaan nya," kata Harry.


Dian semakin tidak bisa menyembunyikan nya lagi, ia meremas tangan Harry agar berhenti membicarakan nya.


"Kenapa, kamu kenapaa," tanya Harry.


"Tidak papa, kamu berhenti membicarakan ku," ucap Dian.

__ADS_1


"Hahaha tidak papa lah, kan yang di bicarakan juga fakta," kata Harry.


__ADS_2