Dosen Ku

Dosen Ku
Bab 17


__ADS_3

"Hey kau sudah datang.." Seseorang pria datang mendekati mereka berdua, tanpa Dian duga pria itu mencium kening Harry.


"Kau.." Harry segera mengusap kening nya. Meskipun kesal Harry Potter tidak marah pada pria itu.


"Ha.." Dian tampak terkejut melihat itu semua, ia benar-benar tidak menyangka..


"Kenapa," tanya pria itu.


"Kalian…" Dian menggantung ucapan nya.


"Dia abang kandung ku, namanya Bayu, kau jangan asal mencium ku, orang pikir aku tidak normal," ucap Harry.


"Hahaha biar saja, kau sudah punya anak berarti normal dong. Siapa dia? Pacar mu?"


Dian lega ternyata pria itu abang kandung Harry, pantas saja Harry terlihat tidak bisa marah pada pria ini.


"Dia teman ku, namanya Dian," kata Harry.


"Paman paman, mau itu…" Vito menunjuk sebuah balon besar yang sangat menggemaskan.


"Ya sudah sana main," ucap Bayu.


Segera Vito berlari mendekati balon itu.


"Ku pikir kau masih di Malaysia," ucap Harry.


"Aku sudah datang sejak beberapa hari lalu, hanya saja tidak ada waktu untuk mengunjungi mu, kau tau kan bagaimana istri ku, dia sangat tidak ingin jauh dari ku, dan dia mana mau bertemu dengan istri mu," kata Bayu.


"Kau lupa aku sudah tidak tinggal dengan dia beberapa bulan terakhir, dia datang hanya sesekali saja," ucap Harry.


"Hahaha nganggur dong itu otong mu," kata Bayu.


"Ya begitu lah, kalau aku tau kau di sini, tak perlu mengantri aku."


"Hahaha tapi hanya sebentar kan, kalau kau masih mengantri kau tidak akan masuk secepat ini, sudah kalian bersenang-senang lah," ucap Bayu.


"Dia pemilik wahana ini pak," tanya Dian.


"Sebenarnya sih istri nya, tapi secara tidak langsung sudah pasti dia juga," jawab Harry.


"Wah dia kaya raya," ucap Dian.


"Keluarga ku memang kaya raya, hanya aku yang hidup sederhana.." Harry berjalan masuk ke dalam ruang ganti khusus mereka.


"Dih sederhana apaan, mobil nya harga nya M an, apartemen bagus, aku yakin sebagai dosen pekerjaan sampingan nya," batin Dian.


Dian mengikuti langkah kaki Harry, dirinya bingung apakah mereka akan berganti di ruangan yang sama atau ia memiliki ruangan sendiri.


"Aku juga ganti di sini pak," tanya Dian.


"Ya Jadi kau mau ganti di mana, mau bersama orang-orang sana silahkan, sudah beruntung kita mendapatkan satu ruangan khusus untuk kita," Jawab Harry.

__ADS_1


"Biasa saja dong aku kan hanya bertanya, ya kalau memang di sini aku ingin berganti pakaian langsung," kata Dian.


Harry menghela nafasnya dengan kasar saat melihat pakaian yang dian belikan untuknya, semua pakaian ini sama sekali tidak akan muat dengan dirinya, ukuran saja XL Tetapi dian memberikannya dengan ukuran L.


Dian kau pikir aku anak 17 tahun, mana mungkin muat pakaian ini semua. Hanya dalaman ini yang berukuran pas denganku,


"Saya tidak tahu pak, kalau begitu saya akan membeli lagi," ucap Dian.


"Tidak perlu, aku bisa pakai celana pendek dan kaus saja, yang terpenting aku mempunyai dalaman," kata Harry.


Beruntung Harry memakai dobelan celana pendek, kalau tidak entah apa yang akan ia pakai.


"Kau ganti dulu ya aku mah minta kaos dulu pada Bayu." Harry berjalan pergi meninggalkan Dian.


Dia yang cukup kesal rencananya ternyata gagal, ia tidak bisa melihat Harry memakai pakaian yang ia pilih tadi. Segera Dian mengganti pakaiannya dengan pakaian renang, walaupun tidak benar-benar lengkap setidaknya ia tidak salah kostum.


Setelah berganti Dian mendekati Vito yang masih bermain dengan balon-balon besar di wahana itu, ia ingin mengajak Vito untuk berganti pakaian.


"Sudah ayo kita berganti pakaian," tanya Dian.


"Nanti Kak aku masih seru bermain dengan balon ini," kata Vito.


"Kamu masih ingin main di sini atau berenang bersama kakak?" tanya Dian.


"Berenang bersama kakak, Ayo kita berganti pakaian." Vito langsung berlari mendekati Dian.


Dari kejauhan Bayu melihat itu semua, ia benar-benar senang melihat itu bersama dengan wanita yang tidak tahu siapanya Harry, yang jelas saat ini wanita itu sangat dekat sekali dengan Vito, tidak mungkin hanya teman biasa saja, ia tidak percaya dengan apa yang hari katakan padanya.


Harry yang baru mengambil kaos milik Bayu hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Bayu, ia yakin Bayu pasti sudah berpikiran tidak tidak tentang Dian.


"Bukannya sudah kukatakan dia hanya temanku," ucap Harry.


"Ah mana mungkin temanmu bisa dekat itu dengan Vito, katamu saja Vito tidak dekat dengan mamanya apalagi dengan hanya temanmu saja," kata Bayu.


