
Pertama Harry membawa mereka berdua ke mall yang menyediakan bioskop, terkadang ada beberapa mall yang tiada memiliki bioskop, apalagi mall di kota tempat orang tua Harry tinggal tidak ada yang besar seperti tempat Harry dan Dian tinggal. Kota ini termasuk kota kecil yang belum memiliki banyak fasilitas seperti di kota besar lainnya.
"Nah ini satu satu nya mall yang ada bioskop nya," ucap Harry.
"Wah keren mall nya, walaupun di kota kecil sudah ada yang seperti ini."
"Iya ini kota kecil, tapi lebih sejuk dan nyaman berada di kota ini, lebih banyak pohon dari pada gedung," ucap Harry.
"Hahaha iya mas, kamu benar, ya sudah ayo masuk.."
Mareka bertiga pun berjalan masuk ke dalam mall itu, karena membawa Vito yang masih kecil mereka hanya bisa menonton film keluarga, lain waktu Harry ingin mengajak Dian menonton film romance, ia penasaran bagaimana rasanya menonton film romance bersama dengan pasangan, dirinya tidak pernah melakukan hal itu bersama dengan mantan istri nya dulu.
Kegiatan menonton hanya beberapa jam saja, dari pukul pagi sampai dengan 11 siang, mereka bertugas keluar dari dalam bioskop dengan wajah yang puas sekali. Terutama Vito yang bisa merasakan bagaimana memiliki ibu yang benar, seumur umur Vito tidak pernah di ajak nonton seperti ini oleh ibu kandung nya.
"Bagaimana sayang kamu puas tidak," tanya Harry.
"Aku sangat puas ya," jawab Vito.
"Ah aku pikir dia ingin memanggil ku sayang," ucap Dian.
"Kenapa kamu," tanya Harry.
"Tidak ada mas," jawab Dian.
"Kamu mau aku panggil sayang," bisik Harry.
"Ih kamu apaan sih, tidak ya, siapa yang ingin kamu panggil sayang." Dian menjulurkan lidah nya pada Harry.
Harry hanya tertawa kecil, ia tidak ingin terlihat begitu salah tingkah, sebenarnya mereka berdua sama saja, sama sama mudah sekali yang namanya salah tingkah.
"Sayang kamu mau makan apa," tanya Harry.
Dian hanya diam saja karena yang Dian pikir Harry memanggil Vito, mana mungkin juga Harry mengatakan kata sayang padanya, walaupun Dian masih berharap ada kata sayang yang terucap dari bibir Harry. Ia beberapa dengan Harry yang masih dalam proses pendekatan, dirinya sudah sampai tahap mencintai pria ini, tidak ada perlu kata pendekatan untuk dirinya.
"Sayang kamu tidak mendengar apa yang aku katakan," tanya Harry.
"Aku," tanya Dian sambil menunjuk dirinya.
__ADS_1
"Iya kamu lah, siapa lagi jika tidak kamu," ucap Harry.
"Aku pikir Vito," kata Dian.
"Noh dia sudah di sana, kamu terlalu banyak bengong, entah apa yang kamu pikirkan," ucap Harry.
"Sayang mau makan yang enak, tidak mau di restoran modern, nasi padang lebih enak," kata Dian.
"Hmmm ya boleh deh.."
Dian tersenyum senang, ia memeluk Harry dari samping dan mereka berdua kembali berjalan, Vito sudah terlalu jauh di depan sana.
Harry berpikir memang seperti nya mereka berdua harus mempunyai waktu berdua, seperti nya besok ia benar-benar akan mengajak Dian jalan berdua tanpa Vito, terasa lebih enak saja jika mereka berdua jalan berdua. Mereka berdua bisa jauh lebih dekat, dan sudah pasti tidak perlu memikirkan Vito.
Mereka bertiga kembali masuk ke dalam mobil, Harry membawa anak dan calon istri nya ke sebuah tempat yang Dian inginkan, apalagi jika bukan restoran padang, tempat dimana semua orang bisa menghabiskan banyak nasi.
"Sampai," ucap Harry.
