
Beberapa hari berlalu setelah perjalan menyenangkan bersama Nayla, sampai hari ini senyumnya masih selalu terbayang, raut muka ketika ia terbangun dari tidurnya masih sangat hangat di ingatanku. Semua tentang Nayla terasa sangat indah saat ini, namun dibalik semuanya bisa jadi ada hati yang merasa terganggu bahkan tersakiti.
Aku sadar semua ini salah, tapi cinta tak pernah bisa disalahkan, semua mengalir dengan sendirinya, sekuat apapun logika ku berusaha mengontrolnya pada akhirnya akan kalah jika sudah menyangkut urusan hati, tak banyak laki-laki yang pakai hati, aku hanya salah satu yang mengingkari kalau logika lelaki lebih kuat dari rasa dan kata hati.
Kepekaanku terhadap orang lain cukup tinggi, tapi soal yang satu ini aku ingin egois, aku butuh sosok Nayla sebagai teman berbagi, berdiskusi, partner untuk sama-sama bertumbuh perlahan menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Menjalani kehidupan dan rutinitas di kota ini bukan hal yang mudah, semua hanya terlihat indah, gedung-gedung tinggi, tempat-tempat yang terlihat anggun dan mewah banyak di kota ini, tapi yang bisa menikmatinya? Kita hanya butuh jujur bahwa tak semua kalangan bisa menikmati hal-hal yang terlihat indah dan mewah.
Arus untuk menjadi orang yang tidak baik jauh lebih kencang ketimbang arus untuk menjadi orang baik, semuanya tergantung pada pondasi pribadi setiap individu, menyerah dan kalah, atau berdiri, merangkat, berjalan dan berlari mengejar mimpi.
Harapanku di kota ini cukup besar, terlebih pundaku yang terasa berat karena menjadi harapan orang tua dan keluarga, semua tak bisa diraih dalam waktu yang singkat, biarlah kerasnya kota ini yang akan memupuk, menempa, dan menghantam kepribadian dan pemikiranku.
Hidup ini terlalu kompleks dan rumit untuk bisa selalu dimengerti, banyak hal yang tidak cocok tapi terjadi, ingin dan butuh tak pernah bisa berkompromi, sutradara dalam panggung dan layar lebar ini telalu kuasa, kita hanya perlu mamainkan peran yang diberikan dengan baik dan sepenuh hati, agar suatu hari nanti saat kita menonton tayangan ulangnya kita bisa tersenyum dan bangga.
Aku harus pergi kuliah, walau sebenarnya aku tak cukup paham betul soal arti dan fungsi pendidikan, mungkin ini hanya proses yang suatu hari nanti baru bisa kupetik hasilnya, katanya gambaran ilmu tertinggi adalah akhlak dan manusia itu dipengaruhi oleh hati, jika hatinya baik maka seluruhnya akan baik.
Sudah hampir jam delapan pagi, aku harus naik ke lantai dua membangunkan sahabat kesayangan, cewek ribet, manja dan kadang gak tahu diri.
Took...toookkk....tokkkk! (suara pintu)
“Assalamualikum calon ukhti solehah” kataku,
Suara pintu terbuka,
“Waalaikumsalam” jawab Niken,
“Tumben udah bangun, udah rapi” kataku,
“Kata lo gw calon ukhti solehah” kata Niken,
“Udah bisa ya sekarang” kataku,
“Iya dong, bergaul mulu sama lo” kata Niken,
“Entar di gaulin lo nangis!” kataku,
“Mau sarapan gak?” tanya Niken,
“Mau dong!” jawabku,
“Yaudah lo masuk dulu, gw bikinin sarapan, tapi jangan di komen ya, gw lagi belajar masak nasi nasi goreng nih” kata Niken,
“Kemajuan yang pesat, curiga nih gw” kataku,
“Gw kan cewek, masa gak bisa masak sama sekali” jawab Niken,
“Bagus kalau lo udah nyadar! selama ini lo kemana aja? ketiduran? Hahaha” kataku,
“Ngeledek mulu, di support kek temennya udah ada kemajuan” jawab Niken,
“Iya gw support, perlu gw bantu gak?” kataku,
“Jangan dong, ini harus original gw yang bikin, enak gak enak lo harus abisin” kata Niken,
“Dih maksa!” kataku,
“Gak mau tahu, pokoknya abisin” kata Niken,
“Iya gw abisin” kataku,
“Yaudah tunggu” kata Niken,
Niken pun mulai memasak dengan menyiapkan bahan-bahan, mengiris bawang, mengocok telur, menyalakan kompor dan memanaskan minyak dalam sebuah teplon, aku hanya melihatnya, seneng liat dia ada perubahan tapi pasti ada maunya, aku hanya menunggu dia nanti minta apa.
