
"Pak Cukup, geli banget" ucap Anya kemudian mendorong tubuh Rangga menjauh.
"Ma-maaf, saya hanya niat membantu meredakan nyeri di lehermu" ucap Rangga dengan ekspresi yang terlihat begitu menyesal.
Melihat wajah Rangga, Anya ikut merasa bersalah karena telah mendorong Rangga tadi.
"Hmmm, Hmmm. Saya mau makan pak" ucap Anya kemudian. Dia benar-benar gengsi untuk meminta maaf. Jadi dia berusaha mencari topik yang lain dan makanlah jawabannya.
"Baik, saya suapin ya" ucap Rangga yang terlihat antusias dan mengambil bubur di meja belajar Anya.
Anya hanya mengangguk kemudian berusaha bangun. Rangga melepas kembali bubur tersebut dan membantu Anya bangun.
Anya hanya diam saat Rangga berusaha mengangkat tubuhnya.
"Pak, yang sakit leher saya. Bukan kaki saya" ucap Anya saat Rangga memperbaiki kaki Anya sekarang.
Rangga tidak menjawab, dia memilih mengambil bubur itu lagi dan duduk di samping Anya.
Rangga pun mulai menyuapi Anya. Tidak ada suara diantara mereka berdua.
Anya makan dalam diam, dan Rangga menyuapi Anya dalam diam.
"Hmmm, btw bapak serius akan menerima perjodohan itu?" Tanya Anya tiba-tiba.
"Iya" ucap Rangga kemudian kembali menyuapi Anya.
__ADS_1
"Tapi saya masih sangat kecil pak. Saya tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Lagipula bapak tahukan saya seperti apa. Saya hanya akan menyusahkan bapak nanti. Jadi sebaiknya bapak pikirkan baik-baik ya. Lagipula tidak ada yang menarik dari sa..." belum selesai Anya mengucapkan kalimatnya. Rangga terlebih dahulu meletakkan jarinya di bibir Anya hingga membuatnya terdiam.
"Aku tidak meminta pendapatmu. Aku sudah bilang akan menerima perjodohan kita. Jadi tidak ada alasan" ucap Rangga.
Hanya menghela nafasnya berat. Dia tidaktahu harus berkata apa. Dia berusaha keras untuk menolak secara halus. Tapi tidak bisa.
"Pak, saya tidak mencintai bapak" ucap Anya kemudian.
Rangga yang saat itu sedang mengaduk bubur, langsung terdiam.
Rangga menatap Anya dalam diam.
"Tapi aku tertarik padamu" ucap Rangga.
"Baru tertarik saja pak. Saya juga tertarik pada es cream yang saya lihat sepanjang jalan. Ini masalahnya pernikahan pak. Tidak semudah membeli es cream di pinggir jalan" ucap Anya lagi.
Setelah itu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Hmmm, aku tidak tahu harus bagaimana sekarang" ucap Anya sambil menatap kepergian Rangga.
Setelah sampai di lantai satu. Rangga langsung di sambut oleh Nadin dan Alex. Wajahnya yang awalnya seperti menahan amarah, langsung berubah.
Dia tersenyum pada kedua orang tuanya yang saat ini duduk di ruang tamu.
"Bagaimana? Sudah bertemu Anya kan?" Tanya Alex.
__ADS_1
"Sudah Pak. Ehh papa" ucap Rangga.
"Sudah, kamu panggil apa saja senyamannya" ucap Alex.
Rangga hanya membalas dengan anggukan. Hingga dia tiba-tiba terdiam. Seperti berusaha untuk mengucapkan sesuatu namun tampak ragu.
"Ada apa? Apa ada yang pak Rangga perlu sampaikan?" Tanya Alex.
"Panggil saja Rangga Pak" ucap Rangga.
"Iya, Nak Rangga" ucap Alex mengoreksi perkataannya sebelumnya.
"Begini pak, Saya sudah mengatakan ini sebelumnya pada Anya. Jadi saya berniat untuk melanjutkan perjodohan saya dengan Anya, jika bapak dan ibu mengizinkan" ucap Rangga yang membuat Alex dan Nadin tampak syok.
Mereka saling pandang satu sama lain. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Hingga Alex mulai bicara.
"Nak Rangga serius? Ini Anya loh. Dia punya banyak kekurangan. Nak Rangga bisa lihat sendiri bagaimana kenakalan dia. Saya tidak yakin dia bisa menjadi istri yang orang harapkan. Walau begitu, dia orang yang baik dan selalu menolong orang. Dia cukup pintar memasak. Tapi ya begitu, kenakalannya tidak bisa ditolerir orang normal" ucap Alex mencoba menjelaskan.
"Saya tahu pak Buk. Dan saya menerima itu semua" ucap Rangga yang terlihat mantap dengan keputusan nya.
Nadin dan Alex terlihat saling pandang lagi. Hingga Alex pun memberanikan diri untuk bicara yang menurutnya akan membuat Rangga kecewa.
"Jadi begini Nak Rangga. Kalau masalah perjodohan ini, tentunya kami akan terima dengan senang hati. Tetapi yang menjalaninya kan Anya. Jadi kami serahkan semua keputusan pada anak kami" ucap Alex.
Rangga mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Baiklah, saya hanya ingin menyampaikan niat baik saya dulu. Nanti untuk lebih lanjutnya saya akan bicarakan dengan Anya. Terima kasih Pak Buk. Saya pamit pulang dulu" ucap Rangga.
-Bersambung-