
Selamat pagi, semalam tidurku terasa nyenyak karena kehujanan dan hati yang merasa senang, kuawali pagi dengan empat rakaat, dua rakaat solat sunah sebelum subuh dan solat subuh itu sendiri. Tidurku lumayan bablas jadi tak sempat solat tahajud, kadang kalau kelewat tahajud suka ada penyesalan tersendiri, bagiku seberharga itu solat sunat di sepertiga malam.
Aku mau membeli sarapan, karena Niken suka sekali dengan lontong sayur jadi kuputuskan untuk membeli lontong sayur, aku beli tiga porsi, satu untuku dan dua lain nya akan keberikan pada Niken dan Ibunya, aku senang bisa berbagi seperti ini, semoga pahalanya juga mengalir untuk ayah dan ibuku.
Pulang membeli sarapan aku langsung menuju kamar Niken,
“Tokkkk....tokkk.....tok” suara pintu,
“Ken...Ken” kataku,
“Iya nak Bara, sebentar” jawab Ibu Niken dari dalam kamar,
“Iya ma” jawabku di depan pintu kamar Niken,
Ibu Niken membuka pintu,
“Ada apa nak, Niken nya masih tidur” ucap Ibu Niken,
“Iya gak apa-apa ma, ini Aku beli sarapan buat mama sama Niken” kataku,
“Baik banget, makasih” ucap Ibu Niken,
“Iya mama sama-sama, kalau gitu Aku ke kamar ya ma” kataku,
“Iya nak, sekali lagi makasih banyak ya” ucap Ibu Niken,
Aku menuju kamarku kembali, dan segera memulai untuk sarapan, tapi sebelum suapan pertama berlabuh di mulutku, aku membuat kopi terlebih dahulu biar nanti selesai sarapan kopi ku sudah siap kuminum dalam keadaan yang masih hangat, aku tak suka segala sesuatu yang masih panas karena lidahku mudah rusak dan mati rasa jika memakan dan meminum sesuatu yang masih panas.
Selesai kubuat kopi toraja tanpa gula, kuputar dulu lagu-lagu dari Queen untuk menemani sarapanku, aku memulai suapan pertama sambil kulihat hp ku, ada balasan dari Siti, kutahu dia termasuk morning person.
“Iya Bar gw ke tempat lo, lo jangan berangkat duluan” ucap Siti dalam pesan BBM,
“Iya Ti, gw tunggu ya” kataku dalam pesan BBM,
Suapan demi suapan kukunyah dan kutelan sampai tak terasa semua tinggal kuahnya saja, setelah itu aku naik ke balkon dengan membawa kopi dan rokok ku. Sampai dibalkon mulai kuseruput kopiku sambil kunyalakan rokok ku, pagi di kostan ku sepi, yang lain masih pada tidur, mulai berisik kalau sudah banyak teman-teman dari anak-anak yang ngekost di tempatku.
Hidup ini indah walau hanya dengan hal-hal yang sederhana, masih bisa berbagi dengan yang lain adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku, aku rindu pada keluargaku, tapi masih ada tiga minggu lagi sebelum aku libur dan pulang ke kotaku, Bandung aku segera datang, kuharap engkau pun rindu pada jiwa yang terlahir, tumbuh dan berkembang di atas tanah serta di bawah langitmu yang cerah, walau tak selalu.
Sebatang rokok sudah kuhisap habis, aku menyalakan rokok keduaku, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ke balkon, tenyata itu Mbak Rum yang jaga kostanku.
“Pagi mba Rum” kataku,
“Pagi mas, sendiri aja” ucap mba Rum,
“Iya mba masih sepi kalau jam segini, mau angkat jemur ya mba?” kataku,
“Iya mas, permisi yah” ucap mba Rum,
“Silahkan mba, ngalangin nggak mba?” kataku,
“Nggak mas, luas kok tempatnya” jawab mba Rum,
Balkon kostanku selain untuk tempat nongkrong juga multifungsi sebagai tempat jemur pakaian, du kostan ku memang ada fasilitas laundry yang dikerjakan oleh Mbak Rum dan suaminya jadi gak perlu pusing untuk urusan baju kotor tinggal di taruh di depan kamar dan di tempat yang sudah disediakan oleh pemilik kost.
