Dua Mata Satu Kacamata

Dua Mata Satu Kacamata
Hari yang Sibuk Part 2


__ADS_3

Sampai di kostan, aku langsung menuju kamar, kulihat Boni sedang merebahkan tubuhnya dan Siti sedang berkutat dengan laptopnya.


“Pujangga cinta baru dateng” ucap Boni,


“Kayak ngerti aja lo Bon, noh kaya Siti rajin” kataku,


“Dia mah emang pantes kalau rajin, lah kalau muka-muka kayak gw rajin mah mustahil” ucap Boni,


“Lo mah suka memponis diri sendiri Bon” kataku,


“Kenyataan kali” ucap Boni,


“Lo ngapain Ti rajin banget” kataku,


“Ini gw lagi liat deskripsi tugas-tugas sama catatan gw, jangan lupa loh tar sore kita kerjain, lo bawa apaan Bar” ucap Siti,


“Iya pasti gw bantu kerjain, pengen tahu aja lo gw bawa apaan Ti, lo jangan kabur Bon” kataku pada Siti dan Boni,


“Siap Bos” ucap Boni,


“Gw kan orangnya kepo Bar” ucap Siti,


“Iya tuh bawa apaan lo” ucap Boni,


“Ini khusus buat gw, yang ngasih orang spesial” kataku,


“Bucin paling, kaya nasi goreng dong spesial” ucap Boni,


“Bukan bucin, ini namanya usaha” kataku,


“Usaha move on, ups!” ucap Siti tersenyum,


“apaan sih Ti” kataku,


“Hahahaha lo gak bisa move on Bar” ucap Boni tertawa meledek,


“Diem-diem gw mau rebahan juga, panas banget tadi di jalan” kataku,


“Yah baper deh” ucap Boni,


“Kayak tahu aja arti baper lo Bon” kataku,


“Tahu lah, gw kan pakarnya bikin orang baper” ucap Boni,


“Ampun bang jago” kataku,


“Alah lo aja gak di restuin mertua Bon, pake ngaku-ngaku pakar” ucap Siti,


“Hahaha mampus lo Bon dibacain Siti” kataku sambil tertawa,


“Kampret lo Ti” ucap Boni,


“Emang bener kan” ucap Siti,


“Bener banget Ti, di rinjani aja galau mampus dia” kataku,


“Abis udah kartu gw di bacain” ucap Boni,


“Gak bisa macem-macem lo sama kita” kataku,


“Kartu As lo udah sama kita Bon” sambung Siti,


“Iya dah gw pasrah” ucap Boni,


“Kena mental lo Bon, hahaha” kataku menertawakan,


“Kena sampai kesini” ucap Boni sambil mengelus dadanya,


“Lemah lo Bon” ucap Siti,


“Mampus di katain Siti lo Bon” kataku,


“Siti bergaul mulu sama lo jadi gini Bar” ucap Boni,


“Enak aja lo Bon” kataku,


Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba kudengar suara adzan,


“Ti lo gak solat?” kataku,


“Solat Bar, lo?” ucap Siti,


“Solat kok Ti, lo duluan aja, kalau lo mah beda server sama kita Bon” kataku,


“Iya dah yang satu server” ucap Boni,


“Makanya Bon, masuk server kita” ucap Siti,


“Bener tuh Bon kata Siti” ucapku menambahkan.


"Belum dulu" ucap Boni,


Siti berdiri dan menuju ke kamae mandi untuk mengambil air wudhu, sementara aku dan Boni sedang merasakan kenikmatan merebahkan badan di dalam ruangan dingin yang diciptakan oleh air conditioner yang selalu ku set di suhu enam belas jika di siang hari.


Beberapa saat kemudian Siti keluar dari kamar mandi setelah itu dia langsung solat, seusai Siti selesai menunaikan solat dia melirik kearahku, tatapannya seakan mengingatkanku untuk segera menunaikan solat, aku segera ke kamar mandi untuk wudhu dan mulai menunaikan solat.


Hati terasa sangat tenang dan nyaman ketika selesai menunaikan solat, ini mungkin yang dinamakan kenikmatan batin. Tak mampu kupungkuri bahwa aku hidup di bawah naungan Nya, karena Nya aku hidup dan karena Nya aku mati, hidup dan matiku memang ada di tangan Tuhan yang Maha Esa.


