Dosen Ku

Dosen Ku
Bab 13


__ADS_3

Karena pertanyaan Vito tadi suasana menjadi sedikit canggung, Harry dengan Dian sama-sama tidak ada berbicara, Dian fokus dengan situs dengan Harry fokus dengan mobil yang ia bawa, ada perasaan mengganjal di hati mereka masing-masing, hal itu lah yang membuat mereka berdua terasa canggung.


"Sampai," ucap Harry.


"Di sini yah," tanya Vito.


"Iya sayang, ayo turun…"


"Kak ayo, kakak ikut Vito," ucapnya dengan penuh semangat.


"Oke kamu sangat bersemangat sekali ya," kata Dian.


"Dia memang sudah ingin sekolah sejak lama, tetapi karena kami baru pindah jadi dia baru bisa sekolah sekali," ujar Harry.


Mereka bertiga pun turun dari dalam mobil, mereka sudah seperti sebuah keluarga cemar, Dian benar-benar masuk ke dalam keluarga ini, sepertinya harapan Dian selama ini akan segera terjadi.


"Aku ingin mengurus administrasi, kamu dengan kakaknya, kalian bisa jalan jalan.."


"Ikut dengan bapak saja lah," ucap Dian.


"Iya mau ikut ayah.."

__ADS_1


"Ya sudah ayo.." Harry membawa mereka berdua masuk ke dalam ruangan guru.


Di dalam mereka di sambut oleh kepala sekolah, sebelumnya Harry sudah mendaftarkan melalui online jadi hanya tinggal beberapa hal kecil yang harus di selesaikan.


"Halo Vito, kamu siap belajar?"


"Siap siap siap.." ucap Vito dengan sangat bersemangat sekali.


"Anak ibu semangat sekali ya, dan wajahnya mirip sekali dengan ayahnya."


"Eh bukan anak saya," ucap Dian.


"Eh bukan ya, maaf maaf. Baru mau menikah ya, wah selamat ya, semoga lancar.. Ibu hebat bisa dekat dengan anak dari calon suaminya, suaminya saya juga duda anak satu, tapi saya sangat sulit dekat dengan anaknya.."


"Memang sangat sulit mendekatkan anak dengan calon istri, apakah aku nanti bisa mencari wanita yang sayang juga dengan anak ku," batin Harry.


Setelah selesai mengurus administrasi dan lain sebagainya, mereka bertiga jalan jalan melihat lihat sekolah itu. Vito terlihat sudah tidak sabar untuk bersekolah, wajahnya terlihat sangat senang sekali. Harry yang melihat itu jadi lega, ia tidak khawatir lagi meninggalkan Vito sekolah. Dari pada Vito terus ikut bekerja dengan nya, memang lebih baik sekolah seperti ini.


"Masuk jam 8 pulang jam 2, lama juga ya. Aku saja sejam di kelas sudah merasa bosan," kata Dian.


"Hahaha itu kan diri mu, kau memang malas sekali.."

__ADS_1


Harry terlihat sedikit mengejek Dian, tetapi Dian tidak marah, ia malah senang melihat Harry yang sudah merubah sikap nya kepada dirinya. Harry sudah jauh berbeda dari sebelumnya.


Mereka membiarkan Vito bermain dengan beberapa anak yang seumuran dengan Vito. Vito termasuk anak yang Aktif, hal itu membuat Vito lebih mudah bergaul dengan teman seumurannya.


Selagi menunggu Vito bermain, mereka berdua duduk bersama di taman sekolah, keduanya terlihat Diam tanpa mengeluarkan sekata pata pun.


"Ada apa pak? Kenapa bapak terlihat lesu?"


"Maaf jika Harry membebani mu soal mamahnya, aku tidak bisa menahan nya, dia memang benar-benar kehilangan sosok mamah.."


"Ah kalau masalah itu, aku tidak papa pak.. Maaf pak menggunakan kata aku," ucap Dian.


"Tidak masalah.. Senyaman nya diri mu saja."


"Selagi aku bisa membuatnya tersenyum, aku sangat senang sekali. Aku juga pernah berada di posisi Vito, dan memang rrasanya sangat tidak enak sekali," kata Dian.


"Kalau boleh tau memang mamahnya kemana pak," tanya Dian.


"Mamanya sibuk dengan kegiatan model nya, mungkin dirimu pernah melihat iklan mamanya, banyak di majalah atau Bilbord di pinggir jalan maupun di mall. Dia sudah tidak memperdulikan keluarga nya."


"Wanita sialan, aku yang sudah berusaha 27 tahun saja masih mencari jodoh, dia malah menyianyiakan sebuk berlian seperti ini," batin Dian.

__ADS_1


Setelah cukup lama berada di sana. Mereka memutuskan untuk pulang, beruntung sekarang tempat tinggal Dian satu gedung dengan Harry, jadi ia bisa langsung ikut pulang bersama dengan mereka berdua.


__ADS_2