
Istirahat adalah sebuah kata yang ringan di ucapkan namun begitu sulit rasanya untuk aku realisasikan, tubuhku memang belum sepenuhnya terasa segar seperti biasanya namun ingin rasanya untuk pergi keluar walau hanya sekedar makan dan jalan-jalan, weekend seperti akan terasa sangat membosankan bagiku sebagai anak kostan jika hanya berdiam diri seharian atau terpaku dalam sebuah ruangan yang terkadang rapih namun tak jarang berantakan.
Dibalik kata libur ada sebuah hati yang mengatakan rindu pada kampung halaman, satu minggu kedepan aku masih harus mengukuti dan menyelesaikan ujian akhir semester sebelum akhirnya bisa pulang ke rumah orang tuaku dan merasakan liburan yang benar-benar sedikit panjang.
Hari ini aku masih belum tahu ingin kemana dan pergi dengan siapa, banyak pesan di hpku yang belum sempat aku balas, aku memang tak populer tapi bisa di katakan aku orang yang termasuk setia kawan. Banyak teman yang terkadang menjerumuskan namun aku masih teguh dalam sebuah pendirian. Boleh aku berteman dan bergaul dengan siapapun namun aku akan tetap menjadi diriku sendiri tanpa tapi.
Aku belum mandi dari kemarin jadi kupaksakan untuk mandi, aku mencoba meraba air dalam bak mandi nampaknya terasa dingin, aku berpikir untuk mandi menggunakan air hangat jadi kupanaskan satu panci air, ketika aku sedang menunggu air mendidih Niken tiba-tiba ke kamarku tanpa mengetuk dan membawakanku sarapan pagi yang biasa kulakukan setiap hari untuknya.
“Pagi Bar, lo masih sakit? Gw beliin sarapan buat lo nih” ucap Niken,
“Pagi Ken, udah agak mendingan sih, gw lagi masak air buat mandi, by the way makasih ya udah beliin gw sarapan” jawabku,
“Syukur deh kalau gitu, pake mandi segala kayak yang mau pergi aja, sama-sama Bar, kan lo juga sering beliin gw sarapan, tiap hari malah” ucap Niken,
“Niken baik deh, emang gw mau pergi mumpung libur” kataku,
“Kemana? Sama siapa? Baru juga mendingan udah mau kelayaban aja” ucap Niken melotot,
“Serem banget tatapan lo Ken, jalan yuk!” kataku,
“Lagian ada-ada aja deh, udah tahu lagi gak enak badan, jadi lo ngajak gw pergi?” ucap Niken,
“Bosen kali di kostan terus” kataku,
“Mau kemana emang?” tanya Niken,
“Ke mall lah, kemana lagi, lo mau ke musium emang? Tar lo malah di pajang di sana, lo kan rare Ken hehehe” kataku tertawa,
“Malah ngeledek kan, nyebelin banget sih” ucap Niken,
“Maaf, kan gw Cuma becanda, jangan bawa perasaan apa” kataku,
“Mau sarapan dulu atau mau mandi dulu?” tanya Niken,
“Mandi dulu deh kayaknya” jawabku,
“Yaudah terserah, gw tungguin lo mandi deh” ucap Niken,
“Kenapa gak ikut mandi sekalian?” kataku,
“Maunya lo itu mah, dasar mesum” ucap Niken,
“Galak banget sih, kan lo juga tahu gw cuma becanda” kataku,
“Tega banget gw Cuma di jadiin bahan becandaan” ucap Niken,
“Ribet deh urusan nya kalau dah kayak gini, serba salah” kataku,
“Emang cowok itu selalu salah dan cewek selalu benar! Udah kodrat kali” ucap Niken,
“Enak di lo gak enak di gw itu mah” jawabku,
“Terima nasib lah, siapa suruh lahir jadi cowok” ucap Niken,
“Emang bisa milih di lahirin sebagai cowok atau cewek?” kataku,
“Request lah siapa tahu bisa” ucap Niken,
“Dasar cewek sesat” kataku,
“Sesatan juga lo, ngajak main terus” ucap Niken,
“Tapi lo juga mau terus kalau gw ajak pergi” kataku,
“Mau lah, masa nolak” ucap Niken,
__ADS_1
“Yaudah sama-sama sesat kalau gitu” kataku,
“Lo aja kali, gw nggak!” ucap Niken,
“Air gw udah mendidih kayaknya, gw mandi dulu ya, beneran gak mau ikut masuk?” kataku,
“Apasih Bar, mandi aja sendiri! Udah gede kan?” ucap Niken,
“Apanya yang gede? Emang lo pernah pegang?” kataku,
“Tuh kan otaknya gak pernah beres” ucap Niken,
“Udah ah gw mau mandi, bye!” kataku,
“Yaudah sana!” jawab Niken,
Akupun segera menuangkan air yang sudah mendidih ke sebuah ember dalam kamar mandiku dan segera mandi. Dua menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan segera menggunakan parfum, sementara Niken sedang duduk manis di meja kursi belajarku.
