
Di perjalan menuju kampus, Anya hanya diam saja. Dia benar-benar lelah saat ini. Lelah dengan pikirannya sendiri.
egonya yang tinggi, membuatnya harus menelan pahitnya overthingking yang menggerogoti pikirannya saat ini. Rasa bersalah karena bersikap dingin pada kedua orang tuanya terus menari-nari dalam pikirannya sekarang.
"Ma, Pa, maafin Anya" tiba-tiba kalimat itu melintas di pikirannya.
Namun dia langsung menepis pikiran itu, karena dia tidak ingin dijodohkan dengan dosennya sendiri.
Tanpa dia sadari, saat ini dia sudah di parkiran. Lama melamun dan sibuk dengan pikiran sendiri membuatnya tidak sadar jika sudah berpindah tempat.
Dia pun langsung turun dan pergi begitu saja.
"Heh, Anya tunggu" ucap Reza yang membuat Anya langsung berhenti.
Reza mendekati Anya kemudian membukakan helm untuknya.
"Helmnya. Bagaimana bisa kamu melupakan helm di kepalamu. Kamu kenapa? Ada masalah? " tanya Reza. Dengan cepat Anya langsung menggeleng.
"Tittt tittt" suara klakson mobil mengalihkan perhatian mereka berdua.
Anya dan Reza serempak menengok ke arah mobil tersebut.
"Titt tittt" lagi-lagi orang di dalam mobil tersebut membunyikan klaksonnya. Hingga membuat Anya dan Reza langsung menepi.
__ADS_1
"kalau pacaran itu jalan di tengah jalan" ucap seorang wanita yang tidak mereka kenal. Namun dari cara berpakaian nya, sepertinya dia wanita kaya raya.
Tapi sebentar, mata Anya langsung tertuju pada seseorang yang sedang berada di kemudi.
"Pak Rangga" ucap Anya.
Namun Rangga hanya diam saja. Dia malah melanjutkan mobil untuk kemudian diparkirkan di tempat parkir khusus dosen.
"Owh, itu pak Rangga ya? Dia bersama siapa? jangan-jangan..." ucap Reza.
Namun belum dia menyelesaikan kalimatnya, Anya sudah terlebih dahulu pergi dan meninggalkannya. Anya mendekati mobil Rangga dan melihat perempuan tadi keluar kemudian diikuti dengan Rangga.
"Pak" ucap Anya.
Namun Rangga hanya diam saja.
Rangga hanya mengangguk.
"Perkenalkan aku Sonya. Dosen baru disini. Kamu beruntung karena aku baru saja masuk. Jadi aku bisa mentolerir perbuatan kalian tadi. Bermesraan dijalan dan menghalangi kendaraan lewat. Oya, satu lagi. Aku ini tunangan pak Rangga. Jadi jangan keganjenan ya" ucap Sonya.
Deg. Bagai disambar petir. Anya terdiam seketika.
"Tunangan. Bagaimana bisa dia sudah memiliki tunangan baru secepat ini" batin Anya.
__ADS_1
Anya langsung menatap ke arah Rangga. Berusaha untuk mendapatkan penjelasan. Namun Rangga hanya diam saja. Dia memilih untuk pergi meninggalkan Anya yang masih mematung karena fakta yang baru didengarnya.
Sonya tersenyum sekilas, kemudian pergi meninggalkan Anya dan menyusul Rangga.
"Apa aku tadi salah dengar? Pak Rangga mau tunangan? baru kemarin dia dijodohkan denganku. Baru kemarin aku memutuskan perjodohan itu, sekarang dia sudah akan tunangan? bagaimana bisa?" ucap Anya.
Dia memegang dadanya yang terasa sangat sesak sekarang. Bahkan dia menepuknya perlahan karena merasa sakit disana.
"Tidak-tidak, seharusnya aku bahagia karena dia sudah mendapatkan pengganti ku bukan. Iya benar, aku harus bahagia" ucap Anya pada dirinya sendiri.
Namun ternyata, ucapan dan tindakan sering berlawanan. Sekarang dia malah berlari mengejar Rangga.
"Pak Rangga, saya mau bicara" ucap Anya yang membuat Rangga langsung berhenti. Begitupun dengan Sonya yang ada di sampingnya.
Beberapa mahasiswa yang ada disana pun juga fokus pada Anya sekarang.
Melihat hal itu, Anya langsung menarik tangan Rangga kemudian mengajaknya ke arah tempat yang jauh lebih sepi.
Rangga hanya menurut dan mengikuti Anya yang saat ini menarik tangannya.
"Kamu mau apa lagi?" Tanya Rangga saat Anya sudah melepaskan tangannya.
"Apa benar wanita itu tunangan bapak?" Tanya Anya to the point.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa? kalau nggak kenapa? Aku rasa itu bukan urusanmu lagi Anya" ucap Rangga.
-Bersambung-