“Bisa gak sih? kayaknya gak meyakinkan gitu” kataku,
“Belum juga jadi lo udah komen aja, namanya juga masih belajar” jawab Niken,
“Oke gw diem” kataku,
Melihat dari cara masaknya berantakan banget, gak tahu rasanya bakal kayak gimana, aku cukup mengapresiasi kemauan nya Niken,
Lima belas menit kemudian,
“Ini Bar cobain, inget jangan komen jahat” kata Niken,
Suapan pertama,
“Aduh panas banget deh” kataku,
“Orang baru dituang nasinya, tiupin dulu dong!” kata Niken,
“Hmmmmm enak, tapi ada yang kurang” kataku,
“Tuh kan, lo mah gitu” kata Niken,
“Ya kurang kerupuk maksud gw, lo suudzon aja” kataku,
“Beneran enak” kata Niken,
“Sini gw suapin biar lo juga tahu rasanya” kataku,
Aku menyuapi Niken, dan dia mulai merasakan masakannya sendiri.
“Wih kalau ini sih enak banget” kata Niken,
“Narsis kan! belajar resep darimana?” tanyaku,
“Dari nyokap, gw tuh kalau di rumah nyokap sering masakin nasi goreng buat gw sarapan, wajar dong kalau enak, kan resep turun temurun” kata Niken,
“Gaya lo” kataku,
“Tapi berhasil dong gw, ih gw bangga sama diri gw sendiri” kata Niken,
“Mulai gila, muji-muji diri sendiri” kataku,
“Eh Bar, besok anterin gw ya, please!” kata Niken,
Seperti yang sudah kuduga pasti ada maunya,
“Kemana?” tanyaku,
“Ke bandara jemput nyokap” kata Niken,
“Naik taksi aja, gw kan bukan supir lo!” kataku tersenyum jahat,
“Ya ampun tega banget lo” kata Niken,
“Gw tuh seneng aja kalau liat lo bete” kataku,
“Anterin ya please” kata Niken dengan raut muka memelas,
“Jadi nasi goreng yang rasanya tak seberapa ini sogokan? gw gak bisa disogok!” kataku,
“Yaudah gw naik taksi aja, sana-sana keluar! tega banget lo” kata Niken,
“Gitu doang baper, najong dah lo! Iya besok gw anterin! jam berapa?” kataku,
“Nyokap naik pesawat yang jam lima belas empat puluh” kata Niken,
“Berarti kita berangkat jam empat ya” kataku,
“Iya, cepetan abisin makannya, enter telat lagi” kata Niken,
“Lo ngajak ngomong mulu, sekarang malah ngajak ribut!” kataku,
“Lelet deh!” kata Niken,
“Cewek ribet!” kataku,
“Cewek mah emang harus ribet dan bawel, kurang afdol lah kalau gak ribet dan bawel” kata Niken,
“Supir bajaj ngeles mulu” kataku,
“Buruan ih!” kata Niken,
“Sabar dong, entar gw keselek” kataku,
“Lima menit lagi jalan pokoknya” kata Niken,
“Yaudah lo duluan aja” kataku,
“Masa gw sendiri, gak mau ah!” kata Niken,
“Yaudah sabar, jangan bawel kayak emak-emak!” kataku,
“Gw kan emang calon emak-emak, puas lo!” jawab Niken,
“Gak lah! orang gak ngapa-ngapain” kataku,
“Ngeres kan otak lo” kata Niken,
“Emang gw mikir apa?” kataku,
“Ya mikir yang ngeres” kata Niken,
“Sok tahu deh lo, kayak cenayang!” kataku,
“Lo kan emang otaknya ngeres” kata Niken,
“Bodo” kataku,
“Kasar ih” kata Niken,
“Bodo” kataku,
“Buruan, nyebelin” kata Niken,
“Iya ayo jalan, lo gak ngasih gw minum” kataku,
“Ah nanti beli minum di kampus aja, ribet” kata Niken,
“Si paling tega” kataku,
“Apasih, yaudah ambil sendiri” kata Niken,
“Iya” kataku,
“Piringnya sekalian cuci” kata Niken,
“Males!” kataku,
“Gak tahu diri” kata Niken,
“Udah ayo jalan bawel” kataku,
Aku dan Niken berangkat ke kampus, kami harus langsung menuju kelas karena sudah hampir terlambat.
