Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Menculik Nayla


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dengan aktivitas dan rutinitas yang masih sama, yang berbeda hanya menjalani hari dengan siapa, aku ingin berbagi cerita tapi dengan siapa?


Aku sedang menyetir dengan kecepatan empat puluh kilometer perjam menuju rumah Nayla, aku tak tahu dia ada di rumah atau tidak, aku cuma lagi mencoba peruntungan aja, senekad inikah kalau rindu sudah tak tertahan? Beberapa hari tak sempat bertemu dan jarang juga berkomunikasi, untuk sekedar say hai pun sulit rasanya.


Saat sedang asik menyetir tiba-tiba hp ku bergetar, ada panggilan masuk dari Siti.


“Assalamualaikum ukhti, ada apa?” kataku dalam percakapan telepon,


“Waalaikumsalam wr.wb. lo dimana Bar? Sok alim deh lo!” kata Siti dalam percakapan telepon,


“Gw lagi di jalan Ti, ada apa?” jawabku dalam percakapan telepon,


“Gw di kostan lo, gw panggil-panggil lo gak nyaut-nyaut, yaudah gw telepon lo” kata Siti dalam percakapan telepon,


“Lo masuk aja ke kamar gw Ti, kunci kamar gw ada di sepatu, gw lagi bosen jadi gw mau cari kesenangan” kataku dalam percakapan telepon


“Emang gak apa-apa gw masuk?” tanya Siti dalam percakapan telepon,


“Masuk aja gak apa-apa, lo kayak sama orang asing aja haha” kataku dalam percakapan telepon,


“Yaudah gw masuk kamar lo ya” kata Siti dalam percakapan telepon,


“Iya Ti, Assalamualaikum”kataku menutup telepon,


“Waalaikumsalam wr.wb.”jawab Siti yang juga menutup telepon di sisi yang lain,


Hampir sampai di rumah Nayla, hp ku bergetar lagi, kali ini telepon dari Niken.


“Iya Ken ada apa?” kataku dalam percakapan telepon,


“Lo dimana? di kamar lo ada siapa?” Ucap Niken dalam percakapan telepon,


“Gw di jalan, di kamar gw ada Siti, lo masuk aja temenin Siti” kataku dalam percakapan telepon,


“Lo lagi mau kemana emang? ko gak ngajak gw?” kata Niken dalam percakapan telepon,


“Ke tempat temen, biasalah urusan cowok” kataku dalam percakapan telepon,


“Yaudah deh hati-hati ya” kata Niken dalam percakapan telepon,


“Iya makasih Ken, udah ya Ken lo matiin teleponnya gw lagi nyetir” kataku dalam percakapan telepon,


“Bye” kata Niken menutup pembicaraan dalam telepon,


Sesampainya di rumah Nayla aku segera turun dari mobil dan mulai menekan bel yang ada di depan pagar rumah Nayla, beberapa saat kemudian ibu Nayla keluar untuk membuka gerbang.


“Assalamualaikum tante, Nayla nya ada?” kataku,


“Waalaikumsalam, ada nanti tante panggilkan, kamu masuk dulu aja duduk” kata Ibu Nayla,


“Iya tante makasih” jawabku,


Lima menit kemudian Nayla keluar menemuiku sambil membawakanku secangkir teh, aku kurang suka teh tapi gak bisa protes mau di kasih minum apa.


“Hai Nay, apa kabar?” tanyaku,


“Baik, lo gimana? ko gak ngabarin dulu kalau mau kesini?” kata Nayla,


“Kejutan dong, lo sibuk nggak Nay?” kataku,


“Nggak sih, tapi gw belom mandi, ada kuliah juga masih nanti siang” kata Nayla,


“Jalan yuk mau gak?” kataku,


“Kemana?” tanya Nayla,


“Lo mandi dulu, terus siap-siap nanti gw bilang deh kita kemana, tapi yang penting lo bawa baju ganti ya” kataku,


“Mau kemana sih? curiga nih gw” kata Nayla,


“Lo percaya aja, gw gak aneh-aneh kok” kataku,


“Kalau gitu tunggu ya” kata Nayla,


Aku sedang menunggu Nayla mandi sambil menikmati teh buatan nya, aku menghormati suguhan nya jadi kuminum walau aku gak suka, lumayan lah buat nemenin merokok, mau minta di bikinin kopi tapi gak enak tapi nanti pasti akan kukatakan.