Selesai makan aku pergi keluar untuk membeli nasi padang yang akan kuberikan pada Boni dan Siti, pesan dari Ibuku kalau ada tamu itu harus di jamu dan diperlakukan dengan baik, kata-kata Ibuku selalu terbersit di hati dan pikiranku, jadi setiap teman yang main ke tempatku akan kujamu seperti yang seharusnya.


Alhamdulillahnya aku diberi kelebihan rezeki oleh Tuhan, sampai saat ini aku bersyukur masih diberi kecukupan.


Aku pernah dengar katanya tidak akan miskin dah kesusahan hidup seseorang yang selalu berusaha memberi dan berbagi dengan sesama ciptaan Nya, entah pada sesama manusia atau dengan ciptaan Nya yang lain, tiba kembali di kostan sesusai membeli makanan aku langsung persilahkan Boni dan Siti untuk makan,


Sementara aku membuka bekal yang diberikan oleh Nayla.


“Bon, Ti ini gw beli nasi padang buat lo berdua” kataku,


“Pengertian banget lo, lo gak beli sekakian” ucap Boni,


“Makasih Bar” ucap Siti,


“Sama-sama guys, gw kan di kasih bekel, sayang kalau gak gw makan” kataku,


“Ehm....ehmm...gak salah dah gw temenan sama lo Bar” ucap Boni,


“Yang salah itu kelakuan lo Bon yang kadang minus” kataku,


“Yang pasti minus mah mata gw Bar, makanya gw sok keren pake kacamata” ucap Boni,


“Mata lo minus beneran, gw kira cuma gaya-gayaan” kataku,


“Udah yuk makan” ucap Siti,


Aku mulai membuka bekal yang diberikan oleh Nayla, isinya rendang, sambel dan capcay, Nayla betul-betul niat bikin ini semua, dan dia inget makanan kesukaanku. Aku memulai suapan pertamaku, setelah kurasakan rsanya enak, aku oun langsung menghubungi Nayla melalui pesan BBM.


“Nay masakan lo enak banget, lo bakat juga bikin rendang, makasih ya udah masakin makanan kesukaan gw” kataku dalam pesan BBM,


Lanjut lagi makan, kami bertiga perlahan-lahan mulai menghabiskan makanan kami masing-masing, aku masih belum menyangka kalau Nayla seperhatian ini, cewek idaman banget deh, tapi bukan buat jadi pacar, kujaga saja dia sampai nanti saatnya aku siap untuk melamar, urusan di terima atau tidak yang penting berusaha aja dulu.


Menyelesaikan dan menghabiskan makanan makanan yang dibuat oleh orang tersayang emang terasa lebih nikmat, selesai makan aku mengajak Boni untuk ke balkon.


“Bon ngerokok diatas yuk!” kataku,


“Ngerokok disini emang kenapa Bar?” ucap Boni,


“Kamar gw bebas asap rokok Bon, kasian juga Siti jadi perikok pasif” kataku,


“Iya dah bos” ucap Boni,


Aku dan Boni naik ke lantai dua menuju balkon, ada Iskandar disana merenung sendiri.


“Eh Is sendirian aja” kataku,


“Iya nih Bar, lagi mumet gw” kata Iskandar,


“Mumet kenapa, mau cerita?” kataku,


“Nanti aja deh Bar” ucap Iskandar,


“Yaudah Is, eh iya ini kenalin teman gw” kataku,


Iskandar dan Boni pun berkenalan.


Menjadi penyambung silaturahmi antar teman itu juga hal baik kata Ibuku, katanya siapa yang selalu menyambung tali silaturahmi rezekinya tak akan terputus. Semoga selalu demikian. Dimanapun aku berada selalu kuingat setiap kata dan pesan-pesan dari Ibuku tercinta.


Beliau mungkin bukan orang hebat, bukan pejabat, bukan juga orang yang di elu-elu kan semua orang, tapi perihal sesuatu yang baik aku diajari dan belajar darinya, dia mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak-anak bangsa ini.


