Dosen Ku

Dosen Ku
Bab 24


__ADS_3

Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk duduk beberapa saat di tempat itu, ketiganya benar benar kekenyangan karena makan terlalu banyak, terutama Dian yang tidak berhenti nya Harry suguhkan makanan di piring nya, sekarang ia sudah lemas karena kekenyangan.


"Bil nya mas," ucap Harry.


Pelagan itu mulai menghitung apa saja yang mereka makan, hampir dari separuh makanan yang tersedia habis mereka makan. Harry sudah menebak ia akan menghabiskan lebih banyak uang dari biasanya, mungkin bisa 3 kali lipat dari biasanya ia makan di sini.


"Totalnya 1.8 juta, cash atau debit?"


"Debit." Harry memberikan kartu nya.


"Banyak sekali," ucap Dian.


"Makan mu banyak," ujar Harry.


"Ini kartu nya mas, terimakasih.."


Setelah pelayan itu pergi Dian baru mengatakan hal yang mengganjal di otaknya.


"Mas kenapa mahal sekali, biasanya aku makan nasi padang mentok 100 ribu, lah ini sampai lebih dari satu setengah juta."


"Hahaha beda sayang, kami lihat ini. Sayur pare saja sampai 35 ribu satu porsi, mungkin dia beli pare nya di Antartika," kata Harry.


"Hahaha kalau di pasar sudah dapat 3 kilo, puas kamu makan pare, apalagi aku yang masak," ucap Dian.


"Hmmm aku tunggu momen itu ya," kata Harry.


Setelah di rasa sudah cukup duduk di sana, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan, kali ini Harry ingin membawa mereka ke taman kota, siang begini paling enak berteduh di bawa pohon rimbun, di taman yang akan mereka kunjungi memang memiliki pohon rimbun serta danau hijau yang bersih.


Dengan membawa mereka ke tempat itu, mereka bisa menikmati suasana yang tidak akan mereka dapatkan di kota tempat mereka tinggal.


Tak butuh waktu lama mereka bertiga sampai di tempat itu, Harry langsung mengambil perlengkapan yang ia sudah siapkan tadi, mereka akan melakukan piknik ala ala keluarga cemara.


"Wah kamu sudah mempersiapkan semuanya ya mas," ucap Dian.


"Aku selalu mempersiapkan apa yang ingin aku lakukan, nah malam tadi aku menyiapkan ini semua," kata Harry.


Mereka memilih duduk di bawa pohon yang terlibat masih sehat dan segar, di depan mereka sudah ada danau hijau yang sangat menggoda untuk di telusuri. Dulu sebelum menjadi taman kota Harry dengan para abang nya sering memancing di tempat ini. Harry berharap masih ada ikan yang ada di danau ini, ia sudah membawa perlengkapan memancing.


"Kita mau memancing yah," tanya Vito.


"Iya sayang kita akan memancing, kamu sudah tidak sabar untuk memancing," ucap Harry.


"Hahaha iya yah, aku pernah memancing dengan paman Bayu, tapi tidak pernah dapat," kata Vito.


"Hahaha ya iya tidak pernah dapat, orang kamu mancing dengan dia, kalau kamu mancing dengan ayah baru dapat."


Segera mereka berdua berjalan ke pinggir danau. Harry mulai mempersiapkan alat tempurnya, setelah semuanya siap ia langsung melemparkan mata pancing itu ke dalam danau, untuk memancing Harry sangat bisa sekali, diantara abang abang nya Harry yang paling jago memancing.


Sambil menunggu anak dsn calon suaminya memancing Dian berbaring di atas tikar sambil memainkan Handphone nya, ia benar benar bahagia hidup seperti ini. Hal yang paling Dian impikan sebentar lagi akan segera terjadi.


"Ayah ayah tarik," ucap Vito.


"Hahaha sayang tidak begitu dong, ini kan bukan dimakan ikan, pancing nya hanya tenggelam, ini pasti ajaran sesat paman mu," Kata Harry.


"Sayang jangan begitu, berikan Vito pancing nya, biarkan dia memancing dengan cara bys," ujar Dian.


"Sayang kamu diam saja, ini urusan aku dengan perasaan Vito," kata Harry.


Dian membuka kamera di handphone nya untuk merekam mereka berdua, ini momen yang harus diabadikan agar mereka bisa melihat momen seperti ini kembali.


"Sayang," ucap Dian.