Kurasa sudah cukup untuk menikmati rokok di pagi hari aku ingin kembali ke kamarku untuk bersiap-siap kuliah.
“Mba Rum Aku kebawah dulu ya” kataku,
“Iya mas” jawab mba Rum,
Aku masih jauh lebih muda daripada Mbak Rum, saking sopan nya dia semua orang di panggil mas, padahal dipanggil nama saja sudah cukup bagiku.
Mulai kuturuni anak tangga dan sampai di kamar, aku ke kamar mandi dulu untuk kembali menggosok gigi, setelahnya aku mulai memilih baju untuk kupakai hari ini, kalau urusan memilih baju aku tergolong orang yang lama untuk memutuskan mau pakai baju yang mana, aku bukan perfeksionis tapi jika memakai baju dan celana yang warnanya gak menabrak itu suatu keindahan tersendiri bagiku, setelah menimbang akhirnya kupilih kemeja warna putih dan celana jeans warna biru dongker yang sudah lama gak kucuci.
Walau aku ribet urusan pakaian tapi aku gak pernah menyisir rambutku, kubiarkan saja terlihat acak-acakan, paling kurapihkan pake tangan, satu yang gak pernah kulupa itu pakai parfum, parfum favoritku dari brand Zara, davidoff dan juga Hugo Boss. Aku boros hanya untuk membeli parfum, dulu semasa sekolah sering kena omel Ibuku karena beli parfum mahal-mahal tapi tetap di kasih uangnya.
Namanya juga orang tua, sedikit rewel dan bawel itu wajar tapi kalau bisa menyenangkan hatinya, jadi anak penurut, walau gak nurut-nurut banget pasti du kasih apa yang memang jadi kebutuhan, tapi urusan parfum itu entah kebutuhan atau keinginan, yang jelas aku suka wanginya.
Siti menghubungiku, tumben dia telepon.
“Apa Ti” kataku dalam telepon,
“Gw mau jalan ke tempat lo Bar” jawab Siti dalam telepon di sisi berbeda,
“Hati-hati lo Ti” kataku dalam telepon,
“Iya Bar, yaudah ya Assalamualaikum” ucap Siti dalam telepon,
“Waalaikumsallam wr.wb.” jawabku,
Kemudian Siti menutup teleponnya, masih heran dia telepon, biasanya di chat aja balesnya lama. Positif thinking aja deh!
Hp ku kembali bergetar kali ini telepon dari Boni,
“Apa ***?” kataku dalam telepon,
“Kata Siti hari ini mau ngerjain tugas, nanti gw ke tempat lo” jawab Boni dalam telepon di sisi lain,
“Tumben amat lo peduli Bon, bukan nya lo udah pasrah dan yakin ngulang mata kuliah semester satu” kataku dalam telepon,
“Bayar kuliah pake keringat sendiri ***, kalau gagal bisa mati gw” jawab Boni dalam telepon di sisi lain,
“Bagus lah kalau lo masih ada motivasi buat lulus mata kuliah semester satu” kataku dalam telepon,
“Yaudah nanti gw ke tempat lo” ucap Boni mengakhiri telepon,
Dasar jailangkung datang tak di jemput pulang tak diantar, tiba-tiba di matiin tanpa pamitan,pantas pacaran udah lama belum disetujuin calon mertuanya, mulutku menghakimi. Emang lidah itu lebih tajam dari pisau, kata-kata itu lebih menyakitkan dari sekedar tertusuk duri, tapi kalau tertusuk duri landak mungkin lebih sakit.
Tiga puluh lima menit kemudian terdengar suara motor Siti, karena kamarku di lantai satu dan persis di depan parkiran, kalau ada suara kendaran yang datang dan yang keluar pasti terdengar sangat nyaring, sangat-sangat mengganggu kalau tengah malam apalagi kalau lagi insom parah, rasanya anjim banget.
