Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Terjatuh


__ADS_3

Anya masuk perlahan. Dia mencoba mencari kamar tempat biasa Rangga berdiam diri ketika di rumah ini. ini tentunya berdasarkan informasi dari Aprilio.


"Hmmm, Aku harus ngomong apa nanti" ucap Anya sesaat setelah sampai di depan pintu kamar yang dimaksud.


Dia tampak ragu untuk mengetuk pintu itu, karena memang posisinya sedang tertutup.


Hingga dia berinisiatif untuk meletakkan telinganya di depan pintu. Lebih tepatnya menempelkannya disana berharap mendengar ada orang atau tidak di dalam.


"Kok Nggak ada suara sih? Apa aku salah kamar ya" ucap Anya sambil terus mendengar dengan seksama.


"Klik" suara pintu terbuka.


Anya yang saat itu tengah menempelkan telinganya di pintu tanpa penopang sama sekali. Langsung tumbang ketika pintu di buka.


"Aaahh" teriak Anya karena hendak jatuh.


"Dan brukk" benar saja dia jatuh tepat di lantai.


"Aww" ucapnya sambil memegang sikunya yang sedikit terbentur.


"Kamu mau ngapain?" ucap Rangga sambil menyilangkan tangannya di dada dan menyipitkan matanya.


"Ishhh. Ya menemui mas lah" ucap Anya sambil berusaha bangun namun kesusahan karena lengannya yang sakit.


Melihat hal itu, Rangga langsung saja mengambil tubuh Anya dan menggendongnya ke kasur di kamar itu.


"Hehh, mas mau ngapain?" tanya Anya sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Ini nih. Ya bantu kamu lah. Kamu pikir apa? dan apa maksudmu itu? Kamu memikirkan apa?" tanya Rangga sambil mendekatkan wajahnya.


Anya langsung melihat ke arah lain. Dia benar-benar malu sekarang dengan pikiran kotornya.

__ADS_1


"Ya hmmm. ahh sudahlah. Anya mau pulang saja. Mas Rangga harus anterin" ucap Anya tanpa melihat ke arah wajah Rangga yang jaraknya hanya beberapa cm sekarang.


"Kalau aku nggak mau gimana?" Tanya Rangga sambil menarik wajah Anya agar melihat ke arahnya.


"Ya harus mau. Gara-gara mas Rangga tanganku jadi seperti ini" kesal Anya.


Rangga malah tersenyum. Dia pun melihat ke arah tangan Anya yang memerah karena terbentur tadi.


"Yang salah siapa. Yang disalahkan siapa. Dasar perempuan" ucap Rangga kemudian pergi ke arah lemarinya. Dia mengambil Hpnya dan menelpon seseorang.


"Tolong cepat kesini!" ucap Rangga dan panggilan pun tertutup. Anya hanya terdiam melihat itu.


"Mas Rangga telpon siapa?" tanya Anya akhirnya karena penasaran.


"Tentu saja dokter. Aku kan bukan dokter yang bisa mengobati luka wanita ceroboh sepertimu" ucap Rangga sambil mencubit hidung Anya gemas.


"Ishh mas, hidung Anya nanti makin mancung" ucap Anya namun tidak berusaha menepis tangan Rangga sedikitpun. Karena memang tangannya sedang fokus memegang lengannya.


"Hmmm, aku lupa" ucap Anya.


"Jangan bohong" ucap Rangga lagi kemudian duduk di samping Anya.


"aku ingin minta maaf soal tadi" ucap Anya kemudian.


"Owhhh, udah lupakan saja" ucap Rangga lagi. yang memang malas membahasnya.


Setah itu, terdengar suara langkah kaki seseorang mendekati kamar tersebut.


"Selamat Pagi pak Rangga" ucap Seorang dokter wanita.


Dokter itu sangat sexy untuk dipanggil seorang dokter, apalagi dengan rok pendek dan badan proporsional itu.

__ADS_1


"Pagi, tolong cek istri saya" ucap Rangga kemudian berdiri di samping Ranjang.


"Haha?" ucap Anya kaget saat mendengar kata istri tadi. Dia ingin protes, namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat bahagia sekarang.


Dokter itupun, berjalan ke arah Anya. kemudian mulai memeriksanya.


Dia melihat tangan Anya yang lebam.


"Tolong buka baju Anda" ucap Dokter tersebut.


"Hah? serius dok?" ucap Anya sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Iya, aku perlu tahu, apa ada luka lebam juga di dalam" ucap dokter. Dia melihat ke arah Rangga yang terlihat cemas sekarang.


Menyadari masih ada Rangga di sana. Anya langsung mengurungkan niatnya untuk membuka bajunya.


"Mas" ucap Anya.


"Oh ya. Ka-kalau begitu saya keluar dulu" ucap Rangga yang langsung pergi begitu saja dan menutup pintu.


Entah mengapa, jantungnya berdetak lebih cepat sekarang. Membayangkan hal yang tidak seharusnya membuat tubuhnya berdesir hebat.


"Hah, benar-benar dokter Sinta. Sepertinya dia sengaja mengerjaiku" ucap Rangga kesal.


Sedangkan di dalam sana. Dokter Sinta seperti menahan senyumnya.


"Katanya istri, tapi baru seperti itu saja sudah keringat dingin" ucap dokter Sinta.


"Bagaimana dok?" Tanya Anya yang tidak mengerti dengan ucapan dokter Sinta barusan.


"Tidak ada" ucap dokter Sinta sambil tersenyum. Kemudian lanjut memeriksa Anya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2