Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Hembusan Angin Pantai


__ADS_3

Perihal hati ini untuk siapa aku belum tahu seutuhnya, terlalu banyak pertimbangan, kegelisahan dan rasa bimbang kepada siapa harus kulabuhkan hatiku ini. Diantara semua perempuan yang sedang dekat denganku, mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku menyadari tak akan pernah ada yang sempurna dalam diri manusia namun mencoba memilih yang terbaik dari semua yang ada dan dari setiap aspek kehidupan bukanlah hal yang mudah bagiku.


Semua keterbatasan yang aku punya, selalu kujadikan senjata rahasia untuk menaklukan hati perempuan dalam lingkaran pergaulan ibu kota yang angkuh dan tak jarang kejam. Menapaki jejak dan langkah menuju cita-cita masa depan yang sedang kujalani saat ini kuharap semua berjalan seperti yang seharusnya. Tak sempurna seperti bayanganku dahulu namun terasa indah karena menjalani dan menikmati proses itu lebih sulit di banding menerima hasil walau tak jarang aku kecewa pada hasil yang tercipta.


Pagi selalu menjadi awal bagi setiap aktivitas yang kujalani, berada dalam lingkungan tertutup dan tak saling kenal pada awalnya menjadi tantangan yang harus kutaklukan. Namun sekarang semua berubah seiring dengan berjalan nya waktu, intensitas pertemuan yang tercipta dalam sebuah rumah kost dengan berbagai latar belakang kehidupan menjadi warna tersendiri, semua bisa menjadj pelajaran yang berharga dan berarti, tak jarang mampu membuatku lebih dewasa dalam cara pandang untuk membuat suatu keputusan.


Kali ini aku hanya sedang di buat bimbang oleh semua yang kulakukan jauh sebelum hari ini, satu yang pasti mengecewakan dan di kecewakan akan selalu terjadi dalam kehidupan manusia normal pada umumnya, meminimalisir semua kesalahan di masa lalu agar tak terjadi kembali sedang ku usahakan, seringkali pundaku terasa sangat berat, dan perasaanku menjadi gundah ketika mengingat rasa sakit hati.


Motivasi untuk selalu berbuat baik pada orang-orang di sekitarku sudah menjadi hal yang mengisi setiap hari-hariku, semua itu menjadikan aku di sukai oleh banyak teman-temanku, namun bukan itu tujuanku, mereka tak perlu membalas cukup tersenyum dan aku akan bahagia melihatnya.


Hilangnya senyum Nayla membuatku merasa gagal menjadi temannya, aku hanya tak mampu untuk memaksa, untuk bertanya jauh lebih dalam tentang perasaannya, tentang bagaimana kedepannya sementara biar menjadi rahasia yang kututup rapat seperti gula, karena jika di biarkan terbuka akan ada banyak semut yang datang menikmatinya.


Aku berjalan dari ruangan yang kusebut kamar untuk menuju parkiran di mana ada kendaraan yang biasa dan terbiasa menemaniku kemanapun aku pergi, mereka setia membawaku menjelajah setiap jalanan ibu kota bahkan sampai di gang-gang kecil sekalipun, mereka tak jarang membantuku untuk mempermudah menyusun dan menjalani segala aktivitas. Aku berniat untuk bertemu dengan Mpok Romlah sang penjual nasi uduk langgananku, sudah rindu untuk makan di tempatnya, tapi kali ini aku hanya ingin membungkus makananan darinya. Setelah masuk dan melewati gang kecil aku akhirnya sampai di hadapan Mpok Romlah.


"Kemana aja de baru keliatan?" ucap Mpok Romlah,


"Ada kok Mpok, baru sempet kesini lagi, biasa ya Mpok tiga" jawabku,


"Tunggu ya Mpok bungkusin" ucap Mpok Romlah,


"Iya Mpok tenang aja" kataku,


Menunggun antrian kadang membuat orang jengkel tapi tidak denganku, kujalani saja semua dengan senyum agar terasa mudah dan tak lelah. Tibalah aku menerima pesananku.


"Ini de pesanannya" ucap Mpok Romlah,


"Iya Mpok, ini uangnya, pas ya Mpok, makasih" kataku,


"Iya de, makasih ya juga" ucap Mpok Romlah,


Aku meninggalkan tempat Mpok Romlah dengan kecepatan pelan, udara masih terasa sedikit dingin karena aku hanya pakai baju tidur tanpa jaket atau sweater apalagi helm. Berkendara tanpa atribut yang di anjurkan itu salah namun seringkali di langgar dan disepelekan, akupun sering melakukannya.


Aku tiba di depan pintu no delapan, itulah nomor kamarku, aku segera masuk dan mengambil hpku, belum ada yang mengucapkan selamat pagi, jadi biarkan aku yang mengucapkannya lebih dulu.


