
"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Rangga saat dokter Sinta terlihat keluar.
"Hanya lebam sedikit. Aku sudah memberikan resep, nanti kamu tebus di apotek" ucap Dokter Sinta dengan gaya bicara khasnya.
"Kenapa tidak kamu saja, aku sibuk" ucap Rangga kemudian.
"Katanya istri. Masak ke apotek saja malas. Demi kesehatan istrimu. Ini nih. Ngaku-ngaku. Kamu udah ngapain anak orang sampai dia mau sama kamu? Jangan-jangan" ucap Dokter Sinta sambil memicingkan matanya.
"Apa sih. Nggak jelas" ucap Rangga kemudian berlalu begitu saja meninggalkan dokter Sinta.
"Hey mau kemana? Antar aku ke Rumah Sakit lagi" ucap Dokter Sinta.
"Kau minta salah satu sopir kakek. Kakek ada di depan kan" ucap Rangga kemudian menghilang masuk ke kamarnya lagi melihat keadaan Anya.
"Bener-bener, aku harus menanyakan ini pada kakek. Siapa sebenarnya wanita itu" ucap Sinta kemudian menemui kakek. Dia bertanya pada penjaga rumah tentang keberadaan Kakek Aprilio. kemudian langsung menuju ke halaman belakang.
"Kakek" teriak Sinta dengan suara manjanya yang sangat khas kemudian langsung memeluk kakek Aprilio dari belakang
"Astagaa. Kau mengagetkanku" ucap Kakek Aprilio sambil memegang dadanya. Saat itu kakek sedang memberi makan binatang peliharaannya.
"Hehe. Maaf kek" ucap Sinta seperti anak kecil.
"Kapan kamu kesini?" Tanya Kakek Aprilio. Sinta pun menceritakan semuanya mulai dari Rangga yang menelponnya hingga kejadian tadi sebelum menemui kakek Aprilio.
__ADS_1
"Loh, kenapa tidak ada yang memberi tahuku. Lalu bagaimana keadaan cucuku" ucap Kakek Aprilio.
"Maksud kakek Rangga?" Tanya Sinta yang terlihat bingung.
"Tentu tidak, kan yang terjatuh Anya" ucap Kakek Aprilio lagi.
"Cucu kek? apa aku tidak salah dengar?" Tanya Sinta.
"Owh, kau belum tahu. Mereka akan segera menikah" ucap Kakek Aprilio dengan entengnya.
"Hah? serius kek. Wah aku bahagia sekali" ucap Sinta dengan senyum sumringannya. Karena memang sejak dari dulu dia mendoakan sepupunya itu untuk segera menikah. Apalagi jika mengingat dia yang tidak pernah dekat dengan wanita manapun. tentu saja membuatnya berpikir jika Rangga tidak normal. namun saat mendengar ini dia begitu lega.
"Tapi kek, bagaimana dengan..." Ucapan Sinta terhenti, karena dia takut salah berbicara.
Sinta pun hanya membalas dengan anggukan.
Disisi lain, Rangga saat ini tengah duduk di depan Anya sambil melihat lebam yang tadi sudah dia obati.
"Besok-besok kalau mau nguping bilang-bilang. Biar nggak jatuh lagi kayak gini" ucap Rangga dengan raut wajah yang masih khawatir seperti tadi.
"Sejak kapan orang nguping bilang-bilang. lagian mas, aku itu nggak nguping. tadi cuma mau minta maaf saja" ucap Anya membantah.
"Sama saja. Kau berdiri di depan kamarku seperti orang yang akan menguping" ucap Rangga kesal.
__ADS_1
"Iya-iya aku minta maaf mas. Tapi mas udah nggak marah lagi kan?" Tanya Anya.
Rangga terdiam sebentar.
"Aku akan berhenti marah, kalau kau memblokir nomor Laki-laki itu" ucap Rangga.
"Eh, mana boleh begitu mas. Di..." belum Anya menyelesaikan ucapannya Rangga lebih dulu membungkam mulut Anya.
"Hmmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Anya sekarang, karena Rangga membungkam mulut Anya dengan mulutnya sendiri.
"Hmmmmm" Anya rasanya ingin mendorong Rangga, nafasnya terasa begitu sesak sekarang. Namun entah kenapa dia tidak bisa. Dia malah menutup matanya.
"Cup" satu kecupan mendarat di hidung Anya saat Rangga menyelesaikan aksinya.
"Bernafas lah. Kau ingin mati" ucap Rangga kemudian mengacak Rambut Anya gemas.
"Haahhh" Anya mulai bernafas lega. Dia memegang dadanya yang sedari tadi berdebar sangat cepat.
"Ayo aku antar pulang. Kalau lebih lama disini. Aku takut khilaf" ucap Rangga kemudian melenggang keluar meninggalkan Anya sendiri.
Setelah di luar. Rangga langsung memegang dadanya. Dia pun sama. Sedari tadi jantungnya tidak berhenti berdebar.
"Tahan Rangga" ucapnya.
__ADS_1
-Bersambung-