Sebelum Siti sempat mengetuk pintu kamarku, aku lebih dulu membukakan pintu untuknya.
“Pagi Ti” kataku,
“Pagi Bar, kok tahu gw yang dateng Bar” ucap Siti,
“Gw dah hafal banget suara motor lo Ti” kataku,
“Hebat juga lo” ucap Siti,
“Yang hebat itu lo Ti, semangat lo buat kuliah itu tinggi banget, yang paling penting semoga lo bisa konsisten kaya gini sampa di tingkat akhir” kataku,
“Aamiin Bar, makasih doanya” ucap Siti,
“Lo mau di luar aja? masuk lah” kataku,
“Oia, bentar gw lepas sepatu dulu” ucap Siti,
“Belajar gila lo mau masuk pake sepatu” kataku,
Siti tertawa...
“Gw seneng banget di kamar lo Bar, wanginya seger” ucap Siti,
“Yang seger itu sayuran sama buah yang baru dipetik Ti, lo udah sarapan?” kataku,
“Belum Bar” ucap Siti,
“Kebiasaan, yaudah lo bikin sarapan gih” kataku,
“Ini yang bikin gw betah nih, sarapan gratis” ucap Siti,
“Sialan lo Ti” kataku,
Siti tersenyum...
Aku suka beli roti tapi jarang makan roti, biarlah Siti yang makan, sesekali aja kalau males keluar baru aku mau makan roti. Siti segera membuat sarapan disamping itu aku mau naik lagi ke lantai dua, nyamper Niken biar gak terlambat, sampai di depan kamar Niken, aku gak mengetuk pintu langsung saja kupanggil namanya.
“Ken....Ken... berangkat bareng gak?” tanyaku depan pintu kamarnya,
“Tunggu Bar gw lagi siap-siap” jawab Niken dalam kamarnya,
“Gw tunggu di bawah ya, dah!” kataku,
“Yaudah iya” jawab Niken dari dalam kamarnya,
Aku segera turun dan kembali ke kamarku, Siti sedang sarapan.
“Makan yang banyak ya nak” kataku,
“Iya pak, makasih loh pak” jawab Siti,
“Sue lo Ti, emang gw bapak-bapak” kataku,
__ADS_1
“Lagi lo manggil gw nak” jawab Siti,
“Lo kayak gw anjir, yang tiap pagi di ingetin sarapan” kataku,
“Itu gunanya lo Bar, hahaha” jawab Siti sambil tertawa,
“Yang penting lo seneng, gw sebagai temen lo seneng juga Ti” kataku,
“Harus dong, kalau lo lagi bete nyebelin soalnya” kata Siti,
“Senyebelin itu emang ya” kataku,
“Selain nyebelin lo juga kadang gak jelas Bar” ucap Siti,
“Dasar anak polos, kalau ngomong asal ceplos” kataku,
“Ups maaf, gw Cuma bilang kenyataan Bar, emang kenyataan itu menyakitkan Bar” ucap Siti,
“Kalau ngomong suka bener lo Ti” kataku,
“Emang kayak gitu hidup mah Bar” ucap Siti,
“Sok you know lo Ti” kataku,
“Emang gitu kan!” jawab Siti,
“Yaudah buruan makannya, jadwal gw lagi padat hari ini” kataku,
“Sok sibuk lo Bar, cuma kuliah doang aja” ucap Siti,
“Gini-gini gw banyak jadwal Ti” kataku,
“Paling main sama Niken, atau sama gebetan lo” ucap Siti,
“Nanti gw ajak kesini, gw kenalin ke lo Ti, asik kok anaknya” kataku,
“Asik kan menurut lo bro” ucap Siti,
“Beneran deh, entar lo rasain sendiri, jangan jealous ya” kataku,
