
Setelah hari kemarin menepati janji pada Niken dan mamanya, tibalah aku di pagi hari dengan udara yang masih sejuk dan belum bercampur dengan polusi, kujalani aktivitas pagiku seperti biasa, belum ada yang beda karena sejauh ini belum ada wanita yang tidur di sampingku, lebih tepatnya belum punya pendamping hidup, mau beli sarapan tapi lagi mager, jadi cukup makan roti dan kopi.
Dulu sempat berpikir selesai sekolah mau langsung nikah saking sayangnya sama mantan, sampai-sampai rasa ingin memiliki nya begitu besar, tapi kalau memang sesuatu itu bukan milik kita, mau dipertahankan kaya gimana pun akhirnya sudah pasti berpisah.
Sampai hari ini terkadang aku masih suka mengingat masa-masa saat bersama dia, tapi sakit juga rasanya dan suka sebel sendiri, ada juga pikiranku yang lain mengatakan, ngapain ya pacaran lama-lama sama orang kayak dia, sebenernya dia baik-baik aja, putus aja kayak gak ada nyesel dan gak ada sedihnya, terkadang aku berpikir apa aku jatuh cinta pada orang yang salah? Tapi semua sudah berakhir.
Hari ini aku akan kuliah seperti biasa, apakah akan jadi hari yang menyenangkan atau membagongkan, aku belum tahu, kita lihat nanti.
“Ti lo kesini nggak?” kataku pada Siti dalam pesan BBM,
Sepertinya Siti masih tidur atau mungkin belum lihat hp nya, aku mau telepon Nayla tapi masa iya tiap hari, takut dia bosen terus ilfeel, tapi yang lebih di takutkan kalau dia sampai putus sama pacarnya karena aku, akan merasa bersalah banget kalau sampai kejadian walau di sisi yang lain pasti ada rasa senangnya.
Aku bukan orang yang tegaan, tapi di situasi ini sungguh sulit untuk menentukan arah dan memberanikan diri untuk sekedar bilang ke pacar Nayla kalau aku suka pada Nayla, seperti yang berani saja, tapi nanti akan kucoba, aku ada dalam posisi yang salah jadi terlalu bodoh aja jika Alaku salah mengambil suatu keputusan.
“Iya gw ke tempat lo Bar, gw masih siap-siap” balas Siti dalam pesan BBM,
“Yaudah gw tunggu Ti, lo hati-hati di jalan nya” kataku dalam pesan BBM,
Ada beberapa hal yang aku inginkan tapi tak terjadi, dan ada juga hal yang tak di inginkan tapi kejadian, banyak tugas kuliah yang belum aku kerjakan padahal udah mepet waktunya, udah kebiasaan sistem kebut semalam jadi walau banyak tugas tetap merasa tenang dan santai, itu tidak baik tapi susah untuk dirubah.
Aku merasa sedikit bosan dengan jakarta, beberapa hal memang terasa menyenangkan, punya banyak teman baru, suasana baru tapi semua terasa semu dan bandung tetap jadi nomor satu.
Aku naik ke lantai dua menuju balkon untuk merokok sambil menunggu kedatangan Siti, terlihat sangat rapi namun sepi, kebanyakan teman-teman kostanku berdiam diri di kamar masing-masing, kalau rame hanya dengan teman-teman kelas atau jurusan nya saja, tapi sebenarnya aku pun juga begitu, jadi aku sedang membicarakan diri sendiri, di kostan ini hanya Niken dan Iskandar yang bisa kuajak berbicara, yang lain belum karena melihat rupanya saja belum.
Mulai kunyalakan rokok ku dan kuhisap secara seksama, seperti isi teks proklamasi saja yang terdapat kata-kata seksama, berbicara soal teks proklamasi erat kaitan nya dengan kemerdekaan bangsa tercinta kita Indonesia, jika membaca dari buku-buku sejarah sewaktu SD, SMP ternyata berat juga perjuangan para pejuang kala itu, di masa aku sekarang ini hanya sedang menikmati indahnya kebebasan dan kemerdekaan.