"Sebenarnya dia anak didik ku di kampus ku, nilainya denganku sangat hancur dan dia mengambil les malam hari padaku, karena aku sudah tidak membutuhkan uang lebih aku meminta bayaran padanya dengan cara Dian menjaga Vito saat aku sedang bekerja. Dan kebetulan Vito langsung lengket dengannya, aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi," jelas Harry.


"Oh begitu, kalau itu mah pertanyaan yang mudah. Kenapa bisa terjadi karena Vito memerlukan sosok ibu, dan Dian sepertinya masuk dalam kualifikasi Vito."


"Sudah jangan membahasnya lagi, aku ambil pakaianmu dan aku ingin bersenang-senang hari ini," kata Harry.


"Silahkan adikku, kalau ada waktu aku akan mengunjungi mu, ingat manfaatkan ketampanan mu, kau pria tertampan di keluarga kita," ucap Bayu.


Tanpa sengaja bayu melihat Dian sedang berjalan bersama dengan Vito masuk ke dalam kolam renang anak anak. Ia masih penasaran dengan Dian dan dirinya memutuskan untuk berjalan mendekati Dian, ia ingin bertanya langsung pada Dian apa yang ia lihat.


"Vito kamu bermain di sana dulu ya, Ada yang ingin Paman katakan pada kakakmu ini," kata Bayu.


"Oke." Vito berjalan menjauhi mereka berdua.


"Ada apa ya pak atau tuan atau mas." Dian tampak kebingungan tiba-tiba Bayu ingin berbicara dengannya.


"Aku ingin bertanya padamu, kau suka dengan adikku kan," tanya Bayu.

__ADS_1


Dian terkejut mendengar pertanyaan itu, Apa rasa sukanya pada harry tidak dapat ia sembunyikan, Bagaimana mungkin orang lain dapat dengan mudah melihat rasa suka itu,


"Hehehe…"


"Katakan saja iya, kau suka dengannya kan," kata Bayu.


"Iya aku suka dengannya, tapi sayangnya dia sudah mempunyai istri," kata Dian.


"Jangan pikirkan istrinya, dia bukan wanita yang baik dan sebentar lagi mereka berdua akan berpisah, kalau kau benar-benar suka dengannya aku minta padamu cintai dia dengan tulus, dia anak bungsu sudah di keluarga kami, seharusnya dia mendapatkan semua hal yang dia inginkan dengan sangat mudah, tetapi nyatanya hidupnya sangat dipersulit. Aku mohon padamu bahagiakan dia, usianya memang sudah 35 tahun tetapi dia belum menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, aku melihat kau mencintainya dengan tulus, aku sangat berharap cintamu yang tulus itu dapat membuatnya bahagia."


Apa yang bayu katakan membuat Dian terdiam sejenak, ia sudah mendapatkan lampu hijau dari kakak iparnya, tandanya hubungannya dengan hari akan segera melangkah jauh ke depan.


"Iya aku akan melakukan apa yang kakak katakan, tapi mendekatinya bukan hal yang mudah, Sepertinya dia masih menutup rapat-rapat hatinya, ya kalau bisa tolong bantu aku agar bisa masuk ke dalam hatinya," kata Dian.


"Kalau untuk urusan itu tenang saja, seminggu lagi akan ada acara keluarga di rumah kami, karena acara itu kami harus berkumpul di rumah bersama dengan keluarga besar, aku rasa istrinya Harry tidak akan datang dan kau bisa menggantikannya, kau tenang saja satu keluarga tidak ada yang suka dengan istrinya itu, mereka akan mendukungmu bersama dengan Harry."


"Wow ini sangat luar biasa, aku mendapatkan restu yang sangat besar, terima kasih aku tidak akan mengecewakan mu.." Dian benar-benar terlihat sangat senang, bagaimana mungkin Ia mendapatkan semua restu ini begitu cepat dan mudah. Sekarang ini hanya tinggal Harry yang harus ia taklukan.


"Apa yang kalian berdua bicarakan," tanya Harry.


"Tidak ada, kau kepo sekali," jawab Bayu sambil berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


Harry mengerutkan dahinya, tidak mungkin tidak ada yang mereka bahas, terlihat dengan jelas mereka berdua berbicara dengan serius.


"Ada apa," tanya Harry.


"Tidak ada bapak, jangan kepo deh.."


"Jangan mau jadi istri keduanya, dia memang genit," ucap Harry.


"Tidak akan lah, aku mah mau nya jadi istri bapak.."


"Ha," ucap Harry.


"Hehehe ya kali jadi istri abang bapak, kalau bapak singel lebih baik jadi istri bapak, dari pada jadi istri kedua. Ayo pak, Vito sudah menunggu kita," kata Dian, beruntung Dian sangat pintar dengan yang namanya ngeles.


Hari ini mereka bertiga benar-benar bersenang senang, ketiganya tampak bahagia bermain air tanpa henti, dari seluncur yang kecil sampai dengan besar, semuanya mereka berdua coba.


"Wah perut nya benar-benar kotak kotak-kotak seperti tahu," batin Dian.


Ingin sekali Dian mencium nya, memeluk nya, mengelus nya sampai dengan memainkan nya. Sayangnya Harry belum menjadi pasangan nya.


"Sayang sekali," batin Dian.


"Ada apa," tanya Harry.


"Tidak ada pak, apa aku boleh memanggil kamu dengan sebutan mas," tanya Dian.


"Tidak masalah, panggil saja," jawab Harry.


Dian tersenyum mendengar jawaban Harry, ia yakin ia dengan Harry akan bisa semakin dekat dirinya harus siap sedia untuk malam pertama nya dengan Harry. Pria ini pasti memiliki tenaga yang bukan main, dari tubuhnya sudah terlihat dengan sangat jelas sekali.

__ADS_1


__ADS_2