“Dih ngapain juga, kepedean deh lo” ucap Siti,
“Yaudah buruan makan nya, lama lo” kataku,
“Gw keselek kalau makan buru-buru” ucap Siti,
“Kalau pelan-pelan saja mah lagu Ti” kataku,
“Suka nyambung lo Bar” ucap Siti,
“Sindiran lo alus juga Ti” kataku,
“Namanya juga jago sarkas” ucap Siti,
“Iya deh Siti solehah, tapi lebih seru kalau lo solehot” kataku,
“Sialan, yang solehot kan banyak, gw mah limit edition” ucap Siti,
“Semoga ya Ti” kataku,
“Gak ikhlas banget kalau gw jadi makhluk langka” ucap Siti,
“Lo bukan langka, tapi purba” kataku,
“Pedih Bar, kata-kata lo” ucap Siti,
“Sakitnya tuh disini ya Ti” kataku sambil kepugang dada sebelah kiri,
“Bukan cuma disitu Bar, tapi sampai juga ke otak dan nadi” ucap Siti,
“Lebai deh lo” kataku,
“Namanya juga gw Bar” ucap Siti,
“Suka-suka lo, mulut gw berbusa nih” kataku,
“Kalau ini lo yang lebai Bar” ucap Siti,
“Virus lo cepet banget nyebar Ti, bagus kalau lo jadi influencer” kataku,
“Doa baru lagi tuh Bar, Aamiin, makasih ya” ucap Siti,
“Aamiin” jawabku,
Disela-sela saat aku sedang bercakap-cakap dengan Siti, tiba-tiba ada sosok fenomenal yang berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka, sosok itu berasal dari Surabaya dan keturunan Bali, nama lengkapnya Niken Hapsari, mataku langsung menatap kearahnya.
“Masuk sini Ken, ngapain lo berdiri doang disitu” kataku,
“Iya, btw kata nyokap makasih udah dibeliin sarapan” ucap Niken,
“Nyokap lo doang yang bilang makasih, lo nggak?” kataku,
“Yaudah otomatis, sekalian sama gw juga” ucap Niken,
Niken masuk ke kamarku, dan rebahan lagi.
“Malah rebahan, masih ngantuk lo” kataku,
“Masih lah” ucap Niken,
“Inget Ken kuliah” ucap Siti,
“Males gw kalau kelas pagi” jawab Niken,
“Ah lo mau emang males mulu” kataku,
“Enak aja! gw juga ada rajin-rajinnya kali” ucap Niken,
“Rajin menabung dan tidak sombong” kataku,
“Itu lo tahu” ucap Niken,
“Yah terbang deh” kataku,
“Ayo jalan ke kampus, keburu gw ketiduran lagi” ucap Niken,
“Ayo, ayo Ti” kataku,
Aku, Siti dan Niken berangkat ke kampus, udah kaya trio kwek-kwek, kemana-mana terlihat bertiga kalau di kampus. Kami bertiga langsung menuju ke depan kelas, sudah ramai teman-temanku yang lain.
“Sabi nih Bar” ucap Jojo,
“Sabi Jo, tapi bukan yang dua ini ya, banyak yang lain” jawabku,
“Ngeri lo mah Bar” ucap Jojo,
“Daripada lo ngeribetin Jo” kataku,
“Bangke lo Bar” ucap Jojo,
“Belum lah, masih nafas gw Jo” kataku,
“Atur sebrengsek lo Bar” ucap Jojo,
Sesaat kemudian dosen kami datang, kami semua langsung masuk ke dalam kelas, aku duduk di belakang di barisan cowok-cowok jomblo akut yang beraninya ngeliatin cewek doang, gak ada nyali buat kenalan, usaha mau sedikit tapi menangnya mau banyak, karakter negeri plus enam dua banget.