Rata-rata kalau cewek mandi itu lama ya, hampir satu jam aku menunggu, batang hidung Nayla belum juga nampak, ini indahnya jadi cowok harus ekstra sabar, kalau gak sabar nanti di bilang gak ada effort.


Cowok segagah dan sekeren apapun akan kalah sama cewek, aku ambil contoh fir’aun, dia tuh pembunuh berdarah dingin yang tega banget, hampir gak punya hati kayaknya, tapi satu ketika saat dia ingin membunuh satu bayi laki-laki dari golongan bani israil, istrinya asiya mengatakan bayi ini jangan dibunuh soalnya lucu banget, kita pelihara aja ya, fir’aun yang setega dan sekejam itu pun meng iyakan keinginan istrinya, kalau fir’aun aja bisa sebucin itu kenapa kita nggak?


Beberapa saat kemudian Nayla keluar menemuiku.


“Ayo Bar, gw udah siap” kata Nayla,


“Lo wangi sama cakep banget Nay” kataku,


“Gombal deh” kata Nayla,


“Sebanding lah dengan waktu tunggu gw Nay” kataku,


“Lama yah, maaf” kata Nayla,


“Standar cewek emang segitu kali Nay, oia pamit nyokap dulu” kataku,


“Udah kok, ayo jalan aja” kata Nayla,


Aku dan Nayla masuk ke dalam mobil, sebenarnya aku belum tahu mau mengajak Nayla kemana.


“Kita mau kemana sih Bar?” tanya Nayla,


Aku masih berpikir untuk menjawab pertanyaan Nayla, padahal gampang.


“Kita ke cipanas mau gak Nay?” kataku,


“Serius deh Bar!” kata Nayla,


“Gw serius Nay, mau nggak?” kataku,


“Gw udah di dalem mobil lo, ya gw ikut aja” kata Nayla,


“Yaudah jalan nih ya, Bismillah” kataku,


“Iya, Bismillah” kata Nayla,


Setelah Nayla setuju dengan tawaranku, aku segera tancap gas untuk menuju cipanas, aku suka udara dingin pegunungan karena waktu SMA pun aku ikut ekstra kulikuler pencinta alam, mungkin dari SD udah jadi bolang, udara sejuk di bandung yang selalu aku rindu tapi belum bisa pulang, sengaja biar rindu nya penuh.


“Lo random banget deh Bar” kata Nayla,


“Gitu ya menurut lo, gak tahu sih seneng aja kasih sesuatu yang tiba-tiba” jawabku,


“Lo romantis sih tapi kadang-kadang najis” kata Nayla,


“Itu dari hati banget kayaknta Nay” kataku,


“Enaknya sama lo gw gak perlu jaim, dan bebas mau ngomong apa aja, gw ngerasa jadi diri sendiri” kata Nayla,


“Kan emang harus kayak gitu Nay, hidup paling indah ya jadi diri sendiri, ngapain jadi fake cuma buat di sukain orang atau cuma buat ngejar seseorang” kataku,


“Setuju banget gw Bar, paling bisa lo Bar” kata Nayla,


“Lo lagi muji atau lagi naksir?” kataku,


“Dua-duanya boleh gak? Hahaha” kata Nayla,


“Kalau dua-duanya gw belum siap” kataku,


“Maksdunya?” tanya Nayla,


“Ya belum siap kalau harus di taksir sama lo, hahaha” kataku,


“Siap nya kapan?” tanya Nayla,


“Nanti kalau hujan turun, biar kayak di film-film india Nay” kataku,


“Lo suka nonton film india?” tanya Nayla,


“Di masa kecil menuju remaja kita kan film india hits banget” kataku,


“Iya sih, tapi lo suka?” kata Nayla,


“Gw sukanya lo sih” kataku,


“Ah jangan bikin salting deh!” kata Nayla,


“Ya suka temenan sama lo, gak ribet” kataku,


“Ngeles nya pinter!" kata Nayla,


“Kan katanya sekolah biar bisa lebih pinter, tapi sebenernya bukan itu kan Nay” kataku,


