Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Aku Janji


__ADS_3

Setelah memberikan tugas pada mahasiswanya, Rangga langsung bergegas mengambil kunci mobil di ruangannya.


"Drrrttt" hpnya berbunyi. Dia pun langsung mengangkatnya secepat mungkin.


"Hallo? Bagaimana? Apa kalian menemukannya?" Tanya Rangga.


"Wanita yang Tuan cari sedang di bus sekarang. Sepertinya dia akan keluar kota" ucap Laki-laki di seberang telpon itu.


Mendengar hal itu, Rangga langsung bergegas keluar dari ruangannya.


"Kirimkan aku alamat terminalnya" ucap Rangga kemudian mematikan telpon.


Dia berlari menuju ke parkiran. Dia bahkan tidak memperdulikan beberapa orang yang tengah menatapnya heran sekarang.


"Anya, tolong, jangan pergi dulu" batin Rangga.


Setelah sampai di parkiran, dia langsung saja masuk ke mobilnya dan mulai melajukan mobilnya secepat kilat.


"Tittt tittt" Rangga beberapa kali membunyikan klakson agar bisa membelah jalanan dengan cepat.


Disisi lain, Anya tengah menatap beberapa foto di dompetnya. Fotonya dulu bersama neneknya.


"Cuma nenek yang ngertiin Anya. Hikss" ucap Anya.


Sebenarnya sangat berat untuk dirinya pergi. Tapi dia harus melakukannya.


Dia menatap ke arah beberapa kursi di depannya yang sudah mulai full. Artinya sebentar lagi bus itu akan berangkat.


"Hey, nama kamu siapa?" Tanya seseorang tiba-tiba. Dia duduk di samping Anya dan saat ini sedang mengulurkan tangannya pada Anya.


Seorang ibu-ibu berumur, dengan anak di pangkuannya yang tertidur lelap.


"Anya buk" ucap Anya kemudian membalas jabatan tangannya.

__ADS_1


"Owh iya, nak Anya mau ke Malang juga?" Tanya Ibu Itu.


"Iya buk" ucap Anya mencoba ramah.


"Asli Malang?" Tanya Ibu itu lagi.


Anya menggeleng.


"Ada keluarga disana buk" ucap Anya.


"Ohhh, Ka...." belum ibu itu menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba terdengar keributan di luar hingga membuat beberapa orang di dalam bus terlihat menengok keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Anya yang penasaran, ikut melihat apa yang terjadi.


"Pak Rangga" ucap Anya saat melihat seseorang tengah menatap ke arahnya sekarang.


Rangga terlihat sedang dipegang oleh beberapa orang.


"Ada apa ini?" Tanya Anya.


"Ini mba, Orang ini tidak punya tiket tetapi memaksa masuk" ucap salah seseorang disana.


"Dia dosen saya pak" ucap Anya.


Rangga hanya diam, sambil terus menatap Anya sekarang.


"Owh dosen. Tapi tetap saja, tanpa tiket, dia tidak boleh masuk" ucap Bapak itu lagi.


"Saya minta maaf pak. Tapi boleh lepaskan dia. Saya yang akan menjamin jika dia tidak akan melakukannya lagi" ucap Anya.


"Ya sudah. Lain kali jangan seperti itu lagi" ucap Bapak itu.


"Oya pak, saya izin bicara dengan nya dulu. nanti saya akan naik lagi" ucap Anya.

__ADS_1


Bapak itu hanya mengangguk kemudian pergi dan mengatur penumpang lagi.


Anya menatap Rangga yang saat ini tengah melihatnya tanpa berkedip. Terlihat jelas Rangga seperti menahan air matanya.


"Pak Rangga" ucap Anya.


Tanpa menjawab, Rangga langsung menarik Anya kedalam pelukannya.


"Tolong jangan pergi. Maafkan aku jika aku memaksakan perjodohan itu. Tapi tolong jangan pergi. Aku tidak ingin ditinggalkan untuk kedua kalinya" ucap Rangga.


Anya hanya terdiam. Dia tidak menolak sama sekali pelukan Rangga.


"Aku mohon. Kita bisa membicarakan ini baik-baik. Pergi bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah Anya" tambah Rangga lagi.


"Pak. Ini tempat umum" ucap Anya kemudian berusaha melepaskan pelukan Rangga. Sepertinya dia telah tersadar sekarang.


"Tolong jangan pergi" ucap Rangga sambil menggenggam tangan Anya.


Anya terdiam sebentar. Entah kenapa dia merasa ada ketulusan disetiap perkataan Rangga tadi.


"Baiklah, aku tidak akan pergi. Asal pak Rangga membatalkan perjodohan ini" ucap Anya.


Ranggapun langsung mengangguk mantap.


"Janji ya" ucap Anya yang terlihat begitu bahagia.


"Iya" ucap Rangga kemudian kembali menarik Anya ke dalam pelukannya. Namun Anya langsung menolak.


"Bapak ini, suka banget peluk-peluk. Ini tempat umum loh" ucap Anya kemudian meninggalkan Rangga untuk bicara pada supir bus bahwa dia tidak jadi ikut.


"Mungkin aku tidak bisa memaksamu. Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan mencintaiku" batin Rangga.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2