
Aku dulu benci sama yang namanya orang ketiga, apalagi ke empat, masih polos jadi mikirnya kalau hubungan itu ya antara dua orang aja, komitmen banget buat menjaga suatu hubungan, taunya ada main dibelakang. Kalau kata The Changcuters sih main serong.
Sadar atau tidak saat ini aku sedang menjadi manusia bayangan dalam hubungan dua manusia yang masih saling sayang atau hanya salah satunya saja, kalau bisa baca hati orang seru juga, tapi itu hanya bisa dilakukan oleh Tuhan, manusia cuma bisa sok tahu saja.
Aku juga sering sotoy, ya sotoy bogor, sotoy ambengan, sotoy kudus, dan lain sebagainya, itu hanya sebagian dari nama-nama sotoy yang bisa kalian makan kalau lapar. Eh maksudku nama-nama soto, itu si y di hapus aja, mereka populer di masaku, kalau di masa kalian gimana? Masih sama atau ada yang beda? Boleh nanti kalian kasih info ya kalau ada update.
Orang ketiga sama setan itu sama atau tidak? Yang jelas sama-sama jahat kali ya, kalau menurutku bedanya setan itu menyesatkan, orang ketiga itu mengenakan, enak bagi yang satu dan sakit bagi hati yang lain, aku juga pernah banget si tiga in atau di empat in, gak tahu dan udah gak mau nyari tahu lagi.
Manusia itu di takdirkan punya bayangan, kalau di kejar makin jauh, kalau balik arah dia ngikutin sendiri, Nayla lagi balik arah jadi ku ikuti sebagai bayangan, kalau dia butuh aku ada, kalau aku butuh dia lagi sama pacarnya, resiko tanggung sendiri.
Aku gak tahu ini apa namanya, sayang sendirian? Masih terlalu dini untuk menyimpulkan, semua masih abu-abu, nanti kuwarnai menjadi merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Seperti warna pelangi, aku ingin kelak Nayla menjadi pelangi, pelangi bagiku yang sempat di terpa oleh badai.
Aku belum begitu mengenal Nayla tapi merasa sudah bisa menjadi segalanya, secepat ini kah? Atau hanya rasa semu yang kemudian akan pergi, kuharap hatiku tetap untuknya tanpa peduli hatinya untuk siapa.
Sejahat inikah kehidupan? Atau hanya aku sendirian yang hidup dihantui rasa dendam, aku tak ingin menyakiti tapi tak bisa membohongi hati, bukankah seringkali kita harus mengikuti apa kata hati? Benarkah apa yang sedang aku perjuangkan? Bisa saja aku sedang menunda rasa sakit atau menunda untuk memberi rasa sakit.
Sejauh mana aku bisa bertahan? Atau justru dipertahankan? Tidak ada pembenaran atas apa yang sedang aku lakukan.
Aku sedang dalam kelas tapi sibuk sendiri ditengah keramaian, hanya pikiranku yang ramai mencari masa untuk bertarung dengan hati yang belum juga damai.
Tiba-tiba ada Suara,
“Bar lo kenapa? Bengong terus” tanya Siti,
“Eh apa Ti? Lo ngomong apaan?” kataku dengan wajah yang sedikit bingung
“Sebegitu bengongnya lo Bar, sampe gak ngeuh” kata Siti,
“Iya sorry gw lagi ada perdebatan antara hati dan akal sehat!” kataku,
“Lo sakit?” tanya Siti,
“Keliatan nya?” tanyaku,
“Tubuhnya sih keliatan sehat, mental lo mungkin yang lagi sakit, lo gak mau cerita?” ucap Siti,
“Gitu ya? nanti kalau udah jelas ya Ti” kataku,
“Emang sekarang remang-remang?” kata Siti,
“Lampu di pinggir rel kereta jatinegara kali remang-remang” kataku,
“Lo emang gak pernah bisa serius dikit” kata Siti,
“Kalau gw serius entar lo naksir gak ketolong” kataku,
“Masih aja usaha” kata Siti,
“Kan sambil menyelam nyari ikan” kataku,
“Iya kalau lo gak kelelep Bar” kata Siti,
“Gak apa-apa juga kalau nantinya gw kelelep di hati lo hehe” kataku,
“Kok ada orang senyebelin lo Bar” kata Siti,
“Emang nyebelin ya? maaf ya!” kataku,
“Gw maafin tapi ada syaratnya” kata Siti,
“Emang kalau sayang butuh syarat Ti?” tanyaku,
“Butuh lah, masuk kuliah aja ada syaratnya!” kata Siti,
“Sama ya sayang sama kuliah?” kataku,
