Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Menjenguk Anya


__ADS_3

Hari ini adalah hari libur, Anya memilih menghabiskan waktu liburnya di kasur.


Karena luka sayatan di lehernya, membuatnya sedikit kesulitan untuk menggerakkan kepalanya. Rasa perihnya tiba-tiba terasa saat dia bangun pagi ini.


"Pakai acara sakit segala ini" ucap Anya.


"Ini makan dulu sayang" ucap Nadin yang saat ini masuk ke kamar Anya sambil membawa semangkuk bubur.


"Lah kok bubur ma? Kan Anya masih bisa nelen dengan baik. Cuma perih dikit saja Ma" ucap Anya protes. Karena dia memang benar-benar tidak suka bubur.


"Udah jangan banyak protes. Ini baik untuk kesehatanmu. Ayo bangun. Biar mama suapin" ucap Nadin.


"Nggak Ma. Anya bisa sendiri" ucap Anya sambil berusaha bangun. Namun dia kesulitan untuk menunduk karena masih terasa perih.


"Lihat, kamu bangun saja seperti itu. Udah Mama suapin saja" ucap Nadin.


Anya pun menurut. Dia makan dengan posisi sedikit mendongak.


"Ma, besok aku nggak perlu kuliah dong ya. Kan ini masih sakit" pinta Anya.


"Iya, kamu nggak usah kuliah dulu" ucap Nadin sambil menyuapi Anya perlahan.


Anya tersenyum sekilas. Dalam hatinya dia sedang berhore ria karena akhirnya dia bisa libur lebih lama.


"Drrrrtttt" Hp Anya tiba-tiba bunyi.


"Ma, minta tolong Angkatin. Anya kesulitan lihatnya" ucap Anya.


Nadin pun langsung mengambil Hp Anya.


"Dosen Killer?" Ucap Nadin bingung saat melihat nama yang tertera di Hp Anya.


Mendengar hal itu, Anya langsung meminta Nadin untuk tidak mengangkatnya. Namun Nadin keburu sudah menggeser tombol hijau.


"Hallo" ucap Nadin sambil meletakkan HP di telinganya.


"Owh pak Rangga" ucap Nadin sambil melihat Anya yang terlihat cemberut sekarang.


"Iya pak, Ini Anya. Saya sedang menyuapinya. Lehernya masih sakit" ucap Nadin.


Hal itu membuat Anya melotot pada mamanya.


"Owh iya, bapak datang saja tengok Anya" ucap Nadin lagi.


Anya semakin melotot. Dia terlihat syok mendengar apa yang mamanya katakan tadi.


"Oke pak, hati-hati" ucap Nadin dan panggilan pun tertutup.


"Mamaaaaaaa" rengek Anya kesal.


"Apaaaa? Ayo makan lagi, mama suapin" ucap Nadin.


"Nggak, Anya nggak mau makan. Anya kesel sama mama. Kenapa suruh pak Rangga kesini sih" ucap Anya kesal.


"Lahh, pak Rangga nya mau kesini. Kok nyalahin Mama sih. Tidak baik menolak tamu" ucap Nadin.

__ADS_1


Anya memilih tidur. Dia capek bicara dengan mamanya. Dia lebih baik memilih tidur agar tidak bertemu Rangga nanti.


"Lah malah tidur. Pak Rangga mau datang Lo sayang" ucap Nadin.


"Nggak, orang mama yang undang. Ya ketemu mama sih. Anya masih sakit. Mau tidur" ucap Anya kemudian menutup matanya.


"Iya sudah. Ini sarapanmu mama simpan di meja ya" ucap Nadin kemudian pergi meninggalkan Anya.


***


Setelah mendengar kabar Anya. Rangga langsung bersiap-siap.


Dia menggunakan baju santai, hingga membuatnya tampak lebih muda dari biasanya.


"Kek, Rangga pergi dulu ya" ucap Rangga saat melihat kakeknya sedang duduk di teras depan.


"Mau kemana pagi-pagi begini? bukannya hari ini libur ya?" Tanya Kakek Aprilio.


"Iya kek, ada urusan negara yang lebih penting" ucap Rangga dengan senyum di wajahnya kemudian pergi begitu saja.


"Dia tidak seperti biasanya" ucap Aprilio sambil memandangi cucunya yang sudah menghilang dari pandangan bersama mobilnya.


Di perjalanan, Rangga terlihat berhenti sebentar di sebuah toko buah. Dia membeli buah anggur dan jeruk Mandarin.


Dia menatap sebentar ke arah toko bunga di samping pedagang buah itu. Rangga tampak berpikir sebentar.


Namun akhirnya dia kembali ke mobilnya.


Setelah beberapa lama menyetir, dia akhirnya sampai di rumah Anya.


"Pagi Buk Pak" ucap Rangga saat melihat Nadin dan Alex yang duduk di ruang tamu.


