Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Dipercepat


__ADS_3

Rangga masih terdiam di tempatnya. Begitu pun dengan Anya yang saat ini tengah merutuki kesalahannya sambil berdiri di dekat pintu.


"Pak Rangga" ucap Antarez yang keluar dari kamarnya sambil memegang gelas kosong.


"E eh iya" ucap Rangga tiba-tiba latah.


" Bapak ngapain berdiri disana. Bapak cari Anya?" Tanya Antarez yang kemudian mendekat.


"Iyaa, tapi bapak tunggu di bawah saja" ucap Rangga kikuk kemudian pergi meninggalkan Antarez lebih dulu.


"Lah" ucap Antarez yang kebingungan melihat reaksi Rangga.


"Wah aku curiga nih" ucap Antarez sambil melihat ke arah pintu kamar Anya.


Tanpa pikir panjang dia langsung menggedor pintu tersebut.


"Anya, buka nggak?" ucap Antarez.


"Astagaa, ngapain itu orang" ucap Anya kemudian malah mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.


Mendengar pintu kamar terkunci. Antarez kembali menggedor pintu kamar Anya.


"Anyaa, dicariin pak Rangga tuh. Astaga" ucap Antarez. Entahlah, itu bukan seperti pemberitahuan. Tetapi lebih ke nada mengejek.


Tanpa pikir panjang, Anya berlari ke arah lemarinya untuk bersiap-siap.


"Aku sampai lupa jika hari ini aku akan bertemu dengan kakek Aprilio" ucap Anya sambil memilih baju-baju di depannya.


"Kenapa tidak ada baju yang cocok sih" ucap Anya.

__ADS_1


"Aku tidak punya baju astaga" tambah Anya lagi sambil melihat ke arah tumpukan baju di depannya.


"Hmmm, aku pakai ini saja" ucap Anya sambil memegang dress warna kuning di depannya.


Dress selutut dengan lengan sebahu. Dia tidak pernah memakai dress ini sebelumnya karena memang dia lebih suka menggunakan pakaian santai.


"Ini acara resmi, aku tidak mungkin menggunakan kaos oblong" ucap Anya sambil melihat pantulan dirinya di cermin.


Dia menyisir rambutnya kemudian memberikan sedikit pita di sisi kiri rambutnya.


"Sepertinya ini berlebihan" ucap Anya kemudian melepas pita itu lagi. Dia pun memilih untuk mengikat rambutnya saja.


"Oke begini saja" ucap Anya kemudian menggunakan sedikit lipstik di bibirnya.


Dia mengambil hp dan dompetnya kemudian berjalan keluar.


"Astaga, bagaimana ini" ucap Anya saat mengingat kejadian tadi.


"Wah anak mama sudah cantik saja. Mau kemana?" Tanya Nadin.


"Byuuuur" Antarez menyemburkan minuman di mulutnya saat melihat Anya.


"Lu cerah Banget Anya. Mau kemana?" ucap Antarez mengejek.


Anya langsung cemberut. Dia sangat kesal mendengar ucapan kakaknya tadi.


"Apaan sih kamu ini. Orang adikmu cantik begitu. Anya cantik kan pak Rangga?" Ucap Nadin sambil melihat Rangga yang saat ini tengah terpaku melihat Anya.


"I-iya" ucap Rangga. Anya langsung tersenyum bahagia. Namun seketika ekspresi wajahnya berubah canggung saat mengingat kejadian tadi.

__ADS_1


"Ya sudah, Om Tante, saya izin bawa Anya ya" ucap Rangga kemudian mengajak Anya pergi. Tidak lupa dia mencium tangan kedua orang tua Anya.


"Hati-hati Nak Ranggam. Saya titip Anya ya" ucap Alex. Rangga mengangguk kemudian mereka pun pergi dengan mobil Rangga.


Di Mobil


Hening tidak ada percakapan sama sekali. Hingga Rangga memberanikan diri untuk memulai percakapan lebih dulu.


"Hmmmm, Anya" ucap Rangga.


"Ehh Iya" ucap Anya kikuk.


"Ma...." belum Rangga menyelesaikan ucapannya.


"Jangan dibahas kalau soal yang tadi pak. Itu salah saya" ucap Anya.


"Baiklah" ucap Rangga.


Setelah itu, hening lagi. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Hanya suara musik dan beberapa mobil yang berlalu lalang.


"Hmmm, Anya" ucap Rangga sambil melihat Anya sekilas.


"Iya pak" ucap Anya lagi.


"Setelah aku pikir-pikir. Aku ingin pernikahan kita dipercepat" ucap Rangga.


"Maksud bapak?" tanya Anya.


"Aku ingin pernikahan kita berlangsung Minggu depan" ucap Rangga kembali.

__ADS_1


"Haaaa?" ucap Anya kaget.


-Bersambung-


__ADS_2