
"Selamat Anya" ucap Dinda sambil menjabat tangan Anya.
"Selamat Pak" ucap Dinda lagi pada Rangga.
"Terima kasih Din" ucap Anya.
"Terimakasih" ucap Rangga kemudian.
"Hey, selamat" ucap Reza pada Anya yang datang entah darimana.
"Terima kasih kak" ucap Anya dengan senyum di wajahnya. Hal itu tidak luput dari pengawasan Rangga.
"Aku benar-benar kaget mengetahuimu menikah Anya. Kenapa tidak memberitahuku dari dulu" ucap Reza dengan wajah begitu sedih.
Bahkan matanya terlihat tidak tidur semalaman.
"Maaf kak" hanya itu yang bisa Anya katakan sekarang. Dia juga bingung menjelaskan seperti apa. Tidak mungkin dia menceritakan semuanya.
"Boleh nggak Nya, aku memelukmu untuk terakhir kalinya" ucap Reza dengan wajah memelas.
Rangga di samping Anya mendengar itu semua. Rasanya dia ingin mengusir laki-laki tidak tahu malu di depannya ini. Bagaimana tidak, perasaan dia tidak mengundangnya. Tapi kenapa dia bisa ada disini.
Anya yang mendengar permintaan Reza tersebut langsung melihat ke arah Rangga untuk meminta persetujuan.
Rangga tentu saja langsung menggeleng.
__ADS_1
"Maaf kak, aku tidak bisa. Aku sudah menjadi istri Mas Rangga sekarang. Aku tidak mungkin memeluk laki-laki lain" ucap Anya.
Rangga yang mendengar itu langsung tersenyum lebar.
"Istri pintar" ucap Rangga merasa bangga pada Anya.
"Baik tak apa" ucap Reza dengan senyum di wajahnya. Bukan senyum bahagia, tetapi senyum kesedihan karena dia sudah kehilangan pujaan hatinya.
"Selamat Pak. Tolong jaga Anya ya" ucap Reza
"Tanpa kamu minta pun aku akan menjaga dia" ucap Rangga.
Reza pun pergi meninggalkan mereka. Dia langsung keluar dari acara tersebut tanpa sepatah katapun.
"Cieee Cieee" ucap Antarez pada Anya.
"Apaan sih kak" ucap Anya.
"Sudah jadi istri orang nih. Tega sekali kamu dek meninggalkan kakakmu ini" ucap Antarez dengan nada suara puitis yang entah dia dapatkan darimana.
"Ishh, jijik banget. Kak Antarez kenapa alay begini sih" ucap Anya memandang kesal pada kakaknya.
"Haha, saking bahagianya melihat adikku yang preman ini menikah, membuat aku menjadi gila seperti ini" ucap Antarez dengan senyum merekah memperlihatkan deretan giginya.
"owh bahagia? Bahagia karena aku menikah? atau bahagia karena tidak perlu capek-capek membangunkan aku setiap paginya lagi?" Tanya Anya dengan wajah penuh selidik.
__ADS_1
"Dua-duanya hahha" ucap Antarez.
"Ishhh kak Antarezzz. Berarti kakak memang menginginkanku pergi dari rumah secepatnya?" ucap Anya kesal.
"Yups, betul sekali, haha" ucap Antarez lagi.
"Ishhh, kak Antarez jahat" ucap Anya kesal. Air matanya tiba-tiba menetes. Namun langsung menghapusnya cepat.
Melihat hal itu, Antarez langsung memeluk adiknya erat.
"Nggak lah sayang. Kakak bercanda saja tadi. Aku pasti akan sangat merindukanmu di rumah. Ingat sering-sering main ke rumah setelah ini" ucap Antarez sambil memeluk Anya erat.
"Ishhh, kak Antarez jahat, hiks" ucap Anya dengan air mata yang mulai mengalir deras.
"Hey, jangan menangis. Nanti riasanmu rusak. Kau mau terlihat seperti badut" ucap Antarez menggoda adiknya. Dia masih belum menyangka jika adik kecilnya yang bangun saja masih kesiangan ini sudah menikah. Benar-benar di luar prediksi BMKG.
"Ishhh, ini gara-gara kak Antarez. Ucap Anya namun tidak melepaskan pelukannya pada kakaknya itu.
Beberapa orang disana mantap gemas pada sepasang adik kakak di depannya.
"Ahhh, jadi iri" ucap Gladis sambil mengusap air matanya.
"Pengen peluk kak Rangga juga" batinnya. Namun dia cukup sadar diri bahwa itu tidak akan mungkin terjadi.
-Bersambung-
__ADS_1