Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Terima Kasih Kak


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Anya dan kakek Aprilio langsung disambut oleh kedua orang tua Anya. Senyum merekah terlihat jelas di wajah mereka.


"Hallo tuan, selamat datang di rumah kami" ucap Nadin.


"Terima kasih" ucap Kakek Aprilio sopan.


Alex pun langsung mengajak mereka untuk langsung masuk ke dalam saja. Mereka memilih duduk di ruang tamu.


"Kakek mau kopi atau teh?"Tanya Nadin.


"Air putih saja. Tadi pagi saya sudah ngopi. Saya tidak boleh terlalu banyak gula. maklum sudah tua. Hahah" ucap Kakek Aprilio mencoba bergurau.


"Hahaha" Alex dan Nadin ikut tertawa.


Namun tidak dengan Anya yang bingung dengan sikap kedua orang tuanya.


"Benar-benar canggung" batin Anya.


"Ma, Pa, kek, Anya ke atas dulu ya. Mau ganti baju. Kakek boleh bicara dengan papa mama. Nggak apa-apa kan kek?" Tanya Anya.


"Tentu saja. istirahat lah, besok pasti acaranya akan sangat padat" ucap Kakek Aprilio.


Anya pun membalas dengan senyum dan anggukan, kemudian berlalu pergi. Setelah itu pembicaraan antara yang tertua.


"Jadi, kedatangan saya kesini, ingin menyampaikan bahwa pernikahan Anya dan Rangga akan dilakukan besok" ucap Kakek Aprilio.


"Ha?" ucap Alex dan Nadin serentak. Hal itu sontak membuat Kakek Aprilio menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan kekompakan kedua pasangan di depannya. Mungkin kalau istrinya masih ada, mereka akan seperti itu.


"Astaga Maaf-maaf tuan, kami benar-benar kaget. Apa benar dengan yang tuan katakan. jika benar, apa tidak terlalu cepat tuan? Undangan belum disebar dan tidak mungkin kami tidak mengundang keluarga besar kami" ucap Alex.


"Tentu saja benar. Untuk itu, biar Rangga yang mengurusnya" ucap Kakek Aprilio dengan wajah tenangnya.


Alex dan Nadin pun hanya saling lihat satu sama lain kemudian mengangguk.


"Baiklah, karena yang menjalani pernikahan Anya dan Rangga, jadi semua keputusan kami serahkan pada dia. Jika dia setuju, kami tidak akan menolaknya" ucap Alex.

__ADS_1


Kakek Aprilio pun langsung mengangguk sambil tersenyum. Dia terlihat begitu bahagia jika sebentar lagi cucu kesayangannya akan menikah.


-Di kamar Anya-


Anya terlihat uring-uringan. Dia berjalan bolak balik di depan cermin. Kemudian menghempaskan tubuhnya. Kemudian bangun lagi. Begitu seterusnya. Entahlah sepertinya dia sedang khawatir sekarang tentang pernikahannya yang akan dilaksanakan besok.


"Kenapa sih harus besok? Astaga. Apa aku sudah siap untuk menjadi seorang istri. Dan apa ini. Bukannya nanti akan melakukan hubungan suami istri juga? Astaga. Senakal-nakalnya aku. Aku tidak pernah melakukannya. Berciuman saja baru kemarin. Apa yang harus aku lakukan sekarang" pikiran itu terus menari di kepalanya hingga membuat dia tidak bisa diam sekarang.


"Klekkk" suara pintu terbuka langsung membuat fokusnya mengarah ke pintu kamarnya.


Antarez terlihat muncul dari pintu tersebut.


"Kakkkkkkkkk, keluarrr, aku tidak ingin di ganggu" ucap Anya kemudian melempar bantal ke arah pintu.


Namun dengan cepat Antarez menghindar dan malah masuk ke kamar Anya.


Hal itu malah membuat Anya semakin kesal.


"Kakkkkkk Antares keluar" teriak Anya memenuhi ruangan kamarnya.


"Oya" ucap Anya kemudian menutup mulutnya.


"Sekarang jawab kakak" ucap Antarez yang saat ini sudah di depan Anya.


"Kau serius akan menikah?" Tanya Antarez langsung.


Anya terdiam sesaat. Kemudian mengangguk.


"Wahhh kau ingin menikah muda? Aku saja masih jomblo. Adikku udah mau nikah saja" ucap Antarez lagi.


"Hmmmm. Aku takut kak" ucap Anya sambil tertunduk sedih.


"Lah kenapa?" Tanya Antarez.


"Takut semuanya. Bukannya dunia pernikahan itu tidak seindah yang dibayangkan? Apalagi aku lihat di sosial media, banyak yang tidak bahagia kak" ucap Anya.

__ADS_1


"Hey, kenapa ngomong gitu. Memang kamu nggak yakin jika pak Rangga bisa membahagiakanmu?" Tanya Antarez lagi.


Anya pun menggeleng.


"Aku yakin pak Rangga akan memperlakukanku dengan baik. Tapi aku tetep takut kak" ucap Anya sambil menutup wajahnya dengan tangannya.


"Ya sudah. Menikahlah. Aku lihat pak Rangga itu laki-laki baik dan bertanggung jawab dek. Makanya Aku begitu senang ketika tahu kamu dengan dia daripada Reza" ucap Antarez.


Anya langsung melihat kakaknya.


"Maksud Kaka?" Tanya Anya bingung.


"Reza itu suka sama kamu dek. Makanya di deketin kamu. Cuek-cuek gini kakak selalu ngawasin kamu tanpa kamu tahu" ucap Antarez sambil mengacak rambut Anya.


"Hmmm. Makasi kak. Jadi pengen peluk" ucap Anya ingin mendekat memeluk Antares. Namun Antarez langsung menjauh.


"Dah lah. Geliiiii aku. Hapus air matamu tu. Dah jelek makin jelek." ucap Antarez kemudian pergi meninggalkan Anya sendiri.


"Ishhh" ucap Anya yang kemudian langsung bangun dan berlari memeluk Kakaknya.


"Hehh" ucap Antarez namun membiarkannya.


"Sekali saja kak. Besok kalau udah jadi istri orang bakal susah kayak gini. Di rumah aja kak Antarez jarang ke kamar aku. Ketemu cuma buat bangunin aku aja terus hilang entah kemana" ucap Anya mengeluarkan unek-unek nya.


Antarez hanya diam saja. Entah kenapa dia merasa sedih mendengar ucapan adiknya tersebut. Jadi selama ini Anya kesepian disini.


"Makasi ya kak. Udah mau jadi kakak aku. Udah sabar ngadepin aku" ucap Anya dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Antarez pun membalikkan badannya. Kemudian memeluk Anya erat. Entahlah kapan terakhir mereka berpelukan seperti ini karena biasanya mereka hanya berantem.


"iyaa, Kita bakal sering ketemu kok. Kamu harus sering-sering main kesini. Atau nggak nanti kakak yang kerumah suamimu. Dahlah. Jadi mewek gini. Nggak enak banget" ucap Antarez sambil menghapus air mata Anya.


"Istirahatlah. Besok akan jadi hari yang melelahkan" ucap Antarez dengan senyuman di wajahnya.


Anya pun mengangguk.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2