Nama keren yang selalu di sematkan untuk orang-orang se profesi dengan Ibuku adalah pahlawan tanpa tanda jasa, menurutku itu sedikit berlebihan karena setiap awal bulan Ibuku mendapatkan gaji juga tunjangan, jadi tetap saja ada simbiosis mutualisme di dalamnya.


Setiap hak pasti ada kewajiban, seperti halnya hubungan antara Tuhan dan makhluknya walau hubungan ini tidak bisa dikatakan hubungan transaksional namun tak dapat dipungkiri bahwa Tuhan yang memberikan kita semua kehidupan, sebagai tanda kita makhluknya kita melakukan penghambaan dan ritual keagamaan sesuai dengan ajaran dan kepercayaan masing-masing.


Habis berbatang-batang rokok aku merasa semakin kesini waktu berjalan terasa semakin cepat, aku melihat jam yang melingkar di tangan kananku sudah hampir jam satu siang, artinya aku dan kedua temanku harus segera ke kampus untuk mengikuti kelas selanjutnya.


“Bon kebawah yuk, udah mau jam satu, Is kita duluan ya ada kelas soalnya” kataku pada Boni dan Iskandar,


“Iya Bar” ucap Iskandar,


“Iya Is kita duluan ya” ucap Boni,


Usai pamit pada Iskandar, aku dan Boni turun dari lantai dua dan segera menghampiri Siti di kamarku, tiba disana Siti sedang enak tertidur, mau aku bangunkan tapi gak enak, dan tiba-tiba....


“Oooiii....oiiiii...Ti bangun....bangun...” ucap Boni sedikit berteriak,


Siti terbangun dengan keadaan kaget.


“Bisa gak Bon, bangunin orang pelan-pelan” ucap Siti,


“Oalah Ti,Ti lo kayak gak tahu gw aja” ucap Boni,


“Gw kaget Bon, kalau bangunin cewek tuh lemah kembut apa Bon” ucap Siti,


“Namanya juga Boni Ti, orang tua gila” kataku,


“Maaf...maaf Ti, gw kan emang gini orangnya” ucap Boni,


“Lo mending cuci muka dulu Ti” kataku,


“Iya Bar, awas lo Bon kalau kaya gini lagi ke gw” ucap Siti,


Sesaat kemudian Siti segera ke kamar mandi dan mencuci mukanya, aku dan Boni menunggu Siti di depan kamarku, keluar dari kamar mandi wajah Siti masih terlihat wajah-wajah ngantuk, namun biarlah dia belum niat cari pacar juga, Kami bertiga jalan menuju kampus, di jalan kami melihat Niken dan anak-anak lain, syukurlah Niken sudah bisa gabung dengan teman-teman yang lain, aku curiga dia lagi cari gebetan, kebanyakan cerita yang keluar dari mulut Niken itu soal cowok, bukan hal yang bisa disembunyikan kalau dia sedang dekat dengan cowok lain.


Menjalani dan mengikuti perkuliahan seperti biasa, sesekali aku melihat hp ku berharap ada pesan dari Nayla, tapi belum ada juga, sampai dua setengah jam berlalu dan kelas berakhir belum juga kudapati pesan dari Nayla, aku, Boni dan Siti kembali ke kostanku karena kami bertiga sudah janjian untuk mengerjakan tugas, sampai di kostan aku segera mengambil air wudhu untuk solat ashar.


“Tumben lo rajin solat” ucap Boni,


“Lo gak tahu aja” kataku,


“Bagus lah kalau gitu” ucap Boni,


“Yang gak bagus tuh lo Bon, yang jarang ibadah” kataku,


“Gw kan sibuk kerja bro” ucap Boni,


“Lo mah sok sibuk” kataku,


Aku segera melaksanakan solat ashar kemudian di susul Siti setelahku, aku gak bisa solat berjamaah dengan Siti karena bukan mukhrim, kecuali ada satu cowok lagi untuk jadi makmum atau imam.


Seusai solat dan sambil nyemil keripik pisang, kami bertiga mulai mencari bahan untuk mengerjakan tugas, ditengah-tengah sedang mengerjakan tugas hp ku bergetar, aku segera melihatnya, pesan yang aku tunggu-tunggu akhirnya mendarat juga di hp ku.


