Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Tidak sengaja


__ADS_3

Mata Anya terbelalak sesaat setelah Rangga menc*** bibirnya.


Lama mereka dalam posisi itu. Tidak ada pergerakan sama sekali. Hingga Rangga memperdalam pautan bibirnya.


Anya tidak menolak sama sekali, dia malah mengikuti setiap gerakan Rangga. Jelas sekali dia pemula disini, karena memang hanya Rangga yang dominan.


"Brukkk" Anya mendorong Rangga dengan keras, saat kesadarannya mulai muncul.


Rangga bahkan terdorong hingga beberapa cm.


"Ma-maaf" ucap Anya kemudian berlari meninggalkan tempat itu.


Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Namun yang dia inginkan hanya kabur sekarang.


Rangga yang melihat Anya berlari, langsung saja mengejarnya. Dia merutuki kesalahan yang dia lakukan.


"Aku benar-benar khilaf" ucapnya frustasi sambil terus mengejar Anya.


"Anya berhenti" teriak Rangga kemudian.


Anya pun langsung berhenti. Dia tampak ragu untuk menengok ke belakang. Lebih tepatnya malu karena masih mengingat kejadian tadi.


Rangga mendekati Anya kemudian memegang kedua pundaknya.


"Maafkan saya Anya" ucap Rangga.


Anya langsung saja menggeleng, namun tanpa melihat Rangga. Dia masih tertunduk.

__ADS_1


"Bapak Nggak Salah apa-apa" ucap Anya.


"Anya, saya pernah bilang, saat bicara sama orang harus melihat wajahnya" ucap Rangga.


Hal itu tentu saja membuat Anya memberanikan diri untuk menengok.


Kedua mata mereka bertemu. Terlihat jelas keringat bercucuran dari rambut keduanya.


"Maaf pak, aku hanya malu" ucap Anya kemudian menutup wajahnya.


Entah kenapa, rasa geli tiba-tiba muncul di hati Rangga. Di sangat gemas melihat tingkah Anya.


Dia mendekati Anya, kemudian memeluknya.


"Ya sudah kalau malu, saya tutupi saja wajahmu" ucap Rangga sambil menenggelamkan wajah Anya di dadanya.


"Itu ciuman pertama Anya Pak" ucap Anya yang entah kenapa malah menangis sekarang.


Anya tidak membalas ucapan Rangga. Melihat hal itu, Rangga pun langsung melepaskan pelukannya pada Anya. Dia melihat wajah Anya lekat-lekat dan menghapus air mata Anya perlahan.


"Jangan nangis lagi ya. Aku benar-benar tidak ikhlas melihat kamu menangis seperti ini" ucap Rangga sambil mengusap wajah Anya.


Anya hanya mengangguk kemudian kembali menenggelamkan wajahnya di pelukan Rangga.


***


Keesokan harinya, Anya terlihat bersenandung ria di kamarnya. Dia melihat pantulan dirinya dengan handuk melilit ke kepala dan badannya.

__ADS_1


"Dan kau hadirr" suara Anya memenuhi kamar seluas 10x10 meter itu. Dia mendengarkan lagu sambil berkonser ria di cermin. Sepertinya mood nya benar-benar kembali sekarang.


Disisi lain, Rangga saat ini baru saja sampai di rumah Anya. Dia terlihat menggunakan setelan jas resminya.


"Assalamualaikum, Om Tante" ucap Rangga ramah pada kedua orang tua Anya.


"Waalaikummussalam, Ehh Rangga. Silahkan duduk" ucap Nadin yang terlihat begitu antusias.


"Anyanya ada?" Tanya Rangga saat sudah duduk..


"Dia di atas. kamu samperin saja" ucap Nadin.


"Apa boleh?" Tanya Rangga.


"Boleh lah. Bukannya kemarins sudah juga" ucap Nadin menggoda.


Rangga pun mengangguk. Dia pun pergi ke kamar Anya yang dia sudah hafal tempatnya.


sayup-sayup terdengar suara seseorang yang bernyanyi. Dia pun langsung mengetok pintu kamar Anya.


Satu ketokan tidak didengar. Dua ketokan juga tidak berhasil. Hingga ketokan ketiga, Anya terlihat membuka pintu.


"Iyaaa Ma?" Tanya Anya yang terlihat masih dengan balutan handuknya.


Melihat hal itu, Rangga langsung terdiam tidak berkutik. Begitu pun dengan Anya.


"Astagaaaa" ucap Anya kemudian menutup pintu lagi dengan rapat. Lebih tepatnya di banting.

__ADS_1


Rangga tidak mampu berkata-kata. Bibirnya Kelu seketika.


-Bersambung-


__ADS_2