Sesampainya di depan kelas sudah banyak teman-temanku, termasuk Siti, dan yang membuatku terheran-heran Boni sudah terlihat batang hidungnya dan tidak terlambat seperti biasanya,
“Ada angin apa lo Bon, tumben gak telat” kataku pada Boni,
“Masa gw telat mulu, tar gw gak di lulusin lagi” jawab Boni,
“Lo sok rajin ada maunya” kataku,
“Bayaran kuliah mahal, sayang-sayang kalau gw ngulang” kata Boni,
__ADS_1
“Bagus kali secara gak langsung lo jadi donatur kampus, hahaha” kataku,
“Yang ada harusnya kampus yang donaturin gw” kata Boni,
“Ngarep lo mah, ajuin lah besiswa” kataku,
“Otak gw gak nyampe kalau ngajuin beasiswa” kata Boni,
“Sadar diri lo! hahaha” kataku,
“Asu” kata Boni,
Teman-temanku memanggil Boni dengan sebutan pakde karena dia jauh lebih tua, hampir seumuran dengan frans, tapi frans masih terlihat lebih muda.
Beberapa saat kemudian dosen kami tiba, dan kami semua segera masuk kelas dan mengambil posisi duduk masing-masing, aku lebih suka duduk di belakang soalnya seringkali sibuk sendiri dengam hp ku, aku duduk di sebelah jojo.
“Makin lengket aja der sama Niken” ucap Jojo,
“Ah perasaan lo aja itu mah” kataku,
“Udah lo tandain belom der?” kata Jojo,
“Udah gw tanda tanganin der” kataku,
“Ngeri!” kata Jojo,
“Ngeribetin” kataku,
“Ribet emang der” kata Jojo,
“Lo jajal aja dah” kataku,
Kelas berlangsung, aku harus sedikit fokus karena beberapa pertemuan lagi akan menuju uas, banyak juga tugas-tugas yang sengaja kubiarkan terbengkalai karena belum ada nita buat mengerjakan, satu-satunya orang yang bawal dan ribet soal tugas itu Siti, jadi kutunggu dia untuk mendorongku mengerjakan tugas, sekalian minta bantuan dia biar aku cuma numpang taro nama di tugas itu.
Dua setengah jam kemudian kelas diakhiri oleh dosen yang lagi-lagi memberikan tugas, yang lalu-lalu aja belum kesentuh malah dapat tugas tambahan, di jalan saat menuju ke kantin aku berpapasan dengan Disa, senior yang pernah menghukumku kala itu, aku sedikit penasaran kapan-kapan akan kuajak jalan, aku hanya tersenyum padanya, mau ku sapa takut di bully sama teman-temanku yang rese nya minta amplop, sekian lama kuliah gak pernah ketemu lagi sama dia, ini seperti tanda-tanda bisa mengenalnya lebih jauh, kulihat dia baru keluar dari suatu ruangan sekertariat jurusan, aku curiga senior lagi rapat untuk acara jurusan, udah siap-siap menerima intimidasi senioritas.
Aku sering bertanya-tanya kenapa ya kalau udah jadi senior laga nya setengah mati, padahal diatas langit aja masih ada langit, gak habis pikir sama mereka-mereka yang merasa berkuasa pada junior, mungkin aku juga nanti seperti itu melanjutkan tradisi senioritas, poin nomer satu tetap senior selalu benar.
Tiba di kantin aku hanya memesan kopi hitam tanpa gula dan pakai es, pengen yang dingin-dingin tapi gak kurang suka minuman manis, soalnya nanti saingan sama mukaku.
Aku bersama Boni, Siti, dan Niken, yang lain pisah meja soalnya tempatnya penuh di isi anak jurusan lain, aku bergabung dengan meja yang ditempati anak-anak Iskandar in the geng, karena Aku sudah kenal jadi aku minta share tempat duduk, anak-anak Public relation emang cakep-cakep, Iskandar itu papi nya cewek-cewek Public relation.
“Is gabung ya” kataku,
“Iya Bar duduk aja” jawab Iskandar,
“Makasih Is, lo ada kelas lagi” tanyaku,
“Ada nanti, gaka tahu masuk gak tahu nggak” jawab Iskandar,
“Masuk lah, oia Is ini kenalin temen-temen gw, yang tua ini namanya Boni, yang ukhti namanya Siti, kalau yang ini sekostan sama kita namanya Niken” kataku,
“Oh iya salam kenal ya semua” kata Iskandar,
“Gak makan Is?” tanyaku,
“Udah tadi, lo sendiri gak makan?” kata Iskandar,
“Masih kenyang gw, minum kopi aja, cobain dah enak” kataku,
Iskandar mencoba minumanku, dan dia memuntahkannya lagi.