“Sama, sama-sama butuh syarat walau beda!” kata Siti,
“Biarkan beda Ti, karena hidup gak mesti sama” kataku,
“Dasar manusia aneh!” kata Siti,
“Lo capek sendiri ya? Roaming kalau ngomong sama gw” kataku,
“Provider kali ah!” kata Siti,
“Gw lagi jadi bayangan nih Ti, tapi bukan Batman” kataku,
“Batman juga ogah kali di samain sama lo” kata Siti,
“Yaudah gw jadi gatotgaca aja deh Ti” kataku,
“Mending lo jadi diri sendiri Bar” kata Siti,
“Masalahnya gw lagi cari jati diri Ti” kataku,
“Emang ilang dmn?” tanya Siti,
“Kok lo jadi ketularan gw si” kataku,
“Tiap hari ketemu lo, lo kan pengaruh buruk” kata Siti,
“Cara jadi baik gimana?” kataku,
“Dengerin kalau dosen lagi jelasin, jangan bengong!” kata Siti,
“Kalau itu kan bisa lo handle sebagai asisten gw yang baik hati” kataku,
“Enak aja lo!” kata Siti,
“Kalau gak enak ya jangan di terusin, gampang kan?” kataku,
“Udah nanti kita dikeluarin kalau ketahuan ngobrol!” kata Siti,
“Asik kali Ti bisa nongkrong kalau di keluarin” kataku,
“Gak asik!” jawab Siti (jutek),
“Jangan jutek nanti lo gak cantik lagi” kataku,
“Suka-suka lo aja Bar” kata Siti,
“Marah beneran?” tanyaku,
__ADS_1
“Ssssssstttttt, diem!” kata Siti,
“Lo yang gak asik!” kataku,
“Berisik!” sambung Siti,
Kelas memang sedang berlangsung tapi sayang nya gak ada siaran langsung, seru kali ya kalau kelas di siarin langsung di televisi, semua orang kan jadi tahu kegiatannya apa aja, tapi kehidupan selebrity jauh lebih menarik daripada dunia pendidikan.
Katanya pendidikan itu penting, pertanyaan nya mengapa dan bagaimana? Jawab sendiri-sendiri aja deh kan gak boleh nyontek, kalau ketahuan nyontek bisa di robek.
Tiga puluh menit kedepan kelas akan segera berakhir, aku akan keluar kelas tanpa sepatah kata pun dan gak akan bilang ke siapa-siapa kalau mau jemput Nayla, ada notif si hp ku, ternyata dari Niken.
“Bar lo tega banget ninggalin gw tadi pagi” ucap Niken dalam chat BBM,
“Ya maaf kan kita gak sekelas, gw sengaja juga, gw pikir lo yang mau nyamper ke kamar gw, kan gw males naik lagi ke atas” jawabku dalam chat BBM,
“Oke deh kita end” kata Niken dalam chat BBM,
“ngambekan, malesin!” kataku dalam chat BBM,
Niken lagi kesel, tapi nanti juga baik sendiri, apalagi kalau lagi ada maunya, pasti yang tadinya ngambek langsung jadi angel yang sayapnya belum numbuh.
Nunggu tiga puluh menit tuh udah berasa lama banget, Akhirnya kelas bubar juga, aku segera pulang ke rumah kost untuk siap-siap jemput Nayla. Yang gak boleh lupa itu harus wangi, wangi banget sampe orangnya udah gak ada tapi wanginya masih kecium terus.
Aku menyiapkan kendaraanku untuk segera menjemput Nayla, kalau nanti misalkan cowoknya juga jemput, aku udah siap untuk bentrok tipis-tipis. Jarak dari kostku ke rumah Nayla gak begitu jauh jadi kalau misal dia minta jemput terus aku akan dengan senang hati untuk menjemputnya. Daripada kelamaan aku segera berangkat. Ngebut apa pelan-pelan ya? Enam puluh km/jam cukup deh kayaknya, jadi ga terlalu ngebut dan gak terlalu pelan. Baca Doa dulu deh sebelum berangkat biar selamat sampai rumah Nayla.
Perjalanan dimulai, kuputar dulu playlist kesayanganku. Akhir-akhir ini aku lagi suka dengerin lagunya The Beatles yang berjudul Blackbird, kuputar berulang-ulang aja sampe nanti sampai di rumah Nayla.
Hai Jakarta, kapan sih anda bebas macet? Jaraknya deket loh ini, kok bisa jadi selama ini perjalananku, macet pun gak berasa kalau mau ketemu orang yang bikin hati berbunga-bunga, sempat sih mikir apa aku terlalu cepat ya menjatuhkan hati pada orang yang baru saja hadir, hanya ke khawatiranku yang berlebihan saja, sembari menjaga diri agar tak mengulang luka yang sama, walau kutahu sudah pasti sakit sebelum waktunya.