Setelah menghabiskan beberapa batang rokok terdengar jelas suara motor Siti, aku pun segera turun untuk menghampirinya,
“Hey Ti, pagii” kataku,
“Pagi Bar, darimana lo?” tanya Siti,
“Dari balkon Ti abis ngerokok” kataku,
“Ngerokok mulu Bar, kapan berhentinya?” ucap Siti tersenyum
“Nanti Ti kalau gw udah punya anak” kataku,
“Itu sih kayaknya masih lama Bar, tapi bagus lah lo ada niat berhenti” ucap Siti,
“Ayo Ti ke kamar gw, oia lo masak dong” kataku,
“Masak apa Bar?” tanya Siti,
“Liat aja isi lemari es gw ada apaan, terus lo masak deh bahan yang ada” kataku,
“Yaudah ayo kita liat dulu” ucap Siti,
Aku dan Siti masuk ke kamar kost ku san melihat isi dari lemari es, ada beberapa bahan makanan termasuk bahan untuk membuat pasta.
“Gw bikinin pasta aja ya Bar, simpel nih bahan-bahannya juga ada nih” ucap Siti,
“Yaudah boleh Ti, sekali-kali lo berguna dikit hahaha” kataku sambil tertawa,
“Emang selama ini gw gak guna?” tanya Siti,
“Berguna banget sih, apalagi urusan ngerjain tugas” kataku,
“Sialan lo Bar: ucap Siti,
Siti mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat pasta, sementara aku melihat dia memasak sambil menonoton televisi dan kupegang hp ku sambil menghubungi Nayla lewat chat.
“Pagi Nay, gimana hari lo?” tanyaku (ldalam pesan BBM,
Dua puluh menit kemudian Siti selesai memasak dan membawakanku pasta hasil karya tangan nya, aku belum tahu rasanya tapi anggap saja enak.
“Ini Bar makanannya, jangan komplain ya” ucap Siti,
“Bisa juga lo masak Ti” kataku,
“Belajar dikit-dikit Bar” ucap Siti,
“Emang harus gitu kan lo cewek” kataku,
“yaudah buruan cobain” ucap Siti,
Aku dan Siti mulai sarapan, rasanya lumayan enak untuk ukuran orang yang sedang belajar masak.
“Enak masakan lo Ti” kataku,
“Jangan bokis deh lo Bar” ucap Siti,
__ADS_1
“Not bad lah Ti segini, untuk ukuran orang yang belajar” kataku,
“Ya makasih Bar, abisin ya” ucap Siti,
“Pasti lah, gw kan laper” kataku,
“Jadi karena laper bukan enak?” tanya Siti,
“Enak Ti, beneran deh, kan lo juga makan” kataku,
“Kalau masakan sendiri mah pasti enak lah” ucap Siti,
“Gw serius Ti, kalau masih ada gw nambah nih” kataku,
“Ah bisa aja lo, gw bikin nya segitu doang, lo gak bilang agak banyak sih tadi” ucap Siti,
“Segini juga cukup, kalau ke kenyangan nanti gw mager kuliah” kataku,
“Lo mah emang dasarnya juga mageran Bar” ucap Siti,
“Gw di tengah-tengah Ti, kadang mager kadang rajin” kataku,
“Labil dong itungan nya” ucap Siti,
“Ya kan masih beranjak dari abg menuju dewasa Ti” kataku,
“Bisa aja lo mah Bar” ucap Siti,
“Abis kan Ti makanan gw, cepet kan gw majan nya” kataku,
“Lo beneran laper kaya nya Bar, kasian banget” ucap Siti,
“Iya emang Ti, padahal kemaren kita makan banyak banget ya Ti” kataku,
“Percernaan lo cepet kali Bar, jadi gampang laper” ucap Siti,
“Aktivitas nya yang banyak Ti, jadi bikin laper mulu” kataku,
“Ya bisa juga sih” ucap Siti,
“Nanti piringnya taro aja Ti, biar gw yang nyuci pulang kuliah” kataku,
“Yah keburu basi itu mah Bar, gak apa-apa biar gw sekalian cuciin” ucap Siti,
“Peka juga jadi cewek Ti” kataku,
“Emang nya lo gak peka Bar” ucap Siti,
“Gw peka tapi bingung hahaha” kataku sambil tersenyum,
“Bingung soalnya lo sana mau sini mau” ucap Siti,
“Mencari yang terbaik boleh dong” kataku,
“Boleh tapi jangan nyakitin cewek Bar” ucap Siti,
“Nggak lah, jangan sampe” kataku,
“Makanya lo tentuin satu aja Bar, jangan kesana-kesini” ucap Siti,
“Nanti lah Ti, biar waktu yang jawab gw mau sama siapa” kataku,
“Serah deh, oia si Niken samper Bar, bentar lagi dah mau masuk kan kita” ucap Siti,
“Mager Ti naik tangga, baru juga keisi perut gw” kataku,
“Yaudah lo telepon aja kalau gitu, gw juga mager naik lagi hehe” ucap Siti sambil tersenyum,