“Bar gw main lah ke tempat lo” ucap Stanley,
“Main lah, lo aja kupu-kupu” kataku,
“Cewek gw anak luar, jadi gw kayak kupu-kupu,
padahal gw main di kampus cewek gw” ucap Stanley,
“Makanya lo main-main sama anak komplek” kataku,
“Komplek mana tuh, kostan lo banyak ceweknya Bar?” tanya Stanley,
“Cewek mulu otak lo” kataku,
“Sambil menyelam nangkep ikan lah Bar” ucap Stanley,
“Yang ada sambil menyelam munum air, terus lo kelelep dah” jawabku,
__ADS_1
“Anjir lo Bar” ucap Stanley,
“Lo genit amat udah punya cewek” kataku,
“Justru itu enaknya punya cewek beda kampus” ucap Stanley,
“Ribet anjir, rawan selingkuh, jangan-jangan cewek lo selingkuh Stan” kataku,
“Lo suka ngadi-ngadi” ucap Stanley,
“Siapa tahu kan” kataku,
“Tapi ada benernya juga ya, nanti gw cek hp nya deh” ucap Stanley,
“Masih aja posesif lo Stan” kataku,
“Jaga-jaga, omongan lo ada bener juga, curiga itu kan harus ada” ucap Stanley,
“Cewek mah gimana lo nya lah, yang jelas balasan cewek itu selalu menyakitkan” kataku,
“Pengalaman pribadi lo mah” ucap Stanley,
“Gw mah ngasih tahu yang bener” kataku,
Agaknya nasib sial hampir menghampiriku, tak sadar sedang asik mengobrol tiba-tiba dosenku berdiri tepat di depanku.
“Saya perhatikan kamu ngobrol terus, kalau mau ngobrol kamu diluar saja” ucap dosenku,
“Maaf pak, saya masih mau ngikutin mata kuliah bapak” kataku,
“Saya lihat kamu ngobrol lagi, kamu saya keluarkan dari kelas saya” ucap dosenku,
“Baik pak, saya gak akan ulangi, maaf ya pak” kataku,
“Kamu juga ngobrol terus” ucap dosenku menunjuk pada Stanley,
“Iya pak maaf” ucap Stanley,
“Kali ini saya kasih kesempatan, besok-besok langsung saya keluarkan” ucap dosen,
Kemudian beliau ke depan kelas, dan mengatakan.
“Kalau ada yang ketahuan ngobrol di mata kuliah saya, silahkan di luar saja!” ucap dosen memberi pengumuman dan sedikit ancaman.
Aku masih beruntung gak jadi di keluarkan, memang Pak Har ini keras orangnya tapi kuyakin di dalam lubuk hatinya yang terdalam masih ada rasa kasian apalagi pada mahasiswa sepertiku, yang rajin masuk kalau sedang tidak malas.
Setelah teguran itu kelas berlangsung dengan kondusif, aku pindah tempat duduk ke depan, kemudian...
“Kamu duduk di situ terus ya setiap mata kuliah saya” ucap dosenku,
“Baik pak” jawabku,
Ternyata ini nasib sial beneran, aku jadi di tandai padahal baru ketahuan ngobrol kali ini, temanku yang mendapat giliran presentasi memulai presentasinya, aku perhatikan dan dengarkan dengan baik, sampai tiba pada waktu diskusi, aku tipe orang yang enggan bertanya kalau tidak penting lebih baik aku cari tahu sendiri, membaca dan menggali setiap materi, kecuali kalau Aku benar-benar tidak paham sama sekali, seperti di kelas filsafat pasti aku banyak tanya.
Dua setengah jam kemudian kelas berakhir, lega rasanya keluar dari tekanan di kelas ini, aku ingin langsung ke kostan, karena aku harus menjemput Nayla, aku mengajak Siti dan Boni ke tempaku, Niken katanya mau di kampus sama teman-temanku yang lain.
Aku, Boni dan Siti berjalan ke kostanku, tiba di kostan aku langsung memanaskan motorku.