Aku tak menghubungi Nayla sebelum aku jalan, biar jadi kejutan kalau aku memang serius, ya serius untuk mendekat, menjaga, dan meyangangi. Tapi belum bisa berkomitmen entah sampai kapan. Sampai juga di rumah Nayla, aku segera menekan bel rumahnya, ternyata bukan Nayla yang membukakan gerbang, ibunya mungkin karena aku belum pernah ketemu, hanya tebakanku soalnya mukanya mirip.
“Cari siapa nak?” ucap ibu Nayla
“Saya mau ketemu Nayla tante, ada? Oia tante namaku Bara” kataku,
“Masuk nak, duduk dulu, nanti ibu panggilkan Nayla” kata Ibu Nayla,
Ibu Nayla masuk ke dalam rumahnya dan memamnggil Nayla, sementara aku duduk di depan rumah Nayla sambil menikmati keindahan bunga-bunga yang sedang mekar. Beberapa saat kemudian Nayla keluar.
“Eh Bar kok cepet banget nyampenya, gak ngabarin dulu lagi, kan gw belum siap-siap” ucap Nayla,
“Kan gw udh bilang mau jemput, yaudah gw jalan aja, kalau lo gak ada ya gw tinggal balik lagi, simpel kan” kataku,
“Segitunya Bar, tunggu ya gw siap-siap dulu, tapi kelas gw masih lama sih” kata Nayla,
“Pasti gw tungguin, kan gw udah sampe sini” kataku,
“Oia mau minum apa?” tanya Nayla,
“Apa aja asal jangan pake sianida ya” kataku,
“Gw gak sejahat dan setega itu juga Bar” kata Nayla,
“Tapi kalau pake formalin boleh deh Nay” kataku,
“Bener ya?” kata Nayla,
“Jangan dong nanti banyak yang sedih” kataku,
“Jangan sampe sedih dong, biar cantiknya gak pudar” kataku,
“Bedak yang pudar!” kata Nayla,
“Cinta juga bisa pudar kok Nay” kataku,
“Bisa tapi jangan sampe pudar kalau yang satu itu” kata Nayla,
Aku menarik nafas dalam,
“Kenapa Bar, kayanya berat banget?” tanya Nayla,
“Nggak, kan gw gak lagi angkat beban, enak udaranya sejuk Nay” jawabku,
“Ah ngeles aja, gw ambil minum dulu ya” kata Nayla,
Beberapa saat kemudian Nayla membawakanku secangkir air yang belum tahu apa isinya, karena belum kucoba,
“Bar ini minumnya, cobain deh teh grey tea, gw suka wanginya tapi rasanya lebih pait sih” kata Nayla,
“Yah ga seru udah di kasih tahu duluan rasanya” kataku,
“Gw siap-siap ya, kalau mau ngerokok-ngerokok aja, santai” kata Nayla.
Sudah habis sebatang rokok ku Nayla belum keluar juga, baru mau bilang lama tapi dia keluar.
“Ayo jalan Bar” ucap Nayla,
“Gw pamit nyokap lo dulu” kataku,
“Yaudah ayo masuk gw anterin” kata Nayla,
“Tante kita berangkat dulu ya” kataku,
“Iya nak, hati-hati ya di jalan nya” jawab ibu Nayla,
“Iya tante, makasih” kataku sambil mencium tangan dan salam,
“Ayo Bar!” kata Nayla,
“Ayo Nay!” jawabku,
Aku dan Nayla segera menuju ke kampus tercinta, tapi baru sebentar jalan Nayla berbisik,
“Bar gw sebenernya lagi males ke kampus, kita jalan aja gimana?” ucap Nayla,
“Yah sesat deh lo Nay, tapi ide bagus sih” jawabku,
“Kita nonton aja gimana?” kata Nayla,
“Boleh tapi jangan nonton film korea ya, nanti ketularan bucin” kataku,
“Yaudah liat nanti aja di bioskop” kata Nayla,
__ADS_1
“Eh iya Nay gw baru inget, gimana kalau kita nonton The Book Of Eli” kataku,
“Film tentang apa?” tanya Nayla,
“Tentang kacaunya dunia Nay” jawabku,
“Kok lo tahu?” udh nonton emang?” tanya Nayla,
“Belum baru liat trailernya aja” jawabku,
“Boleh deh” kata Nayla,
“Oke berangkat, tapi mau nonton dimana?” tanyaku,
“Di gandaria aja mau gak?” kata Nayla,
“Boleh Nay” kataku,
Aku dan Nayla gak jadi ke kampus malah tersesat menuju salah satu mall, hidup emang gak bisa ditebak, rencana nya kemana tapi bisa belok di tengah perjalanan, untuk bisa lebih dekat dengan Nayla memang harus ada sesuatu yang di korbankan lagian masih bisa titip absen.