“Iya bukan itu” kata Nayla,


“Nay nanti di bogor makan nasi padang dulu ya” kataku,


“Boleh Bar, laper ya?” kata Nayla,


“Gak terlalu, tapi lagi pengen makan nasi padang” kataku,


“Lo suka lauk apa?” tanya Nayla,


“No satu rendang, terus paru, tunjang sama jengkol” jawabku,


“Gw juga suka rendang sih” kata Nayla,


“Gimana kalau lo belajar masak rendang Nay” kataku,


“Gimana? kan susah ya, gw juga bukan orang padang kan” kata Nayla,


“Emang kalau belajar masak rendang itu wajib orang padang?” kataku,


“Nggak sih, tapi butuh effort aja kalau awam kayak gw” kata Nayla,


“Namanya juga belajar Nay” kataku,


“Yaudah nanti gw belajar deh!” kata Nayla,


“Kalau nanti masak rendang bareng gw juga gak apa-apa sih, seru kan ke pasar dulu beli bahan-bahan nya, dimasak bareng dan di makan bareng-bareng, ada prosesnya gitu kan gak mesti selalu instan” kataku,


“Mie instan aja mesti di masak dulu Bar” kata Nayla,


“Begitulah hdiup” kataku,


Satu jam dari Jakarta kami berdua sudah sampai di Bogor, aku ngebut bawa mobilnya soalnya cacing di perutku sudah menggelar konser dadakan, daripada berisik lebih baik di redam sama makanan.


Aku segera mengarahkan mobilku menuju rumah makan padang, gak tahu sih rasanya enak atau tidak karena belum kucoba dan gak ada referensi.


Setelah parkir aku dan Nayla segera masuk ke dalam dan memesan, aku memesan rendang dan paru, mau pesan jengkol tapi? yasudahlah! sementara Nayla memesan rendang dan perkedel kentang, dia anaknya kentang banget.


Tak dapat kupungkiri mataku tak sanggup untuk sekedar berpaling dari tatapan Nayla, kami berdua saling menatap namun entah kapan akan saling menetap. Bukan perkara mudah untuku ada di posisi orang ketiga, mungkin ini pertama kalinya, aku takut kena batunya tapi aku yang terlalu dan terlanjur batu untuk terus mencoba memupuk harapanku sendiri, aku mungkin akan kembali jatuh tapi setidaknya hari ini aku sedang berdiri dan melangkah.


Melupakan masa lalu mungkin keharusan yang tak akan utuh sepenuhnya, ketika mencoba melupakan justru selalu teringat, lebih baik acuh dan berusaha menikmati hidup dengan orang-orang yang ada sekarang.


Aku dan Nayla hanya fokus pada menu makan masing-masing, sesekali saling menatap dan tersenyum, aku takut dia keselek kalau aku banyak pertanyaan, lebih baik kubiarkan dia makan dengan tenang.


Waktu makan telah usai karena piring kami berdua sudah terlihat kosong.


“Gimana Nay enak?” tanyaku,


“Enak! piring gw sampe kosong gini” jawab Nayla,


“Syukur kalau gitu, oia Nay gw bayar dulu ya, terus nanti gw ngerokok dulu di luar ya, lo ada yang mau di pesen lagi gak?” tanyaku,


“Nggak Bar gw udah kenyang, lo ngerokok disini aja emang kenapa?” kata Nayla,


“Gw gak suka ngerokok di ruangan Nay, lagian lo kan gak ngerokok, jangan sampe sih” kataku,


“Yaudah nanti gw nyusul ya” kata Nayla,


Aku menghampiri kasir dan membayar makanan yang telah kami kunyah dan telan, tak terlalu mahal cukup bersahabat dengan kantong mahasiswa, setelahnya aku pergi keluar dan mulai menyalakan rokok ku, aku di hampiri penjaga parkir.


