Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Ke Kampus Bareng


__ADS_3

Saat ini Anya sedang duduk manis di mobil samping kemudi. Matanya menatap lurus ke depan. Membiarkan Rangga yang juga fokus menyetir.


Tidak ada sepatah katapun dari mereka berdua. Karena mereka memang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah Anya. Disana terlihat Mama Nadin sudah menunggu di depan rumah.


"Makasi Pak" ucap Anya kemudian turun dari mobil dan menghampiri Mamanya.


"Sayang" ucap Nadin dengan tatapan penuh haru karena akhirnya melihat anaknya.


"Anya capek Ma. Mau istirahat dulu" ucap Anya kemudian masuk begitu saja.


Ada perasaan kecewa melihat perlakuan anaknya. Namun Nadin tidak bisa juga memaksakan kehendaknya. Anya pulang ke rumah saja dia sudah sangat bersyukur.


"Buk Pak, saya pamit pulang ya" ucap Rangga kemudian.


"Tidak diam disini dulu pak" tawar Nadin.


Namun Rangga langsung menolak. Dia sadar bahwa keberadaannya disana mungkin malah akan memperkeruh situasi.


"Ya sudah. Terimakasih ya nak Rangga sudah membawa anak saya pulang" ucap Nadin.


Rangga pun mengangguk kemudian meninggalkan mereka.


Setelah kepergian Rangga. Nadin langsung menuju kamar Anya. Namun langkahnya langsung terhenti karena Alex menarik tangannya.


"Biarkan saja istirahat Ma" ucap Alex.


Nadin tampak ragu. Namun akhirnya dia menuruti perkataan suaminya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Alya berangkat ke kampus seperti biasanya.


Matanya menatap ke arah papa dan mamanya yang saat ini tengah menyantap sarapan di meja makan.


Dia langsung mendekati mereka dan berpamitan.


"Kamu tidak sarapan sayang?" Tanya Nadin.


Anya hanya menggeleng, kemudian pergi begitu saja. Dia masih belum bisa bersikap biasa saja setelah apa yang terjadi sebelumnya.


Mamanya hanya bisa menghela nafas berat sambil menatap kepergian anaknya.


Seperti biasa, Anya akan mengendarai motornya. Namun baru saja sampai di persimpangan dia bertemu dengan seseorang.


"Kak Reza?" ucap Anya sambil melihat Reza yang saat ini tengah tersenyum kepadanya.


Reza pun mendekati Anya.


"Ayo kak, tinggal berangkat saja kan" ucap Anya kemudian melajukan motornya kembali.


"Hey,. bukan begitu maksudku. Kamu aku boncang sini" teriak Reza yang membuat Anya langsung berhenti.


"hmm, nggak perlu kak. Aku sudah telat ini. Ayo cepat kalau mau bareng" ucap Anya kemudian melajukan motornya lebih cepat.


Reza menghembuskan nafasnya dengan berat. Memang sangat susah untuk mendapatkan hati Anya.


Berbeda dengan Anya yang saat ini langsung merubah ekspresinya. Ekspresi saat berbicara dengan Reza sungguh sangat berbeda dengan ekspresi nya sekarang.


Dia terlihat menatap jalanan dengan tatapan kosong. Entah apa yang dia pikirkan.


"Brukkk" saat akan berbelok ke arah jalan utama, secara tidak sengaja Anya menabrak sebuah mobil yang tengah berbelok ke arah yang berlawanan dengannya.

__ADS_1


Tubuh Anya langsung tersungkur ke aspal.


"Astaga, Anya" ucap Reza kemudian memarkirkan motornya dan berlari mendekati Anya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Reza sambil membantu Anya bangun.


Anya langsung menggeleng. "Nggak apa-apa kak. Heheh. Anya nggak lihat tadi mobilnya" ucap Anya.


Pemilik mobil tersebut langsung keluar dan memarahi Anya.


"Kamu itu kalau jalan pakai mata. Untung saja mobilku tidak lecet" ucap nya.


"Hey, pak. Saya pakai motor, bukan jalan ya. Lagipula bapak juga salah karena belok terlalu kiri. Bapak memenuhi jalan saya. Bapak harus ganti rugi" ucap Anya.


"Heh anak muda. Kamu yang terlalu kanan. Lihat itu garisnya. Anak muda zaman sekarang benar-benar tidak tahu sopan santun" ucap bapak tersebut kemudian masuk ke mobilnya dan meninggalkan Anya.


"Heh pak. Saya belum selesai" ucap Anya hendak mengejar mobil itu. Namun Reza langsung menarik tangannya.


"Sudah tidak apa-apa, lihat motormu juga lecet dikit. Nanti kakak bantu perbaiki ya" ucap Reza.


Anya langsung menggeleng. Dia langsung mengambil motornya.


"Tidak perlu kak. Anya tidak apa-apa. Nanti Anya perbaiki sendiri. Ayo kak ke kampus. Anya takut telat lagi" ucap Anya. Dia hendak menyalakan motornya lagi, namun Reza langsung menghalanginya.


"Kamu ikut kakak. Kakak antar. Aku nggak mau hal yang sama terulang kembali" ucap Reza dengan wajah penuh khawatir.


"Tapi kak" ucap Anya. Namun Reza sudah mengambil kunci motor Anya. Hingga mau tidak mau Anya pun menurut.


Mereka berdua pun pergi ke kampus bersama.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2