“Yaudah bentaran ya Ti” kataku,
Lima menit kemudian Aku mengambil hp ku dan mencoba menghubungi Niken,
“Tuuuttt....tutttt....tuuuutttt....suara dering telepon,
“Apa Bar?” jawab Niken dalam telepon,
“Bareng gak?” kataku dalam telepon,
“Bareng lah, tunggu bentar lagi gw kesitu, kok lo gak naik sih” ucap Niken dalam telepon,
“Lagi mager naik Ken, yaudah buruan ya” kataku dalam telepon,
__ADS_1
“Iya bawel, dahhh!!!” ucap Niken menutup telepon,
“Tungguin kata Niken Ti, bentar lagi dia turun” kataku,
“Yaudah kita tungguin kalau gitu” ucap Siti,
Lima belas menit kemudian Niken tiba di depan kamarku, Aku melihatnya dengan jelas karena pintu kamarku terbuka,
“Ayo Bar, jalan ke kampus” ucap Niken,
“Iya ayo, ayo Ti jalan” kataku,
Setelah mengunci pintu kamar aku, Niken, dan Siti berangkat ke kampus, tiba di depan kelas sudah ramai teman-temanku yang lain, dosen pengajar tiba bersamaan denganku, kami semua segera memasuki kelas dan mencari tempat duduk masing-masing, beberapa saat kemudian dosen mulai mengabsen dan mempersiapkan materi yang ingin beliau sampaikan.
Ketika kelas sedang berlangsung tiba-tiba ada beberapa seniorku yang masuk ke dalam kelas, setelah meminta izin kepada dosen pengajar, mereka memberikan pengumuman kalau siang nanti kami semua harus kumpul di sekretariat jurusan, menurutku mereka mengganggu saja dan gaya bicara mereka saat menyampaikan pengumuman mengandung nada-nada intimidasi, sungguh senioritas yang sangat menyebalkan.
Setelah senior-seniorku selesai memberikan pengumuman kelas kembali di lanjutkan, aku memperhatikan materi dengan cukup serius agar nanti saat ujian akhir semester bisa mengisi soal-soal dengan mudah.
Kelas berlalu begitu saja, waktu terasa begitu cepat, aku mengajak Niken dan Siti untuk menuju kantin sambil menunggu kelas berikutnya, menyenangkan menunggu kelas selanjutnya di kantin karena selain bisa cuci mata juga bisa merokok, kantin adalah tempat satu-satunya untuk merokok di area kampus jadi tak heran kalau terkadang penuh dengan asap, aku memesan kopi seperti biasa, Niken dan Siti minum es coklat, katanya biar mood jadi bagus lagi setelah tadi sempat merasa terganggu oleh senior kami.
Aku melihat ada sabrina bersama teman-teman kelasnya, aku ingin meminta kontaknya tapi terhalang karena ada Niken, lain waktu jika aku melihatnya lagi pasti akan kuminta kontaknya.
Tiga puluh menit waktu tunggu kami berlalu, sudah saatnya menuju kelas selanjutnya, aku, Niken dan Siti segera berjalan menuju kelas, mata kuliah yang satu ini asik jika dipegang oleh dosen yang tepat, sayangnya dosen pengajar yang satu ini cukup membuat emosi jiwa meronta-ronta, dia menerapkan peraturan kelas yang sangat disiplin juga sering memberikan banyak tugas, hampir mirip dengan pak hardiyanto.
Waktu rasanya seperti berhenti berjalan saat berhadapan dengan dosen yang kurang aku sukai, teman-temanku juga merasa demikian, posisi duduk yang gelisah seakan ada duri diatas bangku, padahal tempat duduknya empuk tapi berasa gak nyaman, suasa yang menyenangkan itu menurutku sangat perlu selain dapat menambah kebahagiaan juga dapat menjadikanku lebih semangat untuk belajar.
Pada akhirnya kelas pun berakhir juga, dosenku lagi-lagi memberikan tugas, padalah ujian akhir semester sudah di depan mata.
Aku dan seluruh teman-teman kelasku berbondong-bondong untuk menuju sekretariat jurusan, tiba disana senior-seniorku sudah petangtang-petengteng seperti layaknya jagoan.
Aku dan seluruh temanku di suruh duduk di lantai, kemudian senior-seniorku mulai riuh berbicara untuk menyampaikan beberapa pengumuman terkait diklat jurusan, melihat gaya mereka yang sok arogan rasanya ingin kutampol satu-satu atau kuajak duel main playstation.