"Pagi Nay, gimana hari ini? nanti sore pergi yuk!" kataku pada Nayla dalam pesan BBM,


"Pagi Ken, udah bangun belum? gw tunggu sarapan di bawah ya" kataku pada Niken dalam pesan BBM,


"Pagi Ti, gw tunggu di kostan ya, udah gw beliin sarapan" kataku pada Siti dalam pesan BBM,


Sementara menunggu balasan dari ketiganya, aku kembali membuat kopi tanpa gula, pagi memang cocok nya minum kopi tapi buat yang terbiasa aja, kalau tidak jangan coba-coba nanti ketagihan sepertiku. Setelah berhasil membuat racikan kopi sesuai dengan takaran serta selera, aku segera membawanya ke dapan kamar dengan satu bungkus rokok dan juga korek api yang berbentuk gas, sebenarnya rindu pada korek yang berbentuk kayu, masih banyak yang jual namun seringkali di katakan jadul jadi sudah tak kubeli dan kupakai untuk sementara dan tak tahu sampai kapan, aku membiarkan kopiku perlahan menjadi lebih dingin oleh hembusan udara pagi serta segera kunyalakan rokok ku sebagai alat untuk penghangat tubuh yang merasa sedikit dingin.


Aku berpikir ingin mengajak Nayla untuk menikmati udara malam di pinggiran pantai, sekedar melepas penat dan mencoba mengembalikan senyumnya yang hilang. Hpku mulai memberikan notifikasi, kulihat ada pesan dari Siti dan Niken.


"Pagi Bar, iya nanti gw kebawah, gw cuci muka dulu" ucap Niken dalam pesan BBM,


"Pagi Bar, iya nanti gw ke kostan lo bentar lagi" ucap Siti dalam pesan BBM,


Biasanya Siti lama kalau membalas pesan, tapi yang lebih aneh Niken sudah bangun dari tidurnya. Aku kembali membawa kopiku ke dalam kamar yang pintunya kubiarkan terbuka dan duduk di kursi untuk menunggu Niken, lima menit aku terdiam dalam ruangan yang masih di buat dingin oleh air conditioner dengan suhu delapan belas. Kemudian ada suara langakah kaki yang menuju ruanganku, aku menoleh dan kulihat itu Niken, dia mendekatiku dan tiba-tiba memeluku.


"Makan sekarang yuk, gw laper" kataku,


"Bentar apa, buru-buru banget" ucap Niken,


"Laper Ken" kataku,


"Yaudah iya" ucap Niken melepaskan pelukannya.


Aku dan Niken mulai membuka isi dari bungkusan yang kupastikan itu adalah nasi uduk Mpok Romlah, pikiranku mengatakan jika saja Niken tahu soal Nayla dan begitu juga apabila Nayla tahu tentang aku dan Niken yang semakin tak berjarak, bagaimana situasinya nanti, apa yang harus kukatakan pada mereka berdua, dengan cara apa aku menjelaskannya jika itu benar kejadian. Satu-satunya yang bisa meredam semua mungkin Siti, tapi tak dapat kupastikan.

__ADS_1


"Kok gak ada ayamnya sih Bar" ucap Niken,


"Oia, maaf lupa beli, gak suka ya kalau gak pake ayam" kataku,


"Yaudah gak apa-apa kalau lupa, suka kok" ucap Niken,


"Yaudah makan sampai abis ya" kataku,


"Iya Bar, gw ambilin minum ya" ucap Niken,


"Iya Ken, makasih ya" kataku,


Niken mengambil minum untuku dan untuk dirinya, duh jadi bingung dengan semua sikap Niken yang selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Semua ini hanya membuat aku makin bimbang, semua yang mungkin terjadi nanti baik atau buruk akan tetap kuhadapi dengan senyuman. Terlampau sudah, biarlah ini tetap berjalan, aku yang tak mampu memberikan batas antara pertemanan yang biasa dan pertemanan yang mungkin bisa berubah menjadi suatu hubungan antara dua insan manusia dengan intensitas pertemuan serta berbagi rasa dan cerita di setiap waktu yang dijalani di tempat yang sama maupun di ruang berbeda atau bisa di katakan pacaran oleh anak muda sejak dulu kala.


Aku dan Niken akhirnya menyelasaikan sarapan kami berdua, sesaat kami usai sarapan terdengar suara motor Siti di parkiran kostanku, Siti kemudian masuk ke dalam kamarku.


"Pagi Bar, Pagi Ken" ucap Siti


"Pagi Ti" ucap Niken dan aku berbarengan,


"Makin kompak kalian" ucap Siti,


"Lo ada-ada aja Ti" kataku,


Niken hanya tersipu malu.


"Gw naik ke atas dulu ya" ucap Niken,


"Yaudah, sekalian lo siap-siap ya" kataku,


"Iya Bar, tunggu ya, jangan ninggalin" ucap Niken,


Niken meninggalkan kamarku seketka.


"Sarapan dulu Ti, gw mau siap-siap ya" kataku,


"Iya Bar, makasih" ucap Siti,


Aku kemudian mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, sementara aku mandi Siti mulai untuk sarapan. Setelah siap untuk berangkat aku dan Siti masih harus menunggu Niken turun, di sela-sela waktu menunggu aku mendapat pesan dari Nayla.