“Mau kemana?” tanya penajaga parkir,


“Mau ke daerah cipanas atau sukabumi, mau camping kang” jawabku,


“Oh gitu, asli darimana?” tanya penjaga parkir,


“Asli dari bandung tapi lagi mencari ilmu dan calon jodoh di jakarta, oia kang rokok” kataku,


“Tiasa sunda atuh kang?” (bisa bahasa sunda dong) kata penajaga parkir,


“Tiasa kang” (bisa bang) jawabku,


“Oh muhun, sareng saha kadieu?” (oh iya, sama siapa kesini) tanya penjaga parkir,


“Rerencangan kuliah kang” (sama temen kuliah) jawabku,


“Ah calon kabogoh mereun eta mah” (calon pacar kali itu mah) kata penjaga parkir,


“Duka eta mah masalah waktu we kang” (gak tahu cuma masalah waktu) kataku,


“Di doakeun ku abi sing janteun” (saya doakan semoga jadi) kata penjaga parkir,


“Hatur nuhun doa na kang, asli bogor kang?” (terimakasih doanya, asli bogor) kataku,


“Sami-sami, muhun asli bogor” (sama-sama, iya asli bogor) kata penjaga parkir,

__ADS_1


Tiba-tiba Nayla menghampiriku,


“Ayo Bar jalan” kata Nayla,


“Oia Nay bentar ya” kataku,


Aku membuka pintu untuknya, dia masuk dan menunggu di dalam, segera aku menyusul setelah membayar uang parkir.


“Hayu kang hatur nuhun” (mari bang), terimakasih kataku kepada penjaga parkir,


“Oh muhun sami-sami” (iya sama-sama) jawab penjaga parkir,


Aku dan Nayla meneruskan perjalanan,


“Nay camping mau gak?” tanyaku,


“Lo bener-bener random deh Bar, gw kan gak bawa apa-apa selain baju ganti” kata Nayla,


“Lo tenang aja, alat-alat gw ada di belakang kok, lengkap kok hehe” kataku,


“Lo prepare?” tanya Nayla,


“Emang gw selalu naro alat-alat hiking di mobil, taro kamar kayaknya sempit deh” kataku,


“Aman deh kalau gitu gw mau, nginep dong?” tanya Nayla,


“Ya menurut lo?” kataku,


“Gw harus bilang nyokap dulu” kata Nayla,


“Yaudah lo telepon aja sekarang” kataku,


Nayla menelpon Ibunya untuk memberi tahu kalau dia pergi camping bersamaku, Ibu Nayla mengijinkan, kami merasa senang.


“Kok di ijinin Nay, emang lo pernah camping?” kataku,


“Nyokap gw santai orangnya jadi di ijinin, belum pernah sih ini pertama kalinya” kata Nayla,


“Pengalaman pertama dong ya, semoga menyenangkan dan ketagihan” kataku,


“Gw suka sih wisata alam-alam gitu, tapi gak ada yang ngajakin aja” kata Nayla,


“Ada udang di balik batu kan lo dipertemukan sama gw” kataku,


“Maybe” jawab Nayla,


“Kita ke wandalawangi ini Nay” kataku,


“Kemana aja deh yang penting gw ngerasa aman sama lo” kata Nayla,


“Udah gak zaman kerusuhan jadi aman Nay” kataku,


“Lo mah suka kemana-mana” kata Nayla,


“Gw terlalu kreatif hahaha” kataku,


“Hati-hati disangka gila” kata Nayla,


“Kalau itu mah udah sering Nay, oia Nay mampir dulu di mini market ya nanti beli bahan makanan” kataku,


“Iya gw ikutin lo aja” kata Nayla,


Kami berdua mampir dulu di mini market untuk membeli bahan makanan sebagai persedian untuk menemani walau kami di tempat camping. Setelah semua yang kami butuhkan terasa lengkap kami meneruskan perjalanan ke mandalawangi.


Sesaat sebelum sampai di mandalawangi aku mengambil hp ku dan memberi kabar kepada Niken kalau aku sedang camping, dia pasti ribet kalau tidak di kabari.


Sesampainya di lokasi aku mengurus administrasi agar kami berdua bisa camping, setelah semua selesai kami berdua menuju tenda, karena sebenarnya di tempat camp ini sudah di sediakan tenda jadi tidak perlu repot-repot mendirikan tenda.


