
Mendengar suara teriakan dari UKS, Rangga yang saat itu hendak masuk ke sana setelah memberikan tugas pada mahasiswanya langsung berlari dengan cepat.
Dia mencoba membuka pintu UKS dengan cepat, namun terkunci. Dia semakin panik karena mendengar beberapa barang terdengar berhamburan disana.
"Ka-kamu siapa?" Tanya Anya.
Laki-laki itu tersenyum mengerikan.
"Kamu tidak perlu tahu aku siapa. Aku disini ingin menikmati tu*** cantikmu itu" ucap laki-laki yang tidak dikenal itu.
"Kamu gila ya" ucap Anya sambil terus berjalan mundur.
"Iya, aku emang gila" ucap Laki-laki itu sambil terus mendekat.
Disisi lain, Rangga saat ini berusaha mendobrak pintu. Entah mengapa dia terlihat begitu panik.
Hingga datang beberapa orang yang terlihat penasaran karena mendengar keributan disana.
"Ada apa ini pak?" Tanya seorang mahasiswa.
"Tadi saya mendengar ada teriakan di dalam. saya takut terjadi hal buruk padanya" ucap Rangga sambil berusaha mendobrak pintu tersebut.
"Anya, Anya didalam pak" Ucap Dinda yang terlihat begitu khawatir.
"Kalian, tolong ambilkan kunci cadangan UKS ini di satpam" ucap Rangga.
Reza yang juga ada di tempat ikut membantu mendobrak pintu itu.
Anya menyadari seseorang tengah berusaha mendobrak pintu untuknya.
"Pak Rangga" ucap Anya saat melihat bayangan Rangga dari Kaca UKS.
Anya terdiam sesaat kemudian tiba-tiba tersenyum menatap laki-laki di depannya sekarang.
"Orang gila harus di hadapi dengan gila" batin Anya.
"OMG, kau ingin apa tadi? aku tidak mendengarnya?" ucap Anya sambil meletakkan tangannya ditelinga.
Laki-laki itu tersenyum.
"Aku ingin..." belum dia menyelesaikan perkataannya. Pintu UKS itu langsung terbuka.
Terlihat Reza dan Rangga yang berdiri di depan pintu UKS sambil ngos-ngosan.
"Pak Rangga" ucap Anya lagi.
Laki-laki itu langsung mendekap leher Anya. Anya hanya diam saja.
"Hey, apa yang kau lakukan. Lepaskan dia" ucap Rangga.
Anya hanya diam. Bukannya dia tidak bisa melawan, tapi dia ingin tahu apakah
kedua laki-laki di depannya bisa membantunya.
"Haha, aku tidak akan melepaskannya" ucap Orang tersebut.
Dia tiba-tiba mengeluarkan pisau dari sakunya, hingga membuat semua semakin panik. Beda halnya dengan Anya yang malah terlihat biasa saja.
"Oke, oke. Sekarang apa yang kau mau?" Tanya Rangga yang terlihat begitu panik.
__ADS_1
"Aku ingin kalian semua keluar dari sini. Tinggalkan kami berdua disini" ucap laki-laki tersebut.
"Tidak, itu tidak akan terjadi" ucap Rangga kemudian.
Laki-laki itupun langsung mengarahkan pisau tersebut pada leher Anya.
"Oke, kalau begitu Wanita ini akan mati" ucap Laki-laki tersebut.
"Brukkk" Anya langsung memukul bagian sensitif laki-laki tersebut dengan siku tangannya.
Hingga membuat laki-laki tersebut menjerit kesakitan dan melepaskan pisau di tangannya.
Anya tidak tinggal diam. Dia langsung menendang tulang keringnya, kemudian perutnya.
"Kau didiamkan malah melunjak" ucap Anya kemudian menendang lagi hingga laki-laki tersebut benar-benar tumbang.
Beberapa orang yang ada disana terdiam seketika.
Anya kemudian memegang kedua tangan laki-laki tersebut dan mengikatnya dengan tali tambang di UKS.
"Kau salah berurusan denganku. Untung aku cuma mengikatmu seperti ini. Aku bisa saja menancapkan pisau di perutmu. Tapi kau harus hidup. Aku tahu kau siapa dan bagaimana istri dan anakmu sekarang" ucap Anya kemudian bangun dan meninggalkan Laki-laki tersebut.