“Bon, Ti lo berdua disini aja ya, gw mau pergi bentar” kataku pada Boni dan Siti,
“Paham gw mah Bar” ucap Siti,
“Paham apaan Ti?” tanya Boni,
“Kepo lo Bon, urusan anak muda, lo orang tua diem aja” ucap Siti,
“Lo ketularan si Bara Ti lama-lama” ucap Boni,
“Udah jangan pada ribut, gw jalan dulu” kataku,
Setelah motorku panas, aku segera menuju ke rumah Nayla, kurasa akan memakan waktu tiga puluh menit karena aku pasti ngebut, ngebut beraturan, menempuh perjalanan dengan rasa bahagia, aku sampai juga di depan rumah Nayla, baru sampai dan mau menekan bel namun Nayla ada di depan menghadap laptopnya.
“Nay” kataku,
“Masuk Bar” jawab Nayla,
Aku segera masuk melewati pagar rumah Nayla yang tidak di kunci,
“Lo lagi ngapain Nay” tanyaku,
“Gw lagi ngecek-ngecek tugas Bar” jawab Nayla,
“Rajin sekali lo Nay” kataku,
“Harus Bar, kan gw mau ke amerika suatu saat nanti” ucap Nayla,
“Aamiin, gw doain cita-cita lo terwujud” kataku,
“Lo emang gak mau nemenin gw ke amerika Bar?” ucap Nayla,
“Kalau ditanya mau jawaban gw mau, tapi” kataku,
“Tapi apa?” tanya Nayla,
“Banyak pertimbangan aja” kataku,
“Tandanya lo belum mau Bar” ucap Nayla,
“Lebih tepatnya belum kepikiran dan belum siap, gak tahu kalau nanti, ya lo duluan aja nanti gw susul” kataku,
“Kalau gw duluan gw sendiri dong” ucap Nayla,
“Emang lo gak mau ya kerja di Indo aja” kataku,
“Ya gw kerja di Indo dulu, siapa tahu kan kalau karir gw berkembang gw bisa di gaji pake dollar” ucap Nayla,
“Kalau urusan di gaji pake dollar kayanya di Indo juga bisa deh Nay, lo ngelamar aja ke kedutaan” kataku,
“Gak segampang itu kali Bar” ucap Nayla,
“Semua tergantung usaha lo Nay, semangat!” kataku,
“Pastinya Bar, tapi lo cepet banget kesininya” ucap Nayla,
“Biar ngobrol dulu sama lo, kalau mepet-mepet nanti lo telat lagi” kataku,
“Santai aja, dosen gw mah gak masalahin kalau telat-telat” ucap Nayla,
“Enak banget kalau gitu” kataku,
“Eh iya Bar, mau makan gak?” tanya Nayla,
“Gw masih kenyang Nay” kataku,
“Gw yang masak loh, yaudah di bekel aja ya, lo tunggu sini gw siapin sama gw juga mau ganti baju” ucap Nayla,
“Gausah repot-repot Nay” kataku,
“Gak kok, tunggu ya” ucap Nayla,
Beberapa menit kemudian Nayla keluar dari rumahnya, dia benar-bebar membawakanku bekal.
“Ini bekelnya Bar, dimakan ya, buat makan siang” ucap Nayla,
“Makasih Nay, repot banget” kataku,
“Sama-sama Bar, jalan yuk!” ucap Nayla,
“Ayo!” jawabku,
Setelah kukenakan helm untuk Nayla, kami segera menaiki motor dan mulai jalan menuju ke kampus, senang rasanya bisa seperti ini sama Nayla, tapi ucapan Nayla soal amerika cukup mengganggu pikiranku.
Dalam perjalanan,
“Nay lo mau langsung ke kampus apa ke tempat gw, di tempat gw ada temen gw sih” kataku,
“Gw langsung ke kampus aja, gw malu Bar kalau ada temen-temen lo” ucap Nayla,
“Yaudah oke” kataku,
Tiga puluh menit kemudian aku dan Nayla sampai di depan kampus, setelah kupastikan Nayla masuk ke dalam kampus aku segera menuju kostanku.
“Nay gw di kostan ya” kataku,
__ADS_1
“Iya Bar, sampai nanti” ucap Nayla,
Setelah kulihat lambaian tangan Nayla aku segera menuju kostanku, membersihkan badan, ganti baju, kemudian aku beristirahat.