
Mereka pun berangkat mengantarkan Vito sekolah, sebelum sampai di sekolah mereka mampir terlebih dahulu untuk mengambil bekal makan siang Vito, sebelumnya Dian sudah meminta pelayan cafe untuk menyiapkan bekal itu, jadi saat mereka datang Dian hanya tinggal mengantarkan nya saja.
Hanya Dian yang turun dari dalam mobil, Harry dengan Vito memilih untuk menunggu mereka berdua di dalam mobil. Jika mereka ikut turun akan lebih ribet lagi, memang lebih baik mereka berdua menunggu didalam mobil saja.
"Ayah.."
"Iya sayang."
"Kenapa mamah aku tidak seperti kakak," tanya Vito.
Harry bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan dari anak ini, ia juga tidak tau bagaimana bisa Dian lebih sayang pada Putri padahal Vito jelas jelas anak kandung Putri. Ia dengan Putra membuat Vito dengan penuh cinta dan kasih sayang, tetapi daa Vito lahir Putri malah tidak memberikan kasih sayang dan cinta itu.
"Setiap orang memiliki sifat yang berbeda sayang, kamu jangan berpikir yang tidak tidak ya, yang terpenting sekarang kamu sudah mempunyai mamah yang sangat menyayangi kamu. Bagaimana kamu senang tidur dengan mamah?"
"Senang sekali, aku di peluk mamah, nambah mencium ku, menepuk bokong ku, biasanya hanya ayah yang melakukan itu," ucap Vito.
"Ayah juga sangat senang mendengar nya sayang, puas puasakan memeluk dan mencium mamah mu," Ujar Harry.
Harry masih membebaskan Vito dengan Dian, ia tidak ingin menghalangi mereka berdua. Tetaplah ketika nanti Vito sudah muka masuk remaja suda pasti Harry akan membatasi mereka berdua, ini tidak baik karena mereka berdua bukan ibu dengan anak kandung, membatasi bukan berarti memisahkan mereka berdua. Harry hanya tidak ingin Vito terlalu frontal bersama dengan Dian, mereka berdua harus memiliki batas aman.
Tak lama Dian kembali masuk ke dalam mobil dan mereka pun melanjutkan perjalanan ke sekolah Vito.
Sesampainya di sekolah itu, Vito langsung turun dari dalam mobil, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan teman teman nya. Sebelum ia berpisah dengan kedua orang tuanya, Vito mencium mereka berdua.
__ADS_1
"Jangan nakal," ucap Harry.
"Iya yah.."
"Sekolah yang rajin sayang, kamu pasti akan sukses.." Dian memeluk dan mencium Vito.
Setelah itu Vito langsung masuk ke dalam sekolah nya bersama teman-teman nya, sedangkan kedua orang tuanya langsung kembali masuk ke dalam mobil.
"Sayang.." Harry memeluk Dian dari samping, sekarang mereka berdua bisa lebih bebas jika ingin bermesraan, tidak akan ada yang menganggu dan melihat mereka berdua lagi.
"Langsung manja," ucap Dian.
"Aku sudah tidak sabar kita menikah," kata Harry.
"Tenang saja, secepatnya kita akan menikah," kata Harry.
Setelah dari sekolah Vito, mereka berdua menuju cafe Dian. Dian sudah membersihkan ruangan nya, agar ia tidak malu membawa Harry masuk ke dalam sana.
Sesampainya di cafe mereka berdua berjalan masuk ke dalam, keduanya bergandengan tangan selayaknya sepasang kekasih. Karena itu mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian karyawan nya Dian. Dian sendiri tidak masalah, mereka begitu karena ia juga tidak pernah membawa pria ke cafe nya.
"Cafe kamu besar sekali ya, besar dong omset nya," ucap Harry.
"Besar dong, apalagi selalu ramai."
__ADS_1
"Wah punya istri kaya raya dong aku," ucap Harry.
"Aku tidak ada apa apa nya bila di bandingkan dengan kamu," kata Dian.
"Ah bisa saja." Harry duduk di kursi tempat biasanya Dian duduk.
"Eh aku bosnya di sini," ucap Dian.
"Buk boa duduk di sini." Harry menepuk pangkuannya.
"Takut ada tempat Vito berasal," ucap Dian.
"Hahaha kamu bisa saja.." Harry menarik Dian agar duduk di atas pangkuan nya.
"Sayang."
"Iya," ucap Harry.
"Kamu dengan mantan kamu sering berhubungan suami istri," tanya Dian.
Harry hampir tertawa mendengar hal itu.
"Sayang aku pria normal. Ya kalau dia di rumah pasti aku meminta nya, tidak peduli aku sudah tidak punya perasaan pada nya, aku memerlukan tempat itu, tidak pernah menggunakan cinta, cukup menggunakan nafsu saja," ucap Harry.
__ADS_1