"Pagi Bar, gw oke kok, boleh nanti lo jemput gw di rumah ya" ucap Nayla dalam pesan BBM,


"Syukur deh kalau gitu, iya nanti gw jemput" jawabku dalam pesan BBM,


Mendapat respon positif dari Nayla membuat hatiku cukup senang, tak lama kemudian Niken terlihat sudah berada di depan kamarku.


"Aya jalan!" ucap Niken,


"Oia ayo!" kataku,


Kami bertiga beranjak dari kostanku untuk menuju kampus dan mengikuti ujian seperti hari sebelumnya. Tak banyak yang berbeda dengan aktivitas dalam kampus hari ini, usai ujian kami bertiga kembali ke kostan, Niken yang langsung naik ke kamarnya dan Siti yang juga langsung pulang ke rumahnya membuatku kembali harus melewati waktu dengan kesendirian. Aku berusaha untuk tidur menunggu hari yang terik menjadi hari yang teduh, dan tiba waktu untuk bertemu dengan Nayla.


Aku terbangun tepat di sore hari, aku segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Nayla, setelah kurasa semua siap aku mulai memanaskan mobilku dan segera menuju rumah Nayla. Sampai di rumah Nayla aku segera menekan bell rumahnya tak lama kemudian Nayla keluar.


"Udah nyampe Bar, kok gak ngabarin dulu, gw belum siap-siap" ucap Nayla,


"Iya maaf Nay gw gak ngabarin lo dulu, yaudah gw tungguin kok" jawabku,


Nayla kembali masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap-siap, aku masih setia menunggunya dan duduk di kursi teras rumahnya. Setengah jam kemudian Nayla keluar dengan pakaian dan paras yang semakin hari semakin anggun dan menawan. Aku sedikit tertegun melihatnya.

__ADS_1


"Ayo Bar" ucap Nayla,


"Iya Ayo Nay" jawabku,


Aku segera membukakan pintu mobilku untuk Nayla dan mempersilahkan dia masuk, aku segera menginjak pedal gas untuk menuju sebuah pantai di Jakarta.


"Udah makan belum Nay?" tanyaku,


"Belum Bar" jawab Nayla,


"Yaudah cari makan dulu ya" kataku,


"Iya boleh Bar" ucap Nayla,


Karena jalanan yang padat membuat perjalanan kami terasa lambat, hari pun sudah mulai menuju gelap. Aku melihat sebuah tenda seafood di pinggiran jalan.


"Nay makan seafood mau?" tanyaku,


"Mau Bar" jawab Nayla,


Aku pun berhenti dan segera memakirkan mobilku sebelum akhirnya kami berdua memesan makanan dan makan. Usai makan kami berdua segera melanjutkan perjalanan, setelah beberapa waktu menempuh perjalanan kami berdua sampai di tepian pantai dengan matahari yang sudah tenggelam, kami duduk menikmati dingin nya hembusan angin pantai. Nayla menyandarkan kepalanya di pundaku dan sedikit memeluku.


"Enak ya Nay, suasananya" kataku,


"Iya Bar" ucap Nayla,


"Kalau libur mau gak pergi yang agak jauhan" kataku,


"Kemana Bar?" tanya Nayla,


"Ada deh, kejutan pokoknya" kataku,


"Main rahasia-rahasiaan, nyebelin" ucap Nayla,


"Tunggu aja nanti gw kasih tahu kok" kataku,


"Iya Bar" ucap Nayla,


Nayla banyak bercerita tentang kehidupan keluarganya, percintaan dan semua tentang apa yang dia suka maupun yang tidak dia sukai, aku merasa senang dengan semakin terbukanya Nayla padaku, ini membuat jarak diantara kami semakin terasa dekat. Kami berdua menghabiskan malam di tepi pantai, dan tak terasa hari sudah menuju pada pagi kembali.


"Nay pulang yuk, udah hampir pagi" kataku,


"Iya ayo Bar" jawab Nayla,


"Ngantuk yah?" tanyaku,


"Belum kok" ucap Nayla,


Aku dan Nayla pun segera meninggalkan pantai untuk pulang, aku mengantar Nayla terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke kostanku.


"Udah sampai Nay, enak yah kalau gak macet" kataku,


"Iya Bar, terasa cepet, mau mampir dulu?" ucap Nayla,


"Ngga lah Nay, gw langsung aja" kataku,


"Yaudah hati-hati ya Bar" ucap Nayla,


"Iya Nay" jawabku sambil melambaikan tangan padanya.

__ADS_1


Aku beranjak dari rumah Nayla untuk kembali ke kostanku, tiba di kostan aku segera ke kamar mandi mandi untuk mencuci muka dan mengganti pakaian dengan pakaian tidur dan akhirnya aku beristirahat menunggu terbitnya matahari.


__ADS_2