Seniorku membagi kami dalam kelompok-kelompok untuk nanti saat diklat jurusan, setelah mereka selesai menyampaikan semua pengumuman, ada beberapa orang dari mereka yang menyuruh kami untuk mengumpulkan sejumlah uang pada saat ini, katanya untuk membeli makan siang yang akan kami makan rame-rame, kami semua mulai mengumpulkan uang seikhlasnya dan setelah terkumpul seniorku menyuruh empat orang dari kami untuk pergi membeli makan siang, mereka adalah Jojo, Bezot, nyoman dan ahmad. Bagusnya mereka tidak mununjuku, kalau merekan menunjuku pasti kutolak dengan alasan pengen buang air besar.
Ke empat temanku segera pergi untuk membeli makan siang, aku tak tahu apa menunya, setelah hampir empat puluh menit mereka pun kembali dengan membawa makanan untuk kami semua, seniorku langsung menyuruh kami semua untuk membentuk lingkaran dan mereka mulai membuka dan menyatukan makanan yang telah dibeli, kami semua disuruh untuk makan bersama-sama, aku tak begitu bernafsu tapi kupaksakan untuk makan.
Cara mereka membuat kami seperti ini ada sisi positifnya juga untuk menambah kebersamaan tapi gaya bicara mereka yang menurutku agak berlebihan, selesai menghabiskan makanan kami semua membubarkan diri, seperti biasa aku, Siti dan Niken kembali ke kostan.
“Nyebelin banget ya Ti, pake acara kayak gini-gini” kataku,
“Iya Bar, gw malah kesel liat muka-muka senior kita” jawab Siti,
“Gw sih bodo amat Bar, ikut-ikut aja lah” sambung Niken,
“Iya sih ngapain juga di pikirin gak penting” kataku,
Kami bertiga pun tiba di kostan, Niken langsung naik ke kamarnya, sementara aku dan Siti langsung merebahkan badan.
“Ti kapan ngerjain tugas?” tanyaku,
“Tumben banget lo peduli sama tugas” ucap Siti,
“Udah mau ujian akhir semester Ti, ngeri kalau gak lulus, gw kan mau balik ke bandung kalau libur” kataku,
“Hati lo udah gak disini ya” ucap Siti,
“Iya nih udah kangen banget sama rumah” kataku,
“Lo kan sebenernya bisa balik tiap weekend” ucap Siti,
“Sengaja gak balik biar pas balik berasa Ti kangennya” kataku,
“Iya kalau udah sering balik kayak biasa aja sih Bar” ucap Siti,
“Ngerjain tugas sekarang aja Ti, giaman?” kataku,
“Boleh Bar” ucap Siti,
Aku dan Siti mulai untuk mencicil mengerjakan tugas, tak mungkin kalau bisa selesai semua tapi paling tidak ada beberapa yang bisa diselesaikan hari ini. Saking fokusnya mengerjakan tugas tak terasa hari sudah mulai gelap.
“Ti tugas yang lain besok aja kali, udah gelap lo gak balik?” kataku,
“Iya Bar besok lagi, gw juga udah lelah, balik lah Bar kalau nginep enak di lo gak enak di gw” ucap Siti,
“Emang gw cowok apaan Ti, kan gw gak pernah ngapa-ngapain lo juga” kataku,
“Kan kalau tidur bareng gak tahu Bar, bisa aja ada bisikan-bisikan yang bikin kita ngelakuin hal-hal yang gak semestinya” ucap Siti,
“Kebanyakan nonton sinetron lo Ti, dah gih pulang” kataku,
“Yaudah gw balik ya Bar, sampe ketemu besok” ucap Siti,
__ADS_1
Siti pun bersiap-siap mengemasi barang-barangnnya kemudian dia pulang, disusul olehku yang keluar untuk membeli makan malam, aku membeli soto ayam untuk menu makan malamku. Rasanya cukup enak ditambah dengan kerupuk warna putih yang kubeli di warung depan, rasanya jadi tambah enak dan nafsu makanku sedikit bertambah jika makan ada kerupuknya. Setelah selesai makan mataku mulai sedikit terasa berat, memang aneh jika perut merasa kenyang mata yang selalu tiba-tiba menjadi sayup, aku pun mulai merebahkan badan padahal dalam pikiranku ingin merokok dulu, namun apa daya kalau mata sudah tak kuat untuk terbuka, aku pun tiba-tiba tertidur lelap.