“Maaf baru bisa bales, gw masih di kampus, lo sibuk gak kalau anterin gw balik” ucap Nayla dalam pesan BBM,


“Gak apa-apa Nay, gw bisa kok, lo tunggu dimana?” kataku dalam pesan BBM,

__ADS_1


“Bener Bar, gw tunggu depan kampus ya Bar” ucap Nayla dalam pesan BBM,


“Gw siap-siap dulu ya, lo tunggu” kataku dalam pesan BBM,


Aku meminta izin untuk keluar sebentar pada Boni dan Siti.


“Guys gw keluar bentar ya, ada tugas negara nih” kataku pada Siti dan Boni,


“Mulai dah bucinnya” ucap Boni,


“Sirik aja lo Bon” ucap Siti,


“Dibelain, gw terbully nih disini” ucap Boni,


“Bentaran doang gw guys, nanti balik gw rapihin deh tugasnya, Ti lo jangan balik dulu tunggua gw ya” kataku,


“Iya Bar, gw tungguin” ucap Siti,


“Yaudah gw jalan dulu ya” kataku,


Aku segera bersiap-siap dan berjalan ke depan kampus untuk menghampiri Nayla, aku naik motor agar cepet sampai, tak enak meninggalkan Siti ngerjain tugas sendiri, kalau Boni sih bisa di pastikan hanya pelengkap saja, sampai depan kampus aku langsung menghampiri Nayla.


“Ayo Nay” kataku,


“Iya Bar” ucap Nayla,


Aku turun dari motorku dan kupasangkan helm untuk Nayla, setelah kurasa aman, aku segera bersiap untuk jalan mengantar Nayla pulang, di tengah perjalanan,


“Nay sorry tempat makan lo belum sempat gw cuci, masih ada di kostan gw, oia gw nanti langsung balik ya, ada janji mau ngerjain tugas kelompok” kataku,


“Gak apa-apa Bar santai aja, maaf ya Bar gw gak tahu kalau lo mau ngerjain tugas, lagian lo juga gak bilang” ucap Nayla,


“Tenang aja Nay, lo gak harus minta maaf gw nganter lo seneng kok” kataku,


“Makasih ya Bar” ucap Nayla,


Setelah menempuh jarak yang gak jauh dan gak dekat, sampai juga di diepan rumah Nayla,


“Udah sampe Nay, gw langsung yah, salam buat nyokap” kataku,


“Iya Bar, nanti gw salamin, lo hati-hati ya, btw makasih” ucap Nayla tersenyum,


“Dah Nay...sampai ketemu” kataku,


“Dah Bar” ucap Nayla,


Segera kutancap gas untuk kembali ke kostan menemui satu orang rajin dan satu orang sok rajin, kuyakin Siti dan Boni sedang berdebat soal tugas, Boni selalu ngerecokin dengan argumen-argumen dia yang kadang absurd, tapi jadi lebih berwarna aja zona pertemanan nya dengan kehadiran Boni.


Agak berkeringat karena sedikit macet, aku tiba di kostan, ada yang lupa kalau mau beli minuman dingin, tapi gak apa-apa masih ada air putih yang dingin di dalam lemari es ku. aku segera mengambil air dingin dalam lemari esku dan langsung kuminum, rasanya segar seperti hati yang sedang senang.


“Udah sampai mana tugasnya” kataku,


“Bagdad Bar, gila lo lama banget, gw dah mau balik, kerja gw” ucap Boni,


“Bentar doang Bon, lo aja terlalu lebay” kataku,


“Udah ah gw balik, gw percayakan tugas ini sama lo berdua” ucap Boni,


“Hari-hari lo Bon begini mulu” kataku,


“Kayak gak tahu Boni aja lo Bar” ucap Siti,


“Hati-hati di jalan Bon, salam buat bos lo” kataku,


“Hahaha udah gw balik ya, ogah bos gw galak” ucap Boni sambil tertawa kecil,


“Yaudah sono” ucap Siti,


“Gila lo ngusir gw Ti” ucap Boni,


“Kagak, cuma dah emopet aja liat lo Bon heheha” ucap Siti nada bercanda dan sedikit tersenyum,


Boni pun meninggalkan kami berdua, kami memakluminya karena memang dia harus masuk kerja jam tujuh malam, bisa ikut nimbrung ngerjain tugas aja udah mending, ya walau gak ada kontribusi.