“Cepet banget sih mandinya Bar, gak bersih ya, tapi parfum lo wanginya enak” ucap Niken,
“Emangnya lo kalau mandi lama, gw mah cepet tapi bersih, iyalah lo nempel mulu hehehe” jawabku tersenyum,
“Pede banget ih jadi orang, kan yang wangi parfum lo” ucap Niken,
“Secara otomatis gw juga kebawa wangi kali” kataku,
“Ah suka ngadi-ngadi” ucap Niken,
“Biarin ah, ayo sarapan” kataku,
“Iya ayo, udah laper ya?” ucap Niken,
“Laper sih nggak, cuma ada yang bunyi aja di perut” kataku,
“Sama aja, itu namanya laper” ucap Niken,
“Yeee, nyebelin!” ucap Niken,
Aku dan Niken segera sarapan, melihat Niken ada di hadapanku senang rasanya sebagai teman dekatnya, namun hatiku tak mampu bohong kalau aku bersalah padanya, pilih salah satu aja susah sekali, tak mungkin juga jika harus mendua apalagi mentiga, kalau mentega di jual di swalayan.
Usai sarapan aku langsung membuat kopi, karena kalau tidak minum kopi rasanya ada yang “kurus” ( kurang terus ).
“Bikin apaan Bar?” tanya Niken,
“Kopi” jawabku,
“Bukannya minum obat, malah mau minum kopi” ucap Niken menatapku tajam,
“Gw udah sembuh kali, lagian ngantuk kalau gak ngopi” kataku,
“Alasan aja deh, ngerokok juga?” ucap Niken,
“Udah pasti lah, pake di tanya lagi” kataku,
“Bar...Bar...Kapan sih mau berhenti ngerokok?” tanya Niken,
“Kapan-kapan gak janji!” jawabku sambil keluar membawa secangkir kopi dan rokok.
“Dasar bocah gak ngerti kesehatan” ucap Niken,
“Bodo amat deh” jawabku,
“Yaudah ngerokok aja terus, gw mau keatas dulu ganti baju” ucap Niken,
“Baju lo kayak gembel hahaha” kataku tertawa,
__ADS_1
“Iiihhhhh, nyebelin banget!” ucap Niken sambil mencubit pinggangku,
“Sakit Ken, tega banget sih” kataku dengan ekspresi kesakitan,
“Rasain, enak kan!” ucap Niken,
“Sini gw cubit balik” kataku,
“Cowok apaan sih lo” ucap Niken,
“Terbukti cewek selalu benar, udah cepetan ganti baju, kalau lama gw tinggal” kataku,
“Emang ga bete jalan sendirian” ucap Niken,
“Siapa tahu nemu temen di jalan” kataku,
“Iihhh, bener-bener deh lo Bar!” ucap Niken sambil kembali mencubitku,
“Aduuuhh, ini udah parah sih, sakit Ken, mau marah tapi gak bisa” kataku,
“Marah aja, emang gw pikirin” ucap Niken sambil perlahan meninggalkanku,
“Sana deh ribet!” kataku,
Cubitan Niken sungguh sangat menyakitkan seperti di gigit semut merah yang gatal dan terasa panas, kulihat pingganggu sedikit merah, pikirku ini benar-benar seperti di gigit semut. Tapi bedanya semut yang ini cakep gak tahu deh kalau semut-semut yang berbaris di dinding. Tiga puluh menit kemudian Niken kembali ke kamarku dengan pakaiam yang enak di pandang sekaligus menawan, membuatku seakan sedang berada di atas awan.
