Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Ingin Sendiri


__ADS_3

Saat ini, Anya sedang sarapan. Benar saja dia tidak kuliah hari ini. Lukanya sudah membaik dan mengering karena obat ampuh yang dibawa oleh Rangga kemarin.


Dia baru menyadari jika ada obat luka yang di bawa Rangga kemarin. Itupun karena Rangga menelpon mamanya dan mengatakan ada obat luka untuk Anya.


Jadi mamanya pun mencobanya, dan benar-benar ampuh. Awalnya Anya menolak, karena itu pemberian dari Rangga. Namun akhirnya dia memakainya.


Tapi tetap saja, bukan Anya namanya kalau tidak pura-pura masih sakit. Dia mengatakan pada mamanya bahwa dia masih butuh istirahat di rumah. Nadin yang sangat menyayangi Anya, seperti biasa langsung mengiyakan.


Mereka semua makan dalam diam. Termasuk Antares yang ada di samping Anya sekarang. Entah apa yang dipikirkan Antarez sekarang hingga membuatnya diam seperti itu. Tidak seperti biasanya yang akan selalu mengajak Anya gelut.


Nadin dan Alex saling pandang satu sama lain. Mereka seperti sedang mengisyaratkan sesuatu. Hingga,


"Ma Pa. Kenapa sih?" tanya Anya akhirnya karena melihat gelagat aneh kedua orang tuanya.


"Hmmm, Anya. Ada yang papa dan mama mau bicarakan dengan mu" ucap Alex kemudian.


"Bicara saja Pa" ucap Anya sambil sibuk mengunyah sarapannya.


"Kemarin Rangga membicarakan masalah perjodohan kalian" Ucap Alex.


"Hukk Hukkk" Anya langsung terbatuk.


Dia langsung mengambil air dan menelannya dengan cepat.


"Pak Rangga ngomong ke papa?" Tanya Anya saat tenggorokan sudah membaik.


"Iya, tapi papa dan mama tidak ingin memaksamu. Tapi jika kau mau, kita bisa bicarakan ini" ucap Alex lagi.


Antarez yang ada di samping Anya hanya diam menyimak.


"Anya tidak bisa menikah sebelum kak Antarez menikah Pa" ucap Anya kemudian.

__ADS_1


Antarez langsung melihat ke adik satu-satunya itu. Dia menatap Anya penuh kesal.


"Apa dia sedang memanfaatkan kejombloanku" batin Antarez.


Anya mengedipkan sebelah matanya, berharap Antarez mau membantunya. Namun ternyata jawaban Antarez sangat jauh dari ekspektasi nya.


"Kau menikah saja duluan. Lagipula aku masih lama menikahnya. Aku harus ngurus bisnis papa dulu. Kalau kau mau menggantikan ku mengurus bisnis papa, ya bisa saja aku menikah cepat" ucap Antares.


Anya langsung menolak dengan cepat.


"Tidak-tidak, aku sungguh tidak bisa berurusan dengan angka-angka keuangan" ucap Anya sambil mengangkat kedua tangannya.


"Jadi bagaimana? Kau mau menikah atau mau mengurus perusahaan?" Tanya Alex.


"Apaan sih pa. Orang Anya lebih baik nunggu kak Antarez nikah. Makin lama malah makin bagus" ucap Anya sambil sumringan.


Alex menatap Nadin. Namun istrinya juga tidak tahu harus berkata apa.


"Hush, kau ini. Adek sendiri dibilang gitu. Hati-hati kalau ngomong" ucap Nadin yang membuat Antarez langsung minta maaf.


"Baiklah, kalau begitu yang menentukan pilihan papa. Sekarang papa ingin kamu pilih, dan pilihannya cuma dua. Kamu menerima perjodohan ini atau mengurus perusahaan?" Tanya Alex kemudian.


Entah kenapa Alex sangat setuju dengan perjodohan ini. Jadi dia akan berusaha agar Anya mau menerimanya.


Mendengar hal itu, Anya langsung menatap Papanya dengan tatapan tidak percaya.


Bagaimana bisa ada pilihan seperti itu. Keduanya tidak ada yang menguntungkan sama sekali. Bukannya tadi papanya bilang pilihan ada ditangan Anya. Kok malah beda lagi.


"Gara-gara Lu nih. Papa jadi punya ide buat pilihan itu" ucap Anya kesal pada Antarez.


"Lah kok gue sih. Orang gue ngomong kenyataan. Ah sudahlah, aku mau ke kampus dulu. Bye" ucap Antares kemudian berdiri dan meninggalkan Anya. Namun Dia tidak lupa untuk berpamitan pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Heh, mau kemana lu. Kak Antrezzz, gue belum selesai ngomong" teriak Anya.


"Udah lu terima saja. Ribet amat" teriak Antarez.


Ingin sekali Anya menimpali, namun Antarez sudah menghilang dari pandangannya sekarang.


Dan tersisa lah mereka bertiga disana.


Anya menatap ragu kedua orang tuanya. Dia seperti ingin mengutarakan sesuatu, tapi entah kenapa rasanya berat sekali.


"Aku harus berani. Kamu harus berani Anya" batin Anya.


"Ma, Pa, tolong sekali ini saja. Anya memilih pilihan hidup Anya sendiri" akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Anya.


Dari dulu dia ingin mengatakan itu, tapi selalu berat rasanya. Hingga akhirnya keluar sekarang.


"Ini pilihan yang terbaik dari kami untuk kamu sayang" ucap Alex.


"Tidak pa. Papa barusan saja bilang, bahwa perjodohan ini, papa akan serahkan pada Anya. Tapi kenapa sekarang berubah lagi. Papa pernah nggak sih ngertiin Anya sekali?" ucap Anya dengan nada tinggi.


Hal itu sontak memancing kemarahan papanya.


"Kamu sudah berani melawan papa sekarang Anya?" teriak Alex.


"Anya minta maaf pa. Tapi Anya capek Pa. Anya sudah nurut buat ambil jurusan ekonomi. Anya nurut buat jadi anak baik. Anya nurut buat nggak pacaran. Anya nurut buat ninggalin teman-teman Anya dulu. Jadi tolong Pa, sekali ini saja, biar Anya yang milih Pa. Hiks" ucap Anya dengan air mata yang sudah mengalir entah sejak kapan.


Alex dan Nadin tampak terdiam.


"Nakk" ucap Nadin akhirnya dan mendekati Anya yang saat ini tengah menangis sesegukan. Dia ingin menenangkan anaknya. Tapi Anya langsung berdiri.


"Nggak Ma. Anya mau sendiri" ucap Anya kemudian berlari meninggalkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2