"Sudah" ucap Anya sambil mengibaskan tangannya di udara.
Anya pun langsung mendekati Rangga yang masih terdiam menatapnya.
"Sisanya bapak yang urus deh" ucap Anya kemudian mengambil tasnya.
Dia memegang lehernya yang sedikit berdarah karena laki-laki tersebut.
"Menyebalkan. Aku menyesal diam saja dari tadi" ucap Anya kemudian melenggang keluar melewati kerumunan.
Semuanya terlihat masih terdiam dan mengabaikan Anya yang sudah melangkah jauh.
Dia ingin pulang segera. Hari ini sangat drama untuknya.
"Tunggu" ucap seseorang.
Anya langsung menghentikan langkahnya dan melihat siapa yang datang.
"Huh, lagi-lagi pak Rangga" batin Anya. Dia benar-benar capek sekarang untuk berurusan dengan Rangga.
Rangga langsung saja mendekati Anya dan menarik tangannya.
"Lah, pak, pak. Ada apa ini?" ucap Anya.
Namun Rangga hanya diam. Dia terus menarik tangan Anya menuju ke ruangannya.
"Pak, lepasin tangan Anya" pinta Anya.
"Sakit pak" ucap Anya lagi. Namun Rangga tidak melepaskannya sama sekali.
Hingga saat mereka sampai di ruangan Rangga. Anya langsung ditarik masuk dan Rangga langsung melepaskan cekalan tangannya dan mengunci ruangannya dengan cepat.
"Kamu duduklah. Biar saya mengobati lehermu dulu" ucap Rangga.
Anya langsung menggeleng.
"Saya nggak mau pak. Saya akan mengobatinya sendiri" ucap Anya hendak ingin keluar.
__ADS_1
Rangga langsung melotot menatapnya.
"Iya-iya. Anya duduk ini. Cepat deh obatin pak. Anya lapar dan capek" ucap Anya kesal kemudian duduk di sofa ruangan Rangga.
Rangga langsung mengambil P3K kemudian duduk di samping Anya.
"Sekarang, mana lehermu?" Tanya Rangga.
Anya langsung mendongak. Terlihat jelas darah keluar merembes dari kulit Anya.
Rangga mulai membersihkan luka tersebut.
"Aw, perih pak" ucap Anya.
Ranggapun mulai meniup luka tersebut. Berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Entah mengapa, hal itu malah menciptakan sensasi aneh di tubuh Anya sekarang.
"Geli pak" ucap Anya kemudian.
Rangga yang menyadari perubahan sikap Anya. Langsung berhenti.
Dia pun langsung memberikan obat luka dan menutupnya dengan perban.
"Sudah" ucap Rangga.
Setelah itu, Anya langsung bangun.
"Sudah kan pak. Saya boleh pergi sekarang?" Tanya Anya.
Rangga langsung mengangguk.
"Btw, terima kasih pak" ucap Anya kemudian hendak pergi melewati Rangga yang masih terduduk di sofa.
"Tunggu" ucap Rangga kemudian bangun.
"Iya pak?" Tanya Anya bingung.
Rangga langsung memeluk Anya erat.
"jangan seperti itu lagi. Saya sangat khawatir" ucap Rangga.
Anya hanya terdiam tanpa menjawab apapun.
"Jangan terluka lagi" ucap Rangga kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Anya yang saat ini menatapnya dalam diam.
Rangga mengelus wajah Anya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Anya" ucap Rangga lagi. Terlihat jelas ada sesuatu yang ingin disampaikannya namun dia tampak ragu.
Lagi-lagi Anya terdiam.
"Aku ingin menerima perjodohan kita" ucap Pak Rangga kemudian.
"Deg" Seperti sebuah hentakan yang sangat kuat. Jantung Anya langsung berdetak tidak karuan.
"Ba-bapak ber-bercanda kan?" Tanya Anya gelagapan.
Rangga menggeleng.
__ADS_1
"Aku serius Anya" ucap Rangga dengan senyuman di wajahnya.
-Bersambung-