Dosen Tampan Itu Calon Suamiku

Dosen Tampan Itu Calon Suamiku
Kabur


__ADS_3

Anya terus menangis di kamarnya. Entah kenapa rasanya sesak sekali. Air matanya terus keluar tidak terbendung. Dia ingin berhenti, tetapi hatinya terlalu sakit untuk meminta air matanya keluar.


"Hiks, hiks. Aku pergi saja darisini. Aku tidak mau perjodohan ini. Aku ingin menikah dengan orang yang aku suka" ucap Anya sambil menghapus air matanya.


Dia pun langsung bergegas membuka lemarinya dan mengambil beberapa baju. kemudian memasukkan baju-baju tersebut ke dalam tasnya.


Dia mengambil dompet dan Hpnya kemudian bergegas ke balkon kamarnya.


Anya berniat kabur melalui jendela kamarnya.


"Sepertinya sudah aman" ucap Anya sambil melihat ke kiri dan kanan.


Balkon kamar Anya berhadapan langsung dengan taman belakang. Dan taman belakang adalah tempat yang paling jarang di kunjungi. Kecuali pagi dan sore hari, karena mamanya akan mengurus taman bunganya disana.


Nanti karena jam menunjukkan pukul 11 siang. Jadi ini akan cukup aman untuk kabur.


Tanpa pikir panjang. Anya langsung melompat.


Dia cukup pandai melakukan ini. Karena sejak SMA dia sering sekali kabur saat mata pelajaran Matematika. Dia bahkan sering sekali memanjat lantai dua kelasnya saat telat.


Dia berjalan pelan menuju ke tembok taman. Tembok yang memisahkan jalanan dengan rumahnya.


Tidak terlalu tinggi. Mungkin sekitar dua meter sehingga dia bisa memanjatnya lebih mudah.


"Ma, maafin Anya. Anya harus pergi" ucap Anya sambil melihat rumahnya dengan tatapan sendu.


Setelah itu dia langsung berlari menjauh dari rumahnya.


Disisi lain, Nadin terlihat sedang terdiam menatap suaminya yang tengah fokus mengurus pekerjaan nya dari rumah.


Entah kenapa dia merasa sedih mengingat ucapan Anya tadi pagi.


Berbeda dengan Alex yang terlihat tidak terjadi apa-apa dan memilih melakukan pekerjaannya.

__ADS_1


"Pa, apa kita terlalu memaksakan kehendak kita pada Anya ya?" Ucap Nadin kemudian.


Mendengar ucapan istri nya. Alex langsung menghentikan aktivitasnya. Dia menatap istrinya yang saat ini terlihat menahan air matanya.


Dia langsung mendekati Nadin dan memeluknya. Seketika itu juga, Nadin menangis dalam pelukan suaminya.


Alex membiarkan istrinya menangis sampai dia merasa tenang.


"Hiks hiks, Mama belum bisa jadi ibu yang baik untuk Anya ya Pa" ucap Nadin di sela tangisnya.


Mendengar hal itu, Alex langsung melepaskan pelukannya. Dan memilih melihat wajah istrinya.


"Lihat aku sayang" ucap Alex sambil memegang dagu istrinya.


Nadin langsung menurut dan menatap Alex tepat di kedua bola matanya.


Tatapan yang begitu sendu. Hingga membuat Alex tidak tega melihatnya.


"Tapi..." ucap Nadin namun jari Alex lebih dulu dibibirnya hingga membuatnya terdiam.


"Udah, Nggak apa-apa. Biarkan saja. Ini proses pendewasaan dia. Jangan terlalu dimanja ya" ucap Alex dengan senyuman di wajahnya.


Nadin pun akhirnya mengangguk.


" Gitu dong, sekarang hapus air matanya. Istri cantikku sangat jelek kalau menangis seperti ini" ucap Alex sambil menghapus air mata di pipi istrinya.


Nadin pun tersenyum kemudian mengecup Bi*** suaminya.


"Terima kasih sayang" ucap Nadin.


"Cup" sebuah ciuman mendatang di kening Nadin.


"Aku kerja lagi ya" ucap Alex.

__ADS_1


Nadin langsung mengangguk.


Tiba-tiba Hp Nadin bunyi. Dia pun langsung pergi untuk mengangkatnya karena tidak ingin menggangguk suaminya.


"Hallo" ucap Nadin dari seberang telpon.


"Hallo, Nadin. Ini Aprilio" ucap Kakek Aprilio.


"Owh Pak Aprilio. Iya pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nadin segan.


"Saya ingin bicara dengan Anya. Bukankah dia ingin memancing. Kebetulan aku sudah pulang dari rumah sakit. Aku ingin menghubunginya, tapi dia tidak mengangkat" ucap Kakek Aprilio.


"Oh iya, kebetulan Anya dirumah. Mungkin dia tidak memegang hpnya. Sebentar saya panggilkan" ucap Nadin kemudian bergegas ke lantai dua untuk memanggil Anya.


Dia mengetuk kamar Anya beberapa kali. Namun Beberapa kali dia mengetuk kamar Anya tidak ada sautan sama sekali.


Dia mulai khawatir terjadi sesuatu pada Anya. Dia pun langsung mengambil kunci cadangan dan membuka kamar anaknya.


"Astaagggggaaa" ucap Nadin saat melihat kamar Anya kosong dengan jendela balkon terbuka.


"Paaaaaa papaaa" teriak Nadin.


Mendengar teriakan istrinya. Alex langsung naik ke lantai dua.


"Ada apa Ma?" Tanya Alex.


"A-Anya kabur pa" ucap Nadin sambil memegang dadanya karena masih syok.


Mendengar hal itu, Alex langsung berlari ke balkon kamar Anya. Dan benar saja, beberapa bunga disana terlihat rusak karena seseorang yang memanjat tembok pembatas.


"Itu anak benar-benar" ucap Alex kemudian mengambil Hpnya dan menelpon seseorang.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2