
"Pak,, ehh mas Rangga serius? Apa tidak kecepatan?" Tanya Anya.
Rangga menggeleng kemudian memegang tangan Anya erat.
"Aku benar-benar tidak sanggup lagi menahannya. Apalagi saat aku melihat kamu tadi. Maafkan aku Anya. Tapi aku laki-laki normal. Aku hanya tidak ingin nanti khilaf sebelum menikah" ucap Rangga. terlihat ketulusan dari setiap ucapannya.
"Hmmm, maafin Anya juga pak eh mas Rangga" ucap Anya sambil mengoreksi ucapannya.
Anya hanya tersenyum. rasanya dia ingin mencubit pipi Anya sekarang. Dia sangat gemas dengan calon istrinya ini.
"Aku akan maafkan kamu, asalkan kamu lepas ikat rambut itu sekarang" ucap Rangga yang daritadi salfok dengan leher mulus Anya.
"Ha? Nggak mau. Anya capek loh ikatnya ini" ucap Anya sambil menggeleng mantap.
"Anya, aku tidak suka laki-laki lain melihat lehermu itu. Aku saja salah fokus terus setiap melihatnya. Mau aku yang lepas atau sendiri?" Ucap Rangga.
"Hmmm, Nggak mau mas" ucap Anya. Rangga menghela nafasnya berat. Dia pun langsung meminggirkan mobilnya tiba-tiba hingga membuat Anya kaget.
Anya langsung terdiam dan melihat ke arah Rangga yang saat ini menatapnya.
Rangga mendekati Anya, yang tentu saja membuat Anya semakin mundur.
"Mas, mau ngapain?" Tanya Anya yang semakin mundur. Namun terhenti karena terhalang pintu mobil dan seat belt.
__ADS_1
"Tentu saja memberi pelajaran pada calon istriku yang keras kepala ini" ucap Rangga dengan senyum yang membuat Anya merinding.
"Mas, ja-jangan buat takut" ucap Anya pada Rangga yang sudah sangat dekat sekarang. Jantungnya bahkan benar-benar tidak karuan.
Rangga hanya terdiam. Sambil terus mendekat.
Bahkan Anya bisa merasakan nafas Rangga yang menyapu wajahnya sekarang.
Reflek Anya langsung menutup matanya.
"huuh" Rangga meniup wajah Anya kemudian menarik ikat Rambut Anya hingga membuat Rambut Anya terurai seketika.
Rangga kembali ke tempat duduknya dan tersenyum setelah berhasil mengerjai Anya.
"Apaaaa sayangggggg" ucap Rangga yang membuat Anya langsung terdiam karena salting.
"Kau lebih cantik seperti itu, nggak usah pakai ikat rambut kalau keluar. Kecuali kalau bersamaku saja" ucap Rangga seperti sebuah perintah yang tak boleh dilanggar.
"Ishhh, mas Rangga nyebelin" ucap Anya kesal. Entah kenapa dia sangat kesal sekarang.
Rangga hanya tersenyum kemudian mencubit pipi Anya.
"Maassss" rengek Anya lagi.
__ADS_1
"Iyaaa Sayangg" ucap Rangga lagi sukses membuat Anya terdiam dan pipinya benar-benar merah sekarang.
Setelah beberapa lama mengemudi, akhirnya mereka sampai di rumah kakek Aprilio. Mereka langsung disambut dengan senyuman kakek Aprilio yang saat ini tengah duduk di teras depan rumahnya.
Anya langsung saja turun tanpa menunggu Rangga.
"Kakek" ucap Anya sambil melambaikan tangannya. Sudah seperti anak kecil.
"Anyaa" ucap Kakek yang terlihat begitu gembira. Entah sejak kapan mereka menjadi begitu akrab. Tapi intinya sekarang, Anya ingin jauh-jauh dari Rangga mengingat perlakuannya di mobil tadi.
"Apa kabar Anya?" Tanya Kakek.
"Tentu saja baik, kakek bagaimana?" Tanya Anya sambil duduk di bawah menyeimbangkan kakek Aprilio.
"Duduk di kursi nak" ucap Kakek Aprilio.
Anya pun menurut.
"Baik Nak" ucap Kakek.
Dari kejauhan. Rangga langsung berjalan menuju tempat kakek dan Anya sekarang. Dia terlihat memicingkan matanya melihat tingkah Anya yang keluar begitu saja meninggalkannya.
"Awas saja kau nanti" Ucap Rangga sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
-bersambung-