"Iya sayang.." Harry melambaikan tangan nya, ia tau Dian sedang merekam nya. Harry tidak pernah takut untuk berekspresi karena ia terlihat tampan dari sembarang arah, mau dari lubang hidung pun dirinya terlihat begitu tampan.


Sekitar dua jam memancing mereka tidak mendapatkan apa apa. Dian dan Vito sampai tertidur di atas tikar karena terlalu lama menunggu, mereka berdua juga kekenyangan yang membuat mereka mudah sekali untuk tidur.


Sedangkan Harry masih setia dengan pancing nya, ini bukan hanya soal ikan, memancing salah satu hobi Harry yang tidak bisa ia lakukan setiap saat. Walaupun tidak mendapat ikan Harry tetap bersemangat, ia masih setia menunggu dan mencari dimana titik ikan itu berada.


"Belum dapat mas, yang tadinya aku sudah kenyang jadi lapar lagi," ucap Dian sambil mendekati Harry.


"Dia masih tidur," tanya Harry.

__ADS_1


"Masih lah, dia baru saja tidur, kata dia tadi kamu hanya banyak gaya, tetapi tidak bisa mendapatkan ikan" jawab Dian.


"Itu kamu atau dia, jangan mengatas namakan dia kalau kamu yang mengatakan nya," ucap Harry.


"Hehehe.." Dian memeluk Harry dari samping, ia sudah bebas memeluk Harry seperti ini, Harry juga tidak marah malah memberikan tubuh nya pada Dian.


"Usia kamu berapa sih sebenernya, masih 25?"


"Mas aku sudah 27, kamu jangan ngejek dong," ucap Dian.


"Hahaha kita hanya beda 8 tahun, kamu masih ehem di usia seperti ini," tanya Harry.


"Kalau tidak kamu marah?"


"Ya tidak lah, untuk apa aku marah. Aku juga sudah tidak perjaka," ucap Harry.


"Hahaha aku masih ehem kok mas, kamu sangat beruntung mendapatkan ku," kata Dian.


"Hehehe, mau kamu masih ehem atau tidak, aku tetap menerima mu, seperti kamu menerima status duda ku," ucap Harry.


"Duda atau tidak nya kamu aku tidak peduli. Aku sangat mengagumimu saat aku pertama kali bertemu dengan mu, dan sekarang hal yang paling tidak aku sangka terjadi, aku akan menikah dengan seseorang yang aku kagumi."


"Kamu serius," tanya Harry.


"Apa ada wajah bercanda di wajah ku mas, aku sangat mengagumimu mas, aku sangat senang saat tau ternyata kamu lah yang di jodohkan dengan aku. Kamu tidak pernah melihat sikap ku pada mu, kalau kamu memperhatikan nya kamu pasti akan tau bagaimana aku menganggumi mu."


"Apa ini artinya dia ingin ciuaman dari ku," bbatin Harry.


Harry memegang wajah Dian, kemudian ia mulai mendekati wajah Dian untuk mencium nya, ketika sudah dekat Dian sedikit menjauh karena ia deg deg kan. Ini ciuman pertama nya dengan orang yang ia suka pula, sudah pasti jantung Dian langsung tidak aman.


Harry paham Dian belum siap, ia tidak memaka Dian untuk berciuman dengan dirinya. Harry pun melepaskan wajah Dian, ia kembali menjauhi wajah Dian.


Hal itu membuat Dian sangat kecewa karena ini salah satu hal yang paling Dian tunggu, eh malah Harry tidak jadi melakukan nya.


"Mas.."


"Aku tau kamu belum siap, aku tidak ingin memaksa mu," ucap Harry.


"Seperti nya kita harus banyak berbicara berdua, kamu bilang aku cinta pertama kamu," ucap Harry.


"Iya sayang, kamu cinta pertama ku," kata Dian.


"Wah ternyata banyak yang tidak aku ketahui." Harry mulai penasaran dengan perasaan Dian kepada dirinya.


Saat sedang masih berbicara tiba-tiba pancing yang Harry diletakkan di tanah mulai ditarik oleh ikan, Harry yang sadar itu segera menarik mancing itu agar tidak terbawa oleh ikannya masuk ke dalam danau.


Keduanya tampak senang melihat mancing itu di makan ikan. Segera Harry mulai menariknya agar ikan yang ada di pancing itu tidak lepas, ia sudah sangat menunggu momen ini, tidak mungkin ia lepaskan begitu saja.


Akhirnya setelah mendapatkan pancing mendapatkan hasil juga, Harry mendapatkan seekor ikan yang cukup besar, sangat cukup untuk mereka berdua bakar yang makan bersama-sama.