“Nay lo istirahat dulu di tenda, takutnya lo capek” kataku,


“Iya Bar gw penegn rebahan dulu” jawan Nayla,


Sementara Nayla beristirahat, Aku bekeliling melihat-lihat ke sekitar sembari merasakan kesejukan udara dan melihat keindahan ciptaan Tuhan.


Beberapa jam berlalu kurasa sudah cukup waktu Nayla beristirahat, Aku membangunkan nya.


“Nay...Nay...bangun udah sore” kataku,


“Hmmmm iya Bar” jawab Nayla,


“Lo bangun tidur aja cakep Nay, oia udah laper belum?” kataku,


“Lumayan Bar, gw cuci muka dulu ya” kata Nayla,


“Yaudah cuci muka di depan aja, sekalian gw mau siapin kompor” kataku,


“Iya Bar” jawab Nayla,


Setelah kompor siap dan menyala Kami berdua bekerja sama untuk membuat hidangan yang akan kami makan bersama, Aku bedoa semoga ini bisa selamanya.


Seneng rasanya bisa nyenengin orang yang aku sayang, walau aku tahu gak selamanya aku bisa menyenangkan, tapi yang terpenting aku selalu berusaha untuk tidak menyakiti.


Hidangan telah siap itu artinya waktu kami untuk makan, walau masakan sederhana tapi terasa luar biasa karena dibuat bersama-sama. Setelah makan aku mengajak Nayla berkeliling dan mengambil beberapa fotonya sebagai kenang-kenangan.


Aku sebenarnya bertanya-tanya, setiap kali aku pergi bersama Nayla pacar nya gak pernah telepon, atau memang gak peduli pacarnya sedang dimana, tapi yaudah lah itu bukan urusanku untuk sekarang ini.


Setelah puas berkeliling kami sepakat untuk kembali ke tenda dan beristirahat. Hari sudah semakin gelap sudah waktunya terlelap.


Tengah malam Nayla terbangun dan membangunkanku.


“Bar...Bar...Bar...bangun” kata Nayla,


“Iya Nay ada apa?” kataku,


“Ngeteh yuk! Sambil ngobrol-ngobrol” kata Nayla,


“Boleh Nay, gw kumpulin nyawa dulu ya” kataku,


Nyawaku sudah terkumpul, aku mulai menyiapkan kompor untuk memasak air, kusiapkan teh untuk Nayla setelah air mendidih. Kami berdua ngobrol di sisa malam, bercerita lebih dalam tentang keluarga dan kehidupan masing-masing. Banyak rahasia yang terungkap dalam percakapan kami, pagi sudah menjelang, sinar matahari mulai menembus tenda kami.


“Nay mau pulang jam berapa?” tanyaku,


“Bentar lagi deh kita tidur dulu gimana?” kata Nayla,


“Mau sarapan gak?” kataku,


“Gausah Bar kita istirahat aja, nanti bangun tidur baru makan” kata Nayla,


Kami berdua sepakat untuk beristirahat, sebelum kembali meneruskan perjalanan atau pulang ke Jakarta.


Tiga jam berlalu, aku terbangun dan menyiapkan makanan untuk Nayla, aku gak tega membangunkannya, jadi kubuatkan dia makanan agar aku punya alasan untuk membangunkan nya nanti. Memasak sendiri sambil bertegur sapa dengan orang-orang sekitar yang juga berada di tempat camp bukan hal buruk.


Setelah semua makanan siap aku mulai membangunkan Nayla,


“Lo baik banget sih Bar, kenapa gak bangunin pas mau masak” kata Nayla,


“Takutnya lo capek, makan yuk abis itu kita pulang” kataku,


“Iya gw cuci muka dulu” kata Nayla,


Seusai Nayla mencuci muka kami berdua segera makan dan berbenah setelahnya untuk siap-siap untuk meneruskan perjalanan atau pulang.


Mengenal lebih jauh sosok Nayla adalah hal yang aku harapkan dan itu bisa kejadian karena ke randomanku, jadi orang yang random juga menyenangkan bisa punya ide kapan aja.


Semua sudah dirasa cukup kami berdua meninggalkan camp dan meneruskan perjalanan, kami sepakat untuk mampir dan berjalan-jalan dulu di bogor untuk sekedar kulineran dan mencari buah tangan.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2