“Emang gak apa-apa Nay kalau bolos gini?” tanyaku,
“Gak apa-apa asal jangan tiap hari aja” jawab Nayla,
“Kalau tiap hari ya udah ga niat kuliah dong Nay” kataku,
“Masih niat kok gw Bar, cuma lagi males aja” jawab Nayla,
Macet sih emang udah dimana-mana tapi nikmat kalau macetnya sama crush, dunia serasa milik bersama, kalau milik berdua terlalu egois dan ga mungkin juga.
Setelah berjuang menghadapi kemacetan, akhirnya sampai juga di parkiran.
“Nay mau makan dulu apa mau nonton dulu” tanyaku,
“Nonton dulu aja kan bisa beli makanan, lagian gw belum pengen makan” kata Nayla,
“Gw sih apa kata ibu peri aja deh” kataku,
“Gombal banget!” kata Nayla,
“Tipis-tipis boleh lah” kataku,
“Hmmmmmmm” jawab Nayla,
Aku dan Nayla segera menuju bioskop untuk membeli tiket, setelah mengantri kami pun dapat tiketnya, dan segera membeli makanan ringan sambil menunggu panggilan teater telah dibuka, durasi filmnya hampir dua jam, cukup lah untuk sama-sama kedinginan di dalam.
Pikiranku berkata, “oh begini rasanya jadi manusia bayangan”.
Setelah mendapat panggilan dari mba-mba cantik dalam speaker, aku dan Nayla segera masuk ke dalam teater dan mencari tempat duduk yang sudah kami pesan di baris ke empat dari belakang dan dekat dengan jalan biar bisa cepet keluar. Kita belum pacaran jadi belum milih tempat duduk yang di pojok-pojok, gak tahu kalau nanti tapi jangan deh serem.
Dunia ini ternyata akan kacau pada akhirnya, dan manusia jadi canibal, tapi gak harus nunggu akhir dunia untuk melihat manusia menjadi canibal, karena pada zaman ini pun sudah terlahir manusia yang canibal, biasanya teman makan teman, itu termasuk canibal atau tidak?
Di dalam teater seperti biasa akan dingin, mau di peluk tapi belum punya muhrim, jadi meluk diri sendiri aja dulu sampe nanti ada yang diperbolehkan untuk memeluk satu sama lain, dua jam itu terasa cepet kalau kita menghabiskan waktu dengat orang yang dianggap tepat.
Selesai menonton kami berdua cari tempat makan sesuai dengan selera Nayla, kalau sih ikut aja, makan apa aja bisa yang penting halal.
Makan dan ngobrol adalah dua hal yang selalu beriringan, sesaat setelah perut terisi dengan sempurna kami memutuskan untuk pulang.
“Bar pulangnya ke tempat lo dulu ya, malem aja lo anterin gw ke rumah” ucap Nayla,
“Iya boleh Nay, emang lo gak apa-apa?” tanyaku,
“Gak apa-apa kok!” kata Nayla,
Menempuh perjalanan lagi, macet-macetan lagi, tapi seneng.
Sampailah kami berdua di rumah kost ku, kami bercerita satu sama lain sampai lebih jauh mengenal, aku harap akan seperti ini terus sampai nanti, sampai gak tahu kapan ujangnya, tapi bukan cuma aku kuharap Nayla pun begitu.
Waktu memang di set lebih cepat berjalan dari biasanya, sudah malam dan waktunya mengantar Nayla pulang.
“Nay gw anterin pulang yuk! “ kataku,
“Iya Bar ayo, gw masih betah sih” kata Nayla,
“Besok-besok bisa main lagi kok, sekarang pulang dulu ya” kataku
“Ayo Bar” kata Nayla,
“Ada yang ketinggalan gak? tanyaku,
“Gak ada Bar” jawab Nayla,
“Ada Nay, jejak lo tuh” kataku,
“Kalau itu mah pasti membekas Bar” kata Nayla,
“Pedenya kebangetan” kataku,
“Daripada minder nanti repot sendiri” jawab Nayla,
“Ayo Nay makah gak jalan-jalan nanti” kataku,
“Iya ayo Bar!” kata Nayla,
Masih hal-hal standar setelah mengantar Nayla aku langsung pulang, gak mau mampir kemana-mana karena cukup menyenangkan hari ini bisa sama pergi bersama Nayla, walaupun sesat tapi di bisa di maafkan.
Aku tidak mau mikir apa-apa lagi, takut insom dan overthinking jadi kuputuskan untuk mandi dan tidur, selamat malam sampai jumpa esok hari dan seterusnya.
__ADS_1