Bukan hanya Harry yang tanpa senang, dian saja yang menang setiap tadi langsung melotot seketika melihat ikan yang cukup besar itu, Ya sudah membayangkan bagaimana enaknya rasa ikan hasil mancing di danau ini, perutnya yang tadi kenyang kembali lapar. Dian tidak tau apa yg akan Harry lakukan dengan ikan itu.


"Mas mau kamu apakan ikan itu," tanya Dian.


"Bakar seperti nya enak ya," ucap Harry.


"Sudah pasti enak sekali dong, aku bisa menyiapkan bumbu bakar yang sangat enak. Kalau kamu mau aku akan menyiapkannya, tetapi kita membakar di mana? Emangnya kamu bawa alat untuk membakar ikan?"


"Hahaha dengan apa saja bisa, kamu tenang saja kalau bersama dengan ku semuanya akan aman terkendali," ucap Harry.


"Sangat percaya diri sekali ya sayang," kata Dian sambil mencium wajah Harry.


Ini pertama kalinya Dian mendapatkan ciuman itu, ia sangat senang sekali mendapatkan ciuaman itu. Karena itu Harry sampai tidak bisa berkata apa apa.


"Sayang kamu sangat nakal ya, kamu sembarangan mencium ku," ucap Harry.


"Hehehe maaf maaf sayang, sudah dari pada kamu marah sekarang lebih baik kamu membakar ikan ini untuk ku. Aku sudah tidak sabar untuk mencoba nya."


"Siapa yang marah, mendapatkan ciuman manis kok marah," ucap Harry.


"Hehehehe mana tau kan, kalau kamu marah kamu aneh sekali, ya kali di cium marah, seharusnya senang dong," ucap Dian.

__ADS_1


Harry tersenyum mendengar ucapan dian, dirinya tidak marah sama sekali melainkan sangat senang sekali, ia tidak pernah sesenang sebelumnya setelah banyak masalah rumah tangganya. Dian benar-benar dapat membangkitkan senyumannya kembali.


Mereka berdua pun mulai membersihkan ikan itu menggunakan pisau yang sudah harry bawah dari rumah, karena ini taman kota yang cukup bebas mereka berdua bisa menyalakan api kecil untuk membakar ikan itu. Tidak ada larangan apapun kecuali mereka ingin membakar satu taman ini, barulah mereka berdua akan mendapat kecaman dari berbagai macam pihak.


Setelah ikan bersih hari mulai menyalakan api, sedangkan Dian membantu mengumpulkan kayu-kayu kering agar api cepat membesar dan menjadi bara, ketika api sudah nyala harry beranjak setiap hari tempat duduk nya untuk mengambil pohon yang masih basah, ya akan menggunakan lantai pohon itu sebagai tusuk ikan bakarnya. Hal seperti ini sudah jangan saya lakukan bersama dengan para abangnya.


Telah mendapatkan ranting pohon itu hari mulai menusuk ikan yang sudah bersih, ia sudah tidak sabar untuk membakar ikan itu bersama dengan Dian.


Vito sendiri masih terlelap dengan tidur nya, mereka akan membangunkan Vito setelah ikan yang mereka akan bakar matang.


"Mas kamu seperti sudah biasa melakukan hal seperti ini," ucap Dian.


"Hahaha memang sudah biasa, kamu saja yang tidak tau, aku dengan abang ku sering melakukan hal seperti ini. Walaupun kami hidup serba kecukupan, kami tetap merasakan hal seperti ini," kata Harry.


Dian sendiri masih bingung sebarapa kaya keluarga Harry, dari rumah dan fasilitas yang ada keluarga Harry seperti memiliki kekayaannya di atas rata rata, ia sendiri belum banyak tau tentang keluarga itu, mau sekaya apapun mereka Dian tidak peduli karena ia mencintai Harry bukan kekayaannya.


Setelah kurang lebih 1 jam menunggu akhirnya ikan yang cukup besar itu matang dengan sempurna. Segera Harry mengambil piring dari dalam mobil dan meletakkan ikan itu ke atas piring, tidak lupa ia menyerang saus yang sudah ia buat tadi malam, dalam melakukan segala hal Harry memang sangat prepare, sampai saus saja sudah ia siapkan, padahal sebenarnya belum tentu yang mendapatkan ikan.


Hari membawa ketika tempat dian dan vito duduk menunggunya, ternyata vito sudah bangun dari tidurnya karena mencium aroma ikan bakar yang sangat menggugah selerah.