“Gimana Ti?” tanyaku,


“Aman kok Bar, lo entar tinggal rapihin aja, gw mau rebahan dulu, abis magrib gw balik ya” ucap Siti,


“Yaudah iya, bentar lagi dong lo balik” kataku,


“Iya lah Bar, gak mau pulang malem gw” kata Siti,


“Iya Ti, yaudah ini gw rapihin ya” kataku,


“Iya” ucap Siti,


Aku merapihkan tugas yang sudah di selesaikan Siti dan Boni, gak tahu Boni kontribusinya berapa persen, tapi Aku pun juga mangkir, Siti memang selalu bisa diandalkan kalau urusan mengerjakan tugas kampus, kalau urusan yang lain jangan berharap banyak apalagi soal asmara.


Setengah jalan merapihkan tugas adzan magrib pun terdengar, karena gak jauh dari kostanku ada mesjid, walau aku jarang ke mesjid tapi masih solat.


“Ti lo solat duluan deh, udah adzan tuh, biar lo gak kemaleman” kataku,


“Iya Bar gw duluan ya” ucap Siti,


Siti segera menunaikan solat magrib, setelah selesai hal yang terjadi adalah lagi-lagi matanya melihat kearahku, seakan mata itu mengatakan gw udah nih Bar, giliran lo yang solat, aku pun wudhu dan solat. Beberapa saat kemudian aku selesai dan Siti langsung berpamitan.


“Gw balik ya Bar, aman ya tugas lo rapihin” ucap Siti,


“Aman, tentram dan sejahtera Ti” kataku,


“Berle (berlebihan) lo Bar” ucap Siti,


“Keluar lagi kata-kata berle Ti” kataku,


“Biar kayak anak zaman now lah Bar” ucap Siti,


“Udah sono, hati-hati lo” kataku,


“Yaudah sampai besok” ucap Siti,


“Bar...Bar...”ucap Niken depan pintu kamarku,


“Iya Ken, kenapa? jawabku,


“Temenin cari makan yuk, nyokap belum makan” ucap Niken,


Aku ngantuk tapi....gak lagi-lagi gak bisa nolak...


“Iya ayo Ken, mau beli apa?” kataku,


“Ayam tante aja deh, dah lama gak makan itu” ucap Niken,


“Yaudah ayo Ken” kataku,


Aku mengantar Niken untuk membeli pecel ayam langganan, sampai disana.


“Tante pesen tiga ya” ucap Niken,


“Eh kamu kemana aja, baru keliatan” jawab penjual pecel ayam,


“Ada kok tante” jawab Niken,


“Tunggu ya tante bikinin pesanan nya, paha semua?” ucap penjual pecel,


“Iya tan paha semua” ucap Niken,


Lima belas menit kemudian pesanan kami sudah siap, karena belum begitu ramai jadi bisa cepet, segera setelahnya aku dan Niken kembali ke kostan.


“Ini Bar punya lo, lo gak mau makan bareng diatas?” ucap Niken,


“Gak Ken, gw rada ngantuk, besok kan nganter jalan-jalan nyokap lo” kataku,


“Yaudah Bar, gw naik ya, jangan lupa ya besok” ucap Niken,


“Barusan gw yang ngingetin Ken” kataku,


“Iya Bar gw naik ya” ucap Niken,


“Iya sampai besok” kataku,


Niken naik ke kamarnya di lantai dua, aku ke kamarku dan segera mengambil posisi tidur, aku udah gak berpikir untuk makan, rasa ngantuk udah gak bisa ditahan, mudah-mudahan bangun du sepertiga malam biar makanannya bisa kumakan, kalau pun tidak ayamnya masih bisa kuhangatkan dan kumakan besok pagi.


Waktunya tidur selamat malam, walau belum malam-malam banget tapi sudah gelap.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2