"Astaga, Nak Rangga. Saya pikir siapa tadi. Pangling loh Tante. Kamu tampak sangat berbeda dengan baju santai seperti ini. Tampak lebih muda dan tampan" ucap Nadin.


"Hmmm Hmmm" ucap Alex sambil menatap istrinya.


Nadin langsung tersenyum kemudian merangkul suaminya.


"Tapi tetep, papa yang paling ganteng sedunia" ucap Nadin kemudian.


"Anya nya ada Buk Pak" ucap Rangga to the point.


"Panggil saja mama dan papa. Aneh banget aku dipanggil Ibu. Iya kan Pa?" Tanya Nadin pada Alex.


Entah kenapa, Alex tampak bingung dengan perubahan sikap istrinya. Kenapa dia menjadi begitu Humble dan santai.


"Iya" ucap Alex kemudian.


"Baik, Ma Pa" ucap Rangga sedikit kaku. karena memang dia tidak pernah memanggil siapapun dengan nama itu sejak papanya meninggal.


"Anya diatas. Kamu naik saja. Kamarnya tidak dikunci kok. Kalau dia pura-pura tidur, siram saja" ucap Nadin sambil terkekeh.


Rangga pun mengangguk kikuk. Dia pun langsung pamit dan izin naik ke atas.


Alex dan Nadin lamgsung mengangguk.

__ADS_1


Setelah kepergian Rangga. Alex langsung menarik istrinya untuk mendekat.


"Hey, apa yang kau lakukan. Kau tahu kan Rangga itu siapa. Pakai bilang panggil Mama Papa, astaga sayang. Kau benar-benar ingin membunuhku" ucap Alex.


"Tenang saja Pa. Antarez sudah menceritakan semuanya. Pak Rangga ternyata menyukai anak kita. Dia juga yang membantu Anya kemarin saat terluka" ucap Nadin.


Alex sedikit terkejut. Bagaimana bisa seorang Rangga Wijaya Aprilio bisa mencintai anaknya yang nakalnya minta ampun.


Disisi lain, Rangga terlihat sudah sampai di lantai dua. Dia melihat ke arah pintu Anya.


Dia langsung mengetuk pintu. Namun seperti biasa, tidak ada jawaban.


"Bapak masuk saja" teriak Antarez yang tiba-tiba Dateng entah darimana.


"Kamu mengagetkan saya saja" ucap Rangga sambil memegang dadanya.


"Hehe, maaf pak. Masuk saja. Dia tidak akan membukanya sendiri. Bangun saja di masih kesulitan itu pak" ucap Antares.


Mendengar hal itu, Rangga terlihat begitu khawatir.


"Apa separah itu?" Tanya Rangga.


"Iya pak, mungkin lukanya lagi proses mengering. Makanya kayak gitu. Bapak masuk saja. Saya lagi main PS. Selamat berjuang pak" ucap Antarez kemudian masuk begitu saja.


Rangga terdiam sesaat. Bagaimana bisa dia memiliki mahasiswa yang tidak benar semua.


Dia tidak ambil pusing. Dia pun akhirnya membuka pintu kamar Anya. Dan benar saja Anya saat ini tengah terbaring terlentang dengan mata tertutup.


Dia memilih untuk tidak menutup pintu, karena dia tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi. Apalagi dia seorang laki-laki tulen.


Dia berjalan perlahan mendekati Anya. Matanya langsung terarah pada meja belajar Anya. Dia melihat kearah semangkuk bubur di meja belajar tersebut.


"Kau belum sarapan?" Ucap Rangga.


Namun Anya tidak menjawab. Dia memilih untuk terus menutup matanya. Berpura-pura tertidur.


"Aku tahu kamu tidak tertidur. Apa kamu sedang menghindari ku sekarang karena apa yang aku katakan kemarin? Aku tidak memaksamu Anya. Pelan-pelan saja. Aku siap menunggu kok" ucap Rangga lagi.


Anya pun langsung membuka matanya. Entah kenapa dia juga merasa bersalah jika terus berpura-pura tidur seperti itu.


Rangga tersenyum. Ternyata benar, Anya hanya pura-pura tidur. Padahal dia hanya menebak tadi.


Tapi Anya memilih untuk bungkam tanpa membalas pernyataan Rangga tadi.


"Kamu belum sarapan. Apa mau aku suapin?" Tanya Rangga.


Anya menggeleng hingga membuat lehernya terasa sedikit perih.


Melihat Anya kesakitan, Rangga tampak panik. Dia mendekati Anya dan melihat lukanya.


"Apa sesakit itu?" Tanya Rangga.


"Iya pak, saya pikir tidak akan sakit. Tapi ternyata kerasa nya sekarang pak" ucap Anya.


Rangga pun meniup luka Anya lagi hingga membuat Anya langsung terdiam.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2