"Padahal kita tadi sudah makan, tetapi sekarang kita lapar kembali," ucap Dian.


"Hahaha iya kan, tadi kita sudah makan sangat banyak, sekarang makan ikan besar ini lagi, beruntung kita dapat ikan besar ini, mana Vito kalau makan sangat banyak sekali," ucap Harry.


"Ayah aku tidak makan banyak kok," kata Vito, ia tidak Terima dikatakan makan terlalu banyak, padahal ayahnya sendiri yang makan sangat banyak.


"Ayah makan terlalu banyak," ucap Vito.


Mereka berdua tertawa mendengar celotehan dari mulut Vito, keduanya sangat gemas pada anak ini, selain aktif bermain Vito juga tidak segan mengatakan apa yang ia lihat.


Mereka bertiga sangat lama berada di taman itu, dari siang hari sampai dengan pukul 05.00 sore. Ketiganya sudah sangat lelah dan memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, nanti malam mereka akan lanjut lagi untuk ke pasar malam di Desa seberang, sekarang lebih baik memang mereka pulang terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah dian nanti itu langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, sedangkan Harry duduk bersama kedua abangnya yang sedang menonton televisi. Dari hubungan Harry dengan Dian hanya bayu yang terlalu kepo, mungkin karena ia sudah mengenal mereka berdua terlebih dahulu.


"Bagaimana hari ini menyenangkan," tanya Bayu.


"Ya begitu lah," kata Harry.


"Kau suka dengan nya kan, katakan saja jangan berbohong," ucap bayu.


"Seperti nya memang aku suka dengan nya, dan sekarang aku baru sadar akan perasaan ku," kata Harry.


"Perasaan apa? Cinta?"


"Ya begitu lah, beberapa minggu dengan nya membuat diri ku menyimpan perasaan lebih kepadanya," ucap Harry..


"Hahaha karena kau sudah mempunyai perasaan padanya sekarang aku jujur pada mu ya, dan kau jangan marah pada nya dan pada ku," kata Bayu.


"Ya sudah jujur saja, aku tidak akan marah pada mu dan pada nya," ucap Harry.


Bayu pun mulai menjelaskan semuanya, ia tidak ingin ada yang ditutup-tutupin lagi. Lagi pula harry sudah mengakui perasaannya pada diam dan untuk apa lagi ia menutupi ini semua.


Harry yang tersenyum mendengar penjelasan dari Bayu, dirinya sama sekali tidak marah mendengar itu semua, ia malah senang dengan inisiatif Bayu ia bisa sadar dengan semua peperasaannya pada Dian. Kalau tidak karena Bayu entah sampai kapan ia akan sadar dengan perasaan nya itu.


Setelah berbicara hal itu dengan Bayu Harry memutuskan untuk bertemu langsung dengan Dian, ia ingin mendengar semuanya dari bibir Dian langsung.


Di dalam kamar Dian tengah berbaring di atas ranjang karena menunggu Vito mandi, ia tidak mungkin mandi bersama dengan Vito yang notabene nya tidak memiliki ikatan darah dengan nya.


Ia terkejut melihat Harry tiba tiba masuk ke dalam kamar nya, beruntung ia masih menggunakan pakaian yang cukup lengkap walaupun sedikit seksi.


"Mas kamu asal masuk saja ya," ucap Dian.


Tanpa mengatakan apapun Harry duduk di samping Dian, ia menatap mata Dian yang membuat Dian salah tingkah sendiri, entah sejak kapan Harry memiliki tatapan manis seperti ini.


"Aku sudah tahu semuanya, dan kamu tidak ingin menjelaskannya semuanya pada ku. Bayu sudah mengatakan semuanya padaku, semua rencana kamu berjalan dengan sangat lancar ya, ternyata kamu sudah menyukaiku saat kita pertama kali bertemu, Bayu bertemu denganmu di kolam renang kalian membuat kesepakatan dan terjadilah pertemuan kemarin, Jelaskan dengan rinci sayang aku ingin mendengar semua dari bibirmu."


Dian terdiam sejenak mendengar apa yang Harry katakan, ia bingung kenapa bayu mengatakan semuanya pada Harry. Padahal mereka berdua sudah berjanji untuk merahasiakan hal ini dari Harry.


"Kamu tidak marah kan." Dian takut Harry akan marah kepada nya.


"Hahaha untuk apa aku marah, kamu ada ada saja sayang, aku tidak akan marah" ucap Harry

__ADS_1


__ADS_2