
Anya langsung terdiam, dia tidak mampu berkata-kata lagi. Memang benar apa yang dikatakan Rangga barusan. Itu bukan urusannya. Tapi entah kenapa dia merasa dicurangi sekarang. Hingga membuatnya harus melakukan ini pada Rangga.
"Ta-tapi.." ucap Anya. Mulutnya rasanya kaku untuk mengatakan apa yang ada di otaknya sekarang.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku pergi" ucap Rangga kemudian pergi begitu saja.
Sonya langsung mendekati Rangga dan merangkul tangannya. Hal itu tentunya tidak luput dari pandangan mata Anya sekarang.
Anya pun kemudian berlari menuju ke kamar mandi. Masuk ke dalam salah satu toilet dan mulai melampiaskan perasaannya. Dia berteriak sekencang-kencangnya disana. Hingga dadanya terasa sedikit lebih tenang.
"Kenapa dengan diriku sekarang? kenapa rasanya begitu sesak disini" ucap Anya sambil memegang dadanya.
"Hmm, apa aku sakit? Tidak mungkin, tadi aku sehat-sehat saja" ucap Anya lagi. Dia begitu polos, hingga tidak bisa membedakan rasa sakit yang dia rasakan sekarang.
"Ahh sudahlah. Sepertinya akan lebih baik nanti. Lebih baik aku masuk ke kelas saja" ucap Anya kemudian keluar dari kamar mandi.
Dia melihat tidak ada satu orangpun disana. Dia sedikit bernafas lega, karena dia tidak perlu repot-repot merasa bersalah karena berteriak tadi.
"Ehh bentar-bentar. Sekarang mata kuliahnya pak Rangga. Aku tidak jadi masuk" ucap Anya yang tiba-tiba berhenti.
Dia pun kemudian tiba-tiba berbelok ke arah kantin hingga dia melihat orang yang sangat dia kenal sedang berjalan ke arahnya.
"Astaga, kak Antarez" ucap Anya kemudian hendak sembunyi. Namun Antarez keburu melihat Anya dan menarik kerah baju Anya.
"Mau kemana Hah?" Tanya Antarez.
__ADS_1
"Ya mau ke kelas lah kak" ucap Anya kemudian menepis tangan Antarez.
"Mau ke kelas? Oh, ini jalur ke kelas ya? baru tahu" ucap Antarez dengan nada mengejek.
"Ya udah sih. Terserah Anya. Anya juga pengen dong jalan-jalan dulu sebelum ke kelas" ucap Anya mencoba mencari alasan.
"Alasan saja. Ayo Kaka temenin ke kelas" ucap Antarez kemudian.
Anya terdiam sesaat. Bagaimana bisa kakaknya menawarkan diri untuk mengantarnya ke kelas. Tumben sekali.
"Lah lah. Tumben amat? kakak kesambet apa? Lagian, aku udah gede kak. Nggak perlu dianter-anter" ucap Anya.
"Karena aku tahu, kamu sedang punya rencana untuk bolos kali ini. Ayo, nggak ada membantah" ucap Antarez kemudian menarik tangan Anya.
Saat sampai di kelas. Matanya langsung tertuju pada dua orang yang sedang berjalan beriringan ke arahnya. Lebih tepatnya mereka berjalan ke arah ruangan kuliahnya sekarang.
Anya langsung terdiam. Menatap kedua orang tersebut yang terus mendekat.
Begitupun dengan Antarez yang ada di samping Anya sekarang. Dia juga ikut terdiam. Dia melihat ke arah adiknya.
"Kau tidak masuk?" Tanya Antarez kemudian.
"Iya, aku masuk" ucap Anya kemudian masuk ke ruangan kuliahnya.
Setelah kepergian Anya. Antarez langsung menatap ke arah dua orang yang semakin mendekat.
__ADS_1
"Antarez" sapa Rangga.
"Ini siapa pak?" Tanya Antarez sambil melihat kearah Sonya.
"Perkenalkan, aku Sonya. Dosen baru disini" ucap Sonya.
"Kamu mahasiswa disini juga? angkatan berapa?" Tanya Sonya pada Antarez.
"Saya mahasiswa akhir buk" ucap Antarez.
"Dia kakaknya Anya" ucap Rangga pada Sonya.
"Owhh. Ya udah ayo masuk beb. Kita harus mengajar" ucap Sonya kemudian menggandeng tangan Rangga.
Melihat hal itu, Antarez langsung mengeryitkan dahinya. Dia tampak bingung dengan situasi saat ini.
"Saya permisi dulu Antarez" ucap Rangga kemudian masuk ke kelas.
"Oh iya pak" ucap Antarez. Entah kenapa Antarez tiba-tiba teringat dengan adiknya.
"Apa ini alasan Anya ingin bolos tadi" batin Antarez. Tiba-tiba rasa bersalah menyelimuti hatinya.
"Aku akan menanyakan ini nanti. Awas saja jika dosen itu mencoba untuk mempermainkan adikku" ucap Antarez lagi.
-Bersambung-
__ADS_1