
Lagi-lagi Anya dibuat uring-uringan pagi ini. Bagaimana tidak, pria yang sering menganggunya setiap hari tiba-tiba hilang seperti ditelan bumi. Tidak ada satupun kabar darinya.
"Apakah pak Rangga sudah menikah ya? hmmm, secepat itulah dia melupakanku" batin Anya.
Entah Kenapa dia malah ingin menangis sekarang. Beberapa hari ini dia memang lebih sering menangis. Dia juga bingung kenapa. Tapi mungkin pengaruh dari pak Rangga atau mungkin karena dia sedang bosan dengan hidupnya sendiri.
"Mana hari libur lagi. Makin kerasa kan aku kangennya" batin Anya.
"Opps" dia langsung menutup mulutnya. Bagaimana mungkin dia mengucapkan kangen pada pak Rangga.
Tapi dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Dia benar-benar ingin bertemu Rangga. Rasanya dia harus bertemu dengan Rangga secepat mungkin.
Dia pun langsung bergegas berdiri dan mengambil kunci mobilnya.
Dia turun dan menuju kebawah. dia Berlari seperti mengejar sesuatu.
"Sayang mau kemana?" Tanya Nadin.
Namun Anya tidak menjawab sama sekali. Dan saat ini terdengar mobil dinyalakan dan pergi meninggalkan kediaman Alex.
Anya melakukan mobilnya begitu cepat, membelah kerumunan. Tapi entah mengapa, dia langsung menepi saat menyadari dia bingung harus kemana.
Dia lupa jika dia sendiri tidak tahu keberadaan Rangga dimana.
"Sial, aku bodoh sekali. Aku berlari seperti orang kesetanan, tapi tidak tahu arah dan tujuan kemana" ucap Anya sambil memukul stir mobil.
Hingga dia mengingat sesuatu dan mengambil Hpnya.
"Hallo kek, ini Anya."
Anya ternyata menelpon Kakek Aprilio
Anya Pun langsung menyampaikan maksudnya pada Kakek Aprilio.
"Terima kasih kek" ucap Anya kemudian mematikan telpon itu.
Dia melajukan mobil menuju alamat yang diberikan kakek Aprilio.
"Masa bodoh dengan apa yang orang katakan. Aku tidak ingin menyiksa diri lagi" ucap Anya.
Beberapa menit mengemudikan mobil, dia akhirnya sampai di sebuah villa.
Sebelum dia masuk, beberapa orang berseragam hitam langsung menghadangnya. Hal itu sontak saja membuatnya kaget tidak kepalang.
__ADS_1
Spontan dia menginjak rem agar tidak menembak orang-orang tersebut.
Salah satu dari mereka pun langsung mendekati Anya dan mengetuk kaca mobilnya.
"Mohon maaf nona, ada keperluan apa?" ucap Nya.
Anya terdiam sebentar. Kemudian menyampaikan maksudnya.
"Apa Anda sudah membuat janji nona?" Tanya Penjaga Tersebut.
Anya spontan langsung menggeleng.
"Kalau begitu Anda tidak bisa masuk nona" ucapnya.
"Tapi pak, saya harus bertemu dengan pak Rangga sekarang. Saya ini mahasiswa nya Pak. Ada tugas yang harus saya hantar sekarang" ucap Anya berbohong.
"Drrrrttt" Hp salah satu penjaga itu berdering.
Tanpa banyak pikir, dia terlihat mengangkat telpon tersebut dan menaruh di telinganya.
"Baik Tuan" ucapnya.
Anya hanya melihat itu sambil terus memohon agar dia dibolehkan masuk.
"Tuan memintanya masuk" ucap Penjaga itu yang tentu saja membuat mereka langsung minggir dan memberikan jalan untuk Anya.
Anya pun langsung mengendarai mobilnya masuk ke villa tersebut. Villa yang benar-benar sangat luas hingga Anya kesulitan untuk menentukan arah harus kemana.
Hingga dia melihat beberapa mobil yang terparkir di area sebelah kanan villa tersebut.
"Mungkin parkirnya disini" ucap Anya kemudian langsung saja memarkirkan mobilnya disana.
"Nah, sekarang harus kemana?" batin Anya.
Dia keluar dari mobilnya dan melihat ke villa yang begitu luas itu. Dia bahkan tidak menanyakan pada Kakek Aprilio, Pak Rangga ada dimana.
Kalaupun dia menelpon Kakek Aprilio pasti tidak mungkin.
"Hallo Nona" ucap seseorang tiba-tiba hingga membuat Anya terperanjat kaget.
"Astaga" ucap Anya sambil memegang dadanya.
Seorang wanita muda, namun terlihat lebih tua dari Anya.
__ADS_1
"Nona Anya bukan?" Tanya wanita itu.
Anya langsung saja mengangguk.
"Ayo ikut saya nona. Tuan menunggu Anda" ucap wanita itu.
"Tuan? dari tadi orang-orang menyebut tuan. siapa yang mereka maksud?" Tanya Anya pada dirinya sendiri.
Tanpa ingin mengambil pusing, Anya pun mengikuti wanita tersebut.
Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah bangunan dengan pintu yang cukup besar.
"Lah, sejak kapan ada bangunan ini. Perasaan tadi aku tidak melihatnya" batin Anya.
Pintu itu pun secara otomatis langsung terbuka saat mereka tiba. Anya terdiam.
"Wah, canggih banget" ucap Anya.
Namun dia langsung menarik ucapannya karena melihat beberapa orang berdiri di belakang pintu tersebut.
"Aku pikir otomatis" ucap Anya terkekeh sendiri. Dia bahkan hampir lupa tujuannya kesini karena terlalu mengagumi tempat itu. Sebuah bangunan dengan style klasik sehingga cukup nyaman untuk dipandang.
Wanita itu terus berjalan, hingga mereka berada di sebuah ruangan yang Anya yakini sebagai ruang tamu karena ada beberapa sofa disana.
"Nona silahkan duduk" ucap nya kemudian pergi begitu saja.
"Ini Apa sih?" Tanya Anya pada dirinya sendiri.
Namun dia pun langsung memilih duduk pada sofa tersebut.
"Ini milik Pak Rangga? Hebat juga" batin Anya sambil melihat sekeliling.
"Hmmm"
Suara seseorang membuatnya terpaku seketika. Laki-laki yang sedang dia cari berdiri tepat di depannya sekarang.
Tanpa pikir panjang, Anya langsung berlari ke lelaki tersebut dan memeluknya erat. Entah itu reflek atau memang kesengajaan.
Rangga pun terdiam seketika. Perempuan kecil yang mencoba dia hindari beberapa hari ini sedang memeluknya erat sekarang.
"Pak Rangga kemana saja? Anya kangen banget" ucap Anya sambil memeluk Rangga erat.
"Peduli amat dengan gengsi" batin Anya.
__ADS_1
Rangga diam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
-Bersambung-