“Anjir pait” kata Iskandar,
“Hidup lo kali yang pait Is, hahaha” kataku,
“Kalau itu mah jan sedih, emang iya” kata Iskandar,
“Becanda gw Is, gw emang suka minum kopi pai Is” kataku,
“Aneh lo!” kata Iskandar,
Suasana yang sangat ramai dan bising, kadang suka tidak nyaman tapi jam istirahat cuma sebentar, kalau nongkrong di luar males jalannya, terima keadaan aja deh.
“Bar selesai kelas gw ke kostan lo ya, ngerjain tugas” kata Siti,
“Iya Ti, ni orang tua ngikut kagak nih” kataku,
“Ikut lah gw, tar kalian gak tulis nama gw lagi” kata Boni,
“Kita gak sejahat itu kali Bon” kata Siti,
“Cewek lo diem aja Bar” kata Boni,
“Suka bikin gosip yang nggak-nggak lo ma Bon, tanya lah kan kalian kenal” kataku,
“Apasih pakde, gw bukan ceweknya Bara” kata Niken,
“Nah lo denger sendiri kan orang tua” kataku,
“Oalah di depan kita aja pura-pura gak ada apa-apa, dibelakang mesra” kata Boni,
“Mulut lo kadang-kadang suka bener” kataku,
“Pakde suka ngadi-ngadi nih!” kata Niken,
“Udah gausah pada ribut” kata Siti,
“Nah ini nih yang gw suka, angel gw lo Ti” kataku,
“Tapi lo berdua cocok kok” kata Iskandar,
“Lo nyambung aja lagi Is, tar jadi gosip ah, pada nangis lagi cewek-cewek yang suka sama gw” kataku,
“Kepedean lo” kata Niken,
“Ada perang dunia nih” kata Boni,
“Gw gak ikut-ikut ah” kata Boni,
“Emang gak ada otak lo Bon” kataku,
“Gw kan cuma bercanda” kata Boni,
“Gw tahu, tapi kan ada yang gak santai” kataku,
“Apasih” kata Niken,
“Udah damai” kata Siti,
“Lo paling bener suh Ti” kataku,
“Puji-puji aja terus” kata Niken,
“Ada yang cemburu nih” kata Boni,
“Pakdeeeeee....jangan gitu ah” kata Niken,
“Bahas yang lain bisa gak?” kataku,
“Seruan bahas lo kali” kata Boni,
“Emang nih mulut orang tua satu ini, minta di lem” kataku,
“Hahaha” Boni tertawa,
“Seneng banget liat temen susah” kataku,
“Itu sih DL, derita lo” kata Boni,
“Untung lo tua Bon” kataku,
“Bahas-bahas umur lagi nih bocah, gw kan masih keliatan muda, muda banget malahan” kata Boni,
“Cuma keliatan kan, bukan kenyataan, tapi tingkat percaya diri lo boleh juga” kataku,
“Ke depan kelas yuk!” kata Siti,
“Ayo lah” kataku,
"Gw duluan ya Is, sampe ketemu di kostan” kakatu kepada Iskandar,
“Iya Bar” jawab Iskandar,
Kami berempat segera menuju ke depan kelas, kemudian di susul oleh teman-temanku yang lain, masih ada waktu beberapa menit sebelum kelas dimulai, Siti membuka catatannya dan mempelajari materi-materi yang telah kami terima, dia selain pinter juga rajin, paket komplit buat jadi calon istri, aku hanya melihat ke bawah dari lantai empat mengamati aktivitas anak kampusku, beragam kegiatan yang sedang mereka lakukan, terlebih berbagai fashion yang unik yang mereka pakai membuat pandangan sedikit lebih berwarna.
Dosen kami tiba, kembali ke suasana kelas yang selalu terasa dingin, namun di penuhi dengan orang-orang yang hangat dan ramah, memang tidak semua ramah tapi kebanyakan ramah. Ada yang unik di kelasku, lima orang yang selalu memakai warna baju yang sama selalu terlihat bersama, kami menamainya geng warna, trian, nyoman, icha, yeni, dan rani adalah nama-nama mereka, aku sering menyarankan kepada mereka kenapa gak pakai warna baju yang mirip dengan warna pelangi, tapi katanya gak bisa soalnya mereka kurang personil untuk membentuk warna mejikuhibiniu.