"Ayo Bar, gw udah siap" ucap Niken,
"Gw panasin dulu mobil ya" jawabku,
"Yaudah bareng aja ke mobilnya" ucap Niken,
"Iya ayo" kataku,
Aku segera mengambil kunci mobil dan mengambil beberapa barang yang kubutuhkan, kemudian aku dan Niken segera beranjak menuju mobil, aku membukakan pintu untulnya dan mempersilahkan dia masuk terlebih dulu kemudian kususul masuk, mulailah kunyalakan mobilku. Dirasa sudah cukup panas aku segera menginjak pedal gas mobilku dan menuju ke salah satu mall di Jakarta, Aku berniat mengajak Niken untuk pergi ke Senayan city, sampai di sana setelah menempuh perjalanan yang cukup membuat emosi sedikit tak stabil karena kemacetan dan juga kendaraan roda dua yang kadang menyusul asal-asalan, aku dan Niken segera menuju ke Cinema XXI untuk menonton salah satu film.
Aku segera mengantri untuk membeli dua tiket, antrian tak begitu panjang jadi tak membuat kakiku pegal karena berdiri, aku dan Niken bersepakat untuk menonton film yang berjudul Eat pray love. Salah satu film drama arahan sutradara Ryan murphy yang di adaptasi dari kisah inspiratif buku laris Elizabeth gilbert dengan judul yang sama.
Julia robert pemeran utama di film ini memainkan peran sebagai Elizabeth gilbert yang merupakan orang yang beruntung karena ia memiliki segalanya dalam hidup ini, mulai dari suami, rumah dan karir yang bagus, hidupnya terasa sempurna tanpa tercela.
Namun apa yang terlihat dari luar sempurna belum tentu sama dengan apa yang ia rasakan di dalam kehidupannya. Rumah tangganya gagal, Elizabeth terpakasa bercerai dari suaminya, ia pun kehilangan arah. Elizabeth merasa hidupnya terasa hampa dan tak tahu lagi apa yang dia inginkan dalam kehidupan ini, dalam keterpurukan ia memutuskan untuk berkeliling dunia mencari jati diri dan tujuan hidup.
Elizabeth pergi ke Italia, India dan Bali, di Italia ia menemukan makna sejati kenikmatan melalui makanan, di India ia menemukan kekuatan doa yang berpengaruh dalam hidupnya, sedangkan di Bali ia akhrinya menemukan kedamaian dalam cinta sejati. Banyak hal yang ia pelajari dalam perjalanannya, terutama pelajaran tentang cara untuk membebaskan diri dan melihat dunia.
Film ini berdurasi seratus tiga puluh tiga menit, film yang membuatku kemudian terinspirasi untuk menjalani kehidupan dan sedikit merubah cara pandangku. Usai menonton aku mengajak Niken untuk makan.
"Mau makan di mana?" tanyaku,
"Gw mau makan sushi" jawab Niken,
"Yaudah ayo" kataku,
Aku dan Niken menuju ke salah satu resto yang menjual sushi, usai makan kami berdua sedikit berjalan-jalan untuk membeli beberapa barang, aku dan Niken membeli beberapa pakaian dari salah satu store yang ada, dirasa cukup puas kami berdua memutuskan untuk kembali ke kostan namun sebelum pulang kami mampir dulu ke coffeshop untuk membawa pulang kopi.
Sampai di kostan aku dan Niken menuju kamarku, dia membuka beberapa pakaian yang dia pilih sambil melihat pada sebuah cermin besar yang ada di kamarku.
"Bagus nggak Bar?" tanya Niken,
"Bagus dan cocok Ken, kan tadi udah gw bilang" kataku,
"Emang gak boleh nanya lagi?" ucap Niken,
"Boleh kok, rebahan enak deh Ken" kataku,
"Iya ya lumayan capek juga, Bar gw istirahat di kamar gw ya" ucap Niken,
__ADS_1
"Iya silahkan" kataku,
Niken kemudian beranjak dari kamarku untuk menuju kamarnya, aku kembali sendiri, aku segera mengganti pakaianku, tak lupa mencuci muka dengan salah satu sabun cuci muka yang selalu kupakai setiap mandi atau usai pergi. Kemudin aku mencoba merebahkan badan berharap bisa beristirahat dengan waktu yang cukup dan kualitas istirahatnya sesuai dengan apa yang di butuhkan oleh tubhku, pikiranku dan yang paling penting mampu menenangkan seluruh gejolak dalam hati dan perasaanku karena melihat sosok seseorang yang pernah mengisi hari-hariku namun ia kini hanya sebatas masa laluku.