Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Merasa Bersalah


__ADS_3

"Kek" ucap Rangga kemudian duduk di samping Anya.


Anya ingin pindah, Namun Rangga langsung menarik pinggangnya sehingga dia malah menempel di tubuh Rangga sekarang.


"Diam disini" ucap Rangga sambil memeluk pinggang Anya posesif.


Aprilio yang melihat itu hanya tersenyum. Dia malah bersyukur karena akhirnya anaknya punya seorang wanita yang disayangi.


"Kek, aku ingin mempercepat pernikahanku dengan Anya" ucap Rangga langsung.


Anya langsung melotot menatap Rangga.


"Bagaimana bisa, dia berbicara semudah itu di depan kakek" batin Anya.


"Kapan? biar aku siapkan" ucap Aprilio lagi. Hal itu sontak membuat Anya semakin kaget.


"Sepertinya itu ada keturunan. Kenapa mereka benar-benar tidak sabaran" batin Anya lagi.


"Minggu depan ini kek. Aku sudah meminta seseorang mempersiapkannya. Aku hanya minta tolong kakek untuk menemani aku bertemu Kedua orang tua Anya" ucap Rangga.


Anya pun yang ada di samping Rangga hanya bisa terdiam. Dia tidak mampu mengatakan apapun. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Dia bahkan lupa jika akan membalas dendam pada Rangga karena kejadian tadi.


"Baiklah, kamu atur saja jadwalnya. Aku benar-benar tidak sabar akan mendapatkan cucu" ucap Aprilio.

__ADS_1


"Hukk hukkk" tiba-tiba Anya terbatuk.


"Astaga, kamu kurang enak badan?" Tanya Rangga yang langsung sigap memegang dahi dan leher Anya.


"A-aku tidak apa-apa " ucap Anya kemudian mengambil air di depannya dan mulai meminumnya.


"Kalau sakit bilang. Ayo kita ke dokter" ucap Rangga.


"Astaga, aku tidak apa-apa mas. Aku hanya tersendak dengan air liur sendiri" ucap Anya.


"Ha? Bagaimana bisa?" tanya Rangga.


"Iya bisa" ucap Anya seadanya. Dia tidak ingin berdebat lebih lama.


"Ya sudah, kalau sakit bilang ya" ucap Rangga kemudian mempererat pelukan tangannya di pinggang Anya.


"Hahaha, kamu benar-benar sama seperti aku dulu" ucap Aprilio.


"Drrrtt" hp Anya tiba-tiba berbunyi.


"Kek saya izin angkat dulu" ucap Anya. Kakek Aprilio pun membalas dengan anggukan.


Namun belum saja berdiri. Rangga sudah merebut Hp tersebut.

__ADS_1


"Reza?" ucap Rangga sambil memicingkan matanya. Ada rasa tidak suka melihat nama itu disana.


"Dia chat Anya tadi beberapa kali. Cariin kak Antarez katanya. Belum sempat Anya balas. Dia nelpon sekarang" ucap Anya.


Mendengar hal itu, Rangga langsung reject panggilan tersebut. Dia mencari kontak Reza, kemudian memblokirnya.


"Astaga mas, kenapa di blokir?" Tanya Anya.


Rangga hanya diam. Anya pun tidak mampu bersuara lagi. Dia memilih tidak memperpanjangnya karena ada kakek Aprilio disana.


Rangga tiba-tiba pergi begitu saja. Masuk ke dalam meninggalkan Anya dan kakek Aprilio.


"Dia memang seperti itu Anya. Kakek harap kamu bisa memakluminya ya. Dia sudah kehilangan orang-orang tersayangnya. Jadi dia begitu posesif pada apa yang dia suka" ucap Aprilio.


"Maksud kakek?" Tanya Anya bingung.


Kakek Aprilio pun menceritakan bagaimana mamanya Rangga meninggalkannya dulu. Hingga ayahnya sakit-sakitan dan meninggal dunia.


"Aku ingat sekali. Dulu Rangga seperti orang gila. Saat kakek terluka, dia menangis histeris. Padahal cuma jari kakek saja yang luka karena tergores saat bermain golf. Tapi dia histeris hebat, bahkan mengatakan agar tidak meninggalkannya. Itulah dia Anya. Dia mungkin punya trauma tersendiri dengan masa lalunya. Dia tidak ingin kehilangan kamu. Untuk itu dia bersikap seperti itu" ucap Kakek Aprilio.


Mendengar hal itu, entah kenapa ada rasa bersalah di hatinya.


"Kek, apa aku boleh masuk menemui Mas Rangga?" tanya Anya.

__ADS_1


Kakek Aprilio membalas dengan anggukan


-Bersambung-


__ADS_2