Presentasi, diskusi, dan tanya jawab sudah jadi menu belajar sehari-hari, dengan cara seperti ini kami jadi lebih mandiri dan ada keinginan untuk terus menggali ilmu, walau terkadang jenuh padahal belum lama menginjak bangku perkuliahan, tapi itulah aku mudah bosan dengan rutinitas, di hidupku harus selalu ada hal yang baru, itu sebabnya aku selalu antusias untuk mempelajari hal baru dan mengenal orang-orang baru, tapi yang paling menyenangkan adalah memahi karakter-karakter cewek yang ada di sekitarku.
Sampai di kostan kami makan bersama, lebih nikmat rasanya jika makan bersama, walau seringkali makan sendiri, tetap bersyukur saja diluar sana bisa jadi banyak yang gak selalu bisa membeli makan, selesai makan Boni langsung berpamitan katanya mau istirahat, maklum dia malam bekerja jadi gak bisa kutahan, tersisa Aku, Siti dan Niken, tak begitu lama Niken juga pergi ke kamarnya untuk mengganti baju.
Belum juga nyentuh tugas udah pada kabur,
dengan sangat terpaksa aku mengerjakan tugas hanya berdua dengan Siti,
“Pada kabur Ti, belum juga mulai ngerjain tugasnya” kataku,
“Biasa nya juga gitu, pada males” jawab Siti,
“Lo doang yang bisa diandelin Ti” kataku,
“Kuliah mahal bro, kalau cuma buat main-main mending gausah” jawab Siti,
“Nyindir gw lo mah Ti” kataku,
“Bukan lo doang tapi yang lain juga banyak” kata Siti,
“Gw salah satunya kan?” kataku,
“Masih mending lah kalau lo di ajak nugas selalu mau” kata Siti,
“Gw gak tega kalau lo ngerjain sendiri terus yang lain numpang nama, walau gw juga seringnya numpang nama doang” kataku,
“Lo support sistem yang baik buat gw, lo nyediain tempat dan fasilitas aja bagi gw udah cukup” kata Siti,
“Namanya juga sama temen Ti, lagian gw juga sendiri mau ngapain, sepi tahu” kataku,
“Bakar aja kamar lo kalau mau rame” kata Siti,
“Nanti gw di minta ganti rugi kalau itu” kataku,
Aku dan Siti mulai mengerjakan tugas, dia terlihat sangat fokus dan serius, dia selalu berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus demi mengejar beasiswa, aku kagum atas usahanya, kalau suatu hari dia jadi orang yang sukses Aku gak akan heran.
Tugas sudah hampir selesai di kerjakan Niken baru muncul,
“Bar...Bar” kata Niken,
“Masuk Ken” kataku,
“Gw bantu bantu apa?” tanya Niken,
“Udah mau kelar, nanti tinggal print” kataku,
“Gw yang print?” tanya Niken,
“Gausah nanti gw aja” kataku,
__ADS_1
“Maaf ya” kata Niken,
“Gak apa-apa” kataku,
Satu tugas selesai di kerjakan,
“Bar gw numpang istirahat ya, ngantu gw” kata Siti,
“Yaudah lo istirahat aja Ti” kataku,
“Gw juga ngantuk Bar” kata Niken,
“Lo tidur sini apa di kamar lo ken?” kataku,
“Tidur sini aja, boleh kan?” tanya Niken,
“Pake nanya, boleh lah” kataku,
Siti dan Niken mulai mengambil posisi tidur masing-masing, aku bingung sendirian jadi aku ikut tidur di bawah yang hanya beralaskan karpet.
Siti dan Niken mulai mengambil posisi tidur masing-masing, aku bingung sendirian jadi aku ikut tidur di bawah yang hanya beralaskan karpet. Kami tertidur sangat lelap tapi aku bangun duluan karena kudengar suara adzan, sudah magrib jadi aku bangunkan Siti dan Niken,
“Ti...tiii... bangun udah magrib, Ken...Ken... bangun” kataku,
“Iya Bar” kata Siti,
“Iya bentar” kata Niken,
Siti dan Niken terbangun, Niken pamit ke kamarnya, dia mau lanjut tidur sepertinya, Siti ke kamar mandi kemudian solat, seusai solat Siti berpamitan pulang.
“Bar gw balik, besok gw kesini lagi” kata Siti,
“Iya Ti, hati-hati di jalan salam buat keluarga lo ya dari orang keren” kataku,
"Ish Najis" ucap Siti,
Siti pun pulang, aku kembali sendiri termenung, kuputuskan untuk menonton film inception berharap ketiduran dan tiba-tiba sudah menjelang pagi.
__ADS_1