"Mas ini restoran padang," tanya Dian.
"Wah mewah sekali, tidak seperti restoran padang pada umumnya," kata Dian.
Mereka bertiga pun berjalan masuk ke dalam restoran itu. Dian benar-benar sangat kagum sekali, walaupun namanya restoran padang tempat ini seperti restoran mewah, tidak seperti restoran padang yang biasanya ia datangi.
"Duduk, nanti juga datang makanan nya," kata Harry.
"Tidak pesan dulu mas," tanya Dian.
"Tidak lah, kamu jangan asal ya nanti, kalau tidak ke makan mubazir," jawab Harry.
Tidak lama beberapa pelayanan membawa berbagai macam mana yang ada di restoran ini, satu meja penuh dengan makanan itu, hal itu membuat Dian semakin kebingungan, siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini, sedangkan mereka saja hanya bertiga.
Harry mengambil kan Dian dan Vito nasi, ia sudah biasa makan di sini jadi dirinya yang lebih melayani Dian, sesekali tidak masalah.
"Mas terlalu banyak makanan, siapa yang akan menghabiskan semua ini," tanya Dian.
"Hahhaa tidak ada yang meminta kita untuk menghabiskan ini semua, begini sayang kamu mengambil makanan yang kamu suka, setelah itu buka plastik yang menutupi makanan itu, nah yang kamu buka itu yang harus kita makan dan bayar, kalau tidak kamu buka untuk apa kita bayar," jelas Harry.
__ADS_1
Dian menganggukkan kepala nya, ternyata begitu makan di restoran padang ini. Ia cukup malu karena terlalu deso, Vito saja tau apa yang harus di lakukan, beberapa lauk sudah terbuka di depan piring Vito.
"Hahaha lihat bagaimana Vito makan, dia makan dengan sangat lahap kan, dia sudah biasa makan di sini. Dia bisa mengambil mana saja yang dia mau, sudah pasti kalau Vito mah ngambil ayam pop, udang dan mie," ucap Harry.
"Oh begitu, kamu tidak menjelaskan dulu pada ku, kan aku jadi malu," ujar Dian.
"Tidak perlu malu, saat aku datang aku juga tidak tau kok," kata Harry.
Harry mengambil beberapa lauk yang biasanya ia ambil, ia ingin memberikan nya pada Dian, ia penasaran apakah selera nya sama dengan Dian.
"Kamu suka pare mas," tanya Dian.
"Suka sekali, apalagi yang sedikit pahit, wah rasanya enak sekali," jawab Harry.
"Akhirnya ada yg suka dengan pare, kamu tau mas sangking aku sukanya dengan pare aku sampai membuat menu itu di cafe ku, dan tidak ada yang beli," kata Dian.
"Tenang saja aku hanya akan menjadi pelanggan tetap, akhirnya aku menemukan wanita yang sesuai selera nya dengan diriku," batin Harry.
Bukan hanya pare mereka berdua juga banyak memiliki kesukaan yang sama, alhasil mereka berdua malah asik sendiri bertukar makanan yang mereka ambil. Beruntung Vito juga sibuk dengan makanan nya sehingga ia tidak menganggu kedua orang tuanya yang sedang asik berpacaran.
"Sayang kamu suka daging sapi," tanya Harry.
"Untuk kali ini kita tidak sama, aku tidak suka," jawab Dian.
"Ya padahal ini enak sekali sayang, rendang terenak yang pernah aku makan, coba deh.. Aku sudah membukanya."
"Ah tidak mau aku, boleh bumbunya aja tidak dengan daging nya," ucap Dian.
Harry tidak mungkin memaksa apa yang ia suka pada Dian, ia hanya memberikan bumbu nya saja. Dan memang rasa bumbu itu sangat enak sekali.
"Aku bisa membuatnya, tapi kita pakai ayam saja, aku tida suka daging," ucap Dian.
"Apa yang kamu buat pasti aku makan," kata Harry.
"Hahaha begitu dong, sudah lama aku ingin memasakkan suami ku," ucap Dian.
"Tahan sebentar